<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>From computational rythms and melodious information to the harmony of diversity!</title>
	<atom:link href="http://qmuse.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qmuse.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Sep 2011 17:05:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='qmuse.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>From computational rythms and melodious information to the harmony of diversity!</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://qmuse.wordpress.com/osd.xml" title="From computational rythms and melodious information to the harmony of diversity!" />
	<atom:link rel='hub' href='http://qmuse.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lagu pop yang makin mendayu-dayu &amp; meng-eksplorasi rasa sedih</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2011/06/29/lagu-pop-yang-makin-mendayu-dayu-meng-eksplorasi-rasa-sedih/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2011/06/29/lagu-pop-yang-makin-mendayu-dayu-meng-eksplorasi-rasa-sedih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 08:50:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[modern-pop]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Lagu pop modern senantiasa berkisah tentang perasaan hati. Ia menggelitik emosi melalui nada dan lirik. Pendalaman penelitian tentang emosi  (perasaan hati) yang direpresentasikan oleh sebuah kata (teks) telah memungkinkan kita untuk mengamati, sejauh mana akuisisi sebuah produk teks/liris terkait dengan satu makna emosi tertentu. Menarik ketika kita mendapati bagaimana hampir satu dekade belakangan ini, pemilihan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=225&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/chryse.jpg"><img class="size-medium wp-image-226 aligncenter" title="chryse" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/chryse.jpg?w=300&#038;h=209" alt="" width="300" height="209" /></a></p>
<p>Lagu pop modern senantiasa berkisah tentang perasaan hati. Ia menggelitik emosi melalui nada dan lirik. Pendalaman penelitian tentang emosi  (perasaan hati) yang direpresentasikan oleh sebuah kata (teks) telah memungkinkan kita untuk mengamati, sejauh mana akuisisi sebuah produk teks/liris terkait dengan satu makna emosi tertentu. Menarik ketika kita mendapati bagaimana hampir satu dekade belakangan ini, pemilihan kata dalam komposisi liris lagu-lagu kita makin mendayu-dayu dan cenderung kurang mengumbar “rasa senang”?!<span id="more-225"></span></p>
<p>Kajian-kajian psikologi emosi mendapati bahwa emosi manusia pada dasarnya dapat ditelaah melalui dua dimensi: valensi (katakanlah α) dan intensitas ekspresi (katakanlah β) juga seolah kontinu nilainya. Ekspresi emosi kita cenderung menjelajahi lanskap yang koordinatnya ditentukan atas dua variabel ini. Saat valensi emosional itu netral  tapi sangat tinggi intensitasnya, yang muncul adalah ekspresi kaget, dan valensi yang netral dengan intensitas yang rendah ter-ekspresikan dalam nuansa fisiologis mengantuk, ingin sekali tidur.<a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/nicky.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-227" title="nicky" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/nicky.jpg?w=300&#038;h=257" alt="" width="300" height="257" /></a></p>
<p>Jadi, rasa riang bisa jadi adalah paduan antara “kekagetan” dengan “rasa senang”, dan amarah bisa jadi bentuk paduan antara “kekagetan” dengan “rasa sedih”. Kita sadar, bahwa emosi tak pernah datang secara tunggal. Emosi yang kita ekspresikan selalu berbentuk paduan antara emosi yang satu dengan yang lain. Psikolog evolusioner dan ilmuwan neurosains berupaya keras untuk mengetahui apa yang jadi emosi dasar, dan kemudian membikin berbagai formalisasi bagaimana kira-kira ekspresi emosional tatkala emosi-emosi dasar ini berpadu-padan.</p>
<p>Satu kata yang dipilihkan dalam sebuah korpus tekstual, apalagi sebuah korpus estetis seperti lirik lagu, tentunya memiliki level-level valensi kesenangan dan intensitas gairah yang berbeda-beda. Dan <em>flow </em>sebuah lagu sebagaimana ditunjukkan dalam liriknya akan dapat menggambarkan “perjalananan” atau “<em>pathways</em>” dari emosionalitas seniman tatkala lagu dinyanyikan dengan penghayatan yang tepat.  Dengan sebuah perangkat komputasi “Detektor Emosi Teks”, kita dapat melihat perjalanan emosional satu lagu yang beriringan dengan acuan emosional dari kata-kata di dalam lagu tersebut. Lagu “Jarum Neraka” menggunakan kata-kata yang cenderung rendah intensitas ekspresi gairahnya, meski emosi “kejenakaan” membuat lagu tersebut memiliki keringanan tertentu saat dinyanyikan oleh Nicky Astria.<img class="alignleft size-medium wp-image-230" title="45098874" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/45098874.jpg?w=134&#038;h=180" alt="" width="134" height="180" /></p>
<p>Demikian pula dengan lagu Sabda Alam yang secara keseluruhan lagu menyentuh sisi-sisi rasa bersyukur dan senang untuk semua nuansa gairah baik saat ber-intensitas tinggi maupun rendah sebagaimana dinyanyikan oleh Chrisye. Lagu Pilihan Ngetop yang berhasil menggaet SCTV Music Awards 2011, “Aku Terjatuh” memiliki pola pilihan kata yang memang rendah secara intensitas gairah, tidak dengan ekspresi pilihan kata-kata yang bervalensi terlalu senang atau pun terlalu sedih sebagaimana didendangkan ST 12.<a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/st12.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-228" title="st12" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/st12.jpg?w=300&#038;h=196" alt="" width="300" height="196" /></a></p>
<p>Dengan “Detektor Emosi Tekstual” inilah kita kemudian mencoba melihat sejauh mana dinamika emosi yang ditunjukkan oleh lagu-lagu populer kita, semenjak 1970-an hingga sekarang. Sampel lagu yang kita jadikan acuan tentunya mestilah populer juga. Kita memilih sebagaimana ditunjukkan oleh Tim Penulis di Majalah <em>Rolling Stone </em>dan hasil event populer SCTV Music Awards.</p>
<p>Sungguh menarik memperhatikan fakta bahwa dari sisi pilihan kata dalam masing-masing liriknya, dibandingkan generasi 1970-an, generasi sekarang lebih sering menggunakan kata-kata yang memberikan ekspresi rasa senang. Namun memperhatikan lebih seksama beberapa tahun belakangan ini, penggunaan kata untuk ekspresi rasa senang tersebut, juga makin dibarengi dengan kata-kata dengan valensi ekspresi yang berlawanan (rasa sedih). Secara umum, sebenarnya dapat dikatakan bahwa lagu-lagu pop industrial zaman sekarang lebih dalam meng-eksploitasi kata-kata dalam penetrasi emosionalnya dibandingkan generasi sebelumnya.</p>
<div id="attachment_229" class="wp-caption aligncenter" style="width: 383px"><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/emosilagu.jpg"><img class="size-full wp-image-229   " title="emosilagu" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/emosilagu.jpg?w=460" alt=""   /></a><p class="wp-caption-text">Perkembangan rata-rata variabel akuisisi emosional intensitas gairah dan valensi kegembiraan dalam lagu-lagu pop Indonesia (1970-2011)</p></div>
<p>Namun di sisi lain, sungguh menarik memperhatikan bahwa terdapat kecenderungan penurunan dalam hal intensitas ekspresi kegairahan dari lagu-lagu populer kita. Terdapat kecenderungan bahwa semakin ke sini, lagu-lagu populer semakin “mendayu-dayu” pemilihan katanya dari sisi lanskap emosionalnya. Hal ini sangat menarik untuk diperhatikan dalam populasi lagu-lagu pop industrial kita.</p>
<p>Dibandingkan dengan masyarakat di belahan utara planet bumi kita ini, lagu-lagu pop industrial modern Indonesia memang masih sangat muda. Pemahaman kita akan emosionalitas tekstual kita dalam akuisisi bahasa Indonesia kita tentu merupakan kajian yang menarik dalam memperhatikan tren penggunaan kata dalam lirik lagu dari lagu-lagu yang menghiasi mulai dari layar kaca, pesawat radio, dan <em>ring back tone</em> kita ini…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/225/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/225/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/225/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=225&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2011/06/29/lagu-pop-yang-makin-mendayu-dayu-meng-eksplorasi-rasa-sedih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/chryse.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">chryse</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/nicky.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">nicky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/45098874.jpg?w=223" medium="image">
			<media:title type="html">45098874</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/st12.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">st12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2011/06/emosilagu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">emosilagu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inspirasi dan Proses Kreatif Musik Generatif</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2010/07/16/fisikamusik/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2010/07/16/fisikamusik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 19:25:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[archipelagic]]></category>
		<category><![CDATA[modern-pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada satu musisi atau komponis musik yang hanya pernah mendengar satu genre musik saja. Semakin banyak genre dan jenis musik yang pernah didengarkan oleh seorang musisi, cenderung karya-karya yang dihasilkannya pun semakin tinggi variasinya, yang pada gilirannya merefleksikan kreativitasnya yang makin tinggi. Ini merupakan sebuah postulat yang terlihat pada hampir seluruh musisi modern mulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=201&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><em><a href="http://genmuse.bandungfe.net/"><em><img class="size-medium wp-image-213 aligncenter" title="PhysMus Screenshot" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/physmus.jpg?w=123&#038;h=144" alt="" width="123" height="144" /></em></a>Tidak ada satu musisi atau komponis musik yang hanya pernah</em><em> mendengar satu genre musik saja. Semakin banyak genre dan jenis musik yang pernah didengarkan oleh seorang musisi, cenderung karya-karya yang dihasilkannya pun semakin tinggi variasinya, yang pada gilirannya merefleksikan kreativitasnya yang makin tinggi.</em><span id="more-201"></span></p>
<p>Ini merupakan sebuah postulat yang terlihat pada hampir seluruh musisi modern mulai dari periode klasik hingga musik pop industrial masa kini. Sebagai contoh, coba kita perhatikan peta aliran-aliran musik rock ‘n roll pada gambar berikut (<em>klik pada gambar untuk melihat ukuran penuh</em>).</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/rockroll.jpg"></a><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/rockroll.jpg"><img class="size-full wp-image-202 aligncenter" title="rockroll history" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/rockroll.jpg?w=460" alt=""   /></a><br />
Pada gambar tersebut jelas sekali terdapat taut-mentaut satu aliran musik dengan musik lain. Hampir boleh dikatakan tidak ada kreativitas yang muncul tanpa adanya induksi atas inspirasi dari karya-karya sebelumnya. Sebutlah misalnya legenda <em>grunge </em>Kurt Cobain dengan <em>band </em>Nirvana-nya. Apapun komentar kita tentang musikalitasnya, kita pada akhirnya insyaf bahwa musikalitas itu tak mungkin hadir tanpa pengaruh 3 aliran besar  yang merajai <em>pop rock </em>sebelumnya, <em>New Wave Rock, Heavy Metal</em>, dan <em>Alternative Rock</em>. Mendengar selintas lagu-lagu <a href="http://www.youtube.com/watch?v=hTWKbfoikeg">Nirvana</a> seolah telah sirna pengaruh <em><a href="http://www.youtube.com/watch?v=zQ9zycElysU">Eurythmics</a>, </em>atau musikalitas serupa <em><a href="http://www.youtube.com/watch?v=w9TGj2jrJk8">Led Zeppelin</a> </em>dan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=PieS0zG228A"><em>Iron Maiden</em></a>, dan atau <a href="http://www.youtube.com/watch?v=0bKTqvWIo-c">R.E.M</a>, misalnya. Saling meng-inspirasi inilah yang pada dasarnya memutar roda kreativitas musik pop industrial. Runut-runutan lebih jauh ke belakang, akan menunjukkan bahwa jarak antara Nirvana tak jauh derajatnya dengan musikalitas <a href="http://www.youtube.com/watch?v=tpzV_0l5ILI">Elvis Presley</a>, misalnya: dua musisi dengan musikalitas khas yang bahkan seorang pemula akan dapat membedakannya dengan serta-merta</p>
<p>Semakin luas lanskap inspirasi musikalitas, maka semakin luas pula cakupan kreativitas yang mungkin dihasilkan dalam karya-karya besar. Musikalitas yang cenderung sarat dengan estetika liris dan ritmis musisi hip-hop RUN DMC, misalnya, mampu memberikan warna yang luar biasa ketika terjadi padu-padan dengan musik <em>Soul Rock </em>dari <em>band Aerosmith</em>. Coba dengarkan lagu spektakuler paduan <a href="http://www.youtube.com/watch?v=-yuRktFLVSU">Aerosmith dengan RUN DMC: </a><em><a href="http://www.youtube.com/watch?v=-yuRktFLVSU">Walk This Way</a>. </em></p>
<p>Menakjubkan corak <em>blues </em>dan <em>rap </em>menjadi padu harmoni yang luar biasa, yang malah “menguatkan” tematika lagu yang dibawakan. <em>Masterpiece </em>seperti ini tentu hanya dimungkinkan ketika kru band asal Boston, Aerosmith dan <em>rapper </em>dari New York, RUN DMC saling dengar, saling bersintesis yang melahirkan <em><a href="http://www.youtube.com/watch?v=-yuRktFLVSU">Walk This Way</a> </em>yang baru. Tentu kita tak asing dengan pola kolaboratif dan karya serupa, yang menunjukkan bagaimana kolaborasi “lintas disiplin” musik memberi corak yang justru meng-aksentuasi tematika yang ingin dibawakannya. Mungkin memang bukan rahasia, musikalitas pop industrial sangat sensitif terhadap waktu, sehingga kolaborasi, jika memang bisa melahirkan harmoni, menjadi luar biasa.</p>
<p>Namun apa yang menjadi <em>feel </em>dari musikalitas sebenarnya? Jika kita memandang alam dinamika musikalitas sebagai proses evolutif, maka kita akan sampai pada sebuah pencarian akan apa yang disebut sebagai unit informasi terkecil dari musik. Musik sendiri, tentunya luar biasa kompleks!</p>
<p>Musik memiliki banyak aspek yang memberi kontribusi pada apa yang indah (estetis) dari musik, mulai dari kontur (naik turun melodi), warna suara (timbre), tata akustik ruang suara (reverberasi), irama, hingga <em>style, </em>dan sebagainya. Bahkan belakangan, dengan kerapnya sebuah musik dengan video tempat musik tersebut ditampilkan juga menjadi penting: videoklip yang baik menjadi sebuah hal yang berkontribusi pada apresiasi terhadap sebuah musik pop industrial.</p>
<p>Dalam <a href="http://qmuse.wordpress.com/2008/06/10/10-lagu-tentang-hidup-di-nusantara/">lanskap kepulauan Indonesia </a>yang menyimpan ratusan kelompok etnik yang masing-masing “mengembangkan” musikalitas khas masing-masing, kita dapat menemukan luar biasa banyaknya variasi dari musik dan lagu tradisional. Tak usah membedakan antara langgam melodis <em>Rasa Sayange </em>(Maluku) dengan <em>Bubuy Bulan </em>(Jawa Barat). Di sesama tatar sunda saja, cengkok yang berbeda dapat menunjukkan langgam melodis yang berbeda pula, ketika <em>Bubuy Bulan </em>dinyanyikan orang pelosok di Sukabumi dengan yang di Indramayu, yang sama-sama berbahasa Sunda.  Ini merupakan kekayaan yang luar biasa, karena tiap daerah dan kelompok etnis, memiliki lagu-lagu tradisional masing-masing, dalam bentuk dolanan anak-anak, romansa percintaan muda-mudi, hingga lagu-lagu bernuansa nasihat dan pedoman  hidup.</p>
<p>Kemajuan teknologi komputasi telah memperpanjang nafas statistika modern dalam tautan interdisiplinaritas dengan cabang-cabang ilmu lain, seperti fisika, biologi, dan sebagainya. Dengan memodelkan lagu tradisional Indonesia dalam aspek-aspek fisis dan mekanika-nya, telah memungkinkan kita untuk membedah lebih jauh lagu-lagu yang kita kenal. Ketika kita memandang perkembangan dan dinamika inovasi atas lagu sebagai bentuk aspek evolusioner, telah dimungkinkan bagi kita untuk mencoba meraba-raba, apa yang menjadi DNA atas musikalitas sebuah lagu tradisional Jawa, Batak, Kalimantan dan sebagainya. Penemuan aspek-aspek keindahan secara kuantitatif ini menjadi memperkaya khazanah kita akan musik secara umum, dengan efek samping: pengenalan kita lebih jauh atas <em>attachment </em>kelompok etnis tertentu terhadap keindahan/estetika musikalitas bunyi-bunyian atau lagu, dalam terminologi yang lebih luas.Inilah yang memicu penelitian yang, sebut saja, topik <a href="http://genmuse.bandungfe.net/">Fisika Musik</a>, karena membedah lagu-lagu dengan pengayaan model-model yang tadinya berkembang secara komprehensif atas aspek-aspek fisika.</p>
<p>Pola distribusi nada-nada yang digunakan dalam satu lagu, efek memutar (spiral) dari representasi nada-nada, ketertebakan dinamis nada-nada dalam lagu (entropi dan kompleksitas sebuah lagu) dianggap bertanggungjawab atas estetika yang melahirkan sebuah untai melodis yang diapresiasi oleh publik. Dengan kata lain, ketika kita telah mengetahui nilai-nilai besaran tersebut, kita dapat “menggubah” (baca: menggenerasi) lagu-lagu yang diharapkan memiliki “rasa” yang mirip dengan lagu tersebut. Lagi-lagi, kemajuan teknologi komputasi memungkinkan hal ini kita cobakan. Hasil yang diharapkan sungguh menarik!</p>
<p>Sebagai contoh, kita mendengarkan lagu “<em>Kambanglah Bungo</em>”, sebuah lagu yang dari tanah Minang, Sumatera Barat. Untaian nada-nadanya di bait pertama lagu adalah…</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/kmbngbungo.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-203" title="KambanglahBungo Original" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/kmbngbungo.jpg?w=460&#038;h=83" alt="" width="460" height="83" /></a></p>
<p>…lalu kita kalkulasikan aspek-aspek fisika statistik dari lagu tersebut, dan kita perintahkan proses komputasi untuk menggenerasi lagu yang kira-kira memiliki kemiripan dengan lagu tersebut. Salah satu hasil yang diperoleh ditunjukkan seperti ini…</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/kmbngbungo2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-204" title="Kambanglah Bungo Alt" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/kmbngbungo2.jpg?w=460&#038;h=89" alt="" width="460" height="89" /></a></p>
<p>Bagaimana kira-kira bunyi lagu ini ketika kita mainkan, tentunya dengan tambahan harmonisasi alat-alat musik lainnya? Anda dapat mencoba menikmati dan mendengarkannya dengan meng-klik gambar di bawah ini. Dapatkah anda masih merasakan nuansa khas Minangkabau dari lagu <em>Kambanglah Bungo</em> dari hasil generasi ini? (<em>klik pada gambar di bawah untuk mendengarkan</em>)</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=vqqgXWSyG_0"><img class="aligncenter size-full wp-image-207" style="border:2px solid black;" title="Kambanglah Bungo" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/tari-piring1.jpg?w=460" alt=""   /></a></p>
<p>Kajian ini tentu menjadi sangat menarik ketika kita cobakan ke musik-musik populer. Sebagai contoh, kita mencoba lagu legendaris <em>Imagine</em>, karya musisi legendaris John Lennon (<em>The Beatles</em>). Lagu <em>Imagine </em>di bait awalnya dapat dituliskan sebagai…</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/imagine-org.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-205" title="imagine-org" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/imagine-org.jpg?w=460&#038;h=82" alt="" width="460" height="82" /></a></p>
<p>…dan salah satu hasil generatifnya, adalah…</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/imagine-alt.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-206" title="imagine-alt" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/imagine-alt.jpg?w=460&#038;h=97" alt="" width="460" height="97" /></a></p>
<p>Bagaimana kira-kira bunyi lagu ini ketika kita coba mainkan? Beberapa di antara kita yang suka bermain musik, tentu sudah bisa membayangkan dan memperbandingkan langsung antara nada-nada inspiratif <em>Imagine </em>dan nada-nada yang digenerasi sebagaimana ditunjukkan di atas. Namun video klip di bawah ini akan mencoba membawa kita ke sebuah keutuhan <em>realm </em>nuansa estetika lagu yang luar biasa ini… (<em>klik pada gambar di bawah untuk memutarnya</em>).</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=ddHwFR6XJmo"><img class="aligncenter size-full wp-image-208" style="border:2px solid black;" title="john-lennon" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/john-lennon.jpg?w=460" alt=""   /></a></p>
<p>Beberapa di antara kita sah-sah saja mengatakan bahwa hasilnya masih terasa kurang “estetik”; ini bisa jadi berasal dari pemetaan yang ditunjukkan dalam klip-klip tersebut masih dimainkan ala pemetaan komputasional melodi musik (MIDI, <em>Musical Instrument Digital Interface</em>). Hal inilah yang menjadi tantangan kerja penelitian berikutnya. Dari sini setidaknya kita sedang melangkah kaki di suatu jalan alternatif bagaimana inovasi dan kreasi melodis dapat mengakuisisi teknologi komputasi lebih dari yang kita bayangkan sebelumnya.</p>
<p>Sebagai penutup, ada sebuah moral cerita yang menarik untuk coba kita renungkan bersama. Musik pop industrial telah beberapa kali membuktikan bagaimana karya-karya spektakuler dapat dilahirkan melalui interaksi “inter-disiplin” aliran musik. Hal serupa juga terjadi melalui interdisiplinaritas sains dan seni. Horizon pemahaman dan apresiasi kita akan secara eksponensial meningkat luasnya ketika kita dapat memadukan secara harmonis, sains dan seni secara apik…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=201&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2010/07/16/fisikamusik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/physmus.jpg?w=256" medium="image">
			<media:title type="html">PhysMus Screenshot</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/rockroll.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rockroll history</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/kmbngbungo.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">KambanglahBungo Original</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/kmbngbungo2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kambanglah Bungo Alt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/tari-piring1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kambanglah Bungo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/imagine-org.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">imagine-org</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/imagine-alt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">imagine-alt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/07/john-lennon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">john-lennon</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nina Bobo bukan hanya untuk bayi?</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2010/04/26/nina_bobo/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2010/04/26/nina_bobo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 04:06:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[modern-pop]]></category>
		<category><![CDATA[romantik]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin lagu yang pertama kali kita dengar ketika lahir sebagai manusia ke muka bumi kepulauan nusantara ini adalah lagu, &#8220;Nina Bobo&#8220;. Kita akan teringat dengan liriknya, &#8220;nina bobo, oh, nina bobo kalau tidak bobo, digigit nyamuk bobo-lah, bobo, adikku sayang kalau tidak bobo, digigit nyamuk&#8230;&#8220; Namun sejarah panjang peradaban manusia hingga kehidupan modern dan industrial [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=150&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mungkin lagu yang pertama kali kita dengar ketika lahir sebagai manusia ke muka bumi kepulauan nusantara ini adalah lagu, &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=X6hkN609jb0">Nina Bobo</a>&#8220;. Kita akan teringat dengan liriknya,</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>&#8220;</em>nina bobo, oh, nina bobo<br />
kalau tidak bobo, digigit nyamuk<br />
bobo-lah, bobo, adikku sayang<br />
kalau tidak bobo, digigit nyamuk&#8230;<em>&#8220;<br />
</em></p>
<p><em><img class="size-full wp-image-188 alignright" title="baby3" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby3.jpg?w=460" alt=""   />Namun sejarah panjang peradaban manusia hingga kehidupan modern dan industrial saat ini, pada dasarnya membuka tabir bahwa kita menyanyikan Nina Bobo bukan hanya untuk anak bayi kita, tapi juga justru memiliki fungsionalitas psikologis yang diperuntukkan untuk yang menyanyikannya. Tak hanya bagi ayah atau ibu yang hendak menidurkan anak-anaknya, namun juga bagi semua individu manusia yang senantiasa pernah letih, lesu, namun tak kuasa memejamkan mata untuk meng-istirahatkan tubuh dan pikiran&#8230;</em></p>
<p><span id="more-150"></span>Orang-orang dengan berbahasa Inggris menyebutnya, &#8220;<em>lullaby</em>&#8220;: nyanyian &#8220;<em>la&#8230;la&#8230;</em>&#8221; untuk menenangkan &#8220;<em>baby</em>&#8221; sebagai ungkapan &#8220;<em>bye&#8230;bye&#8230;.</em>&#8221; agar ia tenang dan tertidur &#8211; dinyanyikan oleh ibu untuk menidurkan anaknya. Hubungan paling intim dari seseorang kepada orang lain memang terjadi pada ibunya dan itu terjadi di kereta bayi (<em>cradle</em>). <img class="alignright size-full wp-image-189" title="baby6" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby6.jpg?w=460" alt=""   />Ini merupakan hubungan di tengah malam yang sulit untuk memejamkan mata meski keletihan hinggap di tubuh sang bayi yang memang mesti tidur lebih dari 15 jam sehari agar ia tumbuh sehat. Suasana ini menjadi hangat oleh karena belaian melodis ibu pada anak bayinya. Namun tanpa disadari, nyanyian ibu merupakan berbagai interaksi akan doktrin hidup yang tiba ke alam bawah sadar sang bayi, sebagai refleksi harapan ibu/ayah kepada sang anak yang hendak ditidurkan.</p>
<p>Tiap kebudayaan punya nyanyian nina bobo yang berbeda-beda sebagai bentuk konstruksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sosial. Orang Italia menyebutnya &#8220;<em>Nana Bobò</em>&#8220;, orang Portugis menyebutnya &#8220;<em>Dorme bébé</em>&#8220;, orang Turki menyebutnya &#8220;<em>Dandini Dandini Dastana</em>&#8220;, dan seterusnya. Sejarah musik klasik menyebutnya sebagai bentuk melodis dengan komposisi &#8220;<em>berceuse</em>&#8221; dan terakhir, pop industrial rock menyebutnya sebagai bentuk lagu-lagu &#8220;<em>rock-a-bye baby</em>&#8220;.<img class="alignright size-full wp-image-190" title="baby1" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby1.jpg?w=460" alt=""   /></p>
<p>&#8220;Tubuh yang letih&#8221;, &#8220;Malam kelam yang meninggi&#8221;, dan &#8220;Kesulitan untuk memejamkan mata dan tidur&#8221;, merupakan tiga unsur yang menjadi latar belakang universal untaian melodis dan liris dari <em>nina bobo</em>.</p>
<p>Secara melodis, lagu-lalu nina bobo biasanya merupakan untaian sederhana dan manis dari deretan tonal yang sederhana dengan tempo dan irama yang relatif lambat (6/8), kecenderungan bagian-bagian yang mendatar dengan kontur naik dan turun yang mulus. Komposisi musik klasik barat mengenali bentuk lagu-lagu serupa ini dalam komposisi &#8220;<em>Berceuse</em>&#8221; sebagaimana pernah ditulis oleh komposisi piano dari Frederic Chopin (<a href="http://www.youtube.com/watch?v=8TQ-AXJZqtg">op. 57 dalam D-moll</a>), George Gershwin (<a href="http://www.youtube.com/watch?v=VfzDaDgr31I"><em>lullaby untuk Kuartet Senar</em></a>), atau permainan Sergei Rachmaninoff untuk <a href="http://www.youtube.com/watch?v=915M0d-ex9U"><em>lullaby op. 16 no. 1</em> Tchaikovsky</a>, serta satu dari yang paling indah dalam kesederhanaanmya tapi kurang populer karya  Wolgang Amadeus Mozart, <a href="http://www.youtube.com/watch?v=vXRzq_8bJ3c">Wiegenlied K. 350</a> yang tertuang dalam Köchel-Verzeichnis-nya.</p>
<div id="attachment_152" class="wp-caption aligncenter" style="width: 250px"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=UzI2Qc96J7M"><img class="size-medium wp-image-152    " title="mozart_organ" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/mozart_organ.jpg?w=240&#038;h=166" alt="" width="240" height="166" /></a><p class="wp-caption-text">Organ peninggalan Mozart, konon ia pernah memainkan Wiegenlied-nya di organ antik ini. Klik pada gambar untuk melihat seorang performer memainkannya untuk anda.</p></div>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#c0c0c0;"> </span></p>
<p>Namun lagu yang mungkin paling terkenal yang telah sedemikian menyatu dalam peradaban modern Euro-Amerika dan mungkin dunia adalah komposisi melodis Johannes Brahms: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=t894eGoymio">Wiegenlied: Guten Abend, gute Nacht, Op. 49, No. 4</a>. Seolah terdapat empat kalimat dalam tiap &#8220;bait-bait melodis&#8221; dari lagu ini, dengan variasi tonal yang repetitif. Mungkin mudah untuk mengenali kontur naik-turun yang sederhana dalam lagu ini bahkan bagi mereka yang kurang terbiasa dengan notasi musik sekalipun&#8230;</p>
<p style="text-align:left;"><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/brahms.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-154" title="brahms" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/brahms.jpg?w=460&#038;h=250" alt="" width="460" height="250" /></a>Secara liris, lagu ini dalam terjemahan Inggris populer&#8230;<em><br />
</em></p>
<p style="text-align:center;"><em> Lullaby and good night, with roses bedight<br />
With lilies o&#8217;er spread is baby&#8217;s wee bed<br />
Lay thee down now and rest, may thy slumber be blessed<br />
Lay thee down now and rest, may thy slumber be blessed</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Lullaby and good night, thy mother&#8217;s delight<br />
Bright angels beside my darling abide<br />
They will guard thee at rest, thou shalt wake on my breast<br />
They will guard thee at rest, thou shalt wake on my breast </em></p>
<p>Empat baris dalam tiap bait lirik lagu ini menggambarkan ungkapan akan kasih sayang orang tua (ibu) dalam menidurkan anaknya yang tanpa pamrih apapun bahagia dengan tidurnya sang bayi. Tidak ada hal yang tidak indah yang ingin diungkapkan oleh seseorang ketika menyanyikan nina bobo di hadapan seorang bayi. Seolah manusia dewasa senantiasa ingin &#8220;mengkampanyekan&#8221; akan optimisme hidup dalam apapun lirik lagu-lagu nina bobo, apapun kebudayaannya, apapun masa peradaban budaya tersebut. Itu yang juga dapat kita amati pada berbagai lirik lagu bertema nina bobo mulai dari zaman <em>berceuse </em>hingga musik industrial pop yang menyebutnya sebagai <em>rock-a-bye</em>.<img class="alignright size-full wp-image-191" title="baby2" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby2.jpg?w=460" alt=""   /></p>
<p>Hasil penelusuran yang dilakukan atas lebih dari dua ratus lagu nina bobo yang ada menunjukkan terdapat empat representasi pokok yang senantiasa muncul dalam lagu-lagu nina bobo,</p>
<ul>
<li>menggambarkan <em>keletihan </em>menjalani hari dan hidup yang melelahkan dan ajakan untuk segera memejamkan mata dan beristirahat.</li>
<li>menceritakan <em>fakta-fakta yang menyenangkan dan menenangkan</em>, seperti indahnya malam, langit berbintang, angin dan pepohonan, bunga-bunga, dan sebagainya.</li>
<li>mengungkapkan <em>janji dan harapan optimistik akan hari yang lebih indah</em> setelah bangun dari tidur, agar jauh dari rasa takut, bahkan beberapa lirik lagu mengekspresikan janji-janji akan hadiah-hadiah yang disediakan.</li>
<li>beberapa lagu (termasuk lagu di Indonesia, Nina Bobo), mengekspresikan adanya <em>ancaman jika tidak segera tidur/beristirahat</em>, misalnya gigitan nyamuk, serigala putih mengintai (nina bobo dari Rusia), dan sebagainya.</li>
</ul>
<div id="attachment_157" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/nina_bobo.jpg"><img class="size-medium wp-image-157   " title="nina_bobo" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/nina_bobo.jpg?w=300&#038;h=195" alt="" width="300" height="195" /></a><p class="wp-caption-text">Penelusuran liris atas berbagai lagu-lagu nina bobo mulai dari masa klasik-romantik (berceuse) hingga musik pop industrial modern (rock-a-bye). Klik pada gambar untuk memperbesar.</p></div>
<p>Dari keempat kategori ekspresi liris tersebut, sebenarnya kita dapat melihat (atau mungkin bertanya), apakah benar sebenarnya fungsionalitas dari lagu nina bobo untuk menidurkan bayi, karena <em>toh </em>bayi hampir bisa dipastikan tidak mengerti tentang ungkapan-ungkapan liris terebut yang merupakan &#8220;bahasa orang dewasa&#8221;.<a href="http://www.youtube.com/watch?v=hMgnXb-Zx7c"><img class="alignright size-full wp-image-167" title="creedl" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/creedl.jpg?w=460" alt=""   /></a> Hal ini terlihat bahkan hingga masa industri musik modern. Yang terkenal misalnya adalah sebuah lagu yang ditulis oleh John Lennon untuk putranya, Julian saat berusia 5 tahun, namun dinyanyikan oleh drummer The Beatles, Ringo Starr dalam orkestrasi yang disusun oleh musisi George Martin, dengan judul &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=rM40IzExGG8"><em>Good Night</em></a>&#8221; (1968). Sebuah tema yang juga dalam gubahan lagu <em>The Creed</em> dalam judul &#8220;<em><a href="http://www.youtube.com/watch?v=hMgnXb-Zx7c">Lullaby</a>&#8221; </em>(2001). Namun perkembangan musik modern <em>rock-a-bye </em>menunjukkan bahwa tak hanya  bayi yang memerlukan <em>lullabye</em> atau nina bobo. Siapa pun akan bersepakat bahwa keempat unsur liris yang diungkap di atas, sebenarnya diperlukan oleh setiap individu manusia tanpa kenal  batas usia.</p>
<p>Sebagai contoh misalnya musisi beraliran folk, Woody Guthrie, misalnya menggubah lagu nina bobo  untuk mereka yang secara ekonomi tertindas (buruh, gelandangan, kaum  miskin perkotaan) dalam lagunya yang bertajuk &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=NN_xvE79iXE">Hobo&#8217;s Lullaby</a>&#8221; (1944). Coba perhatikan petikan lirik lagu Guthrie berikut yang secara terang-terangan menggunakan keempat unsur lagu nina bobo namun ditujukan bagi kaum miskin kota pada pertengahan abad yang lalu:</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=NN_xvE79iXE"> </a><em>&#8220;&#8230; I know the police cause you trouble,<br />
they cause trouble everywhere<br />
But when you die and go to heaven,<br />
you won&#8217;t find no policemen there</em></p>
<p><em>I know your clothes are torn and ragged<br />
and your hair is turning grey<br />
Lift your head and smile at trouble</em><a href="http://www.youtube.com/watch?v=NN_xvE79iXE"><img class="alignright size-full wp-image-166" title="wgl" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/wgl.jpg?w=460" alt=""   /> </a><br />
<em>you&#8217;ll find happiness some day</em></p>
<p><em>So go to sleep you weary hobo<br />
Let the towns drift slowly by<br />
Don&#8217;t you feel the steel rail humming<br />
That&#8217;s a hobo&#8217;s lullaby&#8221;</em></p>
<p>Nina bobo tak hanya memiliki fungsi memperlambat denyut jantung untuk mempercepat istirahat malam bagi bayi dan anak-anak, orang dewasa yang menyanyikannya juga terikut dalam irama dan tonal yang menyejukkan oleh kerasnya hidup. <em><a href="http://www.youtube.com/watch?v=za8tQleadjI&amp;feature=related"><img class="alignright size-full wp-image-172" title="iwanl" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/iwanl.jpg?w=460" alt=""   /></a></em>Mungkin ini pula yang memotivasi seorang musisi nasional, Iwan Fals<em> </em>dalam dendangnya &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=za8tQleadjI&amp;feature=related">Dongeng Sebelum Tidur</a>&#8221; (1980) yang dengan tonalitas khas nina bobo, namun liriknya mengkspresikan kemarahan atas ketidakadilan dunia. <em> </em>Jelas sekali, tujuan menyanyikan lagu ini secara liris adalah untuk yang menyanyikannya, atas kejemuan pada dunia yang terasa tidak nyaman dan membuat letih. Secara fungsional, nina bobo menjadi sebuah upaya pelepasan atas keletihan psikologis dan emosional juga bagi orang tua yang menidurkan anak, sekaligus memancarkan angin optimisme dan harapan agar sang anak memiliki kehidupan dewasa yang jauh lebih baik daripada apa yang dialami oleh sang ayah dan ibunya.</p>
<p>Nina bobo bagaimanapun memiliki tendensi bahwa keletihan hidup bukanlah hal yang perlu untuk disesali, ia memiliki vitalitas dan optimisme yang ingin mundur sejenak untuk mengambil energi dari istirahat malam yang menjadi bekal bagi keesokan hari untuk lagi-lagi menantang kerumitan dan problematika keseharian manusia di tengah masyarakat. Ketidakbahagiaan yang dialami hari ini, kesulitan hidup yang diterima dan keletihan emosional yang muncul bukanlah sesuatu yang ingin disesali, namun dihadapi dengan pengharapan yang kukuh untuk terus melanjutkan hidup. Yang diperlukan seseorang yang letih dari hidup bukanlah lari dari kehidupan tersebut, melainkan rehat sejenak menikmati indahnya bintang di langit, membayangkan hidup yang lebih bahagia dalam impian sambil berdendang.<img class="alignright size-full wp-image-192" title="baby5" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby5.jpg?w=460" alt=""   /></p>
<p>Nina bobo adalah ungkapan optimisme untuk terus melanjutkan hidup yang seberat apapun itu dengan harapan akan hidup yang lebih baik esok hari. Pemahaman kita akan lagu nina bobo ini memberi kita ke-insyaf-an akan sebuah energi untuk berdiri terus menantang sumber keletihan dengan kegembiraan.</p>
<p>Menutup cerita nina bobo ini, mungkin kita bisa merasakan sesuatu yang lain ketika mendengar lagu di bawah ini, <a href="http://www.youtube.com/watch?v=TWg4dnXCpt8"><em>All the Pretty Little Horses</em></a>, sebuah lagu tradisional nina bobo masyarakat penggembala (koboi) Amerika Serikat, dinyanyikan sebagai variasi <em>gothik-rock</em> oleh Nick Cave &amp; Current 93&#8230;</p>
<p style="text-align:center;"><em><em><a href="http://www.youtube.com/watch?v=TWg4dnXCpt8"><img class="aligncenter size-medium wp-image-178" title="ncl" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/ncl.jpg?w=210&#038;h=209" alt="" width="210" height="209" /></a></em>Hush-a-bye, don&#8217;t you cry, go to sleep my little baby<br />
When you wake, you shall see  coach and six-a-little horses</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Blacks and bays, dapples and grays, all the pretty little horses</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Hush-a-bye, don&#8217;t you cry, Go to sleep my little baby<br />
</em><em>When you wake, you shall have all the pretty little horses</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Blacks and bays, dapples and grays, all the pretty little horses!</em></p>
<p>Mari beristirahat sejenak. Bermimpi bahwa esok masih ada matahari yang menjanjikan hidup lebih indah. Bagaimanapun, kemarin itu indah, hari ini agak lebih indah, tapi kita tahu, esok merupakan yang paling indah&#8230;<a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby7.jpg"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-187" title="baby7" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby7.jpg?w=121&#038;h=150" alt="" width="121" height="150" /></a></p>
<p style="text-align:left;">
<div id="_mcePaste" style="position:absolute;left:-10000px;top:683px;width:1px;height:1px;overflow:hidden;"><img src="/DOCUME%7E1/Q/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=150&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2010/04/26/nina_bobo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baby3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baby6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baby1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/mozart_organ.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">mozart_organ</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/brahms.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">brahms</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baby2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/nina_bobo.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">nina_bobo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/creedl.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">creedl</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/wgl.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">wgl</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/iwanl.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">iwanl</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baby5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/ncl.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">ncl</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/04/baby7.jpg?w=121" medium="image">
			<media:title type="html">baby7</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tari dan lagu cinta bersemi&#8230;</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2010/03/03/habanera_cinta/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2010/03/03/habanera_cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 00:49:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[modern-pop]]></category>
		<category><![CDATA[romantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Bizet terkesan dengan kebebasan yang tercermin dalam tarian Havana. Ketuk-ketuk irama tarian menjadi alunan nada bas melompat-lompat yang menggambarkan kebebasan akan cinta khas gypsi yang menjadi ruh dari seluruh lagu Habanera. Gita Gutawa juga melompat riang dengan melodi dan irama yang sama, juga mengumandangkan cinta yang bersemi. Namun sebagaimana ditulis oleh Melly Goeslaw untuknya, cintanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=137&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="size-full wp-image-142 alignright" title="gita-gutawa-harmoni-cinta" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/gita-gutawa-harmoni-cinta.jpg?w=460" alt=""   />Bizet terkesan dengan kebebasan yang tercermin dalam tarian Havana. Ketuk-ketuk irama tarian menjadi alunan nada bas melompat-lompat yang menggambarkan kebebasan akan cinta khas gypsi yang menjadi ruh dari seluruh lagu Habanera. Gita Gutawa juga melompat riang dengan melodi dan irama yang sama, juga mengumandangkan cinta yang bersemi. Namun sebagaimana ditulis oleh Melly Goeslaw untuknya, cintanya tak bicara kebebasan, tetapi lebih pada ekspresi bahagia akan harmoni cinta yang dirasakan. Perspektif yang berbeda: di Perancis abad ke-19 dan Indonesia abad ke-21, namun tetap menarikan tarian bebas yang gembira dengan irama orang-orang tradisional Havana, Kuba.</em></p>
<p><span id="more-137"></span></p>
<p>Penulis kenamaan Mark Twain punya satu aforisma tentang hidup di surga nan sangat <img class="size-full wp-image-136 alignright" title="Mark Twain's" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/dance_love_sing_live-547.jpg?w=460" alt=""   />bahagia: menari seperti tak ada yang menonton, mencinta seperti tak akan terlukai. Menari dan mencinta menjadi dua konsep yang analogis satu sama lain. Menari dan mencinta berarti kebebasan yang absolut ketika tak perlu ada cemoohan dari yang menontonnya, dan mencinta tanpa ada peluang untuk kemudian terluka merupakan ekspresi yang rumit dari manusia dan merupakan puncak dari emosionalitas yang ada dalam hidup seseorang. Mungkin inilah yang ada di benak seorang komponis Perancis, Georges Bizet (1872), ketika menggubah untaian lagu yang menggambarkan cinta seorang Carmen yang bebas sebebas-bebasnya: ibarat burung yang tak dapat dijinakkan (<em>&#8230;oiseau rebelle que nul ne peut apprivoiser</em>) dan bocah gypsi yang tak mengenal aturan (<em>&#8230;enfant de Bohème, il n&#8217;a jamais, jamais connu de loi</em>). Komposisi Bizet menjadi pas dengan lirik yang ditulis oleh sastrawan Perancis Henry Meilhac and Ludovic Halévy berdasarkan novel karya sastrawan Perancis, Prosper Mérimée.</p>
<p>Kecerdasan Bizet dalam komposisi bagian kecil dari opera berjudul Carmen ini adalah adaptasinya atas Habanera (tarian Havana, Kuba) yang menjadi jiwa dari seluruh bagian dari &#8220;lagu Habanera&#8221; ini. Tarian Kuba ini merupakan tarian riang dengan pola irama sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-143" title="habanera_ori" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/habanera_ori.jpg?w=460" alt=""   /></p>
<p>Irama ritmis ini merupakan irama tradisional dari Havana, Kuba, Amerika Latin yang dipengaruhi oleh musik contradanza Eropa. Irama yang menjadi landas gerak sendratari tradisional ini bertempo 2/4 dan juga sangat populer di beberapa pelabuhan yang menghubungkan antara Eropa dan masyarakat pesisir Amerika Latin. &#8220;Menari tanpa penonton&#8221;, seperti ujaran Mark Twain di atas, lalu &#8220;mencintai tanpa takut akan disakiti&#8221;, <img class="alignright size-thumbnail wp-image-144" title="Bizet_Georges" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/bizet_georges_522x275_tcm8-180091.jpg?w=150&#038;h=79" alt="" width="150" height="79" />sebagaimana ekspresi liris tokoh opera Carmen &#8211; yang konon oleh kekuatan magisnya tak mungkin ditolak oleh pria manapun, digabungkan oleh Bizet dalam komposisi lagu Habanera yang sangat terkenal hingga hari ini. Sadar atau tidak sadar, Bizet sudah menampilkan keindahan surga di bumi, sebagaimana kelanjutan dari ungkapan Mark Twain tadi. Oleh Bizet, irama ini ditaruh dalam alat musik bass dengan melodi&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-138" title="habanera-carmen" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/habanera-carmen.jpg?w=460" alt=""   /><br />
&#8230;yang jika kita dengarkan dengan saksama mengitari hampir keseluruhan dari nyanyian lagu.</p>
<p>Mungkin Habanera ini merupakan lagu yang menggambarkan cerita cinta paling sering diperdengarkan dalam berbagai bentuk. Ada keriangan &#8220;tarian&#8221; di dalamnya, namun ada juga ungkapan-ungkapan definitif yang subyektif atas ekspresi cinta dengan emosi yang meletup-letup di dalamnya. Salah satu performa yang populer disebut-sebut dalam kritik seni opera dari lagu Habanera ialah pembawaan diva musik opera dunia kenamaan keturunan Yunani dan kelahiran Amerika, Maria Callas. Pembawaan suara sopran Maria memang seolah mampu menangkap emosi keriangan, keangkuhan, sekaligus kejujuran cerita cinta sebagaimana diungkap oleh Bizet. Mari lihat video Maria menyanyikan lagu Habanera ini&#8230; (<em>klik pada gambar</em>)</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=6fZRssq7UlM"><img class="aligncenter size-medium wp-image-141" title="callas" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/callas.jpg?w=300&#038;h=224" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Mungkin ini pula yang ditangkap oleh kejeniusan penggubah lagu populer Indonesia, Melly Goeslaw, lebih satu abad berikutnya untuk lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi muda, Gita Gutawa, untuk lagu bertajuk &#8220;Harmoni Cinta&#8221; (2009) &#8211; tentu dengan orkestrasi sang ayah kandungnya, yang seorang komposer nasional, Erwin Gutawa. Kita juga dapat mencatat perbedaan antara sang diva Maria Callas dan calon diva Gita Gutawa dari sisi kehidupan masing-masingnya, Jika Maria mengalami kemuraman masa kecil yang hebat, justru Gita merupakan seorang seniman yang lahir dari keluarga seniman yang sangat mendukungnya. Yang jelas, keduanya menyanyikan langgam cinta yang luar biasa&#8230;</p>
<p>Perkembangan dunia musik mencatat  bahwa keindahan komposisi yang berinspirasi dari tarian constradanza hasil buah tangan Bizet ini, seolah-olah menjadi dasar aksen dari nyanyian cinta bersemi yang abadi, hingga secara cerdas &#8220;dicuri&#8221; untuk mengungkapkan makna cinta yang bersemi di tanah air oleh Melly untuk genre lagu populer remaja. Kesengajaan ekivalensi dengan Habanera-nya Bizet memang masih terasa, karena lagu ini, meskipun bergenre populer, tetap dinyanyikan dalam suasana operatik riang dengan iringan <em>The City Prague Philharmonic Orchestra</em>. Untuk menopang suara Gita yang tinggi dan khas, nada asali Habanera dinaikkan setengah laras menjadi,</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-139" title="habanera-gita" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/habanera-gita.jpg?w=460" alt=""   /><br />
&#8230;yang juga menjadi dasar dinamika dari lagu ini. Kombinasi aransemen yang cerdas, menyulap Habanera menjadi populer, masih terasa nuansa tariannya, namun dengan interpretasi cinta a la Indonesia yang khas: &#8220;harmoni cinta&#8221;. Dalam video klip resminya, Gita Gutawa digambarkan menari-nari riang sambil melompat-lompat di zebra cross, dan begitu riang mengungkap perasaannya ketika jatuh cinta. Ada kegembiraan akan jatuh cinta dan ia melihat sekelilingnya menjadi sebuah harmoni yang indah. Coba saksikan keriangan yang terpancar dari video-klipnya berikut&#8230; (<em>klik pada gambar</em>)</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=Wf9-V3pOJaw"><img class="aligncenter size-medium wp-image-140" title="harmoni cinta" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/gita.jpg?w=300&#038;h=186" alt="" width="300" height="186" /></a></p>
<p>Mungkin begitu pandangan Melly ketika menulis lagu ini tentang cinta, dan mungkin pandangan kita &#8211; kontras dengan pandangan puisi Perancis yang meng-identik-kan cinta dengan rasa bebas yang tergambar melalui tarian gembira. Cinta yang bersemi menjanjikan harmoni sementara di sana cinta identik dengan kebebasan. Perspektif yang berbeda, namun tetap tergambar dalam bentuk tarian bebas yang gembira dengan irama 4 nada gubahan seorang Georges Bizet.</p>
<p>Mari merayakan cinta, sebab sungguh sia-sia hidup tanpa cinta. Mari menari, sebab sungguh kelu tubuh ini tanpa tarian. Cinta dan tarian merupakan alat demi menghadirkan surga di bumi, seperti kata Mark Twain.</p>
<p>Mari menikmati indahnya Harmoni Cinta sebagai tarian modern Havana&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=137&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2010/03/03/habanera_cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/gita-gutawa-harmoni-cinta.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gita-gutawa-harmoni-cinta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/dance_love_sing_live-547.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mark Twain's</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/habanera_ori.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">habanera_ori</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/bizet_georges_522x275_tcm8-180091.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Bizet_Georges</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/habanera-carmen.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">habanera-carmen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/callas.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">callas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/habanera-gita.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">habanera-gita</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2010/03/gita.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">harmoni cinta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membiarkan &#8220;The Rolling Stones&#8221; menikmati &#8220;Gurame Edan&#8221;</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2009/04/05/gurame-edan/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2009/04/05/gurame-edan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 00:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[archipelagic]]></category>
		<category><![CDATA[modern-pop]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu Yoga, Nedi, dan kawan-kawannya memanggil seorang perempuan cantik nan genit penanti bar lewat lagu The Rolling Stones, &#8220;Honky-Tonk Woman&#8220;. Tapi bukan kaki yang diangkat dan tongkat mikrofon dilenggakkan sebagaimana lagak panggung Mick Jagger yang tampil di situ. Penonton yang ingin latah ikut berjoget, tapi bukan gerakan disko yang terkuak, melainkan joget seolah mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=122&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-134" title="ge" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/ge.jpg?w=128&#038;h=95" alt="ge" width="128" height="95" />Malam itu Yoga, Nedi, dan kawan-kawannya memanggil seorang perempuan cantik nan genit penanti bar lewat lagu The Rolling Stones, &#8220;</em>Honky-Tonk Woman<em>&#8220;. Tapi bukan kaki yang diangkat dan tongkat mikrofon dilenggakkan sebagaimana lagak panggung Mick Jagger yang tampil di situ. Penonton yang ingin latah ikut berjoget, tapi bukan gerakan disko yang terkuak, melainkan joget seolah mereka mendengar langgam keroncong riang. Gurame Edan, kelompok musik keroncong nyeleneh itu, menumbuhkan dengan subur &#8220;</em>Honky-Tonk Woman<em>&#8221; dalam nuansa keroncong. Benar-benar santapan yang menunjukkan luasnya khazanah musik yang nikmat dan …edan!</em><br />
<span id="more-122"></span><br />
<img class="alignright size-full wp-image-123" title="marco" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/marco.jpg?w=460" alt="marco"   />Memang pada tahun 1980-an penikmat musik sudah pernah mendengarkan &#8220;keroncong nyeleneh&#8221; yang  memainkan lagu-lagu pop, <em>country</em>, <em>blues</em>, hingga <em>jazz</em>, oleh grup &#8220;CongRock&#8221; yang digagas oleh perintis Keroncong Inovatif Senior, Marco Marnadi. Suatu inovasi yang sempat menuai protes namun pada akhirnya keroncong inovatif ini merupakan sebuah upaya yang jempolan dan unik, serta membuka jalan bagaimana menumbuhkan gejolak melodi non-Indonesia dalam kerangka bermusik orang-orang Indonesia. Kreativitas ini bahkan mampu merebut hati penikmat musik, bahkan hingga ke manca negara.</p>
<p>Namun Gurame Edan memiliki gaya yang sangat berbeda. CongRock melakukan paduan apik yang harmonis lagu-lagu pop dari belahan utara planet ini dengan beberapa penyesuaian yang &#8220;memuluskan&#8221; tumbuhnya noktah-noktah nada dan irama pop tersebut ke dalam substrat keroncong, antara lain dengan mengeksplorasi paduan alat musik yang digunakan: <em>bass</em> betot, gitar, <em>cello</em>, cak-cuk, dan biola dikolaborasikan dengan instrumen: <em>keyboard</em>, <em>saxophone</em>, trompet, <em>fluete</em>, gitar elektrik, banyo, dan drum. Gurame Edan melakukan upaya penumbuhan yang lain. Instrumen musik yang digunakan dipertahankan tanpa harmonisasi dengan instrumen barat. Ini dapat memberi nilai tambah dan kemungkinan juga nilai kurang bagi Gurame Edan.</p>
<p>Nedi dan Yogi, mungkin pernah santer dikenal sebagai personil grup band Pemuda Harapan Bangsa dengan langgam dangdut kocaknya. Tapi ini eksplorasi bermusik mereka belakangan meluas hingga ke pola nuansa (<em>musical vibe</em>) keroncong. Eksplorasi inilah yang berbuntut tumbuhnya lagu-lagu yang menjadi tonggak musik <em>rock &#8216;n roll</em> modern di dalam substrat musik khas Indonesia, khususnya kawasan pesisir pulau Jawa, keroncong!</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-127" title="rollstones-single1969_honkytonkwomen" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/rollstones-single1969_honkytonkwomen.jpg?w=460" alt="rollstones-single1969_honkytonkwomen"   />Ketiadaan efek gitar sebagai <em>lead</em>, gitar ritmis dan <em>bass</em>, maupun <em>synthesizer</em>, apalagi drum, yang menjadi penjaga irama musik, telah melahirkan wajah baru audio musik-musik dari belahan utara dunia. Pendengar akan masih bisa mengenali  balada melodis maupun liris dari &#8220;<em>Honky-Tonk Woman</em>&#8220;-nya <em>The Rolling Stones</em>, tapi corak telah berubah jauh. <em>Honky-Tonk Woman</em> harus tumbuh di gesekan biola, petikan bas betot, ukulele, dan khas musikal lain yang menandai keroncong yang kita kenal. <em>Honky-Tonk Woman</em> tak perlu berubah dari wanita genit dengan lipstik dan bedak tebal berpakaian penuh renda menjadi perempuan Timur berkebaya. Pendendang pun tak perlu berubah dari sosok lelaki tegap bertopi koboi dan berompi kulit menjadi lelaki jawa berblankon. Tidak sama sekali!</p>
<p>Lagu orisinil <em>Honky-Tonk Woman</em> sangat terkenal dengan intro-nya yang sangat inovatif (pada masanya), dengan pola kord harmonis yang mengawali lagunya. Banyak lagu-lagu pop meniru gaya harmonisasi kord unik ini, tak kurang baru-baru ini grup musik Indonesia, ChangCuters, juga menggunakan pola ini untuk lagunya yang berjudul &#8220;I Love You, Bibeh!&#8221;. Pola ini digambarkan seperti berikut (<em>klik untuk memperbesar</em>):</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthasli.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-124" title="HonkyTonkIntroAsli" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthasli.jpg?w=300&#038;h=47" alt="HonkyTonkIntroAsli" width="300" height="47" /></a></p>
<p>Mari coba kita simak bersama tampilan asli dari <em>The Honky-Tonk Woman</em> ini ketika disuarakan oleh Jagger dan sobat-sobatnya dalam penampilan panggung di Hyde Park pada tahun 1969.<br />
URL: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=faEEro38pEA">http://www.youtube.com/watch?v=faEEro38pEA</a></p>
<p>Tapi, Gurame Edan bermain lain. Pola ritmis yang menjadi intro khas lagu ini berubah menjadi gesekan biola dengan cara gesek yang unik keroncong, menjadi berbentuk (<em>klik untuk memperbesar</em>):</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthge.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-125" title="HonkyTonkIntroGE" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthge.jpg?w=300&#038;h=40" alt="HonkyTonkIntroGE" width="300" height="40" /></a></p>
<p>Audio video penampilan dari Gurame Edan untuk lagu ini bisa diakses di URL: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=vOpCdRjtnfc">http://www.youtube.com/watch?v=vOpCdRjtnfc</a></p>
<p>Alhasil, nuansa keroncong lagu ini pun muncul bahkan semenjak intro. Bagi pengamat <em>The Honky-Tonk</em> yang dimainkan oleh <em>The Rolling Stones</em> dalam berbagai episode tur musik mereka, mungkin bisa teringat dengan rentetan nada-nada yang menjadi intro <em>a la</em> Gurame Edan ini sebagai salah satu varian dari ekspresi gitar lead dari musik aslinya. Terbukti, pola melodik ini memang muncul di bagian yang pada musik aslinya ditempati oleh gitar lead &#8211; hal yang tak ada sama sekali (dan justru menjadi pola unik gaya<em> rock &#8216;n roll The Rolling Stones</em>) pada lagu aslinya. Kreativitas lahir ketika <em>Honky-Tonk W</em><em>oman</em> lahir di tangan eksplorasi musik Gurame Edan. <img class="alignright size-thumbnail wp-image-129" title="logo-gurame" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/logo-gurame.jpg?w=108&#038;h=96" alt="logo-gurame" width="108" height="96" /></p>
<p>Bermusik keroncong menjadi meluas, sesuatu yang juga terlihat sebenarnya pada pendahulu Gurame Edan yang dimotori dalam rintisan Marco Marnadi. Tetapi tak hanya itu tentu, karena sebenarnya dimensi lagu bertema sensualitas wanita di Eropa ini menjadi diperluas pula melalui perpaduan kreatif permainan Gurame Edan ini. Terlepas dari apakah gaya bermusik Gurame Edan ini akan juga berkiprah di industri musik modern, ia menjadi tonggak dalam evolusi dan inovasi musik tanah air, karena Gurame Edan memang tak cuma memainkan lagu-lagu <em>The Rolling Stones</em>. Lagu-lagu dari grup <em>punk </em>alternatif Nirvana, grup musik <em>rock </em>Metallica pun dipupuk untuk tumbuh di tanah keroncong dengan dimensi musik keroncong di nusantara yang khas.</p>
<p>Pada dasarnya ini merupakan pola yang sangat inspiratif bagi industri musik dunia, karena selama ini, mengutip musisi psikodelik Glenn Branca, pola langgam musik pop modern seolah &#8220;mentok&#8221; di mana banyak eksplorasi mulai melirik pola melodi nada-nada mikrotonis yang sangat berbeda dengan sistem titi laras oktaf warisan sistem tarekat filsuf Yunani, Pythagoras (580-490 SM), yang kita kenal saat ini. Secara melodis, keroncong mungkin masih mengakuisisi sistem titi laras modern yang standar, namun kita tahu, musik tak bisa direduksi sebagai sekadar penjajaran nada-nada, karena banyak unsur lain dalam eksplorasi musik yang bisa telah akan sangat mengubah gaya bermusik, mulai dari pola ritmik hingga reverberasi (efek ruang stereo) dari suara.</p>
<p>Terkait upaya &#8220;pelestarian budaya&#8221; nusantara, banyak memang pola rilis ulang dan upaya mempopulerkan musik tradisi Indonesia. Sebut saja misalnya medley &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=RWuymq1sluw">Punk Jawa</a>&#8220;-nya grup legendaris Slank yang menyanyikan lagu etnik Jawa secara<em> punk rock</em>, atau beberapa lagu yang dimainkan oleh juga secara <em>medley </em>Elfa&#8217;s Singer (misalnya lagu <a href="http://www.youtube.com/watch?v=CAEVpOIGNs8">Yamko Rambe Yamko</a> dari Papua), termasuk album berjudul &#8220;<em>Tribute to Toraya</em>&#8221; artis <em>Indonesian Idol</em>, Harry Montong<img class="alignright size-thumbnail wp-image-130" title="montong" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/montong.jpg?w=101&#038;h=96" alt="montong" width="101" height="96" />, misalnya, yang membawa nuansa pop apik atas lagu Toraja, Batingna Lebonna. Sebuah pola yang sangat sering juga muncul hingga di <a href="http://www.youtube.com/watch?v=YTSGgzZwMVI">panggung-panggung lokal</a> di hotel-hotel, acara nikahan, hingga sunatan massal. Menumbuhkan lagu tradisional dalam substrat gaya eksploratif musik modern konvensional bukan hal jarang kita temui.</p>
<p>Keroncong nyeleneh semacam yang ditunjukkan Gurame Edan ini jarang kita temui relatif terhadap upaya pembawaan lagu tradisional Indonesia dengan akuisisi instrumentasi musik modern. Musik merupakan artifak multidimensional yang luar biasa kompleks. Gencarnya pola pendidikan seni modern yang senantiasa berkiblat pada titi laras oktaf standar dalam alat musik populer, di banding pola bermusik dengan instrumentasi tradisi asli Indonesia, secara kuantitas membuat eksplorasi yang dilakukan oleh Gurame Edan dan perintis-perintisnya ini justru jarang terjadi, padahal sebenarnya merupakan ikhwal yang sangat vital dalam akuisisi pola bermusik.</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/musetradmod.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-126" title="Interaksi Musik Modern &amp; Musik Tradisi Nusantara" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/musetradmod.jpg?w=300&#038;h=258" alt="Interaksi Musik Modern &amp; Musik Tradisi Nusantara" width="300" height="258" /></a><br />
Dari sini kita mempelajari dua interaksi antara apa yang modern dan dalam panggung musik dunia dikenal sebagai bentuk konvensionalitas, dengan apa yang menjadi eksplorasi musik tradisi masyarakat yang tinggal di Kepulauan Indonesia. Panah merah di bagian bawah pada gambar di atas (<em>klik untuk memperbesar</em>) sering kita temui, tapi panah ungu merupakan hal yang relatif tidak sering. Ini merupakan sebuah tantangan yang menarik bagi masyarakat seni musik Indonesia yang kebetulan tinggal di tanah air yang menyimpan ribuan gaya eksplorasi musik terkait etnisitas dan pranala musik tradisi. Hanya satu lagu dari Gurame Edan, dan kita telah menyaksikan keunikan berpola yang terlihat dalam upaya panah ungu dalam gambar di atas. Sejarah musik modern dari zaman Klasik, era Barok, era Romantik, hingga musik populer industrial seperti sekarang ini dengan berbagai genre-nya, menanti panah ungu-nya untuk menginspirasi dan mewarnai corak musik dunia yang tak akan pernah berdinamika dan ber-evolusi.<a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthge.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-128" title="nedi_cs" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/nedi_cs.jpg?w=128&#038;h=66" alt="nedi_cs" width="128" height="66" /></a></p>
<p>Sebuah refleksi bagi pendidikan termasuk <em>link and match</em>-nya dengan industri dan apresiasi musik Indonesia yang tengah berjuang dalam perluasan inovasi melalui kreativitas yang secara global dapat bersumber pada tradisi bangsa Indonesia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=122&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2009/04/05/gurame-edan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/ge.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">ge</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/marco.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">marco</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/rollstones-single1969_honkytonkwomen.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rollstones-single1969_honkytonkwomen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthasli.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">HonkyTonkIntroAsli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthge.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">HonkyTonkIntroGE</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/logo-gurame.jpg?w=108" medium="image">
			<media:title type="html">logo-gurame</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/montong.jpg?w=101" medium="image">
			<media:title type="html">montong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/musetradmod.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Interaksi Musik Modern &#38; Musik Tradisi Nusantara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/nedi_cs.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">nedi_cs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemudaan dalam Tematika Musikalitas Pop</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/10/22/kemudaan-dalam-tematika-musikalitas-pop/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/10/22/kemudaan-dalam-tematika-musikalitas-pop/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 23:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[modern-pop]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Musik pop adalah musiknya anak muda. Pop berarti populer, ia tersuarakan dalam lirik yang berusaha mewakili suara mereka yang tergolong muda dan sekaligus pasar industri musik, sayatan melodi dalam cabikan senar gitar, genderang drum yang cepat dan dinamis bahkan dalam hentakan (baca: beat) dan irama, dan belakangan melalui teknologi sinkronisasi frekuensi-ritme dengan bantuan devais elektronik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=100&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-117" title="sp1928" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/sp1928.jpg?w=460" alt=""   /></p>
<p><em>Musik pop adalah musiknya anak muda. Pop berarti populer, ia tersuarakan dalam lirik yang berusaha mewakili suara mereka yang tergolong muda dan sekaligus pasar industri musik, sayatan melodi dalam cabikan senar gitar, genderang drum yang cepat dan dinamis bahkan dalam hentakan (baca: </em>beat<em>) dan irama, dan belakangan melalui teknologi sinkronisasi frekuensi-ritme dengan bantuan devais elektronik dan komputer. Anak muda tersuarakan dalam musikalitas pop yang digandrunginya, namun bagaimanakah musikalitas yang menjadi ikon sub-kultur muda ini berbicara tentang kemudaan itu sendiri? Lebih jauh, menjadi tua adalah sebuah takdir yang merupakan dinamika berfungsi waktu. Tanpa sadar, menjadi tua adalah hal yang tak diinginkan karena secara representatif, ketuaan memberikan asosiasi akan stagnasi, anti-dinamika dan perubahan, dan rendahnya progresifitas.</em></p>
<p><em>Terdapat beberapa lagu yang secara liris bertema tentang apa yang dipandang sebagai muda kontras atas kenyataan bahwa kemudaan tersebut terkait dengan usia dan semangat. Bahkan frasa &#8220;</em>Forever Young<em>&#8221; sangat banyak digunakan sebagai judul lagu. Sebuah keinginan untuk menjadi muda tentu karena kemudaan memiliki sifat-sifat yang ignin senantiasa dipertahankan, namun secara natural seringkali akhirnya kandas dan hilang seiring bertambahkan usia. </em><span id="more-100"></span></p>
<p>Musikalitas pop, khususnya, semenjak musik mulai dipersiarkan (<em>broadcast over air</em>) telah melahirkan banyak lagu yang bertitik tolak pada liris. Kita meninjau beberapa lagu dari genre musik populer terkait kemudaan dari sisi lirisnya berikut ini. &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; karya grup band rock Alphaville (1984), &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; karya musisi folk yang menjadi inspirator musik rock Amerika Serikat Bob Dylan (1973), &#8220;<em>Forever Young</em>&#8220;-nya Rod Stewart (1985) serta &#8220;<em>Never Grow Old</em>&#8221; dari grup musik Irlandia The Cranberries (2001). Dari lirik lagu-lagu ini, kita akan mencoba membaca bagaimana sifat kemudaan itu terdefinisi, dan bahwa kemudaan adalah representasi keinginan dan kerinduan akan keabadian. Karena kemudaan adalah dinamika, dan seperti ungkapan feminis posmodernis Simon de Beauvoir, &#8220;<em>lawan dari muda bukanlah menjadi tua, melainkan mati</em>&#8220;.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-109" title="joan_baez_bob_dylan" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/250px-joan_baez_bob_dylan.jpg?w=460" alt="" />Koleksi lagu paling tua dengan tajuk &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; mungkin adalah gubahan musisi luar biasa Bob Dylan. Lagu ini dirilis ulang oleh banyak musisi pop lainnya, seperti misalnya Diana Ross (Album <em>Swept Away</em>, 1984), grup band The Pretenders (Album <em>Last of the Independents</em>, 1994), musisi aktivis Joan Baez (1973), dan terakhir musisi rock Meat Loaf (Album <em>Couldn&#8217;t Have Said It Better</em>, 2003). Diakui sebagai bentuk ketaksengajaan, Rod Stweart dalam albumnya <em>Out of Order</em> (1988) merilis lagu dengan pola rima liris yang sama namun dengan berbagai elemen lirik yang agak berbeda. Bob dan Rod berdamai dan saling berbagi royalti atas penjualan album ini. Rod mungkin tak sengaja pernah mendengar lagu yang jelas membumbungkan nama Bob Dylan ini dan inspirasinya memberikan inspirasi atas gubahannya sendiri. Secara sepintas lagu ini berisi pesan dan petuah seorang yang lebih tua (orang tua) kepada yang lebih muda (anak) namun dengan penekanan sifat-sifat kemudaan yang ditonjolkan baik dan diakhiri dengan pesan untuk selalu menjadi muda. Lagu &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; Bob Dylan dapat dilihat di: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=VSpAWVa4Jak">http://www.youtube.com/watch?v=VSpAWVa4Jak</a> sementara yang dinyanyikan Rod Stewart di: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=OHNeRjC4nJw">http://www.youtube.com/watch?v=OHNeRjC4nJw</a><img class="size-full wp-image-110 alignright" title="rod_stewart" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/220px-rod_stewart_05111976_12_400.jpg?w=460" alt=""   /></p>
<p>Agak berbeda dengan Bob dan Rod, grup band <em>rock &#8216;n roll,</em> Alphaville tadinya bernama &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; dengan hits mereka yang memang sangat terkenal bertajuk ini. Alphaville yang musisi pop rock yang merupakan salah satu pelopor dalam akuisisi dominan synthesizer ini secara liris menunjukkan pola deklaratif untuk menjadi selalu muda. Hampir senada dengan sastrawan Indonesia, Chairil Anwar, lirik Alphaville beberapa kali terdengar menyuarakan keinginan untuk &#8220;<em>die young or live forever</em>&#8220;. Deklarasi untuk tak mau menjadi tua menjadi tema dari lagu ini dengan menampilkan keinginan untuk senantiasa dinamis (pemilihan kata &#8220;<em>dance</em>&#8220;, &#8220;<em>adventure</em>&#8220;, &#8220;<em>dreams come true</em>&#8220;) merupakan isi lirik lagu ini. Tak heran, lagu deklaratif ini telah beberapa kali pula dirilis ulang, katakanlah misalnya oleh artis Laura Branigan (Album <em>Hold Me</em>, 1985), dan baru-baru ini oleh grup musik Youth Group (2006) dan terakhir oleh Rooney setahun yang lalu (2007). <img class="size-full wp-image-114 alignright" title="alphaforever" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-alphaforever.jpg?w=460" alt=""   />Video klip lagu ini dapat disimak di: h<a href="//www.youtube.com/watch?v=n7CuJ8cR9sg">ttp://www.youtube.com/watch?v=n7CuJ8cR9sg<img class="alignright size-full wp-image-111" title="alphaforever" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/image-alphaforever.jpg?w=460" alt="" /></a></p>
<p>Jika Bob &amp; Rod memberi petuah untuk senantiasa muda dan Alphaville menyuarakan deklarasi untuk keinginan untuk selalu muda, maka grup musik rock Irlandia ber-vokal unik The Cranberries menggubah lagu berpesan untuk tak ingin menjadi tua dengan tajuk &#8220;<em>Never grow old</em>&#8221; dalam album mereka &#8220;<em>Wake Up And Smell the Coffee</em>&#8221; (2001). Sebagaimana sepintas digambarkan tajuknya, lagu ini mengkontraskan kemudaan dengan kesempurnaan situasi muda, ketenangan, dan mimpi. Kegembiraan muda adalah apa yang secara apik ditampilkan oleh The Cranberries. Lagu ini dapat disimak di: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=wVC-veJ6eQ8">http://www.youtube.com/watch?v=wVC-veJ6eQ8</a></p>
<p><img class="size-full wp-image-115 alignright" title="the_crannies" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/220px-publicity05.jpg?w=460" alt=""   />Sebenarnya bagaimana secara umum musisi-musisi yang merepresentasikan kemudaan dalam wacana subkultur muda global? Untuk ini kita dapat mencoba melihat bagaimana satu konsep terkait dalam konsep lain dalam lirik-lirik mereka secara detail. Setiap konsep (kata) terkait dengan konsep (kata) lain jika digunakan dalam satu kalimat lagu. Hasilnya adalah jaring-jaring  konsep (kata) yang terhubung jika digunakan dalam satu kalimat liris dalam lagu-lagu mereka secara keseluruhan. Kita berharap meng-ekstrak secara visual, bagaimana tren-setter musik dunia ini merepresentasikan &#8220;kemudaan&#8221; dalam lirik-lirik lagu mereka. Menarik, karena kita dapat melihat sebagaimana ditunjukkan pada gambar di bawah ini&#8230; (<em>klik pada gambar untuk memperbesar</em>).</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-102" title="Young In Western Pop Musicality" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young.jpg?w=300&#038;h=177" alt="" width="300" height="177" /></a></p>
<p>Dari jaring-jaring tersebut terlihat beberapa sifat-sifat kemudaan yang ingin ditampilkan dalam lirik-lirik lagu-lagu modern pop ini. Kemudaan ditampilkan terkait reat dengan konsep kelincahan (<em>swift feet, hands,</em> dan sebagainya), kegembiraan (<em>joyful</em>), keteguhan sikap (<em>stand up right</em>), keberanian (<em>courageous</em>), keyakinan akan kebenaran (<em>know the truth</em>), nyanyi dan lagu (<em>song, play</em>), bahkan nilai spiritual, sebagai kelompok (<em>cluster</em>) dengan butir-butir keterkaitan konsep terbanyak dalam jaringan tersebut. Ketika ia terkait dengan ke-aku-an kaum muda, maka konsep seperti impian (<em>dreams</em>), kesempurnaan situasional, pengalaman, dan kegembiraan muncul.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-112" title="youth_group_-_forever_young" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-youth_group_-_forever_young.jpg?w=460" alt=""   />Namun ketika terkait dengan konsep &#8220;menjadi tua&#8221;, konsep-konsep lemah seperti kesulitan, kematian, dan kepudaran muncul. Ini menjadi point-point penting yang menunjukkan adanya representasi dan keinginan untuk senantiasa muda sebagaimana ditunjukkan dalam lagu-lagu tersebut. Dalam analisis kuantitatif, jika frekuensi dan kekuatan antar konsep sebagai bentuk perulangan dalam syair kita perhitungkan, maka kita akan mendapati konsep &#8220;<em>young</em>&#8220;, &#8220;<em>live</em>&#8220;, &#8220;<em>forever young</em>&#8220;, &#8220;<em>song</em>&#8220;, &#8220;<em>dreams</em>&#8221; sebagai beberapa konsep yang penting dalam lirik-lirik tiga lagu penting ini. Tiga lagu ini secara implisit juga menunjukkan akan yang muda yang tak suka dengan perseteruan bersenjata atau perang dengan munculnya konsep-konsep terkait &#8220;<em>bomb</em>&#8220;, &#8220;<em>leaders</em>&#8220;, &#8220;<em>power</em>&#8220;, dan sebagainya, sementara berbagai konsep terkait musik dan kegembiraan dan kebebasan ekspresif senantiasa muncul melalui kata &#8220;<em>melody</em>&#8220;, &#8220;<em>beat</em>&#8220;, &#8220;<em>dance</em>&#8220;, &#8220;<em>swinging</em>&#8220;, dan sebagainya.</p>
<p><em>Bagaimana dengan lagu-lagu pop modern Indonesia? </em></p>
<p>Sebagai bahan perbandingan, kita melihat beberapa lagu dari grup band Coklat yang bertajuk &#8220;Masa Muda&#8221;<img class="alignright size-full wp-image-108" title="katon" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/katon.gif?w=460" alt=""   /> (Album <em>Rasa Baru</em>, 2001), grup musik Dewa 19  yang berjudul &#8220;Format Masa Depan&#8221; (1994), lagu gubahan musisi legendaris nasional Iwan Fals yang berjudul &#8220;Gelisah&#8221; (Album <em>Kantata Takwa</em>, 1990), dan lagu gubahan musisi Katon Bagaskara yang berjudul &#8220;Si Muda&#8221; (Album <em>Katon Bagaskara</em>, 1996). Sama dengan pilihan tiga lagu pop barat sebelumnya, pemilihan keempat lagu ini juga memperhatikan tematika liris yang kita nilai memberikan representasi kemudaan dan kepemudaan. Sifat yang agak berbeda antara kedua kelompok lagu ini adalah bahwa keempat lagu Indonesia ini tidak mencapai hit di level nasional yang dapat disepadankan dengan hit di level internasional sebagaimana lagu-lagu milik Bob, Alphaville, dan The Cranberries. Lagu-lagu ini termasuk dalam album-album yang memiliki hit lagu unggulan yang berbeda kecuali album Dewa 19  yang albumnya sendiri mengambil tajuk judul lagu itu. Jadi bisa dibayangkan, sebagai pembaca Indonesia, mungkin sebagian dari antara kita lebih mengenal salah satu dari lagu asing tersebut daripada keempat lagu pop nasional kita di atas.<img class="alignright size-full wp-image-106" title="kantata_takwa" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-iwan_fals_-_kantata_takwa.jpg?w=460" alt=""   /></p>
<p>Iwan Fals memang merupakan salah seorang musik dengan kritik sosial paling spektakuler di kancah musik pop nasional bahkan ketika rezim pemerintahan sangat represif pada masa pemerintahan Soeharto. Album Kantata Takwa yang memuat lagu &#8220;Gelisah&#8221; ini direkam bersama musisi Setiawan Djody, saxophonis Embong Rahardjo, vokalis legendaris Sawung Jabo, dan sastrawan W.S. Rendra. Album ini merupakan fenomena karena sarat dengan ketajaman lirik pada lagu-lagunya. Namun berbeda dengan album yang merupakan masterpiece seniman-seniman terkemuka Indonesia itu, Album Katon Bagaskara dengan tajuk namanya sendiri ini adalah album pertamanya dalam solo karir di samping grup band-nya Kla Project. Album ini terbit yang langsung menggelembungkan nama Katon di blantika musik nasional dengan hit lagu &#8220;Dinda Dimana&#8221;, &#8220;Negeri di Awan&#8221;, dan beberapa lagu lain. Produktivitas Katon yang sangat tinggi dalam kreasi musika terus menanjak hingga saat ini dan variasi eksplorasi musiknya yang tajam yang sebenarnya juga terlihat dalam komposisi lagu &#8220;Si Muda&#8221; ini.</p>
<p>Berbeda dengan Katon, album Format Masa Depan dari Dewa 19 tidak mencapai hit sebagaimana album <img class="alignright size-full wp-image-107" title="coklat-rasa-baru" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/coklat-rasa-baru-se.jpg?w=460" alt=""   />sebelumnya yang berjudul nama grup band nasional itu &#8211; yang mencapai kategori Album Paling Populer 1993 <em>BASF Music Award</em>. Kemelut interpersonal band mungkin menjadi salah satu akibatnya kala itu, dengan indikasi bahwa album berikutnya yang berjudul &#8220;Terbaik Terbaik&#8221; yang mendapat sambutan luar biasa. Namun mesti diingat bahwa album ini pada dasarnya cukup penting mengingat ia keluar pada masa jauh sebelum Reformasi yang ditandai penggulingan rezim Orde Baru. Lirik lagu ini beberapa kali menggunakan kata &#8220;reformasi&#8221; yang kelak, kata ini menjadi simbol transformasi politik di Indonesia dengan mahasiswa sebagai elemen pentingnya. Album &#8220;Rasa Baru&#8221; Coklat yang memuat lagu &#8220;Masa Muda&#8221; ini merupakan sebuah album yang menunjukkan bagaimana Coklat sebagai grup band pop-rock nasional menunjukkan eksplorasi musiknya. Sebagaimana dikenal umum, Coklat merupakan salah satu pionir dalam kancah musik pop-rock dengan ke-khas-an suara yang dimiliki oleh vokalisnya, Kikan. Belakangan, Coklat memang dikenal sering membawakan lagu-lagu wajib nasional dengan aransemen ulang yang sesuai dengan karakter musik pop modern. Berikut hasil analisis teks dari lirik-lirik lagu-lagu ini&#8230; (<em>klik pada gambar untuk memperbesar</em>).</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young_ind.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-103" title="Young in Indonesian Pop Musicality" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young_ind.jpg?w=300&#038;h=173" alt="" width="300" height="173" /></a></p>
<p>Dengan pola analitis yang serupa (namun berbeda dari segi pemrosesan komputasional terkait sifat linguistik bahasa Indonesia yang berbeda dengan bahasa Inggris), kita mencoba untuk melihat visualisasi konsep-konsep yang muncul dalam lirik lagu-lagu pop Indonesia ini. Hal yang menarik muncul. Sangat berbeda dengan jaringan yang dibentuk tiga lagu yang mendunia sebelumnya, keempat lagu pop nasional kita ini menunjukkan beberapa kata yang tak hanya menunjukkan sikap positif terhadap kemudaan tapi juga beberapa konsep bersentimen non-positif seperti &#8220;terpasung&#8221;, &#8220;bingung&#8221;, &#8220;luka&#8221;, &#8220;gelisah&#8221;, yang terkait langsung dengan konsep &#8220;pemuda&#8221;. Yang menarik, meski keempat lagu ini memiliki sentralitas tematikal yang kuat dengan ikhwal kepemudaan, secara statistik, konsep &#8220;hidup&#8221;, &#8220;jalan&#8221;, &#8220;dunia&#8221;, dan &#8220;masa depan&#8221; memiliki sentralitas yang juga relatif tinggi. Ada suasana penderitaan dan kegalauan yang secara implisit muncul di dalam lirik-lirik lagu ini terkait kepemudaan yang tak bersumber dari kegelisahan psikologis dan kognitif terhadap ketaksukaan untuk menjadi tua sebagaimana tergambar dalam jaring lagu pop modern barat sebelumnya.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-116" title="dewa19" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/dewa19.jpg?w=460" alt=""   />Hal-hal terkait dinamika kemudaan dan sifat positif kemudaan ter-representasi secara visual namun menariknya, representasinya lebih bersifat pada kegalauan sosiologis dengan munculnya konsep-konsep terkait &#8220;birokrasi&#8221;, &#8220;penjara&#8221;, &#8220;uang&#8221;, &#8220;globalisasi&#8221;, dan sebagainya. Banyak hal yang dapat di-interpretasi secara semantis dari pilihan kata pada lirik lagu-lagu ini, tentunya, namun secara visual kita dapat melihat kegelisahan pemuda Indonesia dan pemuda dalam konteks sub-kultur pop muda sebagaimana tercermin dalam musik pop modern barat. Konsep &#8220;tua&#8221; muncul dalam lirik lagu Iwan Fals yang memang sarat protes gaya hidup om-om senang sesuai sifat lirik lagunya yang sarat kritik sosial yang tajam.</p>
<p><em>Lantas apa yang bisa kita pelajari dari dua hal yang berbeda nan menarik ini?</em></p>
<p>Pertama, sudah jelas bagi kita bahwa  baik lirik lagu pop internasional maupun nasional, mengakui akan khazanah dan sifat-sifat kepemudaan yang ingin lestari bagi tiap individu secara psikologis. Orang senantiasa tak ingin menjadi &#8220;tua&#8221; dalam paradigma miskin dinamika, takut akan tantangan dan perubahan, dan adanya urgensi menonjolkan sifat-sifat muda yang ter-asosiasikan dalam bentuk sifat-sifat jujur, aktif, berani, mengejar impian dan cita-cita, energetik. Jelas sekali, sebenarnya bahwa bukan &#8220;tua&#8221; dalam arti umur yang tak diinginkan, namun sikap dan sifat menjadi tua yang ingin dihindari. Di sini keinginan &#8220;<em>forever young</em>&#8221; meninggalkan pesan moral bahwa lebih baik mati daripada harus kehilangan sifat-sifat energik dan dinamis yang ter-representasi pada sifat muda.</p>
<p>Namun kedua, secara spesifik kegelisahan mereka yang muda di negara dunia ketiga seperti Indonesia memberikan refleksi yang lain. Orang muda di Indonesia mengahadapi banyak keterpurukan ketika kontras dengan kehidupan sosial yang dihadapinya, khususnya pada masa musik-musik pop modern ini digubah. Pada masa musik pop modern ini digubah dunia menghadapi persoalan-persoalan seperti globalisasi dan berbagai hal terkait di dalamnya, sementara secara khusus, mereka yang muda sering dijadikan obyek ketika berbagai hal negatif bermunculan dalam asosiasi kaum muda, seperti permasalahan tawuran, geng motor, narkotika dan obat-obat terlarang, ugal-ugalan yang menghiasi layar siaran udara (<em>air broadcasting</em>) di samping lagu-lagu tersebut. Hal-hal ini menghasilkan situasi linguistik bahwa kata &#8220;<em>grown up</em>&#8221; sebagaimana direpresentasikan dalam lagu berbahasa Inggris pada musik pop internasional berbeda dengan asosiasi konsep terkait &#8220;dewasa&#8221; dalam lagu-lagu modern pop Indonesia. &#8220;Menjadi tua&#8221;, &#8220;dewasa&#8221;, dan &#8220;muda&#8221; memiliki pola kerangka pikir asosiatif yang berbeda untuk orang Indonesia sebagaimana dicerminkan oleh lirik-lirik lagu pop modern nasional kita.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-105" title="Iwan Fals" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/180px-time_fals.jpg?w=460" alt=""   />Hal ini tentu dapat menjadi refleksi buat siapapun yang tak ingin disebut &#8220;tua&#8221; dalam paradigma pertama. Namun untuk konteks kedua, kita perlu juga menyadari bahwa ada masa-masa ketika musik pop belum sekuat ini memberikan induksi dalam sistem kognitif anak-anak bangsa Indonesia, pemuda memiliki peran sentral sebagai subyek perubahan dan transformasi sosial. Katakanlah misalnya titik awal dari pergerakan nasional Sumpah Pemuda 28 Oktober delapan puluh tahun silam. Belum lagi kaum muda yang tergolong mahasiswa yang menunjukkan peran aktifnya pada perubahan sosial dan politik negeri pada hampir setiap peralihan rezim politik di Indonesia semenjak masa kemerdekaan dan revolusi fisik, (mungkin) hingga saat ini. Justru ketika lingkungan sosial terbelenggu, kaum muda juga seringkali terpasung sebagaimana dalam kritik sosial lirik lagu Iwan Fals berjudul &#8220;Bongkar&#8221; (Album <em>SWAMI</em>, 1989) &#8220;<em>orang tua, pandanglah kami sebagai manusia, kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta!</em>&#8220;.</p>
<p>Bagaimanapun sintesis dari dua hal yang kita refleksikan di atas memberi indikasi pada kita bahwa hanya dengan bangkitnya kaum muda dengan segala sifat-sifat yang ter-asosiasi-kan padanya sebuah masyarakat Indonesia dapat bangkit dan maju dengan segala progresifitas dan kreativitasnya. Mereka yang mudalah yang mesti mengambil langkah aktif dalam transformasi sosial, yang mesti dilakukan dengan menjadi subyek bagi kehidupan kemasyarakatan secara luas. Ketika secara statistik lagu yang memiliki tematika semangat kemudaan sanga tkecil dibandingkan dengan tema-tema yang mengeksploitasi emosionalitas romantika anak muda di level internasional bahkan tidak menjadi hit di album-album modern pop nasional, maka ini menunjukkan bahwa tugas yang diemban untuk mewujudkan mimpi masyarakat yang secara aktif bertransformasi dan progresif menjadi semakin berat, dan bahwa makin banyak saja mereka yang berwajah muda belia namun bermental tua, tidak kreatif, lamban, dan takut dengan perubahan.</p>
<p>Sebuah tantangan bukan hanya mereka yang muda usia, namun mereka yang sadar akan sebuah ungkapan dari sastrawan Frank Lloyd Wright berikut &#8220;<em>…while being young is an accident of time, youth is a permanent state of mind!</em>&#8220;.</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=A1ED3858C18FEA15"><img class="aligncenter size-full wp-image-117" title="sp1928" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/sp1928.jpg?w=460" alt=""   /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=100&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/10/22/kemudaan-dalam-tematika-musikalitas-pop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/sp1928.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sp1928</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/250px-joan_baez_bob_dylan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">joan_baez_bob_dylan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/220px-rod_stewart_05111976_12_400.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rod_stewart</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-alphaforever.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">alphaforever</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/image-alphaforever.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">alphaforever</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/220px-publicity05.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">the_crannies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Young In Western Pop Musicality</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-youth_group_-_forever_young.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">youth_group_-_forever_young</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/katon.gif" medium="image">
			<media:title type="html">katon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-iwan_fals_-_kantata_takwa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kantata_takwa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/coklat-rasa-baru-se.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">coklat-rasa-baru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young_ind.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Young in Indonesian Pop Musicality</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/dewa19.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dewa19</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/180px-time_fals.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Iwan Fals</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/sp1928.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sp1928</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendekode emosi &#8220;Udara pada Senar G&#8221;</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/08/09/mendekode-emosi-udara-pada-senar-g/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/08/09/mendekode-emosi-udara-pada-senar-g/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 10:14:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[baroque]]></category>
		<category><![CDATA[modern-pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Lagu ini telah hampir-hampir menjadi banal saat hari ini kita berusaha meng-apresiasinya. Ia telah sering menjadi ringtone di dunia hiper-real di tengah bit-bit informasi yang membludak membanjiri relung-relung artifak telepon selular kita. Udara adalah perlambang kebebasan, atau setidaknya keinginan untuk bebas dari kungkungan. Di hemisfer utara planit ini, dan mungkin juga di antara kita kini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=78&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Lagu ini telah hampir-hampir menjadi banal saat hari ini kita berusaha meng-apresiasinya. Ia telah </em><em>sering menjadi ringtone di dunia hiper-real di tengah bit-bit informasi yang membludak membanjiri relung-relung artifak telepon selular kita. Udara adalah perlambang kebebasan, atau setidaknya keinginan untuk bebas dari kungkungan. Di hemisfer utara planit ini, dan mungkin juga di antara kita kini, udara menyimbolkan dinamika yang kuat. Namun kebebasan sedinamis udara pun justru seringkali merupakan kungkungan: orang justru bisa menjadi merasa bebas ketika kasih sayang menjadi terali penjara. Setelah lebih dari tiga abad, karya seni musik berupaya membedah tendensi lagu ini: sadar atau tidak sadar. Sebagaimana fisikawan Blaise Pascal selalu mengatakan: hati memiliki cara berfikir yang tak dimiliki otak, maka estetika juga dapat menyingkap motif logis dengan cara yang menawan&#8230;</em></p>
<p><span id="more-78"></span></p>
<p>Tak banyak yang bisa bercerita tentang latar belakang musik &#8220;Udara&#8221; <em>Air on G String</em> dalam versi aslinya, yaitu gerakan kedua dari <em>Ouverture No. 3 dalam D-Mayor </em>karya komposer besar klasik, Johann Sebastian Bach. <em>Ouverture</em> merupakan bentuk musik khas periode Barok (abad ke-17  hingga pertengahan abad ke-18). Musik ini kemungkinan ditulis ketika Johann melakukan perjalanan tur di kota Cöthen, sebuah tempat dengan masa yang penuh dinamika berirama tinggi dalam kehidupannya. Kematian isterinya secara mendadak telah digantikan oleh kekasihnya yang jauh lebih mencintainya secara penuh.<img class="size-medium wp-image-86 alignright" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/anna.jpg?w=112&#038;h=157" alt="" width="112" height="157" /></p>
<p>Disebut &#8220;penuh&#8221;, karena meski keduanya terpaut perbedaan usia yang jauh: Anna berusia 20 tahun menikahi duda Johann yang berusia 36 tahun, Anna merupakan kekasih yang sangat memahami musik Johann. Saat Johann akhirnya menderita kebutaan, dunia berhutang budi pada Anna karena kita masih dapat menikmati karya-karya besar  dan fenomenalnya melalui jasa Anna yang senantiasa mentranskripsi dan menulis untuk sang suami.</p>
<p>Ketertekanan Johann oleh kepergian isteri pertamanya tiba-tiba menjadi sebuah aras kegembiraan yang pilu dengan kehadiran Anna. Johann mempersembahkan sebuah <em>notebook </em>untuk Anna, sang isteri, sekumpulan komposisi musik yang luar biasa, yang sekarang kita kenal sebagai kumpulan musik &#8220;<em>Nutenbuchlen fur Anna Magdalena&#8221; </em>(Buku Catatan untuk Anna Magdalena).</p>
<p>Kegembiraan yang pilu dan bebasnya dari keterbelengguan mungkin tertuang pada emosi yang lahir dengan refleksi gerakan kedua ouverture yang dimainkan dalam tangga nada D-mayor ini. Adalah August Wilhelmj di awal abad ke-20 yang lalu mempopulerkan melodi yang mengawinkan luar biasa selaras antara harmoni dan melodi ini yang sekaligus merayakan kegeniusan melodis seorang Johann. Kekayaan emosional yang tertuang pada lagu bertajuk &#8220;Udara&#8221; ini, diyakini menjadikannya pusat dari <em>ouverture</em>. Kegeniusan Johann berpadu dengan kecanggihan violis August, yang menggeser kunci permainan musik dari D-Mayor ke C-Mayor. Tujuannya agar dapat dimainkan hanya pada satu senar dari biola, yaitu senar yang bernada G (seyogianya senar keempat biola biasa atau sering pula di-stem sebagai senar pertama pada cello). Akhirnya, nama untuk lagu ini pun sebagaimana yang sering kita dengar:  &#8220;Udara pada senar G&#8221; (<em>Air on G String</em>)!</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=8ljII_bRQQk" target="_blank"><img class="alignnone size-medium wp-image-6" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=25&#038;h=23" alt="" width="25" height="23" /></a> Mari mendengar lagu ini dimainkan dalam sebuah cello oleh Julian Lloyd Webber (1980).</p>
<p>Tiga abad setelah Bach dan se-abad setelah Wilhelmj, gitaris rock legendaris, Yngwie Malmsteen <img class="size-medium wp-image-83 alignright" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/7thsign.jpg?w=87&#038;h=85" alt="" width="87" height="85" />ber-interpretasi atas lagu ini. Lagu berjudul &#8220;<em>Prisoner of Your Love</em>&#8221; (1994) lahir dalam album &#8220;<em>The Seventh Sign</em>&#8221; dan tanpa sadar mengingatkan keriangan pilu Bach dalam lirik dan nada refrain musik <em>Air on G string</em>. Entah apa yang ada di kepala seorang Yngwie yang meng-interpretasi sekuen nada-nada ini menjadi stanza liris:</p>
<p><em>My heart fell into the palms of your hands, this love made me understand<br />
I&#8217;ve waited all my life for you, thought i&#8217;d live and die alone!<br />
enraptured by the beauty, I&#8217;m a prisoner of your love&#8230;<br />
enslaved by the passion, I&#8217;m a prisoner of your love&#8230;</em></p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=85EwL-ef-oE&amp;feature=related" target="_blank"><img class="alignnone size-medium wp-image-6" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=25&#038;h=23" alt="" width="25" height="23" /></a> Dengarkan lagunya sambil melihat montague yang dibuat seorang fans.</p>
<p>Mungkinkah ini refleksi verbal seorang Johann pada Anna yang muncul di tengah kepiluannya?</p>
<p>Album &#8216;<em>Premier</em>&#8216; Katherine Jenkins, penyanyi opera <em>mezzo soprano</em> dari Wales (2004) mengetengahkan sebuah variasi melodis dari lagu ini secara menarik. Berbeda dengan Yngwie yang memberi variasi dan hanya mengadaptasi <em>ouverture </em>Johann pada bagian refrain, Katherine membiarkan cello, piano, dan biola memainkan <em>Air on G String </em>secara penuh, ketika vokalnya bersenandung seolah mengikuti musik Bach tersebut. Seolah Katherine memberi sahutan vokal pada melodi harmonis Bach. Apik sekali variasinya, bisa dilihat pada potongan lagu berikut:</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy_bach.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-81" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy_bach.jpg?w=460&#038;h=67" alt="" width="460" height="67" /></a></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;text-align:center;margin:0;"><a href="http://www.geocities.com/hokkysitungkir/kathy_sweetest_love.mp3"><img class="alignnone size-medium wp-image-6" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=31&#038;h=28" alt="" width="31" height="28" /></a>Mari simak lagu dari album perdana Jenkins ini&#8230;</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p>Katherine mengambil puisi sastrawan Skotalandia Herbert J.C. Grierson sebagai lirik dari lagu ini dari kumpulan puisi Inggris klasik &#8220;<em>Metaphysical Lyrics &amp; Poems of the 17th</em>&#8220;. Perhatikan liriknya:</p>
<p><em>Sweetest love, I do not go, For weariness of thee</em><br />
<em> Nor hope the world can show a fitter love for me, Sweetest love.</em></p>
<p><em>O how feeble is man&#8217;s power, That if good fortune fall,</em><br />
<em> Cannot add another hour, Nor a lost hour recall…</em></p>
<p><em>When thou sigh&#8217;st, thou sigh&#8217;st not wind, But sigh&#8217;st my soul away,</em><br />
<em> When thou weepst life&#8217;s blood doth decay.</em></p>
<p><em>Let not thy driving heart, Forethink me any ill,<br />
Destiny must take thy part, And may thy fears fulfil.</em></p>
<p><em>If thou lov&#8217;st me as thou say&#8217;st, If in thine my life doth waste,<br />
Thou art the best of me.</em></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p>…tak berlebihan jika ini seolah menjadi jawaban liris seorang Anna yang sangat muda namun memiliki <a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-84" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy.jpg?w=133&#038;h=148" alt="" width="133" height="148" /></a>kedewasaan verbal yang kuat atas untaian emosional nada-nada Johann. Sebuah perjalanan panjang lebih dari tiga abad mendekode musik seorang Johann Sebastian Bach.</p>
<p>Seolah sebuah drama akbar panggung musik dunia: Yngwie J. Malmsteen yang <em>rocker </em>dan gitaris metal meneriakkan lantunan paling pribadi dari Bach &#8220;<em>Prisoner of Your Love</em>&#8221; dan Katherine Jenkins yang lekat-lekat memberi senyuman termanis pada Johann sambil mempersembahkan &#8220;<em>Sweetest Love</em>&#8220;.</p>
<p>Sebuah drama dalam sejarah musik berdurasi ratusan tahun: Yngwie sebagai Johann, Katherine sebagai Anna.</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=78&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/08/09/mendekode-emosi-udara-pada-senar-g/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/hokkysitungkir/kathy_sweetest_love.mp3" length="2896448" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/anna.jpg?w=186" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=38" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/7thsign.jpg?w=200" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=38" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy_bach.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=38" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy.jpg?w=133" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>10 LAGU TENTANG HIDUP DI NUSANTARA</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/06/10/10-lagu-tentang-hidup-di-nusantara/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/06/10/10-lagu-tentang-hidup-di-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 23:05:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[archipelagic]]></category>
		<category><![CDATA[modern-pop]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah cerita tentang 10 lagu yang berusaha menggambarkan pola kognitif tradisional orang-orang di kepulauan nusantara indonesia raya ketika ia berdendang, menikmati alunan estetis kontur yang tersusun atas nada-nada yang berbunyi. Ia berasal dari kotak kognitif melodi yang mengisi ruang-ruang terestrial di kawasan kepulauan Indonesia yang tetap saja masih memunculkan diri bahkan di tengah alunan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=59&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://genmuse.bandungfe.net/"><img class="aligncenter" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/ind.jpg?w=450&#038;h=176" alt="" width="450" height="176" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ini adalah cerita tentang 10 lagu yang berusaha menggambarkan pola kognitif tradisional orang-orang di kepulauan nusantara indonesia raya ketika ia berdendang, menikmati alunan estetis kontur yang tersusun atas nada-nada yang berbunyi. Ia berasal dari kotak kognitif melodi yang mengisi ruang-ruang terestrial di kawasan kepulauan Indonesia yang tetap saja masih memunculkan diri bahkan di tengah alunan dan ingar-bingar injeksi alunan melodi yang lahir di belahan lain di planit bumi. Sepuluh adalah angka dari pengelompokan oleh gerak melodis, dan sepuluh juga merupakan angka yang menunjukkan multi-dimensionalitas yang unik dari karakter etnisitas yang ingin ditampilkannya. Sepuluh ini menjadi satu yang harmoni dalam perspektif kenusantaraan. Tiap melodi adalah juga melodi unik sebagaimana tiap lagu juga menggambarkan lagu. Indonesia adalah gudang diversitas budaya tradisi yang saat ini &#8211; sadar atau tidak sadar &#8211; ingin berteriak untuk dirayakan secara ekonomis, politis, dan sosial. Mari mendengarkan 10 lagu, dan mari menikmati kebinekaan yang justru mencipta kreasi kesatuan yang utuh dan persaudaraan yang kukuh.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-59"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Keberadaan lebih dari 500 suku bangsa di Indonesia telah memungkinkan lahirnya berbagai pola alunan nada-nada melodis yang menjadi cerminan karakter dasar sistem kognitif kolektif dari masing-masing kelompok budaya/etnis tersebut. Estetika akan senantiasa subyektif. Apa yang indah senantiasa kembali pada apresiasi individual, jika tak kemudian terperangkap dalam kantong-kantong (<em>clustering</em>) dalam kolektivitas yang dapat saja berbentuk etnisitas, kelas-kelas ekonomi, bahkan komunitas-komunitas tertentu. Situasi subyektif inilah yang kemudian berhadap-hadapan dengan upaya obyektifikasi atas estetika dalam produk-produk industri budaya massa melalui proses komodifikasi yang menjadi corak globalisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara terbaik menghadapi kecenderungan penyeragaman budaya yang langsung atau tak langsung menjadi sorotan dalam tren globalisasi ini adalah dengan apresiasi yang setinggi-tingginya atas aspek kelokalan dan penghargaan terhadap ekspresi bahkan hingga ke level individual. Mengenali dan apresiasi atas lokalitas budaya merupakan cara paling bijaksana dalam tren uniformisasi di era global ini. Diversitas budaya Indonesia merupakan gudang artifak budaya yang tak ternilai harganya ketika sistem ekonomi diperintah oleh inovasi dan kreativitas dalam artikulasi informasi dalam kancah sistem sosial secara global saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula dengan musik. Tidak ada kelompok etnik di Indonesia yang tak memiliki karakter unik dari lagu yang secara kolektif diterima sebagai bentuk keindahan yang audibel. Ada sesuatu di balik lagu-lagu yang terdiseminasi di kalangan identitas kolektif Indonesia yang membedakan sebuah lagu menjadi karakteristik suku Ambon yang berbeda dengan Jawa, Dayak, Madura, Batak, dan sebagainya. Ini adalah wahana yang sangat kaya dari entitas bangsa bernama Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignright" src="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:The_Selfish_Gene3.jpg" alt="" /><img class="size-thumbnail wp-image-60 alignleft" style="float:left;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/the_selfish_gene3.jpg?w=54&#038;h=85" alt="" width="54" height="85" />Dalam buku seminalnya, <em>The Selfish Gene</em> (1976), Richard Dawkins mengemukakan bahwa keanekaragaman kognitif individual tersusun atas meme (baca: mim), dalam khazanah pemikiran sosiobiologi (evolusioner). Satu meme dapat menyebar dari satu pihak ke pihak lain melalui replikasi dalam bentuk imitasi (peniruan) dan juga melalui propagasi dalam bentuk diseminasi kultural secara masif melalui berbagai perangkat-perangkat media komunikasi massa. Meme merupakan sesuatu yang ada dalam kolam meme di dalam sistem kognitif manusia sebagai unit terkecil informasi yang membentuk budaya. Memetika sebagai studi atas meme dalam budaya, merupakan <em>counterpart </em>dari genetika sebagai studi atas gen dalam organisme biologis.</p>
<p style="text-align:justify;">Meme tercermin dalam karya-karya dan artifak kebudayaan manusia. Jika kita dapat menyaksikan kekerabatan kuman sifilis (<em>Treponema Pallidum</em>) dan mana kuman tifus (<em>Salmonella Typhosa</em>) secara genetis, maka melalui meme kita berharap dapat melihat kekerabatan sistem kognitif kolektif satu kelompok etnik, misalnya orang Tapanuli dengan orang Jawa Timuran. Bedanya, meme dilihat dengan melihat karakter dasar dari artifak yang dominan di satu suku bangsa dengan dengan artifak di suku yang lain. Meme dicerminkan di dalam artifak, di dalam lagu, motif pakaian, cara bertutur, hingga adat-istiadat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah lagu yang dikenal dan dinikmati secara turun-temurun tentunya menjadi menarik ketika sesuatu di dalam lagu tersebut memiliki afinitas dengan sekumpulan sistem kognitif dalam satu rumpun suku tertentu yang tentunya memiliki relasi genetis pula. Di sini, terjadi ko-evolusi antara meme dan gen, sehingga kita tahu bahwa secara kolektif lagu tradisional <em>Bungong Jeumpa</em> merepresentasikan sistem kognitif orang Aceh sementara <em>Paris Berantai</em> menunjukkan karakteristik tertentu di antara orang-orang Melayu di Kalimantan Selatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Meme yang tercermin dalam lagu bisa berbentuk apapun. Ia bisa berbentuk pola struktur nada-nada yang membentuk melodi lagu, pergerakan nada-nada yang digunakan dalam sebuah lagu, efek naik turun lagu yang &#8220;berputar-putar&#8221; di dalam sistem kognitif pendengar dan pendendangnya, dan seterusnya. Berbagai struktur memetik ini, ketika diurutkan dan dianalisis secara matematis menghasilkan pohon memetika lagu sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/filomuz.jpg"><img class="size-medium wp-image-58" style="vertical-align:middle;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/filomuz.jpg?w=300&#038;h=266" alt="" width="300" height="266" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam gambar tersebut, kita melihat bagaimana dari sekian puluh sampel lagu asli daerah di Indonesia terdapat kelompok-kelompok lagu yang memiliki kemiripan struktur memetis. <a href="http://genmuse.bandungfe.net/">Penelitian </a>yang terkait hal ini dapat dilihat di dokumen laporan penelitian berikut: <a href="http://ssrn.com/abstract=1143122">http://ssrn.com/abstract=1143122</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat setidaknya sepuluh kelompok lagu di situ. Di sini kita dapat mengenali lebih dekat apa-apa saja lagu-lagu tersebut. Kita memilih satu lagu dari tiap kelompok lagu dari sisi liris dan tematikanya untuk menampilkan diversitas dari apa yang ter-representasi dari lagu-lagu nusantara raya. Sepuluh lagu ini mungkin dapat dikatakan merepresentasikan siapa orang Indonesia secara melodis&#8230; <span style="color:#999999;">(<em>klik pada gambar akan membawa anda ke alamat audio atau auvi dari lagu yang dimaksud)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">1. <strong>O INA NI KEKE</strong> &#8211; dari Minahasa<br />
Merupakan sebuah lagu dolan yang secara liris kita ketahui merupakan bentuk sahut-sahutan antara anak laki-laki dan anak perempuan:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>L(aki-laki): O ina ni keke, mange wisa ko</em></span><a href="http://youtube.com/watch?v=gWg5v8U0sjU"><img class="alignright size-full wp-image-61" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/inakeke.jpg?w=460" alt=""   /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em> P(erempuan): mangewa aki Wenang, tumeles baleko</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>L: weane, weane, weane toyo<br />
P: daimo siapa ko tare makiwe&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Yang jika ditranslasi langsung ke bahasa Indonesia:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>L:  o h gadis, mau kemana?<br />
P: aku mau ke Wenang, membeli baleko (semacam kue tradisional)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>L: berikan aku, berikan aku sedikit…<br />
P: sudah terlambat, semua sudah habis&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">2. <strong>PADANG WULAN</strong> &#8211; Jawa Tengah<br />
Sebuah lagu yang menggambarkan dolanan anak-anak di Jawa yang bergembira kerta raharja bermain di bawah sinar purnama. Lirik lagu ini menggambarkan hal ini,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Yo pra kanca dolanan ing jaba, Padhang wulan padhange kaya rina</em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em> Rembulane e sing awe awe, Ngilangake aja padha turu sore</em></span><a href="http://www.geocities.com/quicchote/padangbulan.mp3"><img class="alignright size-full wp-image-62" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/moon.jpg?w=460" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Yo pra kanca dolanan ing jaba, Rame-rame kene akeh kancane</em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em> Langite pancen sumebyar rina, Yo padha dolanan sinambi guyonan</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan terjemahan langsung kira-kira,</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Ayo teman-teman bermain di luar rumah,<br />
Terang bulan terangnya seperti siang<br />
Bulannya melambai-lambai memanggil,<br />
mengingatkan agar jangan tidur karena masih sore</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Ayo teman-teman bermain di luar rumah,<br />
Ramai-ramai di sini banyak teman<br />
Langitnya memang seperti siang,<br />
Ayo bermain sambil bercanda tawa.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">3. <strong>SARINANDE </strong>- Ambon<br />
Lagu ini menggambarkan seorang anak gadis yang rajin dalam baktinya di rumah pada keluarga. Ia sedikit banyak menggambarkan keibaan akan seorang anak perempuan Sarinande yang matanya menangis, tapi bukan karena bersedih, tetapi oleh karena asap di tungku masak masuk ke matanya. Liriknya,<a href="http://youtube.com/watch?v=j6wGLUTNw9Y"><img class="size-full wp-image-64 alignright" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/dulcinea1.jpg?w=460" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Sarinande, putri Sarinande, mangapa tangis, matamu bangkak?</em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em> Aduh mama, aduh lah papa, La asap api masuk di mata</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">4. <strong>ATI RAJA</strong> &#8211; Sulawesi Selatan<br />
Ini merupakan sebuah lagu yang sangat spektakuler.  Ia bukan dolanan, tapi bentuk pengucapan syukur dan sikap keberserahan diri pada sang khalik (monotheistik) yang luar biasa. Lagu ini kaya dengan legato dan mengandung bentuk sahut-menyahut antara instrumentasi  yang menyertainya. Secara liris, ia juga jelas bukan lagu yang sederhana,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Se&#8217;re se&#8217;re ji batara baule<a href="http://youtube.com/watch?v=hCYM7ya6yfQ"><img class="alignright size-full wp-image-63" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/batara.jpg?w=460" alt=""   /></a><br />
Ati raja, naki jai pa&#8217;nganroi baule Rajale alla kereaminjo<br />
Ati ati ati raja Nitarima pappala&#8217;na baule<br />
Mannamo ki minasai baule Ati raja, kipanai&#8217; ri palatta&#8217; baule<br />
Rajale alla taballetommi Ati ati ati raja Na batara angkellai baule</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Yang terjemahan Indonesianya kira-kira adalah:</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Hanya ada satu Tuhan<br />
Hati Raja hanya kepada-Mulah tempat kami meminta.<br />
Sebenar-benar yang mana,<br />
Hati Raja diterima permintaan-permintaan walaupun hanya berhasrat<br />
Hati Raja, buat permohonan.<br />
Semua-semua hanya akan dikabulkan oleh Tuhan semata.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">5. <strong>DEK SANGKE </strong>- Sumatera Selatan<br />
Secara liris merupakan sebuah lagu yang menunjukkan bentuk kekecewaan dalam relasi dengan orang lain dengan pesan moral bahwa tak selalu apa yang terlihat adalah apa yang menjadi kondisi aktual.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Dek sangke, aku dek sangke, awak tunak ngaku juare, </em></span><a href="http://www.geocities.com/quicchote/deksangke.mp3"><img class="alignright size-full wp-image-72" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/sangke.jpg?w=460" alt=""   /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>Alamat badan &#8216;kan sare akkhirnye masuk penjare.</em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>Dek sangke, aku dek sangke, ujiku bujang tak batanye tua bangke, </em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>Anaknye &#8216;lah gadis gale.<br />
Dek sangke, aku dek sangke, ujiku gadis tak batanye jende mude.<br />
Anaknye &#8216;lah ade tige.<br />
Dek sangke ture sangke,<br />
cempedak babuah nangke&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Terjemahannya kira-kira,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Tak kusangka, tak disangka,<br />
orang lemah mengaku hebat, akhirnya akan susah,<br />
Tak kusangka, tak disangka, kukira bujang,<br />
ternyata tua bangka, anaknya gadis semua,<br />
Tak kusangka, tak disangka,<br />
kukira gadis ternyata janda, anaknya ada tiga!<br />
Tak kusangka, tak disangka,<br />
cempedak berbuah nangka!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">6. <strong>KAMBANGLAH BUNGO </strong>- Minangkabau<br />
Lagu ini bernuansa romansa tanah minang yang tak bisa lepas dari budaya yang tumbuh di atasnya. Sebuah lagu bernuansa melayu pedalaman Padang di belahan barat pulau Sumatera yang secara spektakuler lirisnya sangat kaya dengan perlambang yang unik sekali. Kemegahan budaya berkait dengan kegagahan yang maskulin dan ayoman yang feminin sekaligus dalam bentuk mekarnya kembang.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://youtube.com/watch?v=GzZTJUZ_eA4"><img class="alignright size-full wp-image-65" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/bungo_cinto.jpg?w=460" alt=""   /></a><em><span style="color:#ff00ff;">Kambanglah bungo parawitan,<br />
Simambang riang ditarikan,<br />
Di desa dusun Ranah Minang<br />
Bungo kambang, sumarak anjuang,<br />
Pusako Minang, tanah Pagaruyuang<br />
Dipasuntiang siang malam,<br />
Tabayang-bayang rumah nan gadang</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Terjemahan bebasnya kira-kira,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#3366ff;"><em>Mekarlah bunga idaman yang megah,<br />
Tari Simambang ditarikan<br />
di kampung desa Tanah Minang<br />
Bunga mekar, semarak anjungan rumah gadang,<br />
pusaka minang, tanah Pagaruyung<br />
dipersunting tiap waktu<br />
dalam bayangan rumah yang besar (rumah gadang)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">7. <strong>HUHATEE </strong>- Maluku<br />
Lagu ini berpesan moral pergaulan orang muda. Kehati-hatian diberikan dalam bentuk keriangan melodis bertempo sedang. Tema dan kemudaan serta <em>wisdom </em>yang dicerminkan lagu ini terlihat dari liriknya,</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Orang muda huhatee baek baek,<br />
jangan sampai dapat kulit durian<br />
Pasang mata telinga kalau mencari teman, </em></span><a href="http://www.geocities.com/quicchote/huhate.mp3"><img class="size-full wp-image-73 alignright" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/huhatee.jpg?w=460" alt=""   /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>jangan sampai dapat kulit durian</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Huhatee, huhatee, huhatee baek baik,<br />
jangan sampai sembarang oranglah kenal<br />
Sioh jangan sioh jangan sioh<br />
jangan paripi kulit durian sioh baduri</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">8. <strong>TANDUK MAJENG</strong> &#8211; Madura</p>
<p style="text-align:justify;">Ini merupakan lagu yang menggambarkan bentuk kehidupan pesisir bahari nusantara raya. Bertempo lambat yang menggambarkan langgam lagu yang menunjukkan heroisme mereka yang melaut dan hidup dari hasil laut. Bagaimanapun laut merupakan sebuah jagat yang lain bagi manusia yang terestrial dan ketika kehidupan bersandar padanya, heroisme muncul. Lagu ini relevan bahkan mungkin tak hanya untuk masyarakat Madura, namun juga suku dan kelompok etnik lain di Nusantara yang memang ber-geografi maritim.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Ngapote Wak Lajereh etangaleh,<br />
Reng Majeng Tantona lah pade mole</em></span><a href="http://youtube.com/watch?v=J_fy6WaEE68"><img class="size-full wp-image-66 alignright" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/majeng.jpg?w=460" alt=""   /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>Mon e tengguh Deri abid pajelennah,<br />
Mase benyak&#8217;ah onggu le ollenah<br />
Duuh mon ajelling Odiknah oreng majengan,<br />
Abental ombek Asapok angin salanjenggah<br />
Ole&#8230;olang, Paraonah alajereh,<br />
Ole&#8230;olang, Alajereh ka Madureh</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Yang translasi Indonesianya secara kasar bisa ditulis:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#3366ff;"><em>(layar) putihnya mulai kelihatan,<br />
Orang nelayan (pencari ikan) tentulah sudah pada pulang<br />
Kalau (dilihat) dari lamanya perjalanan,<br />
Tentu hasil ikannya sangat banyak &#8230;<br />
Duuh kalau dilihat hidupnya orang pencari ikan,<br />
Berbantal ombak berselimut angin selamanya (sepanjang malam)<br />
Ole… olang, perahunya mau berlayar,<br />
Ole… olang, berlayar ke madura</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">9. <strong>MAK INANG</strong> &#8211; Riau &amp; Sumatera Barat<br />
Ini lagu sepi dengan langgam pantun melayu dari mereka yang berasal dari kawasan barat pulau Sumatera. Sebuah dendang yang seringkali jadi pengiring tarian tradisional. Gambarannya tentang kerinduan akan kampung halaman di tanah tempat merantau. Ada rasa sepi ketika perbedaan dengan budaya di tanah rantau terlihat (bait pertama). Ada rasa rindu ketika merasa berada jauh dari kampung halaman (baik kedua), dan ada rasa khawatir ketika risiko jatuh sakit muncul. Rasa sendiri secara liris namun menghibur secara melodis.</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Kami ini tak pandai menari,<br />
sebarang tari kami tarikan.<br />
Kami ini tak ahli menyanyi, </em></span><a href="http://youtube.com/watch?v=PEfn9qJCyyo"><img class="size-full wp-image-67 alignright" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/inang.jpg?w=460" alt=""   /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>sebarang nyanyi kami nyanyikan.</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Singkarak kotanya tinggi,<br />
asam pauh dari seberang,<br />
Awan berarak &#8216;lah ditangisi,<br />
badan jauh di rantau orang.</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Asam pauh dari seberang,<br />
tumbuhnya dekat, tepinya tebat.<br />
Badan jauh di rantau orang,<br />
sakit siapa akan mengubat&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">10. <strong>SIGULEMPONG </strong>- Tapanuli<br />
Ini merupakan lagu yang berasal dari pantun Tapanuli tentang kekasih yang dinanti tapi tak kunjung tiba. Bentuknya pantun dengan penekanan pada kata &#8220;sigulempong&#8221;. Sigulempong (atau sigule) merupakan sebuah kata tua yang dapat diartikan sejenis &#8220;boneka&#8221;. Memperhatikan majas &#8220;sigulempong&#8221; ini dan nadanya yang riang bertempo cepat, lagu ini dinyanyikan oleh seorang pria bukan kepada seorang wanita yang definitif, tetapi kepada kekasih yang menjadi impiannya. Secara liris, ia berbentuk pantun,</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>natinittip sanggar sigule sigule ,<br />
saibahen huru huruan sigule, </em></span><a href="http://youtube.com/watch?v=vmu61k8ncF4"><img class="alignright size-full wp-image-68" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/gulempong.jpg?w=460" alt=""   /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>sigulempong sigule gule<br />
jolo sinukkun marga sigule sigule,<br />
molo sairap hita nadua sigule</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>sirma inang sarge,<br />
dasai sirma inang sarge<br />
tarsongoni doho hape<br />
pargontingna dauk gale</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>salendang sapu tangan sigule sigule,<br />
di atas ni batu nadua sigule<br />
leleng maho ito da sigule sigule,<br />
da sai hu pa imaima sigule</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bahasa Indonesia, kira-kira translasinya,</p>
<p><span style="color:#3366ff;"><em>sanggar (sejenis tanaman) dipotong sama panjang<br />
untuk membuat huru (tanda yang ditaruh di tanduk kerbau)<br />
Tanyalah dahulu asal-usul,<br />
jika hendak selalu bersama,</em></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><em>selalulah tepati janjimu, kekasih (perempuan)<br />
ternyata engkau begitu,<br />
wahai perempuan yang cantik gemulai</em></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><em>selendang sapu tangan ditaruh<br />
di atas batu bersusun dua (sebagai tanda)<br />
Lama sekali kau kutunggu kekasih,<br />
senantiasa kau kutunggu&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak cara melodis untuk mengungkapkan ekspresi emosional orang-orang di Nusantara atas keberadaan dirinya, hubungannya dengan sesamanya, harapannya akan masyarakatnya, kenangan masa lalunya, hingga impiannya di masa mendatang. Imanensi atau transendentalitas, semuanya merupakan untaian emosional yang tercermin dalam lirik lagu etnik kenusantaraan. Namun pemilihan kata dalam lagu hanya sebagian dari diversitas yang tersimpan dalam melodi dan naik turun melodi. Semua ini menjadi warna akan ke-nusantara-an yang meski tetap bernilai tinggi dalam nominalitas, namun juga bernilai tak berhingga dalam hal moralitas yang menyertainya. Mari merayakan nusantara!</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://genmuse.bandungfe.net/"><img class="aligncenter size-full wp-image-71" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/me2.jpg?w=460" alt=""   /></a></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:8pt;text-align:center;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;line-height:normal;"><span style="color:#c0c0c0;"><em><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:8pt;">Pengakuan</span></span></strong></em><span style="font-size:8pt;"><em>: </em>Banyak sahabat membantu interpretasi kisah sepuluh lagu ini. Kepada mereka rasa terima kasih terhaturkan, di antaranya zen, gunawan, tari, mumun, lusi, endang, hendri, yeni, efri, ikhsan, rolan, yanti, alfa, dan teman-teman di IACI (Indonesian Archipelago Cultural Initiatives).</span></span></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:8pt;text-align:center;margin:0;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=59&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/06/10/10-lagu-tentang-hidup-di-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/padangbulan.mp3" length="1490441" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/deksangke.mp3" length="1664730" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/huhate.mp3" length="1117621" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/ind.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:The_Selfish_Gene3.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/the_selfish_gene3.jpg?w=61" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/filomuz.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/inakeke.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/moon.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/dulcinea1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/batara.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/sangke.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/bungo_cinto.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/huhatee.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/majeng.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/inang.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/gulempong.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/me2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Musik Purba dari Cianjur Selatan?</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/03/22/musik-purba-dari-cianjur-selatan/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/03/22/musik-purba-dari-cianjur-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 16:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[ancient]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa manusia suka pada musik? Dan mengapa hanya musik-musik tertentu? Percaya atau tidak, ini masih teka-teki yang belum terpecahkan hingga saat ini. Ada sesuatu di serabut-serabut kelabu kita sehingga untaian nada tertentu menjadi imbang, sementara suara-suara lain seolah adalah falsetto dan kurang indah. Musik paling tua yang pernah diumumkan mungkin adalah musik tulang yang ditiup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=52&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mengapa manusia suka pada musik? Dan mengapa hanya musik-musik tertentu? Percaya atau tidak, ini masih teka-teki yang belum terpecahkan hingga saat ini. Ada sesuatu di serabut-serabut kelabu kita sehingga untaian nada tertentu menjadi imbang, sementara suara-suara lain seolah adalah </em>falsetto <em>dan kurang indah. Musik paling tua yang pernah diumumkan mungkin adalah musik tulang yang ditiup (</em>bone whistles<em>) di kawasan Hemudu, China yang diduga telah ada semenjak 5000-4500 SM, kemudian ada pula temuan instrumentasi mirip harpa dan lira di kawasan Mesopotamia, Irak yang diduga telah berusia 5000 tahun. Tanah nusantara mungkin tak ketinggalan. Sebuah arahan penelitian menunjukkan ada kemungkinan penemuan instrumen musik kuno di Cianjur Selatan, di sebuah desa Campaka, Jawa Barat. Di sebuah situs megalitikum yang diduga didirikan pada tahun 2500 SM, terdapat batu-batuan raksasa yang jika dipukul menghasilkan nada-nada tertentu. Nusantara kita nan kaya dan hebat&#8230;</em></p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p>Di kawasan perkebunan teh itu ada sebuah situs kuno megalitikum, dinamai situs megalitik Gunung Padang, di kawasan Cianjur Selatan, Jawa Barat. Ini mungkin adalah situs megalitikum terbesar di kawasan Asia Pasifik karena luasnya lebih dari 3 kilometer persegi. Di tengah puing-puing ini, terdapat sekelompok bebatuan berbentuk persegi yang jika dipukulkan akan menghasilkan bunyi-bunyi berfrekuensi tinggi. Kita bisa menonton lokasi gambarannya dari link <a href="http://www.youtube.com/watch?v=W9Als6ayujw">YOUTUBE ini</a>.</p>
<p>Belum diketahui pasti, dimaksudkan sebagai tempat apa sebenarnya puing-puing bangunan purba ini ketika didirikan. Kita masih menunggu hasil penelitian arkeologis, antropologis, tentang hal ini. Situs ini baru dilaporkan diketemukan sekitar tahun 1979 oleh penduduk setempat dan saat ini masih dalam kajian-kajian untuk memastikan fungsionalitasnya. Yang jelas di sini tersimpan sesuatu informasi yang kita belum tahu tentang keberadaan diri kita, tentang mereka yang pernah tinggal di tanah tercinta ini, tentang nenek moyang kita atau bisa jadi penduduk asli yang dibasmi oleh nenek moyang kita dalam perebutan tanah yang kita sebut nusantara ini.</p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=W9Als6ayujw"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus1.jpg?w=460" alt="mus1.jpg" /></a></p>
<p>Di sebuah lokasi sempit di dalam lokasi ini, terdapat sekumpulan batu, ada beberapa di sana yang tergeletak sedemikian dengan panjang lebih dari 1.5 meter dan lebar serta ketebalan lebih dari 25 cm. Beberapa batu besar ini jika dipukul dengan batu lain yang lebih kecil maka akan memberikan bunyi berfrekuensi dalam interval 2500-5000 Hz. <em>Range </em>frekuensi bunyi yang masuk dalam kategori bunyi yang bisa kita dengar. Ketika batu-batu itu dipukul-pukulkan sedemikian, maka diperoleh  spektrum nada-nada yang unik sekali.  Terdapat kecenderungan, satu  batu menghasilkan satu frekuensi yang sama &#8211; yang dimaksudkan untuk representasi satu nadakah? Ini tentu merupakan penemuan yang mengejutkan! Ada instrumentasi musik dari zaman megalitikum!</p>
<p align="center"><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus2-as.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus2-tn.jpg?w=460" alt="mus2-tn.jpg" /></a></p>
<p>Ada sekitar beberapa batu yang dipukul-pukul, dan berhasil diekstrak 4 batu yang dipukul dan menghasilkan 4 frekuensi yang dapat dipetakan ke dalam tangga nada yang kita kenal saat ini. Empat nada ini, bisa didengarkan di sini,</p>
<p>&gt;&gt;&gt; <a href="http://www.geocities.com/quicchote/sampel.mp3">empat nada purba</a> &lt;&lt;&lt;</p>
<p>Yang kemudian direkonstruksi menjadi empat nada dalam tangga nada yang kita kenal:</p>
<p align="center"><a title="mus3.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus3.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus3.jpg?w=460" alt="mus3.jpg" /></a></p>
<p align="left">&#8230;untaian bunyi dengan nada <em>f&#8221;&#8217; &#8211; g&#8221;&#8217; &#8211; d&#8221;&#8217; &#8211; a&#8221;&#8217; </em>yang bisa jadi adalah urutan nada pentatonik? Kalau benar peradaban kuno ini telah mengenal nada pentatonik, mungkin nada yang hilang adalah nada-nada di antara nada pertama dan kedua, karena jarak larasnya yang agak jauh antara kedua nada tersebut. Rekonstruksi nada-nada ini bisa didengar pada file mp3 berikut ini:</p>
<p align="left">&gt;&gt;&gt; <a href="http://www.geocities.com/quicchote/rekon.mp3">rekonstruksi nada purba </a>&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="left">Dari sisi ukurannya, jika ini adalah benar alat musik kuno, maka ini merupakan alat musik yang sangat besar dan sulit dibayangkan jika dimainkan oleh satu orang. Sangat mungkin pemainnya adalah sekelompok  orang yang secara bergantian memainkan lagu-lagu secara monofonik. <em>Wow</em>, sungguh mengherankan dan menarik sekali. Bayangkan ada peradaban purba yang belum mengenal tulisan, namun sudah mengenal konsep kerja sama dalam menghasilkan bentuk-bentuk estetika suara.</p>
<p align="left">Ini merupakan suatu hal yang sangat memperkaya khazanah pengetahuan kita akan sejarah musik dunia. Banyak pertanyaan baru akhirnya timbul, termasuk pertanyaan siapakah mereka ini? Apakah mereka adalah nenek moyang orang Sunda? Jika ya, berarti ada fasa prasejarah dengan tradisi megalitikum di kalangan orang Sunda? Situs ini menyimpan banyak hal yang memperkaya wawasan mereka yang kini tinggal di Jawa Barat, dan kepuluaan Indonesia secara umum, bahkan mungkin dunia, karena mungkin inilah temuan pertama tradisi megalitikum di mana instrumentasi musik pukul ditemukan pertama kali. <em>Wallahualambissawab!</em></p>
<p align="left">More infos: <a href="http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1112242">http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1112242 </a></p>
<p align="left">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=52&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/03/22/musik-purba-dari-cianjur-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/rekon.mp3" length="222867" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/sampel.mp3" length="103749" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mus1.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus2-tn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mus2-tn.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mus3.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Lagu Sepi: Gerakan ke-3 Simfoni #9</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/14/cerita-lagu-sepi-gerakan-ke-3-simfoni-9/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/14/cerita-lagu-sepi-gerakan-ke-3-simfoni-9/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 09:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[baroque]]></category>
		<category><![CDATA[romantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Senyuman sering tak sesuai dengan isak tangis di dalam hati. Semangat yang berapi-api dari sisi pemilihan kata dan dari ekspresi wajah seringkali tak mau menggambarkan keletihan yang luar biasa di dalam hati seseorang. Hiruk-pikuk tak selalu menunjukkan rasa sepi dan sunyi serta kehilangan harapan yang sangat mendalam oleh sirnanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=46&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="beethovenpastoral.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/beethovenpastoral.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="beethovenpastoral.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/beethovenpastoral.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/beethovenpastoral.thumbnail.jpg?w=460" alt="beethovenpastoral.jpg" /></a></div>
<p><em></em></p>
<p><em>Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Senyuman sering tak sesuai dengan isak tangis di dalam hati. Semangat yang berapi-api dari sisi pemilihan kata dan dari ekspresi wajah seringkali tak mau menggambarkan keletihan yang luar biasa di dalam hati seseorang. Hiruk-pikuk tak selalu menunjukkan rasa sepi dan sunyi serta kehilangan harapan yang sangat mendalam oleh sirnanya harapan akan hidup. Ini tergambar ketika kita secara teliti mendengar gerakan ketiga dari simfoni kesembilan dari seorang Ludwig yang lahir dari keluarga Beethoven. Sebuah rentetan dan potret audibel dari emosi melodis yang menggambarkan rasa sepi, sunyi, dan luka hati mendalam namun sangat cerdas, yang menjadi pengiring lahirnya chorale yang paling banyak dipuja orang hingga saat ini ketika partitur ini telah berusia lebih dari 3 abad – ketika bahkan orang lebih ingat Donal Bebek saat mendengarkan melodinya daripada kesedihan melankolik yang ingin direfleksikan…</em><br />
<span id="more-46"></span><br />
Setiap kali membicarakan Ludwig van Beethoven, orang cenderung selalu berbicara tentang kehebohan <em>chorale </em>pada gerakan keempat simfoni ke-9 yang memang kontroversi pada masanya karena komposisinya yang sangat unik. Simfoni terakhir dan kontroversial dari Ludwig van Beethoven ini lebih dikenal karena komposisinya ini. Namun di sini, kita ingin diajak untuk mendengar dengan seksama sebuah sisi gelap dari rembulan kehidupan Ludwig yang menjadikan dirinya dan karyanya senantiasa misterius: ketika ia mencintai seorang <em>immortal beloved</em>, tanpa sadar bahwa kecerdasannya menjadikan dirinya i<em>mmortally loved</em> oleh peradaban homo sapiens hingga hari ini.</p>
<p>Lagu ini dimainkan dengan arahan “<em>adagio molto</em>” = “sangat lambat”, namun Ludwig mengisyaratkan tanda metronom 60 yang sebenarnya bertempo sedang. Namun fakta emosional dari gerakan ke-3 simfoni ini seringkali menggoda maestro pemusik memainkannya dengan tanda metronom yang jauh lebih lambat agar “<em>adagio molto</em>”-nya lebih kerasa.</p>
<p>Ludwig adalah seorang seniman dengan personalitas yang unik. Di balik kesohoran nama besarnya, ia selalu melawan otoritas kekuasaan politik yang menurut pendapatnya tidak adil termasuk beberapa kali penolakannya atas tawaran jabatan sosial kebangsawanan. Ludwig adalah sosok komponis revolusioner yang  menolak embel-embel dan kesemuan kosmetik dari status sosial yang konyol. Namun sejarah menunjukkan bahwa kecerdasan Ludwig entah bagaimana selalu membuat orang-orang di sekitarnya memaafkannya yang seringkali dinilai selalu menantang tata krama itu. Bagaimanapun kehidupan Ludwig berhasil menunjukkan bahwa kebesaran seseorang tak perlu dilihat dari kesemuan embel-embel gelar atau bedak yang tebal atau rambut yang rapih tersisir. Seseorang mestinya terlihat dari apa yang telah dikaryakannya, diekspresikannya secara jujur dan konsisten.</p>
<p>Banyak kritikus musik menunjukkan bahwa kehidupan pribadi Ludwig terpancar pada semua karya-karya simfoninya. Dan gerakan ke-3 yang pilu ini merefleksikan fakta bahwa kehidupan personal Ludwig selama hidupnya tidak seberuntung dan semekar kehidupan karya-karyanya hingga sekarang. Tak bisa dibayangkan bahwa seorang maestro musik besar harus menerima bahwa ia telah menjadi tuli (1796). Tak bisa pula bisa dibayangkan orang yang bisa melahirkan karya yang luar biasa sentimental, melankolis dan romantis seperti Ludwig senantiasa selalu hidup dalam bayang-bayang seorang wanita yang sangat dikasihinya namun tak pernah menjadi nyata dalam hidupnya yang tak panjang (1812). Kisah kasih misteriusnya ini telah diangkat ke layar kaca dengan judul “<em>Immortal Beloved</em>”, sebuah sebutan Ludwig sendiri dalam sebuah surat pribadi. Hingga hari ini, tak ada yang tahu siapa sebenarnya wanita misterius ini. Banyak perempuan yang diketahui dekat dengan Ludwig, namun siapa sebenarnya wanita ini tak pernah diketahui secara pasti.</p>
<p>Gerakan ketiga dari simfoni ini dimainkan dalam gaya “<em>Adagio molto e cantabile</em>” yang dimainkan dalam tangga nada <em>B-flat mayor</em> – dalam variasi yang progresif dalam irama dan melodi sekaligus.  Beethoven menggunakan variasi tempo komposisi dalam gerakan musik ini, diawali dengan tempo 4/4, dilanjutkan dengan 3/4 yang kemudian dilanjutkan dengan tempo 12/8. Hal ini menunjukkan kecerdasan dari gerakan komposisi <em>adagio </em>ini yang sekaligus menunjukkan bahwa kekuatannya di melodi.</p>
<p>Sebagaimana biasanya, selalu ada empat tahapan dalam tiap lagu komposisi pada masa romantik, yaitu tahapan <em>eksposisi</em>, <em>pembangunan</em>, <em>rekapitulasi</em>, dan diakhiri dengan ekor (<em>koda</em>). Tahapan eksposisi dari lagu <em>adagio </em>ini diawali dengan musik tiup dengan tempo variatif antara <em>adagio </em>dan <em>andante </em>(dengan lambat). Permainan variasi tempo Ludwig dalam lagu ini berputar-putar antara <em>andante </em>dan <em>adagio</em>:</p>
<p>Tahap eksposisi: <em>Adagio </em>&#8211;&gt; <em>Andante </em>&#8211;&gt;<em>Adagio </em>&#8211;&gt; <em>Andante </em><br />
Tahap pembangunan: <em>Adagio</em><br />
Tahap rekapitulasi: <em>Lo Stesso Tempo</em> (tempo sama namun terjadi perubahan pelambatan di metronom)</p>
<p>Jika kita perhatikan, tahapan pada tahapan eksposisi ini kita dapat mendengar beberapa variasi dari biola (<em>strings</em>) yang dimainkan dominan dengan beberapa variasi dengan tempo <em>andante </em>yang terasa kesan sendiri/sepi yang naik turunnya sering terkait dengan rengekan, keluh kesah,</p>
<p>Contoh variasi (dari eksposisi)</p>
<p><a title="9varviol1.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol1.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="9varviol1.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol1.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol1.jpg?w=460" alt="9varviol1.jpg" /></a></div>
<p>Yang jika kita nyanyikan: <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=23&#038;h=22" alt="lg.jpg" width="23" height="22" />[[<a href="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single.mp3"><strong>9violin-single.mp3</strong></a>]]</p>
<p>Contoh lain variasi (juga masih dari eksposisi)</p>
<p><a title="9varviol2.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol2.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="9varviol2.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol2.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol2.jpg?w=460" alt="9varviol2.jpg" /></a></div>
<p>Yang kira-kira berbunyi: <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=23&#038;h=22" alt="lg.jpg" width="23" height="22" />[[<a href="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single-var.mp3"><strong>9violin-single-var.mp3</strong></a>]]</p>
<p>Jika kita teliti mendengarkannya kita akan mendengarkan adanya keramaian pada harmoni variasi untuk alat musik tiup (<em>wind</em>) yang menyertai dominasi singular biola sebelumnya, misalnya:</p>
<p><a title="9varharm.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varharm.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="9varharm.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varharm.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varharm.jpg?w=460" alt="9varharm.jpg" /></a></div>
<p>Yang jika dinyanyikan: <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=23&#038;h=22" alt="lg.jpg" width="23" height="22" />[[<a href="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single-var.mp3"><strong></strong></a><strong><a href="http://www.geocities.com/quicchote/9wind-single.mp3">9wind-single.mp3</a></strong>]]</p>
<p>Pola ini merupakan hal yang terus divariasikan dalam tahapan pembangunan (<em>development</em>) hingga rekapitulasi dan koda dari <em>cantabile </em>ini. Sangat terasa sebenarnya kekuatan melodisnya, karena jika kita tidak teliti variasi yang terdengar seolah berbeda tatanan melodisnya dengan kontur yang menggambarkan kesendirian yang sangat ditengah keramaian dan hiruk-pikuk alat musik tiup yang mengitari gerakan melodis alat musik gesek (<em>violin </em>dan <em>viola</em>). Melodi berjalan terus secara mulus tapi cukup terasa atmosfir estetik di sini.</p>
<p>Variasi akhir dari gerakan <em>adagio </em>ini dua kali diwarnai dengan dua “teriakan” yang keras dari semua orkestrasi alat musik yang terlibat dalam simfoni yang dijawab dengan biola secara singular yang menunjukkan kesendirian di dalam hiruk-pikuk yang riuh rendah. Nada-nada biola ini dipilih tinggi dengan oktaf ganda yang mungkin menjadi dasar interpretasi kritikus bahwa gerakan ke-3 dari simfoni ini menggambarkan kesakitan dari Beethoven di akhir-akhir masa hidupnya.  Di bagian-bagian akhir ini Ludwig memunculkan pula solo alat tiup yang khidmat dan lambat yang sekaligus menjadi jembatan gerakan ke-3 ini ke gerakan ke-4 yang riuh rendah dengan <em>chorale </em>yang terkenal itu: Oda Kegembiraan dan Persaudaraan. Kesinambungan gerakan ke-3 dan ke-4 ini pula yang mungkin membuat seringkali rekaman digital belakangan dari simfoni ini (misalnya interpretasi yang dipimpin maestro kesohor almarhum Herbert von Karajan, 1977 dengan <em>Berliner Philharmonika Orchestra</em>) senantiasa menjadikannya satu bagian yang tak terpisah.</p>
<p>Ludwig pernah menjalin kasih dengan seorag gadis aristokrat Giulietta Guiccardi, namun ayah sang gadis tak merestui dan Giulietta menikahi orang lain yang berujung pada perceraian. Namun usaha Giulietta setelah ia bercerai tak pernah berhasil kembali pada Ludwig. Ia juga dikabarkan pernah menjalin kasih dengan Josephine von Brunswick, seorang janda, namun lagi-lagi ia terhambat masalah keluarga si perempuan dan sikap Ludwig yang jarang secara terbuka mengekspresikan keinginannya. Terakhir Ludwig menjalin hubungan dengan Antonie Brentano, yang diduga kuat adalah orang yang dituju dalam surat misteriusnya tersebut.</p>
<p>Surat misterius ini menggambarkan kesedihannya ketika ternyata sang pujaan hati tak pernah memahami perasaan Ludwig yang mungkin terlalu pemalu namun angkuh mengekspresikan perasaan padanya. Surat ini menandai runtuhnya harapan dan keinginan Ludwig pada upaya membangun rumah tangga. Destruksi emosionalitas dan kehilangan pendengaran telah membuat Ludwig menjadi seorang yang sulit untuk menyesuaikan karyanya dengan pesanan komposisi musik yang menjadikannya tak produktif. Secara finansial ia terjebak dalam kemiskinan yang amat sangat yang berakhir dengan berpulangnya pada 1827 setelah beberapa kali gagal dalam keinginannya untuk bunuh diri.</p>
<p>Derita psikologis dan emosional ini tergambar secara sangat melodis dalam bentuk sahut-sahutan antara musik yang dimainkan oleh musik gesek dan musik tiup. Pada bagian awal, sahut-sahutan itu terjadi di antara singularitas atau duo alat gesek dan dua atau tiga instrumen tiup. Variasi melodis bersama permainan tempo menjadi warna tahapan eksposisi dan pembangunan dari lagu. Alur cerita lagu bagaimanapun naik pada bagian rekapitulasi, dengan kuatnya harmoni antara dua alat musik yang diperankan seolah antagonistik  oleh maestronya tersebut. Harmoni makin kuat di bagian akhir lagu namun dengan tempo yang kembali <em>adagio</em>, terus hingga koda yang menggantung dan siap untuk melaju ke bagian <em>chorale</em> yang menghebohkan pada masanya, dan hingga sekarang masih saja akrab dengan telinga pop kita.</p>
<p>Para kritikus jarang mengulik bagian ketiga dari simfoni no. 9 ini, karena biasanya sangat terfokus pada bagian keempat (<em>chorale</em>) yang sangat terkenal, dan juga karena memang lagu gerakan ketiga ini menjadi jembatan yang agak aneh dibandingkan bagian sebelumnya (gerakan 1 dan 2) yang sangat bersemangat dan cepat (<em>presto</em>). Mendengarkan gerakan ketiga ini adalah zooming terhadap sebuah motivasi mendalam dari kehidupan dan melankoli yang pribadi sekali dari seorang Ludwig. Sebuah rasa sepi di tengah hiruk-pikuk hidupnya sebagai seorang seniman yang terkenal. Sebuah tekanan psikologis yang kuat yang akhirnya memuntahkan sebuah karya fenomenal yang dapat membuat kita serasa ikut menitikkan air mata mendengarkannya dengan seksama dengan memahami cerita dibalik simfoni terakhir yang ditulis olehnya. Penderitaan psikologis yang kuat yang ingin dilepaskannya secara kuat pula: tak heran, bagian akhir dari simfoni yang berbentuk <em>chorale</em> dan pada premiernya banyak dicemooh orang karena melawan aturan dan kelayakan komposisi simfoni pada umumnya di masanya adalah bentuk keinginan Ludwig untuk segera bebas, lepas dari situasi efemeral dari hidup yang terkadang memang sangat merundung rasa bosan dan sepi ini…</p>
<p>Mari mendengarkan lagu ini, merasakan kecerdasan seorang Ludwig, dan ikut insyaf bahwa sejujurnya kita sebenarnya tak lebih dari Ludwig pada masa sekarang: terkadang merasa sangat sepi di tengah keramaian dan hiruk-pikuk kehidupan kita…</p>
<p><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=23&#038;h=22" alt="lg.jpg" width="23" height="22" />[[<a href="http://www.geocities.com/quicchote/mvt3s9.mp3"><strong>A</strong><strong>dagio Molto e Cantabile</strong></a>]]<img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=23&#038;h=22" alt="lg.jpg" width="23" height="22" /></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&amp;blog=2701361&amp;post=46&amp;subd=qmuse&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/14/cerita-lagu-sepi-gerakan-ke-3-simfoni-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single.mp3" length="153591" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single-var.mp3" length="126006" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/9wind-single.mp3" length="165190" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/mvt3s9.mp3" length="3599594" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/beethovenpastoral.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">beethovenpastoral.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9varviol1.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9varviol2.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varharm.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9varharm.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
