<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>From computational rythms and melodious information to the harmony of diversity!</title>
	<atom:link href="http://qmuse.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qmuse.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Apr 2009 00:10:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='qmuse.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/1e8bf9b2de0ba79f134baa529b786ce0?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>From computational rythms and melodious information to the harmony of diversity!</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Membiarkan &#8220;The Rolling Stones&#8221; menikmati &#8220;Gurame Edan&#8221;</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2009/04/05/gurame-edan/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2009/04/05/gurame-edan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 00:01:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[archipelagic]]></category>
		<category><![CDATA[modern-pop]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu Yoga, Nedi, dan kawan-kawannya memanggil seorang perempuan cantik nan genit penanti bar lewat lagu The Rolling Stones, &#8220;Honky-Tonk Woman&#8220;. Tapi bukan kaki yang diangkat dan tongkat mikrofon dilenggakkan sebagaimana lagak panggung Mick Jagger yang tampil di situ. Penonton yang ingin latah ikut berjoget, tapi bukan gerakan disko yang terkuak, melainkan joget seolah mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=122&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-134" title="ge" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/ge.jpg?w=128&#038;h=95" alt="ge" width="128" height="95" />Malam itu Yoga, Nedi, dan kawan-kawannya memanggil seorang perempuan cantik nan genit penanti bar lewat lagu The Rolling Stones, &#8220;</em>Honky-Tonk Woman<em>&#8220;. Tapi bukan kaki yang diangkat dan tongkat mikrofon dilenggakkan sebagaimana lagak panggung Mick Jagger yang tampil di situ. Penonton yang ingin latah ikut berjoget, tapi bukan gerakan disko yang terkuak, melainkan joget seolah mereka mendengar langgam keroncong riang. Gurame Edan, kelompok musik keroncong nyeleneh itu, menumbuhkan dengan subur &#8220;</em>Honky-Tonk Woman<em>&#8221; dalam nuansa keroncong. Benar-benar santapan yang menunjukkan luasnya khazanah musik yang nikmat dan …edan!</em><br />
<span id="more-122"></span><br />
<img class="alignright size-full wp-image-123" title="marco" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/marco.jpg?w=131&#038;h=145" alt="marco" width="131" height="145" />Memang pada tahun 1980-an penikmat musik sudah pernah mendengarkan &#8220;keroncong nyeleneh&#8221; yang  memainkan lagu-lagu pop, <em>country</em>, <em>blues</em>, hingga <em>jazz</em>, oleh grup &#8220;CongRock&#8221; yang digagas oleh perintis Keroncong Inovatif Senior, Marco Marnadi. Suatu inovasi yang sempat menuai protes namun pada akhirnya keroncong inovatif ini merupakan sebuah upaya yang jempolan dan unik, serta membuka jalan bagaimana menumbuhkan gejolak melodi non-Indonesia dalam kerangka bermusik orang-orang Indonesia. Kreativitas ini bahkan mampu merebut hati penikmat musik, bahkan hingga ke manca negara.</p>
<p>Namun Gurame Edan memiliki gaya yang sangat berbeda. CongRock melakukan paduan apik yang harmonis lagu-lagu pop dari belahan utara planet ini dengan beberapa penyesuaian yang &#8220;memuluskan&#8221; tumbuhnya noktah-noktah nada dan irama pop tersebut ke dalam substrat keroncong, antara lain dengan mengeksplorasi paduan alat musik yang digunakan: <em>bass</em> betot, gitar, <em>cello</em>, cak-cuk, dan biola dikolaborasikan dengan instrumen: <em>keyboard</em>, <em>saxophone</em>, trompet, <em>fluete</em>, gitar elektrik, banyo, dan drum. Gurame Edan melakukan upaya penumbuhan yang lain. Instrumen musik yang digunakan dipertahankan tanpa harmonisasi dengan instrumen barat. Ini dapat memberi nilai tambah dan kemungkinan juga nilai kurang bagi Gurame Edan.</p>
<p>Nedi dan Yogi, mungkin pernah santer dikenal sebagai personil grup band Pemuda Harapan Bangsa dengan langgam dangdut kocaknya. Tapi ini eksplorasi bermusik mereka belakangan meluas hingga ke pola nuansa (<em>musical vibe</em>) keroncong. Eksplorasi inilah yang berbuntut tumbuhnya lagu-lagu yang menjadi tonggak musik <em>rock &#8216;n roll</em> modern di dalam substrat musik khas Indonesia, khususnya kawasan pesisir pulau Jawa, keroncong!</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-127" title="rollstones-single1969_honkytonkwomen" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/rollstones-single1969_honkytonkwomen.jpg?w=197&#038;h=198" alt="rollstones-single1969_honkytonkwomen" width="197" height="198" />Ketiadaan efek gitar sebagai <em>lead</em>, gitar ritmis dan <em>bass</em>, maupun <em>synthesizer</em>, apalagi drum, yang menjadi penjaga irama musik, telah melahirkan wajah baru audio musik-musik dari belahan utara dunia. Pendengar akan masih bisa mengenali  balada melodis maupun liris dari &#8220;<em>Honky-Tonk Woman</em>&#8220;-nya <em>The Rolling Stones</em>, tapi corak telah berubah jauh. <em>Honky-Tonk Woman</em> harus tumbuh di gesekan biola, petikan bas betot, ukulele, dan khas musikal lain yang menandai keroncong yang kita kenal. <em>Honky-Tonk Woman</em> tak perlu berubah dari wanita genit dengan lipstik dan bedak tebal berpakaian penuh renda menjadi perempuan Timur berkebaya. Pendendang pun tak perlu berubah dari sosok lelaki tegap bertopi koboi dan berompi kulit menjadi lelaki jawa berblankon. Tidak sama sekali!</p>
<p>Lagu orisinil <em>Honky-Tonk Woman</em> sangat terkenal dengan intro-nya yang sangat inovatif (pada masanya), dengan pola kord harmonis yang mengawali lagunya. Banyak lagu-lagu pop meniru gaya harmonisasi kord unik ini, tak kurang baru-baru ini grup musik Indonesia, ChangCuters, juga menggunakan pola ini untuk lagunya yang berjudul &#8220;I Love You, Bibeh!&#8221;. Pola ini digambarkan seperti berikut (<em>klik untuk memperbesar</em>):</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthasli.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-124" title="HonkyTonkIntroAsli" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthasli.jpg?w=300&#038;h=47" alt="HonkyTonkIntroAsli" width="300" height="47" /></a></p>
<p>Mari coba kita simak bersama tampilan asli dari <em>The Honky-Tonk Woman</em> ini ketika disuarakan oleh Jagger dan sobat-sobatnya dalam penampilan panggung di Hyde Park pada tahun 1969.<br />
URL: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=faEEro38pEA">http://www.youtube.com/watch?v=faEEro38pEA</a></p>
<p>Tapi, Gurame Edan bermain lain. Pola ritmis yang menjadi intro khas lagu ini berubah menjadi gesekan biola dengan cara gesek yang unik keroncong, menjadi berbentuk (<em>klik untuk memperbesar</em>):</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthge.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-125" title="HonkyTonkIntroGE" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthge.jpg?w=300&#038;h=40" alt="HonkyTonkIntroGE" width="300" height="40" /></a></p>
<p>Audio video penampilan dari Gurame Edan untuk lagu ini bisa diakses di URL: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=vOpCdRjtnfc">http://www.youtube.com/watch?v=vOpCdRjtnfc</a></p>
<p>Alhasil, nuansa keroncong lagu ini pun muncul bahkan semenjak intro. Bagi pengamat <em>The Honky-Tonk</em> yang dimainkan oleh <em>The Rolling Stones</em> dalam berbagai episode tur musik mereka, mungkin bisa teringat dengan rentetan nada-nada yang menjadi intro <em>a la</em> Gurame Edan ini sebagai salah satu varian dari ekspresi gitar lead dari musik aslinya. Terbukti, pola melodik ini memang muncul di bagian yang pada musik aslinya ditempati oleh gitar lead &#8211; hal yang tak ada sama sekali (dan justru menjadi pola unik gaya<em> rock &#8216;n roll The Rolling Stones</em>) pada lagu aslinya. Kreativitas lahir ketika <em>Honky-Tonk W</em><em>oman</em> lahir di tangan eksplorasi musik Gurame Edan. <img class="alignright size-thumbnail wp-image-129" title="logo-gurame" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/logo-gurame.jpg?w=108&#038;h=96" alt="logo-gurame" width="108" height="96" /></p>
<p>Bermusik keroncong menjadi meluas, sesuatu yang juga terlihat sebenarnya pada pendahulu Gurame Edan yang dimotori dalam rintisan Marco Marnadi. Tetapi tak hanya itu tentu, karena sebenarnya dimensi lagu bertema sensualitas wanita di Eropa ini menjadi diperluas pula melalui perpaduan kreatif permainan Gurame Edan ini. Terlepas dari apakah gaya bermusik Gurame Edan ini akan juga berkiprah di industri musik modern, ia menjadi tonggak dalam evolusi dan inovasi musik tanah air, karena Gurame Edan memang tak cuma memainkan lagu-lagu <em>The Rolling Stones</em>. Lagu-lagu dari grup <em>punk </em>alternatif Nirvana, grup musik <em>rock </em>Metallica pun dipupuk untuk tumbuh di tanah keroncong dengan dimensi musik keroncong di nusantara yang khas.</p>
<p>Pada dasarnya ini merupakan pola yang sangat inspiratif bagi industri musik dunia, karena selama ini, mengutip musisi psikodelik Glenn Branca, pola langgam musik pop modern seolah &#8220;mentok&#8221; di mana banyak eksplorasi mulai melirik pola melodi nada-nada mikrotonis yang sangat berbeda dengan sistem titi laras oktaf warisan sistem tarekat filsuf Yunani, Pythagoras (580-490 SM), yang kita kenal saat ini. Secara melodis, keroncong mungkin masih mengakuisisi sistem titi laras modern yang standar, namun kita tahu, musik tak bisa direduksi sebagai sekadar penjajaran nada-nada, karena banyak unsur lain dalam eksplorasi musik yang bisa telah akan sangat mengubah gaya bermusik, mulai dari pola ritmik hingga reverberasi (efek ruang stereo) dari suara.</p>
<p>Terkait upaya &#8220;pelestarian budaya&#8221; nusantara, banyak memang pola rilis ulang dan upaya mempopulerkan musik tradisi Indonesia. Sebut saja misalnya medley &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=RWuymq1sluw">Punk Jawa</a>&#8220;-nya grup legendaris Slank yang menyanyikan lagu etnik Jawa secara<em> punk rock</em>, atau beberapa lagu yang dimainkan oleh juga secara <em>medley </em>Elfa&#8217;s Singer (misalnya lagu <a href="http://www.youtube.com/watch?v=CAEVpOIGNs8">Yamko Rambe Yamko</a> dari Papua), termasuk album berjudul &#8220;<em>Tribute to Toraya</em>&#8221; artis <em>Indonesian Idol</em>, Harry Montong<img class="alignright size-thumbnail wp-image-130" title="montong" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/montong.jpg?w=101&#038;h=96" alt="montong" width="101" height="96" />, misalnya, yang membawa nuansa pop apik atas lagu Toraja, Batingna Lebonna. Sebuah pola yang sangat sering juga muncul hingga di <a href="http://www.youtube.com/watch?v=YTSGgzZwMVI">panggung-panggung lokal</a> di hotel-hotel, acara nikahan, hingga sunatan massal. Menumbuhkan lagu tradisional dalam substrat gaya eksploratif musik modern konvensional bukan hal jarang kita temui.</p>
<p>Keroncong nyeleneh semacam yang ditunjukkan Gurame Edan ini jarang kita temui relatif terhadap upaya pembawaan lagu tradisional Indonesia dengan akuisisi instrumentasi musik modern. Musik merupakan artifak multidimensional yang luar biasa kompleks. Gencarnya pola pendidikan seni modern yang senantiasa berkiblat pada titi laras oktaf standar dalam alat musik populer, di banding pola bermusik dengan instrumentasi tradisi asli Indonesia, secara kuantitas membuat eksplorasi yang dilakukan oleh Gurame Edan dan perintis-perintisnya ini justru jarang terjadi, padahal sebenarnya merupakan ikhwal yang sangat vital dalam akuisisi pola bermusik.</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/musetradmod.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-126" title="Interaksi Musik Modern &amp; Musik Tradisi Nusantara" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/musetradmod.jpg?w=300&#038;h=258" alt="Interaksi Musik Modern &amp; Musik Tradisi Nusantara" width="300" height="258" /></a><br />
Dari sini kita mempelajari dua interaksi antara apa yang modern dan dalam panggung musik dunia dikenal sebagai bentuk konvensionalitas, dengan apa yang menjadi eksplorasi musik tradisi masyarakat yang tinggal di Kepulauan Indonesia. Panah merah di bagian bawah pada gambar di atas (<em>klik untuk memperbesar</em>) sering kita temui, tapi panah ungu merupakan hal yang relatif tidak sering. Ini merupakan sebuah tantangan yang menarik bagi masyarakat seni musik Indonesia yang kebetulan tinggal di tanah air yang menyimpan ribuan gaya eksplorasi musik terkait etnisitas dan pranala musik tradisi. Hanya satu lagu dari Gurame Edan, dan kita telah menyaksikan keunikan berpola yang terlihat dalam upaya panah ungu dalam gambar di atas. Sejarah musik modern dari zaman Klasik, era Barok, era Romantik, hingga musik populer industrial seperti sekarang ini dengan berbagai genre-nya, menanti panah ungu-nya untuk menginspirasi dan mewarnai corak musik dunia yang tak akan pernah berdinamika dan ber-evolusi.<a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthge.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-128" title="nedi_cs" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/nedi_cs.jpg?w=128&#038;h=66" alt="nedi_cs" width="128" height="66" /></a></p>
<p>Sebuah refleksi bagi pendidikan termasuk <em>link and match</em>-nya dengan industri dan apresiasi musik Indonesia yang tengah berjuang dalam perluasan inovasi melalui kreativitas yang secara global dapat bersumber pada tradisi bangsa Indonesia.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=122&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2009/04/05/gurame-edan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/ge.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">ge</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/marco.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">marco</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/rollstones-single1969_honkytonkwomen.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rollstones-single1969_honkytonkwomen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthasli.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">HonkyTonkIntroAsli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/hthge.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">HonkyTonkIntroGE</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/logo-gurame.jpg?w=108" medium="image">
			<media:title type="html">logo-gurame</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/montong.jpg?w=101" medium="image">
			<media:title type="html">montong</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/musetradmod.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Interaksi Musik Modern &#38; Musik Tradisi Nusantara</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2009/04/nedi_cs.jpg?w=128" medium="image">
			<media:title type="html">nedi_cs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kemudaan dalam Tematika Musikalitas Pop</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/10/22/kemudaan-dalam-tematika-musikalitas-pop/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/10/22/kemudaan-dalam-tematika-musikalitas-pop/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 23:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[modern-pop]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[
Musik pop adalah musiknya anak muda. Pop berarti populer, ia tersuarakan dalam lirik yang berusaha mewakili suara mereka yang tergolong muda dan sekaligus pasar industri musik, sayatan melodi dalam cabikan senar gitar, genderang drum yang cepat dan dinamis bahkan dalam hentakan (baca: beat) dan irama, dan belakangan melalui teknologi sinkronisasi frekuensi-ritme dengan bantuan devais elektronik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=100&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-full wp-image-117" title="sp1928" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/sp1928.jpg?w=127&#038;h=100" alt="" width="127" height="100" /></p>
<p><em>Musik pop adalah musiknya anak muda. Pop berarti populer, ia tersuarakan dalam lirik yang berusaha mewakili suara mereka yang tergolong muda dan sekaligus pasar industri musik, sayatan melodi dalam cabikan senar gitar, genderang drum yang cepat dan dinamis bahkan dalam hentakan (baca: </em>beat<em>) dan irama, dan belakangan melalui teknologi sinkronisasi frekuensi-ritme dengan bantuan devais elektronik dan komputer. Anak muda tersuarakan dalam musikalitas pop yang digandrunginya, namun bagaimanakah musikalitas yang menjadi ikon sub-kultur muda ini berbicara tentang kemudaan itu sendiri? Lebih jauh, menjadi tua adalah sebuah takdir yang merupakan dinamika berfungsi waktu. Tanpa sadar, menjadi tua adalah hal yang tak diinginkan karena secara representatif, ketuaan memberikan asosiasi akan stagnasi, anti-dinamika dan perubahan, dan rendahnya progresifitas.</em></p>
<p><em>Terdapat beberapa lagu yang secara liris bertema tentang apa yang dipandang sebagai muda kontras atas kenyataan bahwa kemudaan tersebut terkait dengan usia dan semangat. Bahkan frasa &#8220;</em>Forever Young<em>&#8221; sangat banyak digunakan sebagai judul lagu. Sebuah keinginan untuk menjadi muda tentu karena kemudaan memiliki sifat-sifat yang ignin senantiasa dipertahankan, namun secara natural seringkali akhirnya kandas dan hilang seiring bertambahkan usia. </em><span id="more-100"></span></p>
<p>Musikalitas pop, khususnya, semenjak musik mulai dipersiarkan (<em>broadcast over air</em>) telah melahirkan banyak lagu yang bertitik tolak pada liris. Kita meninjau beberapa lagu dari genre musik populer terkait kemudaan dari sisi lirisnya berikut ini. &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; karya grup band rock Alphaville (1984), &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; karya musisi folk yang menjadi inspirator musik rock Amerika Serikat Bob Dylan (1973), &#8220;<em>Forever Young</em>&#8220;-nya Rod Stewart (1985) serta &#8220;<em>Never Grow Old</em>&#8221; dari grup musik Irlandia The Cranberries (2001). Dari lirik lagu-lagu ini, kita akan mencoba membaca bagaimana sifat kemudaan itu terdefinisi, dan bahwa kemudaan adalah representasi keinginan dan kerinduan akan keabadian. Karena kemudaan adalah dinamika, dan seperti ungkapan feminis posmodernis Simon de Beauvoir, &#8220;<em>lawan dari muda bukanlah menjadi tua, melainkan mati</em>&#8220;.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-109" title="joan_baez_bob_dylan" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/250px-joan_baez_bob_dylan.jpg" alt="" />Koleksi lagu paling tua dengan tajuk &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; mungkin adalah gubahan musisi luar biasa Bob Dylan. Lagu ini dirilis ulang oleh banyak musisi pop lainnya, seperti misalnya Diana Ross (Album <em>Swept Away</em>, 1984), grup band The Pretenders (Album <em>Last of the Independents</em>, 1994), musisi aktivis Joan Baez (1973), dan terakhir musisi rock Meat Loaf (Album <em>Couldn&#8217;t Have Said It Better</em>, 2003). Diakui sebagai bentuk ketaksengajaan, Rod Stweart dalam albumnya <em>Out of Order</em> (1988) merilis lagu dengan pola rima liris yang sama namun dengan berbagai elemen lirik yang agak berbeda. Bob dan Rod berdamai dan saling berbagi royalti atas penjualan album ini. Rod mungkin tak sengaja pernah mendengar lagu yang jelas membumbungkan nama Bob Dylan ini dan inspirasinya memberikan inspirasi atas gubahannya sendiri. Secara sepintas lagu ini berisi pesan dan petuah seorang yang lebih tua (orang tua) kepada yang lebih muda (anak) namun dengan penekanan sifat-sifat kemudaan yang ditonjolkan baik dan diakhiri dengan pesan untuk selalu menjadi muda. Lagu &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; Bob Dylan dapat dilihat di: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=VSpAWVa4Jak">http://www.youtube.com/watch?v=VSpAWVa4Jak</a> sementara yang dinyanyikan Rod Stewart di: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=OHNeRjC4nJw">http://www.youtube.com/watch?v=OHNeRjC4nJw</a><img class="size-full wp-image-110 alignright" title="rod_stewart" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/220px-rod_stewart_05111976_12_400.jpg" alt="" width="79" height="103" /></p>
<p>Agak berbeda dengan Bob dan Rod, grup band <em>rock &#8216;n roll,</em> Alphaville tadinya bernama &#8220;<em>Forever Young</em>&#8221; dengan hits mereka yang memang sangat terkenal bertajuk ini. Alphaville yang musisi pop rock yang merupakan salah satu pelopor dalam akuisisi dominan synthesizer ini secara liris menunjukkan pola deklaratif untuk menjadi selalu muda. Hampir senada dengan sastrawan Indonesia, Chairil Anwar, lirik Alphaville beberapa kali terdengar menyuarakan keinginan untuk &#8220;<em>die young or live forever</em>&#8220;. Deklarasi untuk tak mau menjadi tua menjadi tema dari lagu ini dengan menampilkan keinginan untuk senantiasa dinamis (pemilihan kata &#8220;<em>dance</em>&#8220;, &#8220;<em>adventure</em>&#8220;, &#8220;<em>dreams come true</em>&#8220;) merupakan isi lirik lagu ini. Tak heran, lagu deklaratif ini telah beberapa kali pula dirilis ulang, katakanlah misalnya oleh artis Laura Branigan (Album <em>Hold Me</em>, 1985), dan baru-baru ini oleh grup musik Youth Group (2006) dan terakhir oleh Rooney setahun yang lalu (2007). <img class="size-full wp-image-114 alignright" title="alphaforever" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-alphaforever.jpg" alt="" width="96" height="96" />Video klip lagu ini dapat disimak di: h<a href="//www.youtube.com/watch?v=n7CuJ8cR9sg">ttp://www.youtube.com/watch?v=n7CuJ8cR9sg<img class="alignright size-full wp-image-111" title="alphaforever" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/image-alphaforever.jpg" alt="" /></a></p>
<p>Jika Bob &amp; Rod memberi petuah untuk senantiasa muda dan Alphaville menyuarakan deklarasi untuk keinginan untuk selalu muda, maka grup musik rock Irlandia ber-vokal unik The Cranberries menggubah lagu berpesan untuk tak ingin menjadi tua dengan tajuk &#8220;<em>Never grow old</em>&#8221; dalam album mereka &#8220;<em>Wake Up And Smell the Coffee</em>&#8221; (2001). Sebagaimana sepintas digambarkan tajuknya, lagu ini mengkontraskan kemudaan dengan kesempurnaan situasi muda, ketenangan, dan mimpi. Kegembiraan muda adalah apa yang secara apik ditampilkan oleh The Cranberries. Lagu ini dapat disimak di: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=wVC-veJ6eQ8">http://www.youtube.com/watch?v=wVC-veJ6eQ8</a></p>
<p><img class="size-full wp-image-115 alignright" title="the_crannies" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/220px-publicity05.jpg" alt="" width="132" height="107" />Sebenarnya bagaimana secara umum musisi-musisi yang merepresentasikan kemudaan dalam wacana subkultur muda global? Untuk ini kita dapat mencoba melihat bagaimana satu konsep terkait dalam konsep lain dalam lirik-lirik mereka secara detail. Setiap konsep (kata) terkait dengan konsep (kata) lain jika digunakan dalam satu kalimat lagu. Hasilnya adalah jaring-jaring  konsep (kata) yang terhubung jika digunakan dalam satu kalimat liris dalam lagu-lagu mereka secara keseluruhan. Kita berharap meng-ekstrak secara visual, bagaimana tren-setter musik dunia ini merepresentasikan &#8220;kemudaan&#8221; dalam lirik-lirik lagu mereka. Menarik, karena kita dapat melihat sebagaimana ditunjukkan pada gambar di bawah ini&#8230; (<em>klik pada gambar untuk memperbesar</em>).</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-102" title="Young In Western Pop Musicality" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young.jpg?w=300" alt="" width="300" height="177" /></a></p>
<p>Dari jaring-jaring tersebut terlihat beberapa sifat-sifat kemudaan yang ingin ditampilkan dalam lirik-lirik lagu-lagu modern pop ini. Kemudaan ditampilkan terkait reat dengan konsep kelincahan (<em>swift feet, hands,</em> dan sebagainya), kegembiraan (<em>joyful</em>), keteguhan sikap (<em>stand up right</em>), keberanian (<em>courageous</em>), keyakinan akan kebenaran (<em>know the truth</em>), nyanyi dan lagu (<em>song, play</em>), bahkan nilai spiritual, sebagai kelompok (<em>cluster</em>) dengan butir-butir keterkaitan konsep terbanyak dalam jaringan tersebut. Ketika ia terkait dengan ke-aku-an kaum muda, maka konsep seperti impian (<em>dreams</em>), kesempurnaan situasional, pengalaman, dan kegembiraan muncul.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-112" title="youth_group_-_forever_young" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-youth_group_-_forever_young.jpg" alt="" width="120" height="120" />Namun ketika terkait dengan konsep &#8220;menjadi tua&#8221;, konsep-konsep lemah seperti kesulitan, kematian, dan kepudaran muncul. Ini menjadi point-point penting yang menunjukkan adanya representasi dan keinginan untuk senantiasa muda sebagaimana ditunjukkan dalam lagu-lagu tersebut. Dalam analisis kuantitatif, jika frekuensi dan kekuatan antar konsep sebagai bentuk perulangan dalam syair kita perhitungkan, maka kita akan mendapati konsep &#8220;<em>young</em>&#8220;, &#8220;<em>live</em>&#8220;, &#8220;<em>forever young</em>&#8220;, &#8220;<em>song</em>&#8220;, &#8220;<em>dreams</em>&#8221; sebagai beberapa konsep yang penting dalam lirik-lirik tiga lagu penting ini. Tiga lagu ini secara implisit juga menunjukkan akan yang muda yang tak suka dengan perseteruan bersenjata atau perang dengan munculnya konsep-konsep terkait &#8220;<em>bomb</em>&#8220;, &#8220;<em>leaders</em>&#8220;, &#8220;<em>power</em>&#8220;, dan sebagainya, sementara berbagai konsep terkait musik dan kegembiraan dan kebebasan ekspresif senantiasa muncul melalui kata &#8220;<em>melody</em>&#8220;, &#8220;<em>beat</em>&#8220;, &#8220;<em>dance</em>&#8220;, &#8220;<em>swinging</em>&#8220;, dan sebagainya.</p>
<p><em>Bagaimana dengan lagu-lagu pop modern Indonesia? </em></p>
<p>Sebagai bahan perbandingan, kita melihat beberapa lagu dari grup band Coklat yang bertajuk &#8220;Masa Muda&#8221;<img class="alignright size-full wp-image-108" title="katon" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/katon.gif" alt="" width="84" height="109" /> (Album <em>Rasa Baru</em>, 2001), grup musik Dewa 19  yang berjudul &#8220;Format Masa Depan&#8221; (1994), lagu gubahan musisi legendaris nasional Iwan Fals yang berjudul &#8220;Gelisah&#8221; (Album <em>Kantata Takwa</em>, 1990), dan lagu gubahan musisi Katon Bagaskara yang berjudul &#8220;Si Muda&#8221; (Album <em>Katon Bagaskara</em>, 1996). Sama dengan pilihan tiga lagu pop barat sebelumnya, pemilihan keempat lagu ini juga memperhatikan tematika liris yang kita nilai memberikan representasi kemudaan dan kepemudaan. Sifat yang agak berbeda antara kedua kelompok lagu ini adalah bahwa keempat lagu Indonesia ini tidak mencapai hit di level nasional yang dapat disepadankan dengan hit di level internasional sebagaimana lagu-lagu milik Bob, Alphaville, dan The Cranberries. Lagu-lagu ini termasuk dalam album-album yang memiliki hit lagu unggulan yang berbeda kecuali album Dewa 19  yang albumnya sendiri mengambil tajuk judul lagu itu. Jadi bisa dibayangkan, sebagai pembaca Indonesia, mungkin sebagian dari antara kita lebih mengenal salah satu dari lagu asing tersebut daripada keempat lagu pop nasional kita di atas.<img class="alignright size-full wp-image-106" title="kantata_takwa" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-iwan_fals_-_kantata_takwa.jpg" alt="" width="120" height="140" /></p>
<p>Iwan Fals memang merupakan salah seorang musik dengan kritik sosial paling spektakuler di kancah musik pop nasional bahkan ketika rezim pemerintahan sangat represif pada masa pemerintahan Soeharto. Album Kantata Takwa yang memuat lagu &#8220;Gelisah&#8221; ini direkam bersama musisi Setiawan Djody, saxophonis Embong Rahardjo, vokalis legendaris Sawung Jabo, dan sastrawan W.S. Rendra. Album ini merupakan fenomena karena sarat dengan ketajaman lirik pada lagu-lagunya. Namun berbeda dengan album yang merupakan masterpiece seniman-seniman terkemuka Indonesia itu, Album Katon Bagaskara dengan tajuk namanya sendiri ini adalah album pertamanya dalam solo karir di samping grup band-nya Kla Project. Album ini terbit yang langsung menggelembungkan nama Katon di blantika musik nasional dengan hit lagu &#8220;Dinda Dimana&#8221;, &#8220;Negeri di Awan&#8221;, dan beberapa lagu lain. Produktivitas Katon yang sangat tinggi dalam kreasi musika terus menanjak hingga saat ini dan variasi eksplorasi musiknya yang tajam yang sebenarnya juga terlihat dalam komposisi lagu &#8220;Si Muda&#8221; ini.</p>
<p>Berbeda dengan Katon, album Format Masa Depan dari Dewa 19 tidak mencapai hit sebagaimana album <img class="alignright size-full wp-image-107" title="coklat-rasa-baru" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/coklat-rasa-baru-se.jpg" alt="" width="169" height="150" />sebelumnya yang berjudul nama grup band nasional itu &#8211; yang mencapai kategori Album Paling Populer 1993 <em>BASF Music Award</em>. Kemelut interpersonal band mungkin menjadi salah satu akibatnya kala itu, dengan indikasi bahwa album berikutnya yang berjudul &#8220;Terbaik Terbaik&#8221; yang mendapat sambutan luar biasa. Namun mesti diingat bahwa album ini pada dasarnya cukup penting mengingat ia keluar pada masa jauh sebelum Reformasi yang ditandai penggulingan rezim Orde Baru. Lirik lagu ini beberapa kali menggunakan kata &#8220;reformasi&#8221; yang kelak, kata ini menjadi simbol transformasi politik di Indonesia dengan mahasiswa sebagai elemen pentingnya. Album &#8220;Rasa Baru&#8221; Coklat yang memuat lagu &#8220;Masa Muda&#8221; ini merupakan sebuah album yang menunjukkan bagaimana Coklat sebagai grup band pop-rock nasional menunjukkan eksplorasi musiknya. Sebagaimana dikenal umum, Coklat merupakan salah satu pionir dalam kancah musik pop-rock dengan ke-khas-an suara yang dimiliki oleh vokalisnya, Kikan. Belakangan, Coklat memang dikenal sering membawakan lagu-lagu wajib nasional dengan aransemen ulang yang sesuai dengan karakter musik pop modern. Berikut hasil analisis teks dari lirik-lirik lagu-lagu ini&#8230; (<em>klik pada gambar untuk memperbesar</em>).</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young_ind.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-103" title="Young in Indonesian Pop Musicality" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young_ind.jpg?w=300" alt="" width="300" height="173" /></a></p>
<p>Dengan pola analitis yang serupa (namun berbeda dari segi pemrosesan komputasional terkait sifat linguistik bahasa Indonesia yang berbeda dengan bahasa Inggris), kita mencoba untuk melihat visualisasi konsep-konsep yang muncul dalam lirik lagu-lagu pop Indonesia ini. Hal yang menarik muncul. Sangat berbeda dengan jaringan yang dibentuk tiga lagu yang mendunia sebelumnya, keempat lagu pop nasional kita ini menunjukkan beberapa kata yang tak hanya menunjukkan sikap positif terhadap kemudaan tapi juga beberapa konsep bersentimen non-positif seperti &#8220;terpasung&#8221;, &#8220;bingung&#8221;, &#8220;luka&#8221;, &#8220;gelisah&#8221;, yang terkait langsung dengan konsep &#8220;pemuda&#8221;. Yang menarik, meski keempat lagu ini memiliki sentralitas tematikal yang kuat dengan ikhwal kepemudaan, secara statistik, konsep &#8220;hidup&#8221;, &#8220;jalan&#8221;, &#8220;dunia&#8221;, dan &#8220;masa depan&#8221; memiliki sentralitas yang juga relatif tinggi. Ada suasana penderitaan dan kegalauan yang secara implisit muncul di dalam lirik-lirik lagu ini terkait kepemudaan yang tak bersumber dari kegelisahan psikologis dan kognitif terhadap ketaksukaan untuk menjadi tua sebagaimana tergambar dalam jaring lagu pop modern barat sebelumnya.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-116" title="dewa19" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/dewa19.jpg" alt="" width="124" height="124" />Hal-hal terkait dinamika kemudaan dan sifat positif kemudaan ter-representasi secara visual namun menariknya, representasinya lebih bersifat pada kegalauan sosiologis dengan munculnya konsep-konsep terkait &#8220;birokrasi&#8221;, &#8220;penjara&#8221;, &#8220;uang&#8221;, &#8220;globalisasi&#8221;, dan sebagainya. Banyak hal yang dapat di-interpretasi secara semantis dari pilihan kata pada lirik lagu-lagu ini, tentunya, namun secara visual kita dapat melihat kegelisahan pemuda Indonesia dan pemuda dalam konteks sub-kultur pop muda sebagaimana tercermin dalam musik pop modern barat. Konsep &#8220;tua&#8221; muncul dalam lirik lagu Iwan Fals yang memang sarat protes gaya hidup om-om senang sesuai sifat lirik lagunya yang sarat kritik sosial yang tajam.</p>
<p><em>Lantas apa yang bisa kita pelajari dari dua hal yang berbeda nan menarik ini?</em></p>
<p>Pertama, sudah jelas bagi kita bahwa  baik lirik lagu pop internasional maupun nasional, mengakui akan khazanah dan sifat-sifat kepemudaan yang ingin lestari bagi tiap individu secara psikologis. Orang senantiasa tak ingin menjadi &#8220;tua&#8221; dalam paradigma miskin dinamika, takut akan tantangan dan perubahan, dan adanya urgensi menonjolkan sifat-sifat muda yang ter-asosiasikan dalam bentuk sifat-sifat jujur, aktif, berani, mengejar impian dan cita-cita, energetik. Jelas sekali, sebenarnya bahwa bukan &#8220;tua&#8221; dalam arti umur yang tak diinginkan, namun sikap dan sifat menjadi tua yang ingin dihindari. Di sini keinginan &#8220;<em>forever young</em>&#8221; meninggalkan pesan moral bahwa lebih baik mati daripada harus kehilangan sifat-sifat energik dan dinamis yang ter-representasi pada sifat muda.</p>
<p>Namun kedua, secara spesifik kegelisahan mereka yang muda di negara dunia ketiga seperti Indonesia memberikan refleksi yang lain. Orang muda di Indonesia mengahadapi banyak keterpurukan ketika kontras dengan kehidupan sosial yang dihadapinya, khususnya pada masa musik-musik pop modern ini digubah. Pada masa musik pop modern ini digubah dunia menghadapi persoalan-persoalan seperti globalisasi dan berbagai hal terkait di dalamnya, sementara secara khusus, mereka yang muda sering dijadikan obyek ketika berbagai hal negatif bermunculan dalam asosiasi kaum muda, seperti permasalahan tawuran, geng motor, narkotika dan obat-obat terlarang, ugal-ugalan yang menghiasi layar siaran udara (<em>air broadcasting</em>) di samping lagu-lagu tersebut. Hal-hal ini menghasilkan situasi linguistik bahwa kata &#8220;<em>grown up</em>&#8221; sebagaimana direpresentasikan dalam lagu berbahasa Inggris pada musik pop internasional berbeda dengan asosiasi konsep terkait &#8220;dewasa&#8221; dalam lagu-lagu modern pop Indonesia. &#8220;Menjadi tua&#8221;, &#8220;dewasa&#8221;, dan &#8220;muda&#8221; memiliki pola kerangka pikir asosiatif yang berbeda untuk orang Indonesia sebagaimana dicerminkan oleh lirik-lirik lagu pop modern nasional kita.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-105" title="Iwan Fals" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/180px-time_fals.jpg" alt="" width="126" height="167" />Hal ini tentu dapat menjadi refleksi buat siapapun yang tak ingin disebut &#8220;tua&#8221; dalam paradigma pertama. Namun untuk konteks kedua, kita perlu juga menyadari bahwa ada masa-masa ketika musik pop belum sekuat ini memberikan induksi dalam sistem kognitif anak-anak bangsa Indonesia, pemuda memiliki peran sentral sebagai subyek perubahan dan transformasi sosial. Katakanlah misalnya titik awal dari pergerakan nasional Sumpah Pemuda 28 Oktober delapan puluh tahun silam. Belum lagi kaum muda yang tergolong mahasiswa yang menunjukkan peran aktifnya pada perubahan sosial dan politik negeri pada hampir setiap peralihan rezim politik di Indonesia semenjak masa kemerdekaan dan revolusi fisik, (mungkin) hingga saat ini. Justru ketika lingkungan sosial terbelenggu, kaum muda juga seringkali terpasung sebagaimana dalam kritik sosial lirik lagu Iwan Fals berjudul &#8220;Bongkar&#8221; (Album <em>SWAMI</em>, 1989) &#8220;<em>orang tua, pandanglah kami sebagai manusia, kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta!</em>&#8220;.</p>
<p>Bagaimanapun sintesis dari dua hal yang kita refleksikan di atas memberi indikasi pada kita bahwa hanya dengan bangkitnya kaum muda dengan segala sifat-sifat yang ter-asosiasi-kan padanya sebuah masyarakat Indonesia dapat bangkit dan maju dengan segala progresifitas dan kreativitasnya. Mereka yang mudalah yang mesti mengambil langkah aktif dalam transformasi sosial, yang mesti dilakukan dengan menjadi subyek bagi kehidupan kemasyarakatan secara luas. Ketika secara statistik lagu yang memiliki tematika semangat kemudaan sanga tkecil dibandingkan dengan tema-tema yang mengeksploitasi emosionalitas romantika anak muda di level internasional bahkan tidak menjadi hit di album-album modern pop nasional, maka ini menunjukkan bahwa tugas yang diemban untuk mewujudkan mimpi masyarakat yang secara aktif bertransformasi dan progresif menjadi semakin berat, dan bahwa makin banyak saja mereka yang berwajah muda belia namun bermental tua, tidak kreatif, lamban, dan takut dengan perubahan.</p>
<p>Sebuah tantangan bukan hanya mereka yang muda usia, namun mereka yang sadar akan sebuah ungkapan dari sastrawan Frank Lloyd Wright berikut &#8220;<em>…while being young is an accident of time, youth is a permanent state of mind!</em>&#8220;.</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/view_play_list?p=A1ED3858C18FEA15"><img class="aligncenter size-full wp-image-117" title="sp1928" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/sp1928.jpg?w=127&#038;h=100" alt="" width="127" height="100" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=100&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/10/22/kemudaan-dalam-tematika-musikalitas-pop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/sp1928.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sp1928</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/250px-joan_baez_bob_dylan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">joan_baez_bob_dylan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/220px-rod_stewart_05111976_12_400.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">rod_stewart</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-alphaforever.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">alphaforever</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/image-alphaforever.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">alphaforever</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/220px-publicity05.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">the_crannies</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Young In Western Pop Musicality</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-youth_group_-_forever_young.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">youth_group_-_forever_young</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/katon.gif" medium="image">
			<media:title type="html">katon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/200px-iwan_fals_-_kantata_takwa.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kantata_takwa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/coklat-rasa-baru-se.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">coklat-rasa-baru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/young_ind.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Young in Indonesian Pop Musicality</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/dewa19.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dewa19</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/180px-time_fals.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Iwan Fals</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/10/sp1928.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sp1928</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mendekode emosi &#8220;Udara pada Senar G&#8221;</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/08/09/mendekode-emosi-udara-pada-senar-g/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/08/09/mendekode-emosi-udara-pada-senar-g/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 10:14:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[baroque]]></category>
		<category><![CDATA[modern-pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Lagu ini telah hampir-hampir menjadi banal saat hari ini kita berusaha meng-apresiasinya. Ia telah sering menjadi ringtone di dunia hiper-real di tengah bit-bit informasi yang membludak membanjiri relung-relung artifak telepon selular kita. Udara adalah perlambang kebebasan, atau setidaknya keinginan untuk bebas dari kungkungan. Di hemisfer utara planit ini, dan mungkin juga di antara kita kini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=78&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Lagu ini telah hampir-hampir menjadi banal saat hari ini kita berusaha meng-apresiasinya. Ia telah </em><em>sering menjadi ringtone di dunia hiper-real di tengah bit-bit informasi yang membludak membanjiri relung-relung artifak telepon selular kita. Udara adalah perlambang kebebasan, atau setidaknya keinginan untuk bebas dari kungkungan. Di hemisfer utara planit ini, dan mungkin juga di antara kita kini, udara menyimbolkan dinamika yang kuat. Namun kebebasan sedinamis udara pun justru seringkali merupakan kungkungan: orang justru bisa menjadi merasa bebas ketika kasih sayang menjadi terali penjara. Setelah lebih dari tiga abad, karya seni musik berupaya membedah tendensi lagu ini: sadar atau tidak sadar. Sebagaimana fisikawan Blaise Pascal selalu mengatakan: hati memiliki cara berfikir yang tak dimiliki otak, maka estetika juga dapat menyingkap motif logis dengan cara yang menawan&#8230;</em></p>
<p><span id="more-78"></span></p>
<p>Tak banyak yang bisa bercerita tentang latar belakang musik &#8220;Udara&#8221; <em>Air on G String</em> dalam versi aslinya, yaitu gerakan kedua dari <em>Ouverture No. 3 dalam D-Mayor </em>karya komposer besar klasik, Johann Sebastian Bach. <em>Ouverture</em> merupakan bentuk musik khas periode Barok (abad ke-17  hingga pertengahan abad ke-18). Musik ini kemungkinan ditulis ketika Johann melakukan perjalanan tur di kota Cöthen, sebuah tempat dengan masa yang penuh dinamika berirama tinggi dalam kehidupannya. Kematian isterinya secara mendadak telah digantikan oleh kekasihnya yang jauh lebih mencintainya secara penuh.<img class="size-medium wp-image-86 alignright" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/anna.jpg?w=112&#038;h=157" alt="" width="112" height="157" /></p>
<p>Disebut &#8220;penuh&#8221;, karena meski keduanya terpaut perbedaan usia yang jauh: Anna berusia 20 tahun menikahi duda Johann yang berusia 36 tahun, Anna merupakan kekasih yang sangat memahami musik Johann. Saat Johann akhirnya menderita kebutaan, dunia berhutang budi pada Anna karena kita masih dapat menikmati karya-karya besar  dan fenomenalnya melalui jasa Anna yang senantiasa mentranskripsi dan menulis untuk sang suami.</p>
<p>Ketertekanan Johann oleh kepergian isteri pertamanya tiba-tiba menjadi sebuah aras kegembiraan yang pilu dengan kehadiran Anna. Johann mempersembahkan sebuah <em>notebook </em>untuk Anna, sang isteri, sekumpulan komposisi musik yang luar biasa, yang sekarang kita kenal sebagai kumpulan musik &#8220;<em>Nutenbuchlen fur Anna Magdalena&#8221; </em>(Buku Catatan untuk Anna Magdalena).</p>
<p>Kegembiraan yang pilu dan bebasnya dari keterbelengguan mungkin tertuang pada emosi yang lahir dengan refleksi gerakan kedua ouverture yang dimainkan dalam tangga nada D-mayor ini. Adalah August Wilhelmj di awal abad ke-20 yang lalu mempopulerkan melodi yang mengawinkan luar biasa selaras antara harmoni dan melodi ini yang sekaligus merayakan kegeniusan melodis seorang Johann. Kekayaan emosional yang tertuang pada lagu bertajuk &#8220;Udara&#8221; ini, diyakini menjadikannya pusat dari <em>ouverture</em>. Kegeniusan Johann berpadu dengan kecanggihan violis August, yang menggeser kunci permainan musik dari D-Mayor ke C-Mayor. Tujuannya agar dapat dimainkan hanya pada satu senar dari biola, yaitu senar yang bernada G (seyogianya senar keempat biola biasa atau sering pula di-stem sebagai senar pertama pada cello). Akhirnya, nama untuk lagu ini pun sebagaimana yang sering kita dengar:  &#8220;Udara pada senar G&#8221; (<em>Air on G String</em>)!</p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=8ljII_bRQQk" target="_blank"><img class="alignnone size-medium wp-image-6" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=25&#038;h=23" alt="" width="25" height="23" /></a> Mari mendengar lagu ini dimainkan dalam sebuah cello oleh Julian Lloyd Webber (1980).</p>
<p>Tiga abad setelah Bach dan se-abad setelah Wilhelmj, gitaris rock legendaris, Yngwie Malmsteen <img class="size-medium wp-image-83 alignright" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/7thsign.jpg?w=87&#038;h=85" alt="" width="87" height="85" />ber-interpretasi atas lagu ini. Lagu berjudul &#8220;<em>Prisoner of Your Love</em>&#8221; (1994) lahir dalam album &#8220;<em>The Seventh Sign</em>&#8221; dan tanpa sadar mengingatkan keriangan pilu Bach dalam lirik dan nada refrain musik <em>Air on G string</em>. Entah apa yang ada di kepala seorang Yngwie yang meng-interpretasi sekuen nada-nada ini menjadi stanza liris:</p>
<p><em>My heart fell into the palms of your hands, this love made me understand<br />
I&#8217;ve waited all my life for you, thought i&#8217;d live and die alone!<br />
enraptured by the beauty, I&#8217;m a prisoner of your love&#8230;<br />
enslaved by the passion, I&#8217;m a prisoner of your love&#8230;</em></p>
<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=85EwL-ef-oE&amp;feature=related" target="_blank"><img class="alignnone size-medium wp-image-6" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=25&#038;h=23" alt="" width="25" height="23" /></a> Dengarkan lagunya sambil melihat montague yang dibuat seorang fans.</p>
<p>Mungkinkah ini refleksi verbal seorang Johann pada Anna yang muncul di tengah kepiluannya?</p>
<p>Album &#8216;<em>Premier</em>&#8216; Katherine Jenkins, penyanyi opera <em>mezzo soprano</em> dari Wales (2004) mengetengahkan sebuah variasi melodis dari lagu ini secara menarik. Berbeda dengan Yngwie yang memberi variasi dan hanya mengadaptasi <em>ouverture </em>Johann pada bagian refrain, Katherine membiarkan cello, piano, dan biola memainkan <em>Air on G String </em>secara penuh, ketika vokalnya bersenandung seolah mengikuti musik Bach tersebut. Seolah Katherine memberi sahutan vokal pada melodi harmonis Bach. Apik sekali variasinya, bisa dilihat pada potongan lagu berikut:</p>
<p><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy_bach.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-81" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy_bach.jpg?w=460&#038;h=67" alt="" width="460" height="67" /></a></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;text-align:center;margin:0;"><a href="http://www.geocities.com/hokkysitungkir/kathy_sweetest_love.mp3"><img class="alignnone size-medium wp-image-6" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=31&#038;h=28" alt="" width="31" height="28" /></a>Mari simak lagu dari album perdana Jenkins ini&#8230;</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p>Katherine mengambil puisi sastrawan Skotalandia Herbert J.C. Grierson sebagai lirik dari lagu ini dari kumpulan puisi Inggris klasik &#8220;<em>Metaphysical Lyrics &amp; Poems of the 17th</em>&#8220;. Perhatikan liriknya:</p>
<p><em>Sweetest love, I do not go, For weariness of thee</em><br />
<em> Nor hope the world can show a fitter love for me, Sweetest love.</em></p>
<p><em>O how feeble is man&#8217;s power, That if good fortune fall,</em><br />
<em> Cannot add another hour, Nor a lost hour recall…</em></p>
<p><em>When thou sigh&#8217;st, thou sigh&#8217;st not wind, But sigh&#8217;st my soul away,</em><br />
<em> When thou weepst life&#8217;s blood doth decay.</em></p>
<p><em>Let not thy driving heart, Forethink me any ill,<br />
Destiny must take thy part, And may thy fears fulfil.</em></p>
<p><em>If thou lov&#8217;st me as thou say&#8217;st, If in thine my life doth waste,<br />
Thou art the best of me.</em></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p>…tak berlebihan jika ini seolah menjadi jawaban liris seorang Anna yang sangat muda namun memiliki <a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-84" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy.jpg?w=133&#038;h=148" alt="" width="133" height="148" /></a>kedewasaan verbal yang kuat atas untaian emosional nada-nada Johann. Sebuah perjalanan panjang lebih dari tiga abad mendekode musik seorang Johann Sebastian Bach.</p>
<p>Seolah sebuah drama akbar panggung musik dunia: Yngwie J. Malmsteen yang <em>rocker </em>dan gitaris metal meneriakkan lantunan paling pribadi dari Bach &#8220;<em>Prisoner of Your Love</em>&#8221; dan Katherine Jenkins yang lekat-lekat memberi senyuman termanis pada Johann sambil mempersembahkan &#8220;<em>Sweetest Love</em>&#8220;.</p>
<p>Sebuah drama dalam sejarah musik berdurasi ratusan tahun: Yngwie sebagai Johann, Katherine sebagai Anna.</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=78&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/08/09/mendekode-emosi-udara-pada-senar-g/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/hokkysitungkir/kathy_sweetest_love.mp3" length="2896448" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/anna.jpg?w=186" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=38" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/7thsign.jpg?w=200" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=38" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy_bach.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg?w=38" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/08/kathy.jpg?w=133" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>10 LAGU TENTANG HIDUP DI NUSANTARA</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/06/10/10-lagu-tentang-hidup-di-nusantara/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/06/10/10-lagu-tentang-hidup-di-nusantara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 23:05:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[archipelagic]]></category>
		<category><![CDATA[modern-pop]]></category>
		<category><![CDATA[tematik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[
Ini adalah cerita tentang 10 lagu yang berusaha menggambarkan pola kognitif tradisional orang-orang di kepulauan nusantara indonesia raya ketika ia berdendang, menikmati alunan estetis kontur yang tersusun atas nada-nada yang berbunyi. Ia berasal dari kotak kognitif melodi yang mengisi ruang-ruang terestrial di kawasan kepulauan Indonesia yang tetap saja masih memunculkan diri bahkan di tengah alunan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=59&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/ind.jpg?w=450&#038;h=176" alt="" width="450" height="176" /></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ini adalah cerita tentang 10 lagu yang berusaha menggambarkan pola kognitif tradisional orang-orang di kepulauan nusantara indonesia raya ketika ia berdendang, menikmati alunan estetis kontur yang tersusun atas nada-nada yang berbunyi. Ia berasal dari kotak kognitif melodi yang mengisi ruang-ruang terestrial di kawasan kepulauan Indonesia yang tetap saja masih memunculkan diri bahkan di tengah alunan dan ingar-bingar injeksi alunan melodi yang lahir di belahan lain di planit bumi. Sepuluh adalah angka dari pengelompokan oleh gerak melodis, dan sepuluh juga merupakan angka yang menunjukkan multi-dimensionalitas yang unik dari karakter etnisitas yang ingin ditampilkannya. Sepuluh ini menjadi satu yang harmoni dalam perspektif kenusantaraan. Tiap melodi adalah juga melodi unik sebagaimana tiap lagu juga menggambarkan lagu. Indonesia adalah gudang diversitas budaya tradisi yang saat ini &#8211; sadar atau tidak sadar &#8211; ingin berteriak untuk dirayakan secara ekonomis, politis, dan sosial. Mari mendengarkan 10 lagu, dan mari menikmati kebinekaan yang justru mencipta kreasi kesatuan yang utuh dan persaudaraan yang kukuh.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-59"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Keberadaan lebih dari 500 suku bangsa di Indonesia telah memungkinkan lahirnya berbagai pola alunan nada-nada melodis yang menjadi cerminan karakter dasar sistem kognitif kolektif dari masing-masing kelompok budaya/etnis tersebut. Estetika akan senantiasa subyektif. Apa yang indah senantiasa kembali pada apresiasi individual, jika tak kemudian terperangkap dalam kantong-kantong (<em>clustering</em>) dalam kolektivitas yang dapat saja berbentuk etnisitas, kelas-kelas ekonomi, bahkan komunitas-komunitas tertentu. Situasi subyektif inilah yang kemudian berhadap-hadapan dengan upaya obyektifikasi atas estetika dalam produk-produk industri budaya massa melalui proses komodifikasi yang menjadi corak globalisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara terbaik menghadapi kecenderungan penyeragaman budaya yang langsung atau tak langsung menjadi sorotan dalam tren globalisasi ini adalah dengan apresiasi yang setinggi-tingginya atas aspek kelokalan dan penghargaan terhadap ekspresi bahkan hingga ke level individual. Mengenali dan apresiasi atas lokalitas budaya merupakan cara paling bijaksana dalam tren uniformisasi di era global ini. Diversitas budaya Indonesia merupakan gudang artifak budaya yang tak ternilai harganya ketika sistem ekonomi diperintah oleh inovasi dan kreativitas dalam artikulasi informasi dalam kancah sistem sosial secara global saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula dengan musik. Tidak ada kelompok etnik di Indonesia yang tak memiliki karakter unik dari lagu yang secara kolektif diterima sebagai bentuk keindahan yang audibel. Ada sesuatu di balik lagu-lagu yang terdiseminasi di kalangan identitas kolektif Indonesia yang membedakan sebuah lagu menjadi karakteristik suku Ambon yang berbeda dengan Jawa, Dayak, Madura, Batak, dan sebagainya. Ini adalah wahana yang sangat kaya dari entitas bangsa bernama Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignright" src="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:The_Selfish_Gene3.jpg" alt="" /><img class="size-thumbnail wp-image-60 alignleft" style="float:left;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/the_selfish_gene3.jpg?w=54&#038;h=85" alt="" width="54" height="85" />Dalam buku seminalnya, <em>The Selfish Gene</em> (1976), Richard Dawkins mengemukakan bahwa keanekaragaman kognitif individual tersusun atas meme (baca: mim), dalam khazanah pemikiran sosiobiologi (evolusioner). Satu meme dapat menyebar dari satu pihak ke pihak lain melalui replikasi dalam bentuk imitasi (peniruan) dan juga melalui propagasi dalam bentuk diseminasi kultural secara masif melalui berbagai perangkat-perangkat media komunikasi massa. Meme merupakan sesuatu yang ada dalam kolam meme di dalam sistem kognitif manusia sebagai unit terkecil informasi yang membentuk budaya. Memetika sebagai studi atas meme dalam budaya, merupakan <em>counterpart </em>dari genetika sebagai studi atas gen dalam organisme biologis.</p>
<p style="text-align:justify;">Meme tercermin dalam karya-karya dan artifak kebudayaan manusia. Jika kita dapat menyaksikan kekerabatan kuman sifilis (<em>Treponema Pallidum</em>) dan mana kuman tifus (<em>Salmonella Typhosa</em>) secara genetis, maka melalui meme kita berharap dapat melihat kekerabatan sistem kognitif kolektif satu kelompok etnik, misalnya orang Tapanuli dengan orang Jawa Timuran. Bedanya, meme dilihat dengan melihat karakter dasar dari artifak yang dominan di satu suku bangsa dengan dengan artifak di suku yang lain. Meme dicerminkan di dalam artifak, di dalam lagu, motif pakaian, cara bertutur, hingga adat-istiadat.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah lagu yang dikenal dan dinikmati secara turun-temurun tentunya menjadi menarik ketika sesuatu di dalam lagu tersebut memiliki afinitas dengan sekumpulan sistem kognitif dalam satu rumpun suku tertentu yang tentunya memiliki relasi genetis pula. Di sini, terjadi ko-evolusi antara meme dan gen, sehingga kita tahu bahwa secara kolektif lagu tradisional <em>Bungong Jeumpa</em> merepresentasikan sistem kognitif orang Aceh sementara <em>Paris Berantai</em> menunjukkan karakteristik tertentu di antara orang-orang Melayu di Kalimantan Selatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Meme yang tercermin dalam lagu bisa berbentuk apapun. Ia bisa berbentuk pola struktur nada-nada yang membentuk melodi lagu, pergerakan nada-nada yang digunakan dalam sebuah lagu, efek naik turun lagu yang &#8220;berputar-putar&#8221; di dalam sistem kognitif pendengar dan pendendangnya, dan seterusnya. Berbagai struktur memetik ini, ketika diurutkan dan dianalisis secara matematis menghasilkan pohon memetika lagu sebagai berikut:</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/filomuz.jpg"><img class="size-medium wp-image-58" style="vertical-align:middle;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/filomuz.jpg?w=300&#038;h=266" alt="" width="300" height="266" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam gambar tersebut, kita melihat bagaimana dari sekian puluh sampel lagu asli daerah di Indonesia terdapat kelompok-kelompok lagu yang memiliki kemiripan struktur memetis. Penelitian yang terkait hal ini dapat dilihat di dokumen laporan penelitian berikut: <a href="http://ssrn.com/abstract=1143122">http://ssrn.com/abstract=1143122</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Terdapat setidaknya sepuluh kelompok lagu di situ. Di sini kita dapat mengenali lebih dekat apa-apa saja lagu-lagu tersebut. Kita memilih satu lagu dari tiap kelompok lagu dari sisi liris dan tematikanya untuk menampilkan diversitas dari apa yang ter-representasi dari lagu-lagu nusantara raya. Sepuluh lagu ini mungkin dapat dikatakan merepresentasikan siapa orang Indonesia secara melodis&#8230; <span style="color:#999999;">(<em>klik pada gambar akan membawa anda ke alamat audio atau auvi dari lagu yang dimaksud)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">1. <strong>O INA NI KEKE</strong> &#8211; dari Minahasa<br />
Merupakan sebuah lagu dolan yang secara liris kita ketahui merupakan bentuk sahut-sahutan antara anak laki-laki dan anak perempuan:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>L(aki-laki): O ina ni keke, mange wisa ko</em></span><a href="http://youtube.com/watch?v=gWg5v8U0sjU"><img class="alignright size-full wp-image-61" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/inakeke.jpg?w=60&#038;h=76" alt="" width="60" height="76" /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em> P(erempuan): mangewa aki Wenang, tumeles baleko</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>L: weane, weane, weane toyo<br />
P: daimo siapa ko tare makiwe&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Yang jika ditranslasi langsung ke bahasa Indonesia:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>L:  o h gadis, mau kemana?<br />
P: aku mau ke Wenang, membeli baleko (semacam kue tradisional)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>L: berikan aku, berikan aku sedikit…<br />
P: sudah terlambat, semua sudah habis&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">2. <strong>PADANG WULAN</strong> &#8211; Jawa Tengah<br />
Sebuah lagu yang menggambarkan dolanan anak-anak di Jawa yang bergembira kerta raharja bermain di bawah sinar purnama. Lirik lagu ini menggambarkan hal ini,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Yo pra kanca dolanan ing jaba, Padhang wulan padhange kaya rina</em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em> Rembulane e sing awe awe, Ngilangake aja padha turu sore</em></span><a href="http://www.geocities.com/quicchote/padangbulan.mp3"><img class="alignright size-full wp-image-62" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/moon.jpg?w=60&#038;h=45" alt="" width="60" height="45" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Yo pra kanca dolanan ing jaba, Rame-rame kene akeh kancane</em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em> Langite pancen sumebyar rina, Yo padha dolanan sinambi guyonan</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan terjemahan langsung kira-kira,</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Ayo teman-teman bermain di luar rumah,<br />
Terang bulan terangnya seperti siang<br />
Bulannya melambai-lambai memanggil,<br />
mengingatkan agar jangan tidur karena masih sore</em></span></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><em>Ayo teman-teman bermain di luar rumah,<br />
Ramai-ramai di sini banyak teman<br />
Langitnya memang seperti siang,<br />
Ayo bermain sambil bercanda tawa.</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">3. <strong>SARINANDE </strong>- Ambon<br />
Lagu ini menggambarkan seorang anak gadis yang rajin dalam baktinya di rumah pada keluarga. Ia sedikit banyak menggambarkan keibaan akan seorang anak perempuan Sarinande yang matanya menangis, tapi bukan karena bersedih, tetapi oleh karena asap di tungku masak masuk ke matanya. Liriknya,<a href="http://youtube.com/watch?v=j6wGLUTNw9Y"><img class="size-full wp-image-64 alignright" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/dulcinea1.jpg?w=70&#038;h=67" alt="" width="70" height="67" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Sarinande, putri Sarinande, mangapa tangis, matamu bangkak?</em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em> Aduh mama, aduh lah papa, La asap api masuk di mata</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">4. <strong>ATI RAJA</strong> &#8211; Sulawesi Selatan<br />
Ini merupakan sebuah lagu yang sangat spektakuler.  Ia bukan dolanan, tapi bentuk pengucapan syukur dan sikap keberserahan diri pada sang khalik (monotheistik) yang luar biasa. Lagu ini kaya dengan legato dan mengandung bentuk sahut-menyahut antara instrumentasi  yang menyertainya. Secara liris, ia juga jelas bukan lagu yang sederhana,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Se&#8217;re se&#8217;re ji batara baule<a href="http://youtube.com/watch?v=hCYM7ya6yfQ"><img class="alignright size-full wp-image-63" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/batara.jpg?w=60&#038;h=74" alt="" width="60" height="74" /></a><br />
Ati raja, naki jai pa&#8217;nganroi baule Rajale alla kereaminjo<br />
Ati ati ati raja Nitarima pappala&#8217;na baule<br />
Mannamo ki minasai baule Ati raja, kipanai&#8217; ri palatta&#8217; baule<br />
Rajale alla taballetommi Ati ati ati raja Na batara angkellai baule</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Yang terjemahan Indonesianya kira-kira adalah:</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Hanya ada satu Tuhan<br />
Hati Raja hanya kepada-Mulah tempat kami meminta.<br />
Sebenar-benar yang mana,<br />
Hati Raja diterima permintaan-permintaan walaupun hanya berhasrat<br />
Hati Raja, buat permohonan.<br />
Semua-semua hanya akan dikabulkan oleh Tuhan semata.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">5. <strong>DEK SANGKE </strong>- Sumatera Selatan<br />
Secara liris merupakan sebuah lagu yang menunjukkan bentuk kekecewaan dalam relasi dengan orang lain dengan pesan moral bahwa tak selalu apa yang terlihat adalah apa yang menjadi kondisi aktual.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Dek sangke, aku dek sangke, awak tunak ngaku juare, </em></span><a href="http://www.geocities.com/quicchote/deksangke.mp3"><img class="alignright size-full wp-image-72" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/sangke.jpg?w=60&#038;h=55" alt="" width="60" height="55" /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>Alamat badan &#8216;kan sare akkhirnye masuk penjare.</em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>Dek sangke, aku dek sangke, ujiku bujang tak batanye tua bangke, </em></span><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>Anaknye &#8216;lah gadis gale.<br />
Dek sangke, aku dek sangke, ujiku gadis tak batanye jende mude.<br />
Anaknye &#8216;lah ade tige.<br />
Dek sangke ture sangke,<br />
cempedak babuah nangke&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Terjemahannya kira-kira,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>Tak kusangka, tak disangka,<br />
orang lemah mengaku hebat, akhirnya akan susah,<br />
Tak kusangka, tak disangka, kukira bujang,<br />
ternyata tua bangka, anaknya gadis semua,<br />
Tak kusangka, tak disangka,<br />
kukira gadis ternyata janda, anaknya ada tiga!<br />
Tak kusangka, tak disangka,<br />
cempedak berbuah nangka!</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">6. <strong>KAMBANGLAH BUNGO </strong>- Minangkabau<br />
Lagu ini bernuansa romansa tanah minang yang tak bisa lepas dari budaya yang tumbuh di atasnya. Sebuah lagu bernuansa melayu pedalaman Padang di belahan barat pulau Sumatera yang secara spektakuler lirisnya sangat kaya dengan perlambang yang unik sekali. Kemegahan budaya berkait dengan kegagahan yang maskulin dan ayoman yang feminin sekaligus dalam bentuk mekarnya kembang.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://youtube.com/watch?v=GzZTJUZ_eA4"><img class="alignright size-full wp-image-65" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/bungo_cinto.jpg?w=60&#038;h=68" alt="" width="60" height="68" /></a><em><span style="color:#ff00ff;">Kambanglah bungo parawitan,<br />
Simambang riang ditarikan,<br />
Di desa dusun Ranah Minang<br />
Bungo kambang, sumarak anjuang,<br />
Pusako Minang, tanah Pagaruyuang<br />
Dipasuntiang siang malam,<br />
Tabayang-bayang rumah nan gadang</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Terjemahan bebasnya kira-kira,</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#3366ff;"><em>Mekarlah bunga idaman yang megah,<br />
Tari Simambang ditarikan<br />
di kampung desa Tanah Minang<br />
Bunga mekar, semarak anjungan rumah gadang,<br />
pusaka minang, tanah Pagaruyung<br />
dipersunting tiap waktu<br />
dalam bayangan rumah yang besar (rumah gadang)</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">7. <strong>HUHATEE </strong>- Maluku<br />
Lagu ini berpesan moral pergaulan orang muda. Kehati-hatian diberikan dalam bentuk keriangan melodis bertempo sedang. Tema dan kemudaan serta <em>wisdom </em>yang dicerminkan lagu ini terlihat dari liriknya,</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Orang muda huhatee baek baek,<br />
jangan sampai dapat kulit durian<br />
Pasang mata telinga kalau mencari teman, </em></span><a href="http://www.geocities.com/quicchote/huhate.mp3"><img class="size-full wp-image-73 alignright" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/huhatee.jpg?w=60&#038;h=75" alt="" width="60" height="75" /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>jangan sampai dapat kulit durian</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Huhatee, huhatee, huhatee baek baik,<br />
jangan sampai sembarang oranglah kenal<br />
Sioh jangan sioh jangan sioh<br />
jangan paripi kulit durian sioh baduri</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">8. <strong>TANDUK MAJENG</strong> &#8211; Madura</p>
<p style="text-align:justify;">Ini merupakan lagu yang menggambarkan bentuk kehidupan pesisir bahari nusantara raya. Bertempo lambat yang menggambarkan langgam lagu yang menunjukkan heroisme mereka yang melaut dan hidup dari hasil laut. Bagaimanapun laut merupakan sebuah jagat yang lain bagi manusia yang terestrial dan ketika kehidupan bersandar padanya, heroisme muncul. Lagu ini relevan bahkan mungkin tak hanya untuk masyarakat Madura, namun juga suku dan kelompok etnik lain di Nusantara yang memang ber-geografi maritim.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff00ff;"><em>Ngapote Wak Lajereh etangaleh,<br />
Reng Majeng Tantona lah pade mole</em></span><a href="http://youtube.com/watch?v=J_fy6WaEE68"><img class="size-full wp-image-66 alignright" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/majeng.jpg?w=60&#038;h=45" alt="" width="60" height="45" /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>Mon e tengguh Deri abid pajelennah,<br />
Mase benyak&#8217;ah onggu le ollenah<br />
Duuh mon ajelling Odiknah oreng majengan,<br />
Abental ombek Asapok angin salanjenggah<br />
Ole&#8230;olang, Paraonah alajereh,<br />
Ole&#8230;olang, Alajereh ka Madureh</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Yang translasi Indonesianya secara kasar bisa ditulis:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#3366ff;"><em>(layar) putihnya mulai kelihatan,<br />
Orang nelayan (pencari ikan) tentulah sudah pada pulang<br />
Kalau (dilihat) dari lamanya perjalanan,<br />
Tentu hasil ikannya sangat banyak &#8230;<br />
Duuh kalau dilihat hidupnya orang pencari ikan,<br />
Berbantal ombak berselimut angin selamanya (sepanjang malam)<br />
Ole… olang, perahunya mau berlayar,<br />
Ole… olang, berlayar ke madura</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">9. <strong>MAK INANG</strong> &#8211; Riau &amp; Sumatera Barat<br />
Ini lagu sepi dengan langgam pantun melayu dari mereka yang berasal dari kawasan barat pulau Sumatera. Sebuah dendang yang seringkali jadi pengiring tarian tradisional. Gambarannya tentang kerinduan akan kampung halaman di tanah tempat merantau. Ada rasa sepi ketika perbedaan dengan budaya di tanah rantau terlihat (bait pertama). Ada rasa rindu ketika merasa berada jauh dari kampung halaman (baik kedua), dan ada rasa khawatir ketika risiko jatuh sakit muncul. Rasa sendiri secara liris namun menghibur secara melodis.</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Kami ini tak pandai menari,<br />
sebarang tari kami tarikan.<br />
Kami ini tak ahli menyanyi, </em></span><a href="http://youtube.com/watch?v=PEfn9qJCyyo"><img class="size-full wp-image-67 alignright" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/inang.jpg?w=60&#038;h=48" alt="" width="60" height="48" /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>sebarang nyanyi kami nyanyikan.</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Singkarak kotanya tinggi,<br />
asam pauh dari seberang,<br />
Awan berarak &#8216;lah ditangisi,<br />
badan jauh di rantau orang.</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>Asam pauh dari seberang,<br />
tumbuhnya dekat, tepinya tebat.<br />
Badan jauh di rantau orang,<br />
sakit siapa akan mengubat&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">10. <strong>SIGULEMPONG </strong>- Tapanuli<br />
Ini merupakan lagu yang berasal dari pantun Tapanuli tentang kekasih yang dinanti tapi tak kunjung tiba. Bentuknya pantun dengan penekanan pada kata &#8220;sigulempong&#8221;. Sigulempong (atau sigule) merupakan sebuah kata tua yang dapat diartikan sejenis &#8220;boneka&#8221;. Memperhatikan majas &#8220;sigulempong&#8221; ini dan nadanya yang riang bertempo cepat, lagu ini dinyanyikan oleh seorang pria bukan kepada seorang wanita yang definitif, tetapi kepada kekasih yang menjadi impiannya. Secara liris, ia berbentuk pantun,</p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>natinittip sanggar sigule sigule ,<br />
saibahen huru huruan sigule, </em></span><a href="http://youtube.com/watch?v=vmu61k8ncF4"><img class="alignright size-full wp-image-68" style="float:right;" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/gulempong.jpg?w=70&#038;h=86" alt="" width="70" height="86" /></a><br />
<span style="color:#ff00ff;"><em>sigulempong sigule gule<br />
jolo sinukkun marga sigule sigule,<br />
molo sairap hita nadua sigule</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>sirma inang sarge,<br />
dasai sirma inang sarge<br />
tarsongoni doho hape<br />
pargontingna dauk gale</em></span></p>
<p><span style="color:#ff00ff;"><em>salendang sapu tangan sigule sigule,<br />
di atas ni batu nadua sigule<br />
leleng maho ito da sigule sigule,<br />
da sai hu pa imaima sigule</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bahasa Indonesia, kira-kira translasinya,</p>
<p><span style="color:#3366ff;"><em>sanggar (sejenis tanaman) dipotong sama panjang<br />
untuk membuat huru (tanda yang ditaruh di tanduk kerbau)<br />
Tanyalah dahulu asal-usul,<br />
jika hendak selalu bersama,</em></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><em>selalulah tepati janjimu, kekasih (perempuan)<br />
ternyata engkau begitu,<br />
wahai perempuan yang cantik gemulai</em></span></p>
<p><span style="color:#3366ff;"><em>selendang sapu tangan ditaruh<br />
di atas batu bersusun dua (sebagai tanda)<br />
Lama sekali kau kutunggu kekasih,<br />
senantiasa kau kutunggu&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak cara melodis untuk mengungkapkan ekspresi emosional orang-orang di Nusantara atas keberadaan dirinya, hubungannya dengan sesamanya, harapannya akan masyarakatnya, kenangan masa lalunya, hingga impiannya di masa mendatang. Imanensi atau transendentalitas, semuanya merupakan untaian emosional yang tercermin dalam lirik lagu etnik kenusantaraan. Namun pemilihan kata dalam lagu hanya sebagian dari diversitas yang tersimpan dalam melodi dan naik turun melodi. Semua ini menjadi warna akan ke-nusantara-an yang meski tetap bernilai tinggi dalam nominalitas, namun juga bernilai tak berhingga dalam hal moralitas yang menyertainya. Mari merayakan nusantara!</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-71" src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/me2.jpg?w=450&#038;h=145" alt="" width="450" height="145" /></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:8pt;text-align:center;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0.0001pt;text-align:center;line-height:normal;" align="center"><span style="color:#c0c0c0;"><em><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:8pt;">Pengakuan</span></span></strong></em><span style="font-size:8pt;"><em>: </em>Banyak sahabat membantu interpretasi kisah sepuluh lagu ini. Kepada mereka rasa terima kasih terhaturkan, di antaranya zen, gunawan, tari, mumun, lusi, endang, hendri, yeni, efri, ikhsan, rolan, yanti, alfa, dan teman-teman di IACI (Indonesian Archipelago Cultural Initiatives).</span></span></p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:8pt;text-align:center;margin:0;">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=59&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/06/10/10-lagu-tentang-hidup-di-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/padangbulan.mp3" length="1490441" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/deksangke.mp3" length="1664730" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/huhate.mp3" length="1117621" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/ind.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://en.wikipedia.org/wiki/Image:The_Selfish_Gene3.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/the_selfish_gene3.jpg?w=61" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/filomuz.jpg?w=300" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/inakeke.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/moon.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/dulcinea1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/batara.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/sangke.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/bungo_cinto.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/huhatee.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/majeng.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/inang.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/gulempong.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/06/me2.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Musik Purba dari Cianjur Selatan?</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/03/22/musik-purba-dari-cianjur-selatan/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/03/22/musik-purba-dari-cianjur-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 16:05:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ancient]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa manusia suka pada musik? Dan mengapa hanya musik-musik tertentu? Percaya atau tidak, ini masih teka-teki yang belum terpecahkan hingga saat ini. Ada sesuatu di serabut-serabut kelabu kita sehingga untaian nada tertentu menjadi imbang, sementara suara-suara lain seolah adalah falsetto dan kurang indah. Musik paling tua yang pernah diumumkan mungkin adalah musik tulang yang ditiup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=52&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Mengapa manusia suka pada musik? Dan mengapa hanya musik-musik tertentu? Percaya atau tidak, ini masih teka-teki yang belum terpecahkan hingga saat ini. Ada sesuatu di serabut-serabut kelabu kita sehingga untaian nada tertentu menjadi imbang, sementara suara-suara lain seolah adalah </em>falsetto <em>dan kurang indah. Musik paling tua yang pernah diumumkan mungkin adalah musik tulang yang ditiup (</em>bone whistles<em>) di kawasan Hemudu, China yang diduga telah ada semenjak 5000-4500 SM, kemudian ada pula temuan instrumentasi mirip harpa dan lira di kawasan Mesopotamia, Irak yang diduga telah berusia 5000 tahun. Tanah nusantara mungkin tak ketinggalan. Sebuah arahan penelitian menunjukkan ada kemungkinan penemuan instrumen musik kuno di Cianjur Selatan, di sebuah desa Campaka, Jawa Barat. Di sebuah situs megalitikum yang diduga didirikan pada tahun 2500 SM, terdapat batu-batuan raksasa yang jika dipukul menghasilkan nada-nada tertentu. Nusantara kita nan kaya dan hebat&#8230;</em></p>
<p><span id="more-52"></span></p>
<p>Di kawasan perkebunan teh itu ada sebuah situs kuno megalitikum, dinamai situs megalitik Gunung Padang, di kawasan Cianjur Selatan, Jawa Barat. Ini mungkin adalah situs megalitikum terbesar di kawasan Asia Pasifik karena luasnya lebih dari 3 kilometer persegi. Di tengah puing-puing ini, terdapat sekelompok bebatuan berbentuk persegi yang jika dipukulkan akan menghasilkan bunyi-bunyi berfrekuensi tinggi. Kita bisa menonton lokasi gambarannya dari link <a href="http://www.youtube.com/watch?v=W9Als6ayujw">YOUTUBE ini</a>.</p>
<p>Belum diketahui pasti, dimaksudkan sebagai tempat apa sebenarnya puing-puing bangunan purba ini ketika didirikan. Kita masih menunggu hasil penelitian arkeologis, antropologis, tentang hal ini. Situs ini baru dilaporkan diketemukan sekitar tahun 1979 oleh penduduk setempat dan saat ini masih dalam kajian-kajian untuk memastikan fungsionalitasnya. Yang jelas di sini tersimpan sesuatu informasi yang kita belum tahu tentang keberadaan diri kita, tentang mereka yang pernah tinggal di tanah tercinta ini, tentang nenek moyang kita atau bisa jadi penduduk asli yang dibasmi oleh nenek moyang kita dalam perebutan tanah yang kita sebut nusantara ini.</p>
<p align="center"><a href="http://www.youtube.com/watch?v=W9Als6ayujw"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus1.jpg" alt="mus1.jpg" /></a></p>
<p>Di sebuah lokasi sempit di dalam lokasi ini, terdapat sekumpulan batu, ada beberapa di sana yang tergeletak sedemikian dengan panjang lebih dari 1.5 meter dan lebar serta ketebalan lebih dari 25 cm. Beberapa batu besar ini jika dipukul dengan batu lain yang lebih kecil maka akan memberikan bunyi berfrekuensi dalam interval 2500-5000 Hz. <em>Range </em>frekuensi bunyi yang masuk dalam kategori bunyi yang bisa kita dengar. Ketika batu-batu itu dipukul-pukulkan sedemikian, maka diperoleh  spektrum nada-nada yang unik sekali.  Terdapat kecenderungan, satu  batu menghasilkan satu frekuensi yang sama &#8211; yang dimaksudkan untuk representasi satu nadakah? Ini tentu merupakan penemuan yang mengejutkan! Ada instrumentasi musik dari zaman megalitikum!</p>
<p align="center"><a href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus2-as.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus2-tn.jpg" alt="mus2-tn.jpg" /></a></p>
<p>Ada sekitar beberapa batu yang dipukul-pukul, dan berhasil diekstrak 4 batu yang dipukul dan menghasilkan 4 frekuensi yang dapat dipetakan ke dalam tangga nada yang kita kenal saat ini. Empat nada ini, bisa didengarkan di sini,</p>
<p>&gt;&gt;&gt; <a href="http://www.geocities.com/quicchote/sampel.mp3">empat nada purba</a> &lt;&lt;&lt;</p>
<p>Yang kemudian direkonstruksi menjadi empat nada dalam tangga nada yang kita kenal:</p>
<p align="center"><a title="mus3.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus3.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus3.jpg" alt="mus3.jpg" /></a></p>
<p align="left">&#8230;untaian bunyi dengan nada <em>f&#8221;&#8217; &#8211; g&#8221;&#8217; &#8211; d&#8221;&#8217; &#8211; a&#8221;&#8217; </em>yang bisa jadi adalah urutan nada pentatonik? Kalau benar peradaban kuno ini telah mengenal nada pentatonik, mungkin nada yang hilang adalah nada-nada di antara nada pertama dan kedua, karena jarak larasnya yang agak jauh antara kedua nada tersebut. Rekonstruksi nada-nada ini bisa didengar pada file mp3 berikut ini:</p>
<p align="left">&gt;&gt;&gt; <a href="http://www.geocities.com/quicchote/rekon.mp3">rekonstruksi nada purba </a>&lt;&lt;&lt;</p>
<p align="left">Dari sisi ukurannya, jika ini adalah benar alat musik kuno, maka ini merupakan alat musik yang sangat besar dan sulit dibayangkan jika dimainkan oleh satu orang. Sangat mungkin pemainnya adalah sekelompok  orang yang secara bergantian memainkan lagu-lagu secara monofonik. <em>Wow</em>, sungguh mengherankan dan menarik sekali. Bayangkan ada peradaban purba yang belum mengenal tulisan, namun sudah mengenal konsep kerja sama dalam menghasilkan bentuk-bentuk estetika suara.</p>
<p align="left">Ini merupakan suatu hal yang sangat memperkaya khazanah pengetahuan kita akan sejarah musik dunia. Banyak pertanyaan baru akhirnya timbul, termasuk pertanyaan siapakah mereka ini? Apakah mereka adalah nenek moyang orang Sunda? Jika ya, berarti ada fasa prasejarah dengan tradisi megalitikum di kalangan orang Sunda? Situs ini menyimpan banyak hal yang memperkaya wawasan mereka yang kini tinggal di Jawa Barat, dan kepuluaan Indonesia secara umum, bahkan mungkin dunia, karena mungkin inilah temuan pertama tradisi megalitikum di mana instrumentasi musik pukul ditemukan pertama kali. <em>Wallahualambissawab!</em></p>
<p align="left">More infos: <a href="http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1112242">http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1112242 </a></p>
<p align="left">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=52&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/03/22/musik-purba-dari-cianjur-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/rekon.mp3" length="222867" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/sampel.mp3" length="103749" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mus1.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus2-tn.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mus2-tn.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/03/mus3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mus3.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Lagu Sepi: Gerakan ke-3 Simfoni #9</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/14/cerita-lagu-sepi-gerakan-ke-3-simfoni-9/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/14/cerita-lagu-sepi-gerakan-ke-3-simfoni-9/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 09:47:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[baroque]]></category>
		<category><![CDATA[romantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[


Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Senyuman sering tak sesuai dengan isak tangis di dalam hati. Semangat yang berapi-api dari sisi pemilihan kata dan dari ekspresi wajah seringkali tak mau menggambarkan keletihan yang luar biasa di dalam hati seseorang. Hiruk-pikuk tak selalu menunjukkan rasa sepi dan sunyi serta kehilangan harapan yang sangat mendalam oleh sirnanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=46&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a title="beethovenpastoral.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/beethovenpastoral.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="beethovenpastoral.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/beethovenpastoral.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/beethovenpastoral.thumbnail.jpg" alt="beethovenpastoral.jpg" /></a></div>
<p><em></em></p>
<p><em>Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Senyuman sering tak sesuai dengan isak tangis di dalam hati. Semangat yang berapi-api dari sisi pemilihan kata dan dari ekspresi wajah seringkali tak mau menggambarkan keletihan yang luar biasa di dalam hati seseorang. Hiruk-pikuk tak selalu menunjukkan rasa sepi dan sunyi serta kehilangan harapan yang sangat mendalam oleh sirnanya harapan akan hidup. Ini tergambar ketika kita secara teliti mendengar gerakan ketiga dari simfoni kesembilan dari seorang Ludwig yang lahir dari keluarga Beethoven. Sebuah rentetan dan potret audibel dari emosi melodis yang menggambarkan rasa sepi, sunyi, dan luka hati mendalam namun sangat cerdas, yang menjadi pengiring lahirnya chorale yang paling banyak dipuja orang hingga saat ini ketika partitur ini telah berusia lebih dari 3 abad – ketika bahkan orang lebih ingat Donal Bebek saat mendengarkan melodinya daripada kesedihan melankolik yang ingin direfleksikan…</em><br />
<span id="more-46"></span><br />
Setiap kali membicarakan Ludwig van Beethoven, orang cenderung selalu berbicara tentang kehebohan <em>chorale </em>pada gerakan keempat simfoni ke-9 yang memang kontroversi pada masanya karena komposisinya yang sangat unik. Simfoni terakhir dan kontroversial dari Ludwig van Beethoven ini lebih dikenal karena komposisinya ini. Namun di sini, kita ingin diajak untuk mendengar dengan seksama sebuah sisi gelap dari rembulan kehidupan Ludwig yang menjadikan dirinya dan karyanya senantiasa misterius: ketika ia mencintai seorang <em>immortal beloved</em>, tanpa sadar bahwa kecerdasannya menjadikan dirinya i<em>mmortally loved</em> oleh peradaban homo sapiens hingga hari ini.</p>
<p>Lagu ini dimainkan dengan arahan “<em>adagio molto</em>” = “sangat lambat”, namun Ludwig mengisyaratkan tanda metronom 60 yang sebenarnya bertempo sedang. Namun fakta emosional dari gerakan ke-3 simfoni ini seringkali menggoda maestro pemusik memainkannya dengan tanda metronom yang jauh lebih lambat agar “<em>adagio molto</em>”-nya lebih kerasa.</p>
<p>Ludwig adalah seorang seniman dengan personalitas yang unik. Di balik kesohoran nama besarnya, ia selalu melawan otoritas kekuasaan politik yang menurut pendapatnya tidak adil termasuk beberapa kali penolakannya atas tawaran jabatan sosial kebangsawanan. Ludwig adalah sosok komponis revolusioner yang  menolak embel-embel dan kesemuan kosmetik dari status sosial yang konyol. Namun sejarah menunjukkan bahwa kecerdasan Ludwig entah bagaimana selalu membuat orang-orang di sekitarnya memaafkannya yang seringkali dinilai selalu menantang tata krama itu. Bagaimanapun kehidupan Ludwig berhasil menunjukkan bahwa kebesaran seseorang tak perlu dilihat dari kesemuan embel-embel gelar atau bedak yang tebal atau rambut yang rapih tersisir. Seseorang mestinya terlihat dari apa yang telah dikaryakannya, diekspresikannya secara jujur dan konsisten.</p>
<p>Banyak kritikus musik menunjukkan bahwa kehidupan pribadi Ludwig terpancar pada semua karya-karya simfoninya. Dan gerakan ke-3 yang pilu ini merefleksikan fakta bahwa kehidupan personal Ludwig selama hidupnya tidak seberuntung dan semekar kehidupan karya-karyanya hingga sekarang. Tak bisa dibayangkan bahwa seorang maestro musik besar harus menerima bahwa ia telah menjadi tuli (1796). Tak bisa pula bisa dibayangkan orang yang bisa melahirkan karya yang luar biasa sentimental, melankolis dan romantis seperti Ludwig senantiasa selalu hidup dalam bayang-bayang seorang wanita yang sangat dikasihinya namun tak pernah menjadi nyata dalam hidupnya yang tak panjang (1812). Kisah kasih misteriusnya ini telah diangkat ke layar kaca dengan judul “<em>Immortal Beloved</em>”, sebuah sebutan Ludwig sendiri dalam sebuah surat pribadi. Hingga hari ini, tak ada yang tahu siapa sebenarnya wanita misterius ini. Banyak perempuan yang diketahui dekat dengan Ludwig, namun siapa sebenarnya wanita ini tak pernah diketahui secara pasti.</p>
<p>Gerakan ketiga dari simfoni ini dimainkan dalam gaya “<em>Adagio molto e cantabile</em>” yang dimainkan dalam tangga nada <em>B-flat mayor</em> – dalam variasi yang progresif dalam irama dan melodi sekaligus.  Beethoven menggunakan variasi tempo komposisi dalam gerakan musik ini, diawali dengan tempo 4/4, dilanjutkan dengan 3/4 yang kemudian dilanjutkan dengan tempo 12/8. Hal ini menunjukkan kecerdasan dari gerakan komposisi <em>adagio </em>ini yang sekaligus menunjukkan bahwa kekuatannya di melodi.</p>
<p>Sebagaimana biasanya, selalu ada empat tahapan dalam tiap lagu komposisi pada masa romantik, yaitu tahapan <em>eksposisi</em>, <em>pembangunan</em>, <em>rekapitulasi</em>, dan diakhiri dengan ekor (<em>koda</em>). Tahapan eksposisi dari lagu <em>adagio </em>ini diawali dengan musik tiup dengan tempo variatif antara <em>adagio </em>dan <em>andante </em>(dengan lambat). Permainan variasi tempo Ludwig dalam lagu ini berputar-putar antara <em>andante </em>dan <em>adagio</em>:</p>
<p>Tahap eksposisi: <em>Adagio </em>&#8211;&gt; <em>Andante </em>&#8211;&gt;<em>Adagio </em>&#8211;&gt; <em>Andante </em><br />
Tahap pembangunan: <em>Adagio</em><br />
Tahap rekapitulasi: <em>Lo Stesso Tempo</em> (tempo sama namun terjadi perubahan pelambatan di metronom)</p>
<p>Jika kita perhatikan, tahapan pada tahapan eksposisi ini kita dapat mendengar beberapa variasi dari biola (<em>strings</em>) yang dimainkan dominan dengan beberapa variasi dengan tempo <em>andante </em>yang terasa kesan sendiri/sepi yang naik turunnya sering terkait dengan rengekan, keluh kesah,</p>
<p>Contoh variasi (dari eksposisi)</p>
<p><a title="9varviol1.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol1.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="9varviol1.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol1.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol1.jpg" alt="9varviol1.jpg" /></a></div>
<p>Yang jika kita nyanyikan: <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="23" height="22" />[[<a href="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single.mp3"><strong>9violin-single.mp3</strong></a>]]</p>
<p>Contoh lain variasi (juga masih dari eksposisi)</p>
<p><a title="9varviol2.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol2.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="9varviol2.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol2.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol2.jpg" alt="9varviol2.jpg" /></a></div>
<p>Yang kira-kira berbunyi: <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="23" height="22" />[[<a href="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single-var.mp3"><strong>9violin-single-var.mp3</strong></a>]]</p>
<p>Jika kita teliti mendengarkannya kita akan mendengarkan adanya keramaian pada harmoni variasi untuk alat musik tiup (<em>wind</em>) yang menyertai dominasi singular biola sebelumnya, misalnya:</p>
<p><a title="9varharm.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varharm.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="9varharm.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varharm.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varharm.jpg" alt="9varharm.jpg" /></a></div>
<p>Yang jika dinyanyikan: <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="23" height="22" />[[<a href="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single-var.mp3"><strong></strong></a><strong><a href="http://www.geocities.com/quicchote/9wind-single.mp3">9wind-single.mp3</a></strong>]]</p>
<p>Pola ini merupakan hal yang terus divariasikan dalam tahapan pembangunan (<em>development</em>) hingga rekapitulasi dan koda dari <em>cantabile </em>ini. Sangat terasa sebenarnya kekuatan melodisnya, karena jika kita tidak teliti variasi yang terdengar seolah berbeda tatanan melodisnya dengan kontur yang menggambarkan kesendirian yang sangat ditengah keramaian dan hiruk-pikuk alat musik tiup yang mengitari gerakan melodis alat musik gesek (<em>violin </em>dan <em>viola</em>). Melodi berjalan terus secara mulus tapi cukup terasa atmosfir estetik di sini.</p>
<p>Variasi akhir dari gerakan <em>adagio </em>ini dua kali diwarnai dengan dua “teriakan” yang keras dari semua orkestrasi alat musik yang terlibat dalam simfoni yang dijawab dengan biola secara singular yang menunjukkan kesendirian di dalam hiruk-pikuk yang riuh rendah. Nada-nada biola ini dipilih tinggi dengan oktaf ganda yang mungkin menjadi dasar interpretasi kritikus bahwa gerakan ke-3 dari simfoni ini menggambarkan kesakitan dari Beethoven di akhir-akhir masa hidupnya.  Di bagian-bagian akhir ini Ludwig memunculkan pula solo alat tiup yang khidmat dan lambat yang sekaligus menjadi jembatan gerakan ke-3 ini ke gerakan ke-4 yang riuh rendah dengan <em>chorale </em>yang terkenal itu: Oda Kegembiraan dan Persaudaraan. Kesinambungan gerakan ke-3 dan ke-4 ini pula yang mungkin membuat seringkali rekaman digital belakangan dari simfoni ini (misalnya interpretasi yang dipimpin maestro kesohor almarhum Herbert von Karajan, 1977 dengan <em>Berliner Philharmonika Orchestra</em>) senantiasa menjadikannya satu bagian yang tak terpisah.</p>
<p>Ludwig pernah menjalin kasih dengan seorag gadis aristokrat Giulietta Guiccardi, namun ayah sang gadis tak merestui dan Giulietta menikahi orang lain yang berujung pada perceraian. Namun usaha Giulietta setelah ia bercerai tak pernah berhasil kembali pada Ludwig. Ia juga dikabarkan pernah menjalin kasih dengan Josephine von Brunswick, seorang janda, namun lagi-lagi ia terhambat masalah keluarga si perempuan dan sikap Ludwig yang jarang secara terbuka mengekspresikan keinginannya. Terakhir Ludwig menjalin hubungan dengan Antonie Brentano, yang diduga kuat adalah orang yang dituju dalam surat misteriusnya tersebut.</p>
<p>Surat misterius ini menggambarkan kesedihannya ketika ternyata sang pujaan hati tak pernah memahami perasaan Ludwig yang mungkin terlalu pemalu namun angkuh mengekspresikan perasaan padanya. Surat ini menandai runtuhnya harapan dan keinginan Ludwig pada upaya membangun rumah tangga. Destruksi emosionalitas dan kehilangan pendengaran telah membuat Ludwig menjadi seorang yang sulit untuk menyesuaikan karyanya dengan pesanan komposisi musik yang menjadikannya tak produktif. Secara finansial ia terjebak dalam kemiskinan yang amat sangat yang berakhir dengan berpulangnya pada 1827 setelah beberapa kali gagal dalam keinginannya untuk bunuh diri.</p>
<p>Derita psikologis dan emosional ini tergambar secara sangat melodis dalam bentuk sahut-sahutan antara musik yang dimainkan oleh musik gesek dan musik tiup. Pada bagian awal, sahut-sahutan itu terjadi di antara singularitas atau duo alat gesek dan dua atau tiga instrumen tiup. Variasi melodis bersama permainan tempo menjadi warna tahapan eksposisi dan pembangunan dari lagu. Alur cerita lagu bagaimanapun naik pada bagian rekapitulasi, dengan kuatnya harmoni antara dua alat musik yang diperankan seolah antagonistik  oleh maestronya tersebut. Harmoni makin kuat di bagian akhir lagu namun dengan tempo yang kembali <em>adagio</em>, terus hingga koda yang menggantung dan siap untuk melaju ke bagian <em>chorale</em> yang menghebohkan pada masanya, dan hingga sekarang masih saja akrab dengan telinga pop kita.</p>
<p>Para kritikus jarang mengulik bagian ketiga dari simfoni no. 9 ini, karena biasanya sangat terfokus pada bagian keempat (<em>chorale</em>) yang sangat terkenal, dan juga karena memang lagu gerakan ketiga ini menjadi jembatan yang agak aneh dibandingkan bagian sebelumnya (gerakan 1 dan 2) yang sangat bersemangat dan cepat (<em>presto</em>). Mendengarkan gerakan ketiga ini adalah zooming terhadap sebuah motivasi mendalam dari kehidupan dan melankoli yang pribadi sekali dari seorang Ludwig. Sebuah rasa sepi di tengah hiruk-pikuk hidupnya sebagai seorang seniman yang terkenal. Sebuah tekanan psikologis yang kuat yang akhirnya memuntahkan sebuah karya fenomenal yang dapat membuat kita serasa ikut menitikkan air mata mendengarkannya dengan seksama dengan memahami cerita dibalik simfoni terakhir yang ditulis olehnya. Penderitaan psikologis yang kuat yang ingin dilepaskannya secara kuat pula: tak heran, bagian akhir dari simfoni yang berbentuk <em>chorale</em> dan pada premiernya banyak dicemooh orang karena melawan aturan dan kelayakan komposisi simfoni pada umumnya di masanya adalah bentuk keinginan Ludwig untuk segera bebas, lepas dari situasi efemeral dari hidup yang terkadang memang sangat merundung rasa bosan dan sepi ini…</p>
<p>Mari mendengarkan lagu ini, merasakan kecerdasan seorang Ludwig, dan ikut insyaf bahwa sejujurnya kita sebenarnya tak lebih dari Ludwig pada masa sekarang: terkadang merasa sangat sepi di tengah keramaian dan hiruk-pikuk kehidupan kita…</p>
<p><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="23" height="22" />[[<a href="http://www.geocities.com/quicchote/mvt3s9.mp3"><strong>A</strong><strong>dagio Molto e Cantabile</strong></a>]]<img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="23" height="22" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=46&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/14/cerita-lagu-sepi-gerakan-ke-3-simfoni-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single.mp3" length="153591" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/9violin-single-var.mp3" length="126006" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/9wind-single.mp3" length="165190" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/mvt3s9.mp3" length="3599594" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/beethovenpastoral.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">beethovenpastoral.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9varviol1.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varviol2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9varviol2.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/9varharm.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9varharm.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batik di visual = Fuga di musik?</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/10/batik-di-visual-fuga-di-musik/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/10/batik-di-visual-fuga-di-musik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Feb 2008 01:09:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[baroque]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[
Batik merupakan ikhwal kriya tekstil yang tak asing bagi kita, bangsa Indonesia. Berbagai bahan sandang memiliki corak batik, khususnya berbagai sandang dari masyarakat Indonesia yang tinggal di pulau jawa dan beberapa tempat di Sumatera, misalnya Jambi, mulai dari kain sarung, kopiah, kemeja, bahkan kerudung dan banyak lagi. Namun hal yang sangat menarik dengan batik adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=38&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="text-align:center;"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/battbch.jpg" alt="battbch.jpg" /></div>
<p>Batik merupakan ikhwal kriya tekstil yang tak asing bagi kita, bangsa Indonesia. Berbagai bahan sandang memiliki corak batik, khususnya berbagai sandang dari masyarakat Indonesia yang tinggal di pulau jawa dan beberapa tempat di Sumatera, misalnya Jambi, mulai dari kain sarung, kopiah, kemeja, bahkan kerudung dan banyak lagi. Namun hal yang sangat menarik dengan batik adalah bahwa ia merupakan konsep yang tidak sederhana bahkan dari sisi etimologinya. Batik dapat merepresentasikan ornamentasi yang unik dan rumit dalam corak dan warna dan bentuk-bentuk geometris yang ditampilkannya. Namun yang terpenting adalah bahwa batik dapat pula merepresentasikan proses dari pembuatan corak dan ornamentasi yang ditunjukkan di dalamnya.<span id="more-38"></span></p>
<p>Proses batik atau dalam verbia disebut pula sebagai &#8220;mbatik&#8221;, merupakan hal yang tidak sesederhana menggambarkan sebuah lukisan, misalnya. Multiperspektif yang terpancar dari ornamentasinya merupakan hasil dari proses dan tahapan-tahapan pseudo-algoritmik yang sangat menarik. Berdasarkan publikasi &#8220;<em>Batik: The Impact of Time and Environmen</em>t&#8221; oleh H. Santosa Doellah yang diterbitkan oleh Danar Hadi, terdapat setidaknya tiga tahapan proses dalam ornamentasi batik, yakni:</p>
<p>1. &#8220;<em>Klowongan</em>&#8220;, yang merupakan proses penggambaran dan pembentukan elemen dasar dari disain batik secara umum.</p>
<p>2. &#8220;<em>Isen-isen</em>&#8220;, yaitu proses pengisian bagian-bagian dari ornamen dari pola isen yang ditentukan. Terdapat beberapa pola yang biasa digunakan secara tradisional seperti motif <em>cecek, sawut, cecek sawut, sisik melik</em>, dan sebagainya.</p>
<p>3. <em>Ornamentasi Harmoni</em>, yaitu penempatan berbagai latar belakang dari desain secara keseluruhan sehingga menunjukkan harmonisasi secara umum. Pola yang digunakan biasanya adalah pola <em>ukel, galar, gringsing</em>, atau beberapa pengaturan yang menunjukkan modifikasi tertentu dari pola isen, misalnya <em>sekar sedhah, rembyang, sekar pacar</em>, dan sebagainya.</p>
<p>Gambar berikut menunjukkan ketiga tahapan di atas:</p>
<p><a title="bat1.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat1.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="bat1.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat1.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat1.jpg" alt="bat1.jpg" /></a></div>
<p>Dari sini terlihat bahwa corak batik merupakan bentuk dari totalitas keseluruhan komposisional dari semua elemen-elemen penyusunnya: corak batik tidak dapat dinilai dari satu pola penyusun saja, melainkan mesti secara keseluruhan yang memberi iluminasi atas keindahannya. Inilah keindahan dari batik, bahwa keseluruhan bukan menjadi sekadar penjumlahan dari elemen-elemen penyusunnya secara linier, melainkan interaksi antara elemen penyusunnya bentuk komposisi visualnya secara total dalam perspektif yang tidak terjebak dalam satu singularitas bentuk berpola. Kata kuncinya tentu  adalah harmoni dan keseimbangan. Ini merupakan hakikat dan filosofi dasar dari realm ketimuran yang senantiasa tidak selalu berada dalam satu polar sikap, namun senantiasa berada pada “jalan tengah”, bentuk harmoni yang juga tercermin dalam berbagai norma dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa dan Melayu secara umum.</p>
<p>Di sisi lain, fugue sebagai sebuah komposisi musik yang memiliki tekstur suara kanonik yang tersusun oleh bentuk bermelodi yang terkait dan terpilin satu sama lain secara sistematis dan harmonis. Di tangan seorang komponis musik, fugue merupakan bentuk eksploitasi dari abstraksi melodi dan harmoni dari nada-nada sebagai satu gagasan dasar atau rumusan dasar. Sebagai sebuah proses, pembentukan fugue dapat ditunjukkan dalam setidaknya tiga langkah, yakni</p>
<p>1. &#8220;<em>Motif Dasar</em>&#8221; sebagai pola dasar yang merupakan bentuk dasar dari fugue. Nada-nada disusun sedemikian sehingga membentuk melodi monofonik yang menjadi tema utama dari fugue.</p>
<p>2. &#8220;<em>Topik</em>&#8221; yang sering merupakan bentuk imitatif dari motif dasar yang menentukan topikalitas dari lagu. Secara mendasar, topik ini menjadi landasan &#8220;pengisian&#8221; secara variatif melodis dari motif dasar dari fugue.</p>
<p>3. &#8220;<em>Eksposisi</em>&#8221; yaitu bentuk total dengan harmoni. Di sini, beberapa suara dari satu jenis atau lebih alat musik mengisi kekosongan waktu sela nada satu sama lain menghasilkan pola harmonis yang saling &#8220;menyeimbangkan&#8221; antara melodi dari satu suara dengan suara lain. Di sinilah letak inti paling utama yang jadi ujung tombak dari keindahan fugue. Harmoni dan keseimbangan jelas menjadi inti utama dari bagian finalisasi akhir ini.</p>
<p>Sebuah contoh yang menarik untuk tekstur musikal dari fugue ini adalah fugue yang dikomposisi oleh Johann Sebastian Bach dalam C-Minor pada <em>Well-Tampered Clavier</em> Buku Pertama No. 2.</p>
<p>Bagian motif dasar kira-kira bisa ditulis…<br />
<a title="bat1a.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat1a.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat1a.jpg" alt="bat1a.jpg" /></a></p>
<p>yang berbunyi: <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="24" height="21" /> [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/001motiff.mp3">motif_dasar.mp3</a>]</p>
<p>Bagian topik…</p>
<p><a title="bat2s.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat2.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat2s.jpg" alt="bat2s.jpg" /></a></p>
<p>yang berbunyi: <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="24" height="21" /> [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/002subjecta.mp3">topik.mp3</a>]</p>
<p>dan eksposisinya…</p>
<p><a title="bat4s.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat4.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat4s.jpg" alt="bat4s.jpg" /></a></p>
<p>yang berbunyi secara lengkap: <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="24" height="21" /> [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/003fugueexp.mp3">eksposisi.mp3</a>]</p>
<p>Sebuah komposisi fugal (fugu secara keseluruhan) diawali dengan bentuk perkenalan dengan memainkan motif sebagai desain fundamental dari fugue dan langsung diikuti dengan komposisi yang menunjukkan variasi dari motif dasar yang baru dimainkan terus saja kemudian masuk suara kedua yang mengimitasi model pertama dari motif terus ke topik sementara suara pertama terus saja memainkan pola topik &#8211; terkadang dengan variasi-variasi yang sepenuhnya bergantung pada kreatifitas estetik dari komponis. Suara pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya bisa saja ditulis untuk satu alat musik atau vokal, namun boleh juga untuk alat musik atau vokal yang berbeda.  Dari sini terlihat jelas bahwa harmoni menjadi hal terpenting dari fugue dengan penekanan estetika pada bagian eksposisi musik fugue.</p>
<p>Menarik sekali, karena tiga proses pseudo-algoritmik pada komposisi fugue memiliki kemiripan yang kuat dengan proses batik. Sama seperti batik, fugue tidak dapat dinikmati hanya dengan mendengarkan bagian motif dasar ataupun bagian topik, melainkan mesti dinikmati secara utuh sebagai bagian dari eksposisi. Baik batik maupun fugue tidak bisa dinikmati hanya dengan mempersepsi elemen-elemen penyusunnya, tapi mesti  sebagai bentuk totalitas dan harmonisasinya secara utuh. Fakta ini dan proses komposisionalnya merupakan hal yang sangat menggoda untuk menunjukkan kesamaan antara batik pada seni visual dan fugue pada seni musik. Ini tentu merupakan suatu hal yang sungguh menarik dan bentuk luar biasa dari interaksi persepsional estetis dan kritis antara budaya barat dan timur, antara seni rupa dan seni musik secara umum.</p>
<p>Fugue, dalam bahasa Latin, dapat berarti &#8220;<em>terbang</em>&#8220;, dinamai demikian mungkin karena urut-urutan fugue mulai dari elemen  motif dasar hingga eksposisinya yang kompleks seolah menggambarkan secara imajinatif proses lepas landas secara musikal. Secara intuitif, sungguh menarik juga memberikan proposisi umum bahwa fugue jelas tak sekadar lagu, nyanyian, atau lantunan melodis dengan tekstur harmonik belaka, karena konsep fugue, seperti halnya konsep batik, juga dapat merepresentasikan proses komposisional (bunyi).</p>
<p>Batik bukan sekadar ornamentasi dan motif, ia adalah proses komposisional dari bentuk visual berpola.<br />
Fugue bukan sekadar untaian melodi harmonis, ia adalah proses komposisional dari bunyi berpola.<br />
Secara menarik, di sini batik secara inspirasional menjelaskan bagaimana kita dapat meng-apresiasi fugue secara utuh…</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=38&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/10/batik-di-visual-fuga-di-musik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/001motiff.mp3" length="40115" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/002subjecta.mp3" length="97480" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/003fugueexp.mp3" length="349823" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/battbch.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">battbch.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bat1.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat1a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bat1a.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat2s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bat2s.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bat4s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bat4s.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Ave Maria ke Jalan Lain Dari Leipzig: Antara Bach dan Gounod</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/04/dari-ave-maria-ke-jalan-lain-dari-leipzig-antara-bach-dan-gounod/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/04/dari-ave-maria-ke-jalan-lain-dari-leipzig-antara-bach-dan-gounod/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 08:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[baroque]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=28</guid>
		<description><![CDATA[

Judul di atas mengingatkan kita pada karya prosais Angkatan ’45, Idrus, yang buku kumpulan fiksinya diterbitkan dengan judul “Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma”. Sebagai penulis prosa, tugas Idrus terkadang lebih berat daripada tugas sastrawan pada masa itu mengingat sensor tegas yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Jepang; bagaimanapun prosa berbeda dengan puisi ‘kan? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=28&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a title="bp1.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bp1.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="bp1.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bp1.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bp1.jpg" alt="bp1.jpg" /></a></div>
<p><em>Judul di atas mengingatkan kita pada karya</em><em> prosais Angkatan ’45, Idrus, yang buku kumpulan fiksinya diterbitkan dengan judul “Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma”. Sebagai penulis prosa, tugas Idrus terkadang lebih berat daripada tugas sastrawan pada masa itu mengingat sensor tegas yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Jepang; bagaimanapun prosa berbeda dengan puisi ‘kan? Idrus mesti menghasilkan karya yang tidak gampang diinterpretasi oleh badan sensor Jepang, namun mesti dapat membakar semangat dan vitalitas pemuda pejuang pada masa itu untuk kemerdekaan kita. Di sini, peran antara kreator karya seni mesti terkait dengan respon apresiatif dari reseptor karya seni tersebut. Sehebat-hebat karya seni, ia mesti diapresiasi melalui interpretasi yang akurat. Sebuah kreasi yang cerdas tak akan berarti apa-apa tanpa interpretasi yang cerdas atas kreasi tersebut. Idrus sudah membuktikannya di tanah air melalui cerpennya “Ave Maria”, demikian pula dengan komponis Perancis, Charles Gounod, yang menjadi subyek kreasi dari apa yang meng-inspirasi karya Idrus tersebut: Ave Maria.</em></p>
<p><span id="more-28"></span></p>
<p>Proses kreatif Gounod atas komposisi: “<em>Ave Maria</em>” mungkin sebuah contoh yang pas untuk ketertautan lebih dari satu abad karya Johann Sebastian Bach (1685-1750) yang dikenal sebagai <em>Prelude I C-Mayor Well-Tempered Clavier Buku I </em>dan karya Charles Gounod (1818-1893) yang terkenal sebagai lagu “Ave Maria”. Johann Sebastian Bach memang terkenal dengan musiknya yang penuh teka-teki – sekaligus memberikan warna pada tonggak sejarah musik klasik periodisasi Barok (ia berada pada satu periodisasi musik dengan G.W.F. Handel, Georg Phillip Tellemann, dll.). <em>Skill </em>musik Bach yang luar biasa mungkin adalah hulu dari semua kreativitasnya: ia mahir memainkan alat musik apapun di samping mampu melakukan interpolasi dan artikulasi artistik melalui kemahirannya tersebut). Satu kelompok karya Bach yang paling sering menjadi arena diskusi yang tak pernah habis-habisnya ada pada dua buku komposisi musiknya: <em>Das wohltemperierte Clavier</em> alias <em>Well-Tempered Clavier</em>.</p>
<p>Klavier adalah alat musik dengan papan-kunci (<em>keyboard</em>), dan Bach adalah ahlinya dalam memainkan alat musik semacam ini. Bisa kita bayangkan jemari Bach memainkan nada-nada berikut ini yang merupakan Prelude pertama dari komposisinya yang dikhususnya untuk klavier:</p>
<p><a title="bach-parts.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bach-part.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="bach-parts.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bach-part.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bach-parts.jpg" alt="bach-parts.jpg" /></a></div>
<p>Bahkan seorang yang tak begitu akrab dengan notasi musik pun kira-kira bisa menebak, naik turun nada yang dimunculkan oleh untaian melodi tersebut. Mari kita coba dengarkan dengan lengkap Prelude yang lengkap dari potongan yang digambarkan di atas, yang dimainkan oleh Martha Goldstein (1960-an) pada <em>harpsichord</em>:</p>
<p><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="27" height="24" /> [<strong><a href="http://www.geocities.com/quicchote/bach_prelude.mp3">bach_prelude.mp3</a></strong>]</p>
<p>Apa yang terasa sebenarnya mendengarkan lagu tersebut? <em>Ya</em>, apapun bisa kita rasakan. Ada sebuah kekhidmatan dari melodi atas nada-nada yang berulang-ulang tersebut. Ada sebuah nuansa spiritual dan  emosi keberserahan yang kuat di sana, ketika ada “pusaran” dan “putaran” nada yang seolah repetitif namun pada kenyataannya tak begitu. Terkesan repetitif karena komposisi itu memang dimainkan secara arpeggio, yaitu bentuk <em>chord </em>yang tidak dimainkan serempak, melainkan secara berurutan.</p>
<p>Jika kita bermain gitar atau organ, misalnya, satu kunci (<em>chord</em>) dimainkan maka kita sebenarnya membunyikan 3 atau lebih nada sekaligus. Namun coba bandingkan ketika kita membunyikan, katakanlah, kunci C, dengan membunyikan kunci C tetapi dengan memetik (atau menekan tuts) satu persatu (dari rendah ke tinggi secara berurutan), maka apa yang terasa? Arpeggio memang ditujukan untuk memberikan kesan lambat yang khidmat melalui rentetan kontinum dari nada-nada pada instrumen seperti klavier, gitar, piano, harpa, organ, dan sebagainya. Dan inilah yang dibaca dan diinterpretasi secara cerdas oleh Gounod.</p>
<p>Interpretasi Gounod pada sekuen nada Prelude Pertama di atas, kira-kira dapat dituliskan sebagai:</p>
<p><a title="goun-parts.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/goun-part.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="goun-parts.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/goun-part.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/goun-parts.jpg" alt="goun-parts.jpg" /></a></div>
<p>Ya! Ini adalah untaian nada penyusun Gounod berdasarkan tekstur musik yang diketengahkan Bach yang oleh klaim gereja katolik Roma pada masa itu dikenal oleh kita sekarang sebagai lagu “Ave Maria”. Sangat berbeda dengan untaian sebelumnya, bukan? Namun akhirnya terasa paduan harmoni yang memang khidmat, cocok dengan lagu Ave Maria yang isinya adalah untaian puja-puji umat Katolik  kepada Bunda Maria – ibarat seorang anak yang sedang meminta sesuatu kepada ibunya: sedikit memelas, namun berusaha tidak cengeng, tidak sedih tapi tak pula meledak-ledak, sebuah ungkapan dan pinta yang halus dari seorang anak kepada ibunya.</p>
<p>Berikut adalah permainan musik oleh John Michel pada instrumen cello:</p>
<p><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" width="25" height="24" /> [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/gounod_maria.mp3"><strong>gounod_maria.mp3</strong></a>]</p>
<p>Kekhidmatan yang ditimbulkan oleh komposisi Gounod tersebut seolah membuka kunci teka-teki arpeggio yang ditulis oleh Bach lebih dari seratus tahun sebelumnya. Agar lebih jelas, coba kita lihat kontur (naik-turun) melodi dalam sistem koordinat Cartesian berikut dalam 40 detik pertama dari lagu “Ave Maria” dan komposisi Bach:</p>
<p><a title="gvsb_conturs.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/gvsb_contur.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="gvsb_conturs.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/gvsb_contur.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/gvsb_conturs.jpg" alt="gvsb_conturs.jpg" /></a></div>
<p>Interpretasi Gounod sungguh luar biasa. Ia menerjemahkan pikiran Bach sehingga kita gampang mencerna kekhidmatan yang dikunci dalam arpeggio Bach tersebut. Ini sungguh hal yang yang sangat menarik, pilu, dan melankolis. Aroma “Ave Maria” menjadi tertempel dari arpeggio Bach sehingga seseorang pada hari ini bisa terkecoh dan mengatakan, “<em>wah</em>, Ave Maria-nya gak lengkap….”, ketika ia menonton pagelaran musik kamar yang menampilkan Prelude Pertama <em>Well-Tempered Clavier</em> Bach ini.</p>
<p><a title="gounod.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/gounod.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="gounod.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/gounod.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/gounod.jpg" alt="gounod.jpg" /></a></div>
<p>Hampir sepuluh dekade jarak dari Bach ke Gounod sehingga apresiasi kekhidmatan Bach dapat tercerna dengan sempurna dalam Ave Maria – tak diketahui pasti apakah ada tendensi Bach untuk personifikasi Bunda Maria pada lagu ini, namun itulah kekuatan inspirasional dari sebuah interpretasi yang sangat baik. Lebih dari dua puluh dekade berikutnya, Ave Maria telah pula menjadi alegori seorang putra Sumatera Barat bernama Idrus, yang ingin menyampaikan ekspresi perjuangan angkatan 45 ke khalayak sastra Indonesia. Interpretasi terus berjalan dan kita hanya bisa makin berdecak kagum pada seorang Johann Sebastian Bach…. seorang Gounod…. seorang Idrus…</p>
<p>Hampir 3 abad kemudian, ketika kebudayaan tak lagi berpusat di istana (istana-sentris) dan garda depan (<em>avant garde</em>) seni budaya telah bergeser dari patron politik ke berbagai perusahaan multinasional dan Bach-Gounod telah bisa dinikmati oleh sebanyak mungkin orang, melalui hasil rekaman kualitas <em>Hi-Fi </em>hingga kumpulan mp3 dari penjualan CD bajakan, dipagelarkan banyak interpretasi modern (bahkan posmodern) akan karya-karya Bach. Salah satunya adalah ekspolorasi musik yang dilakukan Bobby McFerrin, penyanyi akapella yang meraih Grammy tahun 1988 ini, mengajak ribuan penonton untuk menginteraksikan Gounod dan Bach  pada sebuah program di alun-alun kota Lepizig (acara bernama <em>Swinging Bach</em> pada tahun 2000) untuk memperingati 250 tahun berpulangnya Johann Sebastian. Bobby meminta penonton untuk menyanyikan lagu &#8220;Ave Maria&#8221; sementara ia sendiri menyanyikan bagian arpeggio prelude Bach-nya.</p>
<p><a title="bobbach.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bobbach.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="bobbach.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bobbach.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bobbach.jpg" alt="bobbach.jpg" /></a></div>
<p>Mari menikmati kekuatan interpretasi, bahwa interpretasi bisa &#8220;mengubah&#8221; cara pandang yang bahkan mungkin tak terpikir oleh kreator karya budaya itu sendiri. Karena elemen dasar dari budaya memang adalah interpretasi: dari interpretasi lahir apresiasi, dari apresiasi lahir imitasi dan inovasi, dan dari dua yang terakhir maka budaya berproduksi&#8230;</p>
<p>Dari Ave Maria ke jalan lain dari Leipzig&#8230;<br />
Dari Bach ke jalan lain ke Gounod&#8230;<br />
Dari masa Barok ke jalan lain ke angkatan 45&#8230;<br />
dan akhirnya,<br />
Dari Arpeggio ke jalan lain ke Akapella&#8230;</p>
<div style="text-align:center;"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" /><strong><a href="http://www.geocities.com/quicchote/ave_maria_mcferrin.mp3">Bobby McFerrin &#8211; Ave Maria Leipzig (2000)</a></strong> <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" alt="lg.jpg" /></div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=28&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/04/dari-ave-maria-ke-jalan-lain-dari-leipzig-antara-bach-dan-gounod/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/gounod_maria.mp3" length="579194" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/bach_prelude.mp3" length="230570" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/ave_maria_mcferrin.mp3" length="1497121" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bp1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bp1.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bach-parts.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bach-parts.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/goun-parts.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">goun-parts.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/gvsb_conturs.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gvsb_conturs.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/gounod.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gounod.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/bobbach.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bobbach.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesederhanaan yang Memecah Kerumitan: “SEMUA TENTANG KITA” oleh Peterpan (2003)</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/03/kesederhanaan-yang-memecah-kerumitan-%e2%80%9csemua-tentang-kita%e2%80%9d-oleh-peterpan-2003/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/03/kesederhanaan-yang-memecah-kerumitan-%e2%80%9csemua-tentang-kita%e2%80%9d-oleh-peterpan-2003/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 12:25:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[modern-pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[
Lagu ini tentang perpisahan dan memori romansa. Dibawakan oleh grup band nasional ngetop, Peter Pan. Pada masa hit-nya (album tahun 2003, “Taman Langit”), lagu ini diputar di mana-mana: di warung tegal, di angkutan kota, di mal dan pusat perbelanjaan sebagai soundtrack cuci mata dan berbelanja, hingga di tengah menanti lampu merah oleh pengamen jalanan – [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=11&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="text-align:center;"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan.jpg?w=277&#038;h=79" alt="ppan.jpg" width="277" height="79" /></div>
<p><em>Lagu ini tentang perpisahan dan memori romansa. Dibawakan oleh grup band nasional ngetop, Peter Pan. Pada masa hit-nya (album tahun 2003, “Taman Langit”), lagu ini diputar di mana-mana: di warung tegal, di angkutan kota, di mal dan pusat perbelanjaan sebagai soundtrack cuci mata dan berbelanja, hingga di tengah menanti lampu merah oleh pengamen jalanan – tak peduli waktu, tempat, semua menyanyikan Semua Tentang Kita. Lagu ini menyentuh masyarakat, banyak yang gandrung dan ada pula yang sama sekali tak suka. Tak apa, karena semua pada akhirnya berbicara Semua Tentang Kita.</em></p>
<p><span id="more-11"></span></p>
<p>Terlepas dari suka dan tidak suka ini, ada yang menarik perhatian dalam komposisi lagu ini. Dari segi lirik dan performance. Lagu ini secara sederhana dapat kita bagi dalam 5 stanza puisi dengan dua stanza akhir kita kategorikan sebagai refrain dari lagu ini.</p>
<p><em><strong>S1</strong></em><br />
<em>Waktu terasa semakin berlalu<br />
Tinggalkan cerita tentang kita</em></p>
<p><em><strong>S2</strong></em><br />
<em>Akan tiada lagi kini tawamu<br />
Tuk hapuskan semua sepi di hati</em></p>
<p><em><strong>S3</strong></em><br />
<em>Teringat di saat kita tertawa bersama<br />
Ceritakan semua tentang kita</em></p>
<p><em><strong>S4  &lt;Refrain I&gt;</strong></em><br />
<em>Ada cerita tentang aku dan dia<br />
Dan kita bersama saat dulu kala</em></p>
<p><em><strong>S5 &lt;Refrain II&gt;</strong><br />
Ada cerita tentang masa yang indah<br />
Saat kita berduka saat kita tertawa</em></p>
<p>Stanza pertama hingga ketiga secara melankolis bermain dengan bahasa pilu memori, kata-kata kunci seperti “waktu”. “tiada lagi”, dan “teringat” menggambarkan bahwa bait-bait puitis ini berisi elegi  yang berkaitan dengan memori akan kekasih yang telah pergi. Agak berbeda dengan bait keempat dan kelima yang masih bersifat sentimental dan melankoli, namun menunjukkan sebuah memori akan perasaan gembira.</p>
<p>Namun, terdapat kepelikan yang menarik sekali ketika kita perhatikan kontur nada dari melodi monofonik lagu ini. Secara sederhana, kita dapat menunjukkan bahwa terdapat 3 variasi melodi di sini yang sungguh sangat identik satu sama lain!</p>
<p>Variasi Pertama adalah intro yang secara implementatif dimainkan dengan permainan gitar akustik tunggal dengan pola kontur nada umum kira-kira:</p>
<p><a title="Var1PPAN" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan001.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="Var1PPAN" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan001.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan001s.jpg" alt="ppan001s.jpg" /></a></div>
<p>yang dalam lagu Peterpan: [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/v1.wma"><strong>var1.wma</strong></a>]<img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" alt="lg.jpg" width="24" height="21" /></p>
<p>Sementara Variasi Kedua diisi dengan lirik pada puisi bait pertama, kedua, dan ketiga yang kira-kira dapat ditulis:</p>
<p><a title="ppan002.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan002.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="ppan002.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan002.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan002s.jpg" alt="ppan002s.jpg" /></a></div>
<p>yang dalam lagu Peterpan: [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/v2.wma"><strong>var2.wma</strong></a>]<img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" alt="lg.jpg" width="24" height="21" /></p>
<p>Dan Variasi Ketiga sebagai variasi refrein dari lagu yang secara sederhana dapat ditulis:</p>
<p><a title="ppan003.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan003.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="ppan003.jpg" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan003.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan003s.jpg" alt="ppan003s.jpg" /></a></div>
<p>Oleh Peterpan disenandungkan: [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/v3.wma"><strong>var3.wma</strong></a>]<img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" alt="lg.jpg" width="24" height="21" /></p>
<p>Apa yang heboh dari ketiga sekuen nada-nada ini dalam lagu yang diciptakan oleh Ariel ini? Yang heboh tentunya adalah bahwa lagu ini terdengar di mana-mana di seluruh pelosok tanah air. Namun kehebohan ini muncul dari kesederhanaan yang sangat menarik. Yang menarik adalah bahwa ketiganya sebenarnya dapat dianggap sebagai bentuk variasi satu deret melodi, artinya jika ketiga susunan melodi ini kita mainkan secara bersama-sama (kanon) maka yang terdengar adalah harmoni yang tunggal dan serupa satu sama lain. Coba simak kanon yang terbentuk dari ketiganya:</p>
<p align="center"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" alt="lg.jpg" width="24" height="21" />Variasi pertama dan kedua secara kanon: [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/var1dan2.wma"><strong>var1dan2.wma</strong></a>]</p>
<p align="center"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" alt="lg.jpg" width="24" height="21" />Variasi kedua dan ketiga secara kanon: [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/var2dan3.wma"><strong>var2dan3.wma</strong></a>]</p>
<p align="center"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" alt="lg.jpg" width="24" height="21" />Variasi Satu, Dua, dan Tiga secara kanon: [<a href="http://www.geocities.com/quicchote/var123.wma"><strong>var123.wma</strong></a>]</p>
<p>Tercipta harmoni yang tepat sekali secara melodis! Variasi lagu ini secara komposisional luar biasa sederhana, dengan kadens (urutan <em>chord</em>) yang monoton namun permainan kontur menjadi kekuatan lagu ini sehingga seolah-seolah dinamis bagi pendengar pop yang awam – tidak ada variasi di bidang tempo sama sekali. Mungkin lagu ini memang mesti seperti ini, sangat ringkas secara komposisional, namun yang menarik adalah komponisnya memainkan aliran lirik (bait 1, 2, 3 dilanjutkan dengan bait refrain 4 dan 5) sedemikian proporsional dengan pola oktaf meninggi (tangga oktaf intro jelas lebih rendah daripada oktaf yang diisi dengan lirik).</p>
<p>Kesederhanaan yang berdosis pas bercampur tema melankolia yang dibawakan, serta aliran bait-demi-bait pada lirik yang mengisi aliran variasi-variasi melodi dasar yang digunakan mungkin adalah kunci kesuksesan lagu ini – tentu dengan tidak bermaksud sama sekali mengucilkan peran yang luar biasa besar dari perusahaan rekaman major label MUSICA Studios pada kiprah produser Noey &amp; Capung, dengan pola manajemen marketing yang tak henti-henti mengisi sistem kognitif manusia Indonesia melalui repetisi di berbagai media sebagaimana memang “tugas” industri kebudayaan di masa pos-kapitalisme sekarang ini.</p>
<p>Lagu ini luar biasa sederhana, namun berhasil mengatasi kompleksitas pola pemasaran di tengah-tengah masyarakat Indonesia dengan penjualan album perdana yang menggenjot karir musik Peterpan dengan penjualan yang menghadiahi album ini <em>Triple Platinum</em>. Debut nasional pertama Peterpan dengan kesederhanaan ini sungguh sangat menarik perhatian. Lagu-lagu dalam album “Taman Langit” yang memuat lagu ini pada umumnya sejenis, dan kesederhanaan komposisi mungkin adalah kunci bersaing di era informasi saat ini.</p>
<p>Era informasi telah menghadirkan berbagai perangkat media untuk mengkampanyekan musik dan alunan nada-nada, irama, dan lirik. Era informasi ini melahirkan pula begitu banyak pilihan dan proses kreatif mestinya mengalami perubahan ketika berhadapan dengan demand pasar musik yang menuntut kesederhanaan komposisi. Dari pilihan yang banyak sementara waktu yang tersisa untuk mendengar musik mesti bercampur dengan waktu untuk bekerja menanak nasi, menyetir angkutan kota, mengangkat goni beras, atau menunggu taksi sambil mendengarkan <em>iPod </em>menjadikan komposisi yang sederhana cenderung jauh lebih disukai. Kegetiran sosial dan ekonomi, perasaan yang memfiksasi kekerasan hidup ke dalam bentuk sentimentalia dan melankolia melahirkan lagu-lagu serupa ini. Ya, bagaimanapun budaya pop, dalam hal ini musik pop berisi gambaran kolektif sistem kognisi tentang kita semua: …<a href="http://www.geocities.com/quicchote/tentang_kita_peterpan.mp3">semua tentang kita</a>.</p>
<p><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/wink.png" alt="wink.png" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=11&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/03/kesederhanaan-yang-memecah-kerumitan-%e2%80%9csemua-tentang-kita%e2%80%9d-oleh-peterpan-2003/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/v1.wma" length="51943" type="audio/x-ms-wma" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/v2.wma" length="51943" type="audio/x-ms-wma" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/v3.wma" length="51943" type="audio/x-ms-wma" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/var1dan2.wma" length="51943" type="audio/x-ms-wma" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/var2dan3.wma" length="51943" type="audio/x-ms-wma" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/var123.wma" length="51943" type="audio/x-ms-wma" />
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/tentang_kita_peterpan.mp3" length="1041434" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ppan.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan001s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ppan001s.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan002s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ppan002s.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/ppan003s.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ppan003s.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/wink.png" medium="image">
			<media:title type="html">wink.png</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berjaga di Batas Impian dan Kenyataan: SomeWhere Over the Rainbow</title>
		<link>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/02/berjaga-di-batas-impian-dan-kenyataan-somewhere-over-the-rainbow/</link>
		<comments>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/02/berjaga-di-batas-impian-dan-kenyataan-somewhere-over-the-rainbow/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Feb 2008 17:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>quicchote</dc:creator>
				<category><![CDATA[modern-pop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qmuse.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[
Bagaimana sebenarnya kita memandang pragmatisme aktual kita sehari-hari dengan apa yang ideal di kepala kita sehingga Recording Industry Association of America (RIAA), the National Endowment for the Arts, and Scholastic Inc. merasa perlu menobatkan lagu ini pada papan tertinggi untuk &#8220;Song of the Century&#8221; (2001)? Apakah dunia ideal yang kita bayangkan secara individual memang terlalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=3&subd=qmuse&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/images.thumbnail.jpg" alt="Somewhere over the Rainbow" /></p>
<p><em>Bagaimana sebenarnya kita memandang pragmatisme aktual kita sehari-hari dengan apa yang ideal di kepala kita sehingga </em>Recording Industry Association of America<em> (RIAA), the </em>National Endowment for the Arts<em>, and </em>Scholastic<em> Inc. merasa perlu menobatkan lagu ini pada papan tertinggi untuk &#8220;</em>Song of the Century<em>&#8221; (2001)? Apakah dunia ideal yang kita bayangkan secara individual memang terlalu jauh dan menjadi  terlalu naif dibandingkan dengan apa yang kita alami dalam kehidupan dan interaksi sosial sehari-hari di mana kita mesti akrab dengan konsep-konsep seputar kelaparan, penderitaan, kesedihan, korupsi, peperangan?</em></p>
<p><span id="more-3"></span></p>
<p>Lagu ini secara miris menggambarkan optimisme eskapistik dari mereka yang melalui Era Depresi Dunia pada tahun 1930-an, di mana situasi politik dikuasai oleh kegelapan ideologi utopis, sementara ekonomi tengah direduksi oleh berbagai macam kekeringan definitif tentang kesejahteraan – di sisi lain, masyarakat di negeri-negeri seperti Indonesia tengah berada pada kekelaman kolonialisme dan imperialisme dan revolusi fisik.</p>
<p>Dari segi lirik, lagu yang ditulis oleh E. Y. Harburg ini jelas sekali menggambarkan keputusasaan akan situasi aktual namun tidak terjebak pada kedangkalan polar emosional tematiknya karena tetap menunjukkan optimisme yang kuat. Keputusasaan tercermin pada bait pertama:</p>
<p><em>Somewhere over the rainbow<br />
Way up high<br />
There&#8217;s a land that I heard of<br />
Once in a lullaby</em></p>
<p><em>Somewhere over that rainbow<br />
All skies are blue, oh<br />
And where dreams<br />
That you dare to dream<br />
Really do come true</em></p>
<p>Dua bait ini menunjukkan kenaifan pikiran dan mimpi (bait pertama) namun tercermin pula tekanan aktual yang terkadang membuat kebanyakan orang bahkan takut untuk bermimpi (bait kedua) &#8211; sebagaimana kita tahu, pelangi (<em>rainbow</em>) sering dipakai sebagai bentuk simbolisasi akan kecerahan dan harapan dengan adanya rundungan akan kegelapan dan kesedihan (<em>raindrops</em>). Hal ini diulang lagi pada dua bait terakhir. Pada dua bait terakhir ini, kata &#8220;terbang&#8221; sebagaimana sering digunakan sastrawan untuk menggambarkan kondisi &#8220;bebas&#8221;.</p>
<p><em>Somewhere over that rainbow<br />
Bluebirds fly<br />
If birds can fly over the rainbow<br />
Why, then why can&#8217;t I?</em></p>
<p><em>If happy little bluebirds fly<br />
Beyond the rainbow<br />
Why, oh why can&#8217;t I?</em></p>
<p>Optimisme muncul pada bait refrein yang menunjukkan harapan kekanak-kanakan yang naif (klausa &#8220;<em>wish upon a star</em>&#8220;) di mana &#8220;<em>troubles melt like lemon drops</em>&#8221; dan penggunaan simbol kegembiraan yang biasa digunakan dalam sastra Inggris <em>“bluebirds”</em>.</p>
<p><em>Someday I&#8217;ll wish upon a star<br />
And wake up where the clouds are far behind me<br />
And troubles mount like lemon drops<br />
Way above the chimney tops<br />
That&#8217;s where you&#8217;ll find me</em></p>
<p>Secara kontur melodis, jika pada bait-bait awal lagu dinyanyikan dengan oktaf yang menaik tajam melalui nada-nada dengan tempo yang panjang, naik-turun nada pada bagian refrein ini disusun oleh Harold Alen sangat sederhana dalam bentuk naik-turun dengan ritme yang sama – sebuah teknik yang sangat simpel bagi pendengar untuk meng-identifikasi bahwa di sini ada keriangan yang ringan.</p>
<p><a title="Somewhere Over The Rainbow Reffs" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/sovthr.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="Somewhere Over The Rainbow Reffs" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/sovthr.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/sovthrs.jpg" alt="sovthrs.jpg" /></a></div>
<p>Bandingkan saja misalnya dengan bagian akhir lagu anak-anak “Naik Delman” berikut ini misalnya,</p>
<p><a title="Lagu Naik Delman" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/kuda.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="Lagu Naik Delman" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/kuda.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/kudas.jpg" alt="kudas.jpg" /></a></div>
<p>Pola sederhana melodi dengan kontur naik turun ini pada lagu “<em>Over the Rainbow</em>” menjadikan apa yang “diharapkan” secara naif sebagaimana tercermin pada lirik sangat berbeda dengan “kesedihan” secara naif yang tergambar dari keinginan reflektif atas apa yang utopis dan yang pragmatis – bahasa filsafatnya mungkin: apa yang transenden dan apa yang koersif.</p>
<p><a title="Judy in Wizard of Oz" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/judy.jpg"></a></p>
<div style="text-align:center;"><a title="Judy in Wizard of Oz" href="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/judy.jpg"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/judy.jpg" alt="Judy in Wizard of Oz" /></a></div>
<p>Judy Garland adalah penyanyi pertamanya dalam film “<em>Wizard of Oz</em>”, sebuah film produksi MGM berdasarkan kisah anak-anak yang ditulis oleh L. Frank Baum (1900). Dalam film ini, Judy memerankan tokoh Dorothy, gadis kampung Amerika dengan rambut pirang ikal berkepang dua yang menyanyi di antara tumpukan jerami, ditemani anjing petaninya yang kecil, berlatar belakang hamparan perkampungan dengan langit yang agak mendung. Lagu ini fenomenal, karena sebenarnya lagu ini tadinya tak ingin dimasukkan sebagai salah satu lagu yang akan digunakan dalam film yang diproduseri oleh Arthur Freed dan Harold Arlen ini, karena tadinya dianggap terlalu lambat tempo musiknya dan melambatkan alur film (musikal “<em>Wizard of Oz</em>” dipenuhi irama yang ber-energi medium hingga tinggi/cepat).</p>
<p>Karir Judy Garland meroket melalui film dan lagu ini, dan hingga saat ini “<em>Over the Rainbow</em>” telah dirilis ulang oleh ratusan artis dari berbagai genre mulai dari musik ensembel jazz hingga riuh rendah marching-band. Katakanlah Aretha Franklin, Barbra Sterissand, Frank Sinatra, Louis Armstrong, Ella Fitzgerald, Eric Clapton, Bobby McFerrin, Bob Marley, Phil Collins, Lea Salonga, Sarah Vaughan, Nana Mouskouri, Kylie Minoque,Mariah Carey,  Jewel, Beyonce, Faith Hill, Jessica Simpson, Dave Koz, Kenny G, Queen, Deep Purple, Metallica, Guns ‘n Roses, Stanley Jordan, versi instrumental rock dari maestro gitar Yngwie Malmsteen, Joe Satriani, dan Steve Vai, hingga diva opera Katherine Jenkins dan banyak lagi! Ini belum termasuk puluhan film dengan soundtrack lagu ini sebagai ilustrasinya!</p>
<p>Secara liris, lagu ini jelas merefleksikan utopisme yang berbentur dengan kenyataan hidup yang berat, yang menjadikan mereka yang selalu berjaga di tepi batas impian dan kenyataan selalu merasa berada dalam paradoks. Mungkin kesederhanaan melodis yang bercampur padu secara apik dengan aspek liris kerinduan akan kepolosan cara pikir kanak-kanak yang telah hilang begitu kita beranjak dewasa, menjadikan lagu ini sangat populer, sangat disukai oleh seniman reflektif, dan sekarang menjadi bagian dari aspek mental kognisi kita.</p>
<p>Mari menikmati lagu ini, sembari mengingat-ingat masa kanak-kanak kita, bukan karena lagu ini lagu kanak-kanak, tetapi karena kita telah kehilangan kenaifan kanak-kanak yang punya impian murni akan hidup yang lebih indah dan menyenangkan. Kedewasaan telah membangunkan kita dari impian dan harapan murni seorang manusia yang jika kita paksakan ke dalam realitas nyata menjadikan kegilaan atau penyakit mental pada kita. Namun juga, kita tak boleh terjebak dalam pragmatisme modernitas dan rutin-rutin hidup yang membosankan. Manusia dewasa yang semestinya tentunya adalah yang senantiasa selalu berjaga di garis batas, antara impian dan kenyataan…</p>
<p>Terdapat sebuah hal unik lain pada lagu ini. Sebenarnya lagu ini memiliki stanza awal yang jarang sekali dinyanyikan pada rilis ulang termasuk pada versi aslinya sebagaimana dalam film “<em>The Wizard of Oz</em>”. Biasanya para penyanyi menyanyikannya dalam rilis ulang agar lagunya jadi agak panjang (versi aslinya hanya 2 menit!). Di sini, bisa diunduh lagu rilis ulang yang dinyanyikan Katherine Jenkins yang diiringi <em>National Symphony Orchestra</em> (dipimpin Anthony Inglis) pada penampilan di <em>Llangollen International</em> 9 Juli 2006 yang lalu. Versi ini merupakan versi lengkap dengan stanza yang entah kenapa jarang sekali dinyanyikan dalam <em>live performance</em>, termasuk oleh Judy sendiri.</p>
<p align="center"><img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" alt="lg.jpg" width="25" height="23" /> <em><a href="http://www.geocities.com/quicchote/over_the_rainbow_jenkins.mp3">Somewhere Over the Rainbow &#8211; Katherine Jenkins</a></em> <img src="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" alt="lg.jpg" width="25" height="23" /></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/qmuse.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/qmuse.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qmuse.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qmuse.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qmuse.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qmuse.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qmuse.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qmuse.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qmuse.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qmuse.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qmuse.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qmuse.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qmuse.wordpress.com&blog=2701361&post=3&subd=qmuse&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qmuse.wordpress.com/2008/02/02/berjaga-di-batas-impian-dan-kenyataan-somewhere-over-the-rainbow/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
<enclosure url="http://www.geocities.com/quicchote/over_the_rainbow_jenkins.mp3" length="944666" type="audio/mpeg" />
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c89837be096b9cc21cf1b7507d352347?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">quicchote</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/images.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Somewhere over the Rainbow</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/sovthrs.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sovthrs.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/kudas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kudas.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/judy.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Judy in Wizard of Oz</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://qmuse.files.wordpress.com/2008/02/lg.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">lg.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>