jump to navigation

10 LAGU TENTANG HIDUP DI NUSANTARA June 10, 2008

Posted by quicchote in archipelagic, modern-pop, tematik.
trackback

Ini adalah cerita tentang 10 lagu yang berusaha menggambarkan pola kognitif tradisional orang-orang di kepulauan nusantara indonesia raya ketika ia berdendang, menikmati alunan estetis kontur yang tersusun atas nada-nada yang berbunyi. Ia berasal dari kotak kognitif melodi yang mengisi ruang-ruang terestrial di kawasan kepulauan Indonesia yang tetap saja masih memunculkan diri bahkan di tengah alunan dan ingar-bingar injeksi alunan melodi yang lahir di belahan lain di planit bumi. Sepuluh adalah angka dari pengelompokan oleh gerak melodis, dan sepuluh juga merupakan angka yang menunjukkan multi-dimensionalitas yang unik dari karakter etnisitas yang ingin ditampilkannya. Sepuluh ini menjadi satu yang harmoni dalam perspektif kenusantaraan. Tiap melodi adalah juga melodi unik sebagaimana tiap lagu juga menggambarkan lagu. Indonesia adalah gudang diversitas budaya tradisi yang saat ini – sadar atau tidak sadar – ingin berteriak untuk dirayakan secara ekonomis, politis, dan sosial. Mari mendengarkan 10 lagu, dan mari menikmati kebinekaan yang justru mencipta kreasi kesatuan yang utuh dan persaudaraan yang kukuh.

Keberadaan lebih dari 500 suku bangsa di Indonesia telah memungkinkan lahirnya berbagai pola alunan nada-nada melodis yang menjadi cerminan karakter dasar sistem kognitif kolektif dari masing-masing kelompok budaya/etnis tersebut. Estetika akan senantiasa subyektif. Apa yang indah senantiasa kembali pada apresiasi individual, jika tak kemudian terperangkap dalam kantong-kantong (clustering) dalam kolektivitas yang dapat saja berbentuk etnisitas, kelas-kelas ekonomi, bahkan komunitas-komunitas tertentu. Situasi subyektif inilah yang kemudian berhadap-hadapan dengan upaya obyektifikasi atas estetika dalam produk-produk industri budaya massa melalui proses komodifikasi yang menjadi corak globalisasi.

Cara terbaik menghadapi kecenderungan penyeragaman budaya yang langsung atau tak langsung menjadi sorotan dalam tren globalisasi ini adalah dengan apresiasi yang setinggi-tingginya atas aspek kelokalan dan penghargaan terhadap ekspresi bahkan hingga ke level individual. Mengenali dan apresiasi atas lokalitas budaya merupakan cara paling bijaksana dalam tren uniformisasi di era global ini. Diversitas budaya Indonesia merupakan gudang artifak budaya yang tak ternilai harganya ketika sistem ekonomi diperintah oleh inovasi dan kreativitas dalam artikulasi informasi dalam kancah sistem sosial secara global saat ini.

Demikian pula dengan musik. Tidak ada kelompok etnik di Indonesia yang tak memiliki karakter unik dari lagu yang secara kolektif diterima sebagai bentuk keindahan yang audibel. Ada sesuatu di balik lagu-lagu yang terdiseminasi di kalangan identitas kolektif Indonesia yang membedakan sebuah lagu menjadi karakteristik suku Ambon yang berbeda dengan Jawa, Dayak, Madura, Batak, dan sebagainya. Ini adalah wahana yang sangat kaya dari entitas bangsa bernama Indonesia.

Dalam buku seminalnya, The Selfish Gene (1976), Richard Dawkins mengemukakan bahwa keanekaragaman kognitif individual tersusun atas meme (baca: mim), dalam khazanah pemikiran sosiobiologi (evolusioner). Satu meme dapat menyebar dari satu pihak ke pihak lain melalui replikasi dalam bentuk imitasi (peniruan) dan juga melalui propagasi dalam bentuk diseminasi kultural secara masif melalui berbagai perangkat-perangkat media komunikasi massa. Meme merupakan sesuatu yang ada dalam kolam meme di dalam sistem kognitif manusia sebagai unit terkecil informasi yang membentuk budaya. Memetika sebagai studi atas meme dalam budaya, merupakan counterpart dari genetika sebagai studi atas gen dalam organisme biologis.

Meme tercermin dalam karya-karya dan artifak kebudayaan manusia. Jika kita dapat menyaksikan kekerabatan kuman sifilis (Treponema Pallidum) dan mana kuman tifus (Salmonella Typhosa) secara genetis, maka melalui meme kita berharap dapat melihat kekerabatan sistem kognitif kolektif satu kelompok etnik, misalnya orang Tapanuli dengan orang Jawa Timuran. Bedanya, meme dilihat dengan melihat karakter dasar dari artifak yang dominan di satu suku bangsa dengan dengan artifak di suku yang lain. Meme dicerminkan di dalam artifak, di dalam lagu, motif pakaian, cara bertutur, hingga adat-istiadat.

Sebuah lagu yang dikenal dan dinikmati secara turun-temurun tentunya menjadi menarik ketika sesuatu di dalam lagu tersebut memiliki afinitas dengan sekumpulan sistem kognitif dalam satu rumpun suku tertentu yang tentunya memiliki relasi genetis pula. Di sini, terjadi ko-evolusi antara meme dan gen, sehingga kita tahu bahwa secara kolektif lagu tradisional Bungong Jeumpa merepresentasikan sistem kognitif orang Aceh sementara Paris Berantai menunjukkan karakteristik tertentu di antara orang-orang Melayu di Kalimantan Selatan.

Meme yang tercermin dalam lagu bisa berbentuk apapun. Ia bisa berbentuk pola struktur nada-nada yang membentuk melodi lagu, pergerakan nada-nada yang digunakan dalam sebuah lagu, efek naik turun lagu yang “berputar-putar” di dalam sistem kognitif pendengar dan pendendangnya, dan seterusnya. Berbagai struktur memetik ini, ketika diurutkan dan dianalisis secara matematis menghasilkan pohon memetika lagu sebagai berikut:

Dalam gambar tersebut, kita melihat bagaimana dari sekian puluh sampel lagu asli daerah di Indonesia terdapat kelompok-kelompok lagu yang memiliki kemiripan struktur memetis. Penelitian yang terkait hal ini dapat dilihat di dokumen laporan penelitian berikut: http://ssrn.com/abstract=1143122.

Terdapat setidaknya sepuluh kelompok lagu di situ. Di sini kita dapat mengenali lebih dekat apa-apa saja lagu-lagu tersebut. Kita memilih satu lagu dari tiap kelompok lagu dari sisi liris dan tematikanya untuk menampilkan diversitas dari apa yang ter-representasi dari lagu-lagu nusantara raya. Sepuluh lagu ini mungkin dapat dikatakan merepresentasikan siapa orang Indonesia secara melodis… (klik pada gambar akan membawa anda ke alamat audio atau auvi dari lagu yang dimaksud)

1. O INA NI KEKE – dari Minahasa
Merupakan sebuah lagu dolan yang secara liris kita ketahui merupakan bentuk sahut-sahutan antara anak laki-laki dan anak perempuan:

L(aki-laki): O ina ni keke, mange wisa ko
P(erempuan): mangewa aki Wenang, tumeles baleko

L: weane, weane, weane toyo
P: daimo siapa ko tare makiwe…

Yang jika ditranslasi langsung ke bahasa Indonesia:

L: o h gadis, mau kemana?
P: aku mau ke Wenang, membeli baleko (semacam kue tradisional)

L: berikan aku, berikan aku sedikit…
P: sudah terlambat, semua sudah habis…

2. PADANG WULAN – Jawa Tengah
Sebuah lagu yang menggambarkan dolanan anak-anak di Jawa yang bergembira kerta raharja bermain di bawah sinar purnama. Lirik lagu ini menggambarkan hal ini,

Yo pra kanca dolanan ing jaba, Padhang wulan padhange kaya rina
Rembulane e sing awe awe, Ngilangake aja padha turu sore

Yo pra kanca dolanan ing jaba, Rame-rame kene akeh kancane
Langite pancen sumebyar rina, Yo padha dolanan sinambi guyonan

Dengan terjemahan langsung kira-kira,

Ayo teman-teman bermain di luar rumah,
Terang bulan terangnya seperti siang
Bulannya melambai-lambai memanggil,
mengingatkan agar jangan tidur karena masih sore

Ayo teman-teman bermain di luar rumah,
Ramai-ramai di sini banyak teman
Langitnya memang seperti siang,
Ayo bermain sambil bercanda tawa.

3. SARINANDE - Ambon
Lagu ini menggambarkan seorang anak gadis yang rajin dalam baktinya di rumah pada keluarga. Ia sedikit banyak menggambarkan keibaan akan seorang anak perempuan Sarinande yang matanya menangis, tapi bukan karena bersedih, tetapi oleh karena asap di tungku masak masuk ke matanya. Liriknya,

Sarinande, putri Sarinande, mangapa tangis, matamu bangkak?
Aduh mama, aduh lah papa, La asap api masuk di mata

4. ATI RAJA – Sulawesi Selatan
Ini merupakan sebuah lagu yang sangat spektakuler. Ia bukan dolanan, tapi bentuk pengucapan syukur dan sikap keberserahan diri pada sang khalik (monotheistik) yang luar biasa. Lagu ini kaya dengan legato dan mengandung bentuk sahut-menyahut antara instrumentasi yang menyertainya. Secara liris, ia juga jelas bukan lagu yang sederhana,

Se’re se’re ji batara baule
Ati raja, naki jai pa’nganroi baule Rajale alla kereaminjo
Ati ati ati raja Nitarima pappala’na baule
Mannamo ki minasai baule Ati raja, kipanai’ ri palatta’ baule
Rajale alla taballetommi Ati ati ati raja Na batara angkellai baule

Yang terjemahan Indonesianya kira-kira adalah:

Hanya ada satu Tuhan
Hati Raja hanya kepada-Mulah tempat kami meminta.
Sebenar-benar yang mana,
Hati Raja diterima permintaan-permintaan walaupun hanya berhasrat
Hati Raja, buat permohonan.
Semua-semua hanya akan dikabulkan oleh Tuhan semata.

5. DEK SANGKE - Sumatera Selatan
Secara liris merupakan sebuah lagu yang menunjukkan bentuk kekecewaan dalam relasi dengan orang lain dengan pesan moral bahwa tak selalu apa yang terlihat adalah apa yang menjadi kondisi aktual.

Dek sangke, aku dek sangke, awak tunak ngaku juare,
Alamat badan ‘kan sare akkhirnye masuk penjare.
Dek sangke, aku dek sangke, ujiku bujang tak batanye tua bangke,
Anaknye ‘lah gadis gale.
Dek sangke, aku dek sangke, ujiku gadis tak batanye jende mude.
Anaknye ‘lah ade tige.
Dek sangke ture sangke,
cempedak babuah nangke…

Terjemahannya kira-kira,

Tak kusangka, tak disangka,
orang lemah mengaku hebat, akhirnya akan susah,
Tak kusangka, tak disangka, kukira bujang,
ternyata tua bangka, anaknya gadis semua,
Tak kusangka, tak disangka,
kukira gadis ternyata janda, anaknya ada tiga!
Tak kusangka, tak disangka,
cempedak berbuah nangka!

6. KAMBANGLAH BUNGO - Minangkabau
Lagu ini bernuansa romansa tanah minang yang tak bisa lepas dari budaya yang tumbuh di atasnya. Sebuah lagu bernuansa melayu pedalaman Padang di belahan barat pulau Sumatera yang secara spektakuler lirisnya sangat kaya dengan perlambang yang unik sekali. Kemegahan budaya berkait dengan kegagahan yang maskulin dan ayoman yang feminin sekaligus dalam bentuk mekarnya kembang.

Kambanglah bungo parawitan,
Simambang riang ditarikan,
Di desa dusun Ranah Minang
Bungo kambang, sumarak anjuang,
Pusako Minang, tanah Pagaruyuang
Dipasuntiang siang malam,
Tabayang-bayang rumah nan gadang

Terjemahan bebasnya kira-kira,

Mekarlah bunga idaman yang megah,
Tari Simambang ditarikan
di kampung desa Tanah Minang
Bunga mekar, semarak anjungan rumah gadang,
pusaka minang, tanah Pagaruyung
dipersunting tiap waktu
dalam bayangan rumah yang besar (rumah gadang)

7. HUHATEE - Maluku
Lagu ini berpesan moral pergaulan orang muda. Kehati-hatian diberikan dalam bentuk keriangan melodis bertempo sedang. Tema dan kemudaan serta wisdom yang dicerminkan lagu ini terlihat dari liriknya,

Orang muda huhatee baek baek,
jangan sampai dapat kulit durian
Pasang mata telinga kalau mencari teman,

jangan sampai dapat kulit durian

Huhatee, huhatee, huhatee baek baik,
jangan sampai sembarang oranglah kenal
Sioh jangan sioh jangan sioh
jangan paripi kulit durian sioh baduri

8. TANDUK MAJENG – Madura

Ini merupakan lagu yang menggambarkan bentuk kehidupan pesisir bahari nusantara raya. Bertempo lambat yang menggambarkan langgam lagu yang menunjukkan heroisme mereka yang melaut dan hidup dari hasil laut. Bagaimanapun laut merupakan sebuah jagat yang lain bagi manusia yang terestrial dan ketika kehidupan bersandar padanya, heroisme muncul. Lagu ini relevan bahkan mungkin tak hanya untuk masyarakat Madura, namun juga suku dan kelompok etnik lain di Nusantara yang memang ber-geografi maritim.

Ngapote Wak Lajereh etangaleh,
Reng Majeng Tantona lah pade mole

Mon e tengguh Deri abid pajelennah,
Mase benyak’ah onggu le ollenah
Duuh mon ajelling Odiknah oreng majengan,
Abental ombek Asapok angin salanjenggah
Ole…olang, Paraonah alajereh,
Ole…olang, Alajereh ka Madureh

Yang translasi Indonesianya secara kasar bisa ditulis:

(layar) putihnya mulai kelihatan,
Orang nelayan (pencari ikan) tentulah sudah pada pulang
Kalau (dilihat) dari lamanya perjalanan,
Tentu hasil ikannya sangat banyak …
Duuh kalau dilihat hidupnya orang pencari ikan,
Berbantal ombak berselimut angin selamanya (sepanjang malam)
Ole… olang, perahunya mau berlayar,
Ole… olang, berlayar ke madura

9. MAK INANG – Riau & Sumatera Barat
Ini lagu sepi dengan langgam pantun melayu dari mereka yang berasal dari kawasan barat pulau Sumatera. Sebuah dendang yang seringkali jadi pengiring tarian tradisional. Gambarannya tentang kerinduan akan kampung halaman di tanah tempat merantau. Ada rasa sepi ketika perbedaan dengan budaya di tanah rantau terlihat (bait pertama). Ada rasa rindu ketika merasa berada jauh dari kampung halaman (baik kedua), dan ada rasa khawatir ketika risiko jatuh sakit muncul. Rasa sendiri secara liris namun menghibur secara melodis.

Kami ini tak pandai menari,
sebarang tari kami tarikan.
Kami ini tak ahli menyanyi,

sebarang nyanyi kami nyanyikan.

Singkarak kotanya tinggi,
asam pauh dari seberang,
Awan berarak ‘lah ditangisi,
badan jauh di rantau orang.

Asam pauh dari seberang,
tumbuhnya dekat, tepinya tebat.
Badan jauh di rantau orang,
sakit siapa akan mengubat…

10. SIGULEMPONG - Tapanuli
Ini merupakan lagu yang berasal dari pantun Tapanuli tentang kekasih yang dinanti tapi tak kunjung tiba. Bentuknya pantun dengan penekanan pada kata “sigulempong”. Sigulempong (atau sigule) merupakan sebuah kata tua yang dapat diartikan sejenis “boneka”. Memperhatikan majas “sigulempong” ini dan nadanya yang riang bertempo cepat, lagu ini dinyanyikan oleh seorang pria bukan kepada seorang wanita yang definitif, tetapi kepada kekasih yang menjadi impiannya. Secara liris, ia berbentuk pantun,

natinittip sanggar sigule sigule ,
saibahen huru huruan sigule,

sigulempong sigule gule
jolo sinukkun marga sigule sigule,
molo sairap hita nadua sigule

sirma inang sarge,
dasai sirma inang sarge
tarsongoni doho hape
pargontingna dauk gale

salendang sapu tangan sigule sigule,
di atas ni batu nadua sigule
leleng maho ito da sigule sigule,
da sai hu pa imaima sigule

Dalam bahasa Indonesia, kira-kira translasinya,

sanggar (sejenis tanaman) dipotong sama panjang
untuk membuat huru (tanda yang ditaruh di tanduk kerbau)
Tanyalah dahulu asal-usul,
jika hendak selalu bersama,

selalulah tepati janjimu, kekasih (perempuan)
ternyata engkau begitu,
wahai perempuan yang cantik gemulai

selendang sapu tangan ditaruh
di atas batu bersusun dua (sebagai tanda)
Lama sekali kau kutunggu kekasih,
senantiasa kau kutunggu…

Banyak cara melodis untuk mengungkapkan ekspresi emosional orang-orang di Nusantara atas keberadaan dirinya, hubungannya dengan sesamanya, harapannya akan masyarakatnya, kenangan masa lalunya, hingga impiannya di masa mendatang. Imanensi atau transendentalitas, semuanya merupakan untaian emosional yang tercermin dalam lirik lagu etnik kenusantaraan. Namun pemilihan kata dalam lagu hanya sebagian dari diversitas yang tersimpan dalam melodi dan naik turun melodi. Semua ini menjadi warna akan ke-nusantara-an yang meski tetap bernilai tinggi dalam nominalitas, namun juga bernilai tak berhingga dalam hal moralitas yang menyertainya. Mari merayakan nusantara!

Pengakuan: Banyak sahabat membantu interpretasi kisah sepuluh lagu ini. Kepada mereka rasa terima kasih terhaturkan, di antaranya zen, gunawan, tari, mumun, lusi, endang, hendri, yeni, efri, ikhsan, rolan, yanti, alfa, dan teman-teman di IACI (Indonesian Archipelago Cultural Initiatives).

http://www.youtube.com/watch?v=KP6AsD5_lx0

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: