Lagu pop yang makin mendayu-dayu & meng-eksplorasi rasa sedih June 29, 2011
Posted by quicchote in modern-pop, tematik.2 comments
Lagu pop modern senantiasa berkisah tentang perasaan hati. Ia menggelitik emosi melalui nada dan lirik. Pendalaman penelitian tentang emosi (perasaan hati) yang direpresentasikan oleh sebuah kata (teks) telah memungkinkan kita untuk mengamati, sejauh mana akuisisi sebuah produk teks/liris terkait dengan satu makna emosi tertentu. Menarik ketika kita mendapati bagaimana hampir satu dekade belakangan ini, pemilihan kata dalam komposisi liris lagu-lagu kita makin mendayu-dayu dan cenderung kurang mengumbar “rasa senang”?! (more…)
Inspirasi dan Proses Kreatif Musik Generatif July 16, 2010
Posted by quicchote in archipelagic, modern-pop.comments closed
Tidak ada satu musisi atau komponis musik yang hanya pernah mendengar satu genre musik saja. Semakin banyak genre dan jenis musik yang pernah didengarkan oleh seorang musisi, cenderung karya-karya yang dihasilkannya pun semakin tinggi variasinya, yang pada gilirannya merefleksikan kreativitasnya yang makin tinggi. (more…)
Nina Bobo bukan hanya untuk bayi? April 26, 2010
Posted by quicchote in modern-pop, romantik, tematik.comments closed
Mungkin lagu yang pertama kali kita dengar ketika lahir sebagai manusia ke muka bumi kepulauan nusantara ini adalah lagu, “Nina Bobo“. Kita akan teringat dengan liriknya,
“nina bobo, oh, nina bobo
kalau tidak bobo, digigit nyamuk
bobo-lah, bobo, adikku sayang
kalau tidak bobo, digigit nyamuk…“
Namun sejarah panjang peradaban manusia hingga kehidupan modern dan industrial saat ini, pada dasarnya membuka tabir bahwa kita menyanyikan Nina Bobo bukan hanya untuk anak bayi kita, tapi juga justru memiliki fungsionalitas psikologis yang diperuntukkan untuk yang menyanyikannya. Tak hanya bagi ayah atau ibu yang hendak menidurkan anak-anaknya, namun juga bagi semua individu manusia yang senantiasa pernah letih, lesu, namun tak kuasa memejamkan mata untuk meng-istirahatkan tubuh dan pikiran…
Tari dan lagu cinta bersemi… March 3, 2010
Posted by quicchote in modern-pop, romantik.comments closed
Bizet terkesan dengan kebebasan yang tercermin dalam tarian Havana. Ketuk-ketuk irama tarian menjadi alunan nada bas melompat-lompat yang menggambarkan kebebasan akan cinta khas gypsi yang menjadi ruh dari seluruh lagu Habanera. Gita Gutawa juga melompat riang dengan melodi dan irama yang sama, juga mengumandangkan cinta yang bersemi. Namun sebagaimana ditulis oleh Melly Goeslaw untuknya, cintanya tak bicara kebebasan, tetapi lebih pada ekspresi bahagia akan harmoni cinta yang dirasakan. Perspektif yang berbeda: di Perancis abad ke-19 dan Indonesia abad ke-21, namun tetap menarikan tarian bebas yang gembira dengan irama orang-orang tradisional Havana, Kuba.
Membiarkan “The Rolling Stones” menikmati “Gurame Edan” April 5, 2009
Posted by quicchote in archipelagic, modern-pop, tematik.comments closed
Malam itu Yoga, Nedi, dan kawan-kawannya memanggil seorang perempuan cantik nan genit penanti bar lewat lagu The Rolling Stones, “Honky-Tonk Woman“. Tapi bukan kaki yang diangkat dan tongkat mikrofon dilenggakkan sebagaimana lagak panggung Mick Jagger yang tampil di situ. Penonton yang ingin latah ikut berjoget, tapi bukan gerakan disko yang terkuak, melainkan joget seolah mereka mendengar langgam keroncong riang. Gurame Edan, kelompok musik keroncong nyeleneh itu, menumbuhkan dengan subur “Honky-Tonk Woman” dalam nuansa keroncong. Benar-benar santapan yang menunjukkan luasnya khazanah musik yang nikmat dan …edan!
(more…)
Kemudaan dalam Tematika Musikalitas Pop October 22, 2008
Posted by quicchote in modern-pop, tematik.comments closed

Musik pop adalah musiknya anak muda. Pop berarti populer, ia tersuarakan dalam lirik yang berusaha mewakili suara mereka yang tergolong muda dan sekaligus pasar industri musik, sayatan melodi dalam cabikan senar gitar, genderang drum yang cepat dan dinamis bahkan dalam hentakan (baca: beat) dan irama, dan belakangan melalui teknologi sinkronisasi frekuensi-ritme dengan bantuan devais elektronik dan komputer. Anak muda tersuarakan dalam musikalitas pop yang digandrunginya, namun bagaimanakah musikalitas yang menjadi ikon sub-kultur muda ini berbicara tentang kemudaan itu sendiri? Lebih jauh, menjadi tua adalah sebuah takdir yang merupakan dinamika berfungsi waktu. Tanpa sadar, menjadi tua adalah hal yang tak diinginkan karena secara representatif, ketuaan memberikan asosiasi akan stagnasi, anti-dinamika dan perubahan, dan rendahnya progresifitas.
Terdapat beberapa lagu yang secara liris bertema tentang apa yang dipandang sebagai muda kontras atas kenyataan bahwa kemudaan tersebut terkait dengan usia dan semangat. Bahkan frasa “Forever Young” sangat banyak digunakan sebagai judul lagu. Sebuah keinginan untuk menjadi muda tentu karena kemudaan memiliki sifat-sifat yang ignin senantiasa dipertahankan, namun secara natural seringkali akhirnya kandas dan hilang seiring bertambahkan usia. (more…)
10 LAGU TENTANG HIDUP DI NUSANTARA June 10, 2008
Posted by quicchote in archipelagic, modern-pop, tematik.comments closed
Ini adalah cerita tentang 10 lagu yang berusaha menggambarkan pola kognitif tradisional orang-orang di kepulauan nusantara indonesia raya ketika ia berdendang, menikmati alunan estetis kontur yang tersusun atas nada-nada yang berbunyi. Ia berasal dari kotak kognitif melodi yang mengisi ruang-ruang terestrial di kawasan kepulauan Indonesia yang tetap saja masih memunculkan diri bahkan di tengah alunan dan ingar-bingar injeksi alunan melodi yang lahir di belahan lain di planit bumi. Sepuluh adalah angka dari pengelompokan oleh gerak melodis, dan sepuluh juga merupakan angka yang menunjukkan multi-dimensionalitas yang unik dari karakter etnisitas yang ingin ditampilkannya. Sepuluh ini menjadi satu yang harmoni dalam perspektif kenusantaraan. Tiap melodi adalah juga melodi unik sebagaimana tiap lagu juga menggambarkan lagu. Indonesia adalah gudang diversitas budaya tradisi yang saat ini – sadar atau tidak sadar – ingin berteriak untuk dirayakan secara ekonomis, politis, dan sosial. Mari mendengarkan 10 lagu, dan mari menikmati kebinekaan yang justru mencipta kreasi kesatuan yang utuh dan persaudaraan yang kukuh.
Musik Purba dari Cianjur Selatan? March 22, 2008
Posted by quicchote in ancient, Uncategorized.comments closed
Mengapa manusia suka pada musik? Dan mengapa hanya musik-musik tertentu? Percaya atau tidak, ini masih teka-teki yang belum terpecahkan hingga saat ini. Ada sesuatu di serabut-serabut kelabu kita sehingga untaian nada tertentu menjadi imbang, sementara suara-suara lain seolah adalah falsetto dan kurang indah. Musik paling tua yang pernah diumumkan mungkin adalah musik tulang yang ditiup (bone whistles) di kawasan Hemudu, China yang diduga telah ada semenjak 5000-4500 SM, kemudian ada pula temuan instrumentasi mirip harpa dan lira di kawasan Mesopotamia, Irak yang diduga telah berusia 5000 tahun. Tanah nusantara mungkin tak ketinggalan. Sebuah arahan penelitian menunjukkan ada kemungkinan penemuan instrumen musik kuno di Cianjur Selatan, di sebuah desa Campaka, Jawa Barat. Di sebuah situs megalitikum yang diduga didirikan pada tahun 2500 SM, terdapat batu-batuan raksasa yang jika dipukul menghasilkan nada-nada tertentu. Nusantara kita nan kaya dan hebat…




