jump to navigation

Berjaga di Batas Impian dan Kenyataan: SomeWhere Over the Rainbow February 2, 2008

Posted by quicchote in modern-pop.
trackback

Somewhere over the Rainbow

Bagaimana sebenarnya kita memandang pragmatisme aktual kita sehari-hari dengan apa yang ideal di kepala kita sehingga Recording Industry Association of America (RIAA), the National Endowment for the Arts, and Scholastic Inc. merasa perlu menobatkan lagu ini pada papan tertinggi untuk “Song of the Century” (2001)? Apakah dunia ideal yang kita bayangkan secara individual memang terlalu jauh dan menjadi terlalu naif dibandingkan dengan apa yang kita alami dalam kehidupan dan interaksi sosial sehari-hari di mana kita mesti akrab dengan konsep-konsep seputar kelaparan, penderitaan, kesedihan, korupsi, peperangan?

Lagu ini secara miris menggambarkan optimisme eskapistik dari mereka yang melalui Era Depresi Dunia pada tahun 1930-an, di mana situasi politik dikuasai oleh kegelapan ideologi utopis, sementara ekonomi tengah direduksi oleh berbagai macam kekeringan definitif tentang kesejahteraan – di sisi lain, masyarakat di negeri-negeri seperti Indonesia tengah berada pada kekelaman kolonialisme dan imperialisme dan revolusi fisik.

Dari segi lirik, lagu yang ditulis oleh E. Y. Harburg ini jelas sekali menggambarkan keputusasaan akan situasi aktual namun tidak terjebak pada kedangkalan polar emosional tematiknya karena tetap menunjukkan optimisme yang kuat. Keputusasaan tercermin pada bait pertama:

Somewhere over the rainbow
Way up high
There’s a land that I heard of
Once in a lullaby

Somewhere over that rainbow
All skies are blue, oh
And where dreams
That you dare to dream
Really do come true

Dua bait ini menunjukkan kenaifan pikiran dan mimpi (bait pertama) namun tercermin pula tekanan aktual yang terkadang membuat kebanyakan orang bahkan takut untuk bermimpi (bait kedua) – sebagaimana kita tahu, pelangi (rainbow) sering dipakai sebagai bentuk simbolisasi akan kecerahan dan harapan dengan adanya rundungan akan kegelapan dan kesedihan (raindrops). Hal ini diulang lagi pada dua bait terakhir. Pada dua bait terakhir ini, kata “terbang” sebagaimana sering digunakan sastrawan untuk menggambarkan kondisi “bebas”.

Somewhere over that rainbow
Bluebirds fly
If birds can fly over the rainbow
Why, then why can’t I?

If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow
Why, oh why can’t I?

Optimisme muncul pada bait refrein yang menunjukkan harapan kekanak-kanakan yang naif (klausa “wish upon a star“) di mana “troubles melt like lemon drops” dan penggunaan simbol kegembiraan yang biasa digunakan dalam sastra Inggris “bluebirds”.

Someday I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
And troubles mount like lemon drops
Way above the chimney tops
That’s where you’ll find me

Secara kontur melodis, jika pada bait-bait awal lagu dinyanyikan dengan oktaf yang menaik tajam melalui nada-nada dengan tempo yang panjang, naik-turun nada pada bagian refrein ini disusun oleh Harold Alen sangat sederhana dalam bentuk naik-turun dengan ritme yang sama – sebuah teknik yang sangat simpel bagi pendengar untuk meng-identifikasi bahwa di sini ada keriangan yang ringan.

sovthrs.jpg

Bandingkan saja misalnya dengan bagian akhir lagu anak-anak “Naik Delman” berikut ini misalnya,

kudas.jpg

Pola sederhana melodi dengan kontur naik turun ini pada lagu “Over the Rainbow” menjadikan apa yang “diharapkan” secara naif sebagaimana tercermin pada lirik sangat berbeda dengan “kesedihan” secara naif yang tergambar dari keinginan reflektif atas apa yang utopis dan yang pragmatis – bahasa filsafatnya mungkin: apa yang transenden dan apa yang koersif.

Judy in Wizard of Oz

Judy Garland adalah penyanyi pertamanya dalam film “Wizard of Oz”, sebuah film produksi MGM berdasarkan kisah anak-anak yang ditulis oleh L. Frank Baum (1900). Dalam film ini, Judy memerankan tokoh Dorothy, gadis kampung Amerika dengan rambut pirang ikal berkepang dua yang menyanyi di antara tumpukan jerami, ditemani anjing petaninya yang kecil, berlatar belakang hamparan perkampungan dengan langit yang agak mendung. Lagu ini fenomenal, karena sebenarnya lagu ini tadinya tak ingin dimasukkan sebagai salah satu lagu yang akan digunakan dalam film yang diproduseri oleh Arthur Freed dan Harold Arlen ini, karena tadinya dianggap terlalu lambat tempo musiknya dan melambatkan alur film (musikal “Wizard of Oz” dipenuhi irama yang ber-energi medium hingga tinggi/cepat).

Karir Judy Garland meroket melalui film dan lagu ini, dan hingga saat ini “Over the Rainbow” telah dirilis ulang oleh ratusan artis dari berbagai genre mulai dari musik ensembel jazz hingga riuh rendah marching-band. Katakanlah Aretha Franklin, Barbra Sterissand, Frank Sinatra, Louis Armstrong, Ella Fitzgerald, Eric Clapton, Bobby McFerrin, Bob Marley, Phil Collins, Lea Salonga, Sarah Vaughan, Nana Mouskouri, Kylie Minoque,Mariah Carey, Jewel, Beyonce, Faith Hill, Jessica Simpson, Dave Koz, Kenny G, Queen, Deep Purple, Metallica, Guns ‘n Roses, Stanley Jordan, versi instrumental rock dari maestro gitar Yngwie Malmsteen, Joe Satriani, dan Steve Vai, hingga diva opera Katherine Jenkins dan banyak lagi! Ini belum termasuk puluhan film dengan soundtrack lagu ini sebagai ilustrasinya!

Secara liris, lagu ini jelas merefleksikan utopisme yang berbentur dengan kenyataan hidup yang berat, yang menjadikan mereka yang selalu berjaga di tepi batas impian dan kenyataan selalu merasa berada dalam paradoks. Mungkin kesederhanaan melodis yang bercampur padu secara apik dengan aspek liris kerinduan akan kepolosan cara pikir kanak-kanak yang telah hilang begitu kita beranjak dewasa, menjadikan lagu ini sangat populer, sangat disukai oleh seniman reflektif, dan sekarang menjadi bagian dari aspek mental kognisi kita.

Mari menikmati lagu ini, sembari mengingat-ingat masa kanak-kanak kita, bukan karena lagu ini lagu kanak-kanak, tetapi karena kita telah kehilangan kenaifan kanak-kanak yang punya impian murni akan hidup yang lebih indah dan menyenangkan. Kedewasaan telah membangunkan kita dari impian dan harapan murni seorang manusia yang jika kita paksakan ke dalam realitas nyata menjadikan kegilaan atau penyakit mental pada kita. Namun juga, kita tak boleh terjebak dalam pragmatisme modernitas dan rutin-rutin hidup yang membosankan. Manusia dewasa yang semestinya tentunya adalah yang senantiasa selalu berjaga di garis batas, antara impian dan kenyataan…

Terdapat sebuah hal unik lain pada lagu ini. Sebenarnya lagu ini memiliki stanza awal yang jarang sekali dinyanyikan pada rilis ulang termasuk pada versi aslinya sebagaimana dalam film “The Wizard of Oz”. Biasanya para penyanyi menyanyikannya dalam rilis ulang agar lagunya jadi agak panjang (versi aslinya hanya 2 menit!). Di sini, bisa diunduh lagu rilis ulang yang dinyanyikan Katherine Jenkins yang diiringi National Symphony Orchestra (dipimpin Anthony Inglis) pada penampilan di Llangollen International 9 Juli 2006 yang lalu. Versi ini merupakan versi lengkap dengan stanza yang entah kenapa jarang sekali dinyanyikan dalam live performance, termasuk oleh Judy sendiri.

lg.jpg Somewhere Over the Rainbow – Katherine Jenkins lg.jpg

%d bloggers like this: