jump to navigation

Kesederhanaan yang Memecah Kerumitan: “SEMUA TENTANG KITA” oleh Peterpan (2003) February 3, 2008

Posted by quicchote in modern-pop.
trackback
ppan.jpg

Lagu ini tentang perpisahan dan memori romansa. Dibawakan oleh grup band nasional ngetop, Peter Pan. Pada masa hit-nya (album tahun 2003, “Taman Langit”), lagu ini diputar di mana-mana: di warung tegal, di angkutan kota, di mal dan pusat perbelanjaan sebagai soundtrack cuci mata dan berbelanja, hingga di tengah menanti lampu merah oleh pengamen jalanan – tak peduli waktu, tempat, semua menyanyikan Semua Tentang Kita. Lagu ini menyentuh masyarakat, banyak yang gandrung dan ada pula yang sama sekali tak suka. Tak apa, karena semua pada akhirnya berbicara Semua Tentang Kita.

Terlepas dari suka dan tidak suka ini, ada yang menarik perhatian dalam komposisi lagu ini. Dari segi lirik dan performance. Lagu ini secara sederhana dapat kita bagi dalam 5 stanza puisi dengan dua stanza akhir kita kategorikan sebagai refrain dari lagu ini.

S1
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita tentang kita

S2
Akan tiada lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati

S3
Teringat di saat kita tertawa bersama
Ceritakan semua tentang kita

S4 <Refrain I>
Ada cerita tentang aku dan dia
Dan kita bersama saat dulu kala

S5 <Refrain II>
Ada cerita tentang masa yang indah
Saat kita berduka saat kita tertawa

Stanza pertama hingga ketiga secara melankolis bermain dengan bahasa pilu memori, kata-kata kunci seperti “waktu”. “tiada lagi”, dan “teringat” menggambarkan bahwa bait-bait puitis ini berisi elegi yang berkaitan dengan memori akan kekasih yang telah pergi. Agak berbeda dengan bait keempat dan kelima yang masih bersifat sentimental dan melankoli, namun menunjukkan sebuah memori akan perasaan gembira.

Namun, terdapat kepelikan yang menarik sekali ketika kita perhatikan kontur nada dari melodi monofonik lagu ini. Secara sederhana, kita dapat menunjukkan bahwa terdapat 3 variasi melodi di sini yang sungguh sangat identik satu sama lain!

Variasi Pertama adalah intro yang secara implementatif dimainkan dengan permainan gitar akustik tunggal dengan pola kontur nada umum kira-kira:

ppan001s.jpg

yang dalam lagu Peterpan: [var1.wma]lg.jpg

Sementara Variasi Kedua diisi dengan lirik pada puisi bait pertama, kedua, dan ketiga yang kira-kira dapat ditulis:

ppan002s.jpg

yang dalam lagu Peterpan: [var2.wma]lg.jpg

Dan Variasi Ketiga sebagai variasi refrein dari lagu yang secara sederhana dapat ditulis:

ppan003s.jpg

Oleh Peterpan disenandungkan: [var3.wma]lg.jpg

Apa yang heboh dari ketiga sekuen nada-nada ini dalam lagu yang diciptakan oleh Ariel ini? Yang heboh tentunya adalah bahwa lagu ini terdengar di mana-mana di seluruh pelosok tanah air. Namun kehebohan ini muncul dari kesederhanaan yang sangat menarik. Yang menarik adalah bahwa ketiganya sebenarnya dapat dianggap sebagai bentuk variasi satu deret melodi, artinya jika ketiga susunan melodi ini kita mainkan secara bersama-sama (kanon) maka yang terdengar adalah harmoni yang tunggal dan serupa satu sama lain. Coba simak kanon yang terbentuk dari ketiganya:

lg.jpgVariasi pertama dan kedua secara kanon: [var1dan2.wma]

lg.jpgVariasi kedua dan ketiga secara kanon: [var2dan3.wma]

lg.jpgVariasi Satu, Dua, dan Tiga secara kanon: [var123.wma]

Tercipta harmoni yang tepat sekali secara melodis! Variasi lagu ini secara komposisional luar biasa sederhana, dengan kadens (urutan chord) yang monoton namun permainan kontur menjadi kekuatan lagu ini sehingga seolah-seolah dinamis bagi pendengar pop yang awam – tidak ada variasi di bidang tempo sama sekali. Mungkin lagu ini memang mesti seperti ini, sangat ringkas secara komposisional, namun yang menarik adalah komponisnya memainkan aliran lirik (bait 1, 2, 3 dilanjutkan dengan bait refrain 4 dan 5) sedemikian proporsional dengan pola oktaf meninggi (tangga oktaf intro jelas lebih rendah daripada oktaf yang diisi dengan lirik).

Kesederhanaan yang berdosis pas bercampur tema melankolia yang dibawakan, serta aliran bait-demi-bait pada lirik yang mengisi aliran variasi-variasi melodi dasar yang digunakan mungkin adalah kunci kesuksesan lagu ini – tentu dengan tidak bermaksud sama sekali mengucilkan peran yang luar biasa besar dari perusahaan rekaman major label MUSICA Studios pada kiprah produser Noey & Capung, dengan pola manajemen marketing yang tak henti-henti mengisi sistem kognitif manusia Indonesia melalui repetisi di berbagai media sebagaimana memang “tugas” industri kebudayaan di masa pos-kapitalisme sekarang ini.

Lagu ini luar biasa sederhana, namun berhasil mengatasi kompleksitas pola pemasaran di tengah-tengah masyarakat Indonesia dengan penjualan album perdana yang menggenjot karir musik Peterpan dengan penjualan yang menghadiahi album ini Triple Platinum. Debut nasional pertama Peterpan dengan kesederhanaan ini sungguh sangat menarik perhatian. Lagu-lagu dalam album “Taman Langit” yang memuat lagu ini pada umumnya sejenis, dan kesederhanaan komposisi mungkin adalah kunci bersaing di era informasi saat ini.

Era informasi telah menghadirkan berbagai perangkat media untuk mengkampanyekan musik dan alunan nada-nada, irama, dan lirik. Era informasi ini melahirkan pula begitu banyak pilihan dan proses kreatif mestinya mengalami perubahan ketika berhadapan dengan demand pasar musik yang menuntut kesederhanaan komposisi. Dari pilihan yang banyak sementara waktu yang tersisa untuk mendengar musik mesti bercampur dengan waktu untuk bekerja menanak nasi, menyetir angkutan kota, mengangkat goni beras, atau menunggu taksi sambil mendengarkan iPod menjadikan komposisi yang sederhana cenderung jauh lebih disukai. Kegetiran sosial dan ekonomi, perasaan yang memfiksasi kekerasan hidup ke dalam bentuk sentimentalia dan melankolia melahirkan lagu-lagu serupa ini. Ya, bagaimanapun budaya pop, dalam hal ini musik pop berisi gambaran kolektif sistem kognisi tentang kita semua: …semua tentang kita.

wink.png

Comments

1. Lolita - February 10, 2008

Wuih!!!
Hebat banget…sedang sangat berkutat dengan batik ya bang..saya jadi belajar banyak…terutama tentang fugue dan komposisi ‘terbang’nya
tapi bang, kalo pengamatan saya terhadap batik dan fugue ini agak berbeda…kalo batik saya melihat hasil keseluruhan komposisinya yang sangat cantik terlebih dahulu, kemudian saya ‘terjun’ mengamati motif dasarnya…mmm….mungkin memang udah pola pengamatan yang seperti itu telah dibentuk di TI atau karena alasan mata saya yang kurang peka…
sedangkan fugue memang disajikan motif dasarnya terlebih dulu…

Terima kasih untuk pengetahuannya..

2. Lolita - February 10, 2008

uuppsss…salah naruh comment..

busyet deh…lagu peter pan ini dibedah sampe sgitunya..

iya bang, kesederhanaan memang kuncinya..
keberterimaan
pengimplemetasian
…lalu keberhasilan

hebat!!

3. ahzam - March 9, 2008

kenapa peterpan hrs memecat andhika dan indra


Sorry comments are closed for this entry

%d bloggers like this: