jump to navigation

Dari Ave Maria ke Jalan Lain Dari Leipzig: Antara Bach dan Gounod February 4, 2008

Posted by quicchote in baroque.
trackback
bp1.jpg

Judul di atas mengingatkan kita pada karya prosais Angkatan ’45, Idrus, yang buku kumpulan fiksinya diterbitkan dengan judul “Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma”. Sebagai penulis prosa, tugas Idrus terkadang lebih berat daripada tugas sastrawan pada masa itu mengingat sensor tegas yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Jepang; bagaimanapun prosa berbeda dengan puisi ‘kan? Idrus mesti menghasilkan karya yang tidak gampang diinterpretasi oleh badan sensor Jepang, namun mesti dapat membakar semangat dan vitalitas pemuda pejuang pada masa itu untuk kemerdekaan kita. Di sini, peran antara kreator karya seni mesti terkait dengan respon apresiatif dari reseptor karya seni tersebut. Sehebat-hebat karya seni, ia mesti diapresiasi melalui interpretasi yang akurat. Sebuah kreasi yang cerdas tak akan berarti apa-apa tanpa interpretasi yang cerdas atas kreasi tersebut. Idrus sudah membuktikannya di tanah air melalui cerpennya “Ave Maria”, demikian pula dengan komponis Perancis, Charles Gounod, yang menjadi subyek kreasi dari apa yang meng-inspirasi karya Idrus tersebut: Ave Maria.

Proses kreatif Gounod atas komposisi: “Ave Maria” mungkin sebuah contoh yang pas untuk ketertautan lebih dari satu abad karya Johann Sebastian Bach (1685-1750) yang dikenal sebagai Prelude I C-Mayor Well-Tempered Clavier Buku I dan karya Charles Gounod (1818-1893) yang terkenal sebagai lagu “Ave Maria”. Johann Sebastian Bach memang terkenal dengan musiknya yang penuh teka-teki – sekaligus memberikan warna pada tonggak sejarah musik klasik periodisasi Barok (ia berada pada satu periodisasi musik dengan G.W.F. Handel, Georg Phillip Tellemann, dll.). Skill musik Bach yang luar biasa mungkin adalah hulu dari semua kreativitasnya: ia mahir memainkan alat musik apapun di samping mampu melakukan interpolasi dan artikulasi artistik melalui kemahirannya tersebut). Satu kelompok karya Bach yang paling sering menjadi arena diskusi yang tak pernah habis-habisnya ada pada dua buku komposisi musiknya: Das wohltemperierte Clavier alias Well-Tempered Clavier.

Klavier adalah alat musik dengan papan-kunci (keyboard), dan Bach adalah ahlinya dalam memainkan alat musik semacam ini. Bisa kita bayangkan jemari Bach memainkan nada-nada berikut ini yang merupakan Prelude pertama dari komposisinya yang dikhususnya untuk klavier:

bach-parts.jpg

Bahkan seorang yang tak begitu akrab dengan notasi musik pun kira-kira bisa menebak, naik turun nada yang dimunculkan oleh untaian melodi tersebut. Mari kita coba dengarkan dengan lengkap Prelude yang lengkap dari potongan yang digambarkan di atas, yang dimainkan pada piano…

Apa yang terasa sebenarnya mendengarkan lagu tersebut? Ya, apapun bisa kita rasakan. Ada sebuah kekhidmatan dari melodi atas nada-nada yang berulang-ulang tersebut. Ada sebuah nuansa spiritual dan emosi keberserahan yang kuat di sana, ketika ada “pusaran” dan “putaran” nada yang seolah repetitif namun pada kenyataannya tak begitu. Terkesan repetitif karena komposisi itu memang dimainkan secara arpeggio, yaitu bentuk chord yang tidak dimainkan serempak, melainkan secara berurutan.

Jika kita bermain gitar atau organ, misalnya, satu kunci (chord) dimainkan maka kita sebenarnya membunyikan 3 atau lebih nada sekaligus. Namun coba bandingkan ketika kita membunyikan, katakanlah, kunci C, dengan membunyikan kunci C tetapi dengan memetik (atau menekan tuts) satu persatu (dari rendah ke tinggi secara berurutan), maka apa yang terasa? Arpeggio memang ditujukan untuk memberikan kesan lambat yang khidmat melalui rentetan kontinum dari nada-nada pada instrumen seperti klavier, gitar, piano, harpa, organ, dan sebagainya. Dan inilah yang dibaca dan diinterpretasi secara cerdas oleh Gounod.

Interpretasi Gounod pada sekuen nada Prelude Pertama di atas, kira-kira dapat dituliskan sebagai:

goun-parts.jpg

Ya! Ini adalah untaian nada penyusun Gounod berdasarkan tekstur musik yang diketengahkan Bach yang oleh klaim gereja katolik Roma pada masa itu dikenal oleh kita sekarang sebagai lagu “Ave Maria”. Sangat berbeda dengan untaian sebelumnya, bukan? Namun akhirnya terasa paduan harmoni yang memang khidmat, cocok dengan lagu Ave Maria yang isinya adalah untaian puja-puji umat Katolik kepada Bunda Maria – ibarat seorang anak yang sedang meminta sesuatu kepada ibunya: sedikit memelas, namun berusaha tidak cengeng, tidak sedih tapi tak pula meledak-ledak, sebuah ungkapan dan pinta yang halus dari seorang anak kepada ibunya.

Berikut adalah nyanyian Pavarotti untuk komposisi Gounod:

Kekhidmatan yang ditimbulkan oleh komposisi Gounod tersebut seolah membuka kunci teka-teki arpeggio yang ditulis oleh Bach lebih dari seratus tahun sebelumnya. Agar lebih jelas, coba kita lihat kontur (naik-turun) melodi dalam sistem koordinat Cartesian berikut dalam 40 detik pertama dari lagu “Ave Maria” dan komposisi Bach:

gvsb_conturs.jpg

Interpretasi Gounod sungguh luar biasa. Ia menerjemahkan pikiran Bach sehingga kita gampang mencerna kekhidmatan yang dikunci dalam arpeggio Bach tersebut. Ini sungguh hal yang yang sangat menarik, pilu, dan melankolis. Aroma “Ave Maria” menjadi tertempel dari arpeggio Bach sehingga seseorang pada hari ini bisa terkecoh dan mengatakan, “wah, Ave Maria-nya gak lengkap….”, ketika ia menonton pagelaran musik kamar yang menampilkan Prelude Pertama Well-Tempered Clavier Bach ini.

gounod.jpg

Hampir sepuluh dekade jarak dari Bach ke Gounod sehingga apresiasi kekhidmatan Bach dapat tercerna dengan sempurna dalam Ave Maria – tak diketahui pasti apakah ada tendensi Bach untuk personifikasi Bunda Maria pada lagu ini, namun itulah kekuatan inspirasional dari sebuah interpretasi yang sangat baik. Lebih dari dua puluh dekade berikutnya, Ave Maria telah pula menjadi alegori seorang putra Sumatera Barat bernama Idrus, yang ingin menyampaikan ekspresi perjuangan angkatan 45 ke khalayak sastra Indonesia. Interpretasi terus berjalan dan kita hanya bisa makin berdecak kagum pada seorang Johann Sebastian Bach…. seorang Gounod…. seorang Idrus…

Hampir 3 abad kemudian, ketika kebudayaan tak lagi berpusat di istana (istana-sentris) dan garda depan (avant garde) seni budaya telah bergeser dari patron politik ke berbagai perusahaan multinasional dan Bach-Gounod telah bisa dinikmati oleh sebanyak mungkin orang, melalui hasil rekaman kualitas Hi-Fi hingga kumpulan mp3 dari penjualan CD bajakan, dipagelarkan banyak interpretasi modern (bahkan posmodern) akan karya-karya Bach. Salah satunya adalah ekspolorasi musik yang dilakukan Bobby McFerrin, penyanyi akapella yang meraih Grammy tahun 1988 ini, mengajak ribuan penonton untuk menginteraksikan Gounod dan Bach pada sebuah program di alun-alun kota Lepizig (acara bernama Swinging Bach pada tahun 2000) untuk memperingati 250 tahun berpulangnya Johann Sebastian. Bobby meminta penonton untuk menyanyikan lagu “Ave Maria” sementara ia sendiri menyanyikan bagian arpeggio prelude Bach-nya.

bobbach.jpg

Mari menikmati kekuatan interpretasi, bahwa interpretasi bisa “mengubah” cara pandang yang bahkan mungkin tak terpikir oleh kreator karya budaya itu sendiri. Karena elemen dasar dari budaya memang adalah interpretasi: dari interpretasi lahir apresiasi, dari apresiasi lahir imitasi dan inovasi, dan dari dua yang terakhir maka budaya berproduksi…

Dari Ave Maria ke jalan lain dari Leipzig…
Dari Bach ke jalan lain ke Gounod…
Dari masa Barok ke jalan lain ke angkatan 45…
dan akhirnya,
Dari Arpeggio ke jalan lain ke Akapella…

%d bloggers like this: