jump to navigation

Batik di visual = Fuga di musik? February 10, 2008

Posted by quicchote in baroque.
trackback
battbch.jpg

Batik merupakan ikhwal kriya tekstil yang tak asing bagi kita, bangsa Indonesia. Berbagai bahan sandang memiliki corak batik, khususnya berbagai sandang dari masyarakat Indonesia yang tinggal di pulau jawa dan beberapa tempat di Sumatera, misalnya Jambi, mulai dari kain sarung, kopiah, kemeja, bahkan kerudung dan banyak lagi. Namun hal yang sangat menarik dengan batik adalah bahwa ia merupakan konsep yang tidak sederhana bahkan dari sisi etimologinya. Batik dapat merepresentasikan ornamentasi yang unik dan rumit dalam corak dan warna dan bentuk-bentuk geometris yang ditampilkannya. Namun yang terpenting adalah bahwa batik dapat pula merepresentasikan proses dari pembuatan corak dan ornamentasi yang ditunjukkan di dalamnya.

Proses batik atau dalam verbia disebut pula sebagai “mbatik”, merupakan hal yang tidak sesederhana menggambarkan sebuah lukisan, misalnya. Multiperspektif yang terpancar dari ornamentasinya merupakan hasil dari proses dan tahapan-tahapan pseudo-algoritmik yang sangat menarik. Berdasarkan publikasi “Batik: The Impact of Time and Environment” oleh H. Santosa Doellah yang diterbitkan oleh Danar Hadi, terdapat setidaknya tiga tahapan proses dalam ornamentasi batik, yakni:

1. “Klowongan“, yang merupakan proses penggambaran dan pembentukan elemen dasar dari disain batik secara umum.

2. “Isen-isen“, yaitu proses pengisian bagian-bagian dari ornamen dari pola isen yang ditentukan. Terdapat beberapa pola yang biasa digunakan secara tradisional seperti motif cecek, sawut, cecek sawut, sisik melik, dan sebagainya.

3. Ornamentasi Harmoni, yaitu penempatan berbagai latar belakang dari desain secara keseluruhan sehingga menunjukkan harmonisasi secara umum. Pola yang digunakan biasanya adalah pola ukel, galar, gringsing, atau beberapa pengaturan yang menunjukkan modifikasi tertentu dari pola isen, misalnya sekar sedhah, rembyang, sekar pacar, dan sebagainya.

Gambar berikut menunjukkan ketiga tahapan di atas:

bat1.jpg

Dari sini terlihat bahwa corak batik merupakan bentuk dari totalitas keseluruhan komposisional dari semua elemen-elemen penyusunnya: corak batik tidak dapat dinilai dari satu pola penyusun saja, melainkan mesti secara keseluruhan yang memberi iluminasi atas keindahannya. Inilah keindahan dari batik, bahwa keseluruhan bukan menjadi sekadar penjumlahan dari elemen-elemen penyusunnya secara linier, melainkan interaksi antara elemen penyusunnya bentuk komposisi visualnya secara total dalam perspektif yang tidak terjebak dalam satu singularitas bentuk berpola. Kata kuncinya tentu adalah harmoni dan keseimbangan. Ini merupakan hakikat dan filosofi dasar dari realm ketimuran yang senantiasa tidak selalu berada dalam satu polar sikap, namun senantiasa berada pada “jalan tengah”, bentuk harmoni yang juga tercermin dalam berbagai norma dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jawa dan Melayu secara umum.

Di sisi lain, fugue sebagai sebuah komposisi musik yang memiliki tekstur suara kanonik yang tersusun oleh bentuk bermelodi yang terkait dan terpilin satu sama lain secara sistematis dan harmonis. Di tangan seorang komponis musik, fugue merupakan bentuk eksploitasi dari abstraksi melodi dan harmoni dari nada-nada sebagai satu gagasan dasar atau rumusan dasar. Sebagai sebuah proses, pembentukan fugue dapat ditunjukkan dalam setidaknya tiga langkah, yakni

1. “Motif Dasar” sebagai pola dasar yang merupakan bentuk dasar dari fugue. Nada-nada disusun sedemikian sehingga membentuk melodi monofonik yang menjadi tema utama dari fugue.

2. “Topik” yang sering merupakan bentuk imitatif dari motif dasar yang menentukan topikalitas dari lagu. Secara mendasar, topik ini menjadi landasan “pengisian” secara variatif melodis dari motif dasar dari fugue.

3. “Eksposisi” yaitu bentuk total dengan harmoni. Di sini, beberapa suara dari satu jenis atau lebih alat musik mengisi kekosongan waktu sela nada satu sama lain menghasilkan pola harmonis yang saling “menyeimbangkan” antara melodi dari satu suara dengan suara lain. Di sinilah letak inti paling utama yang jadi ujung tombak dari keindahan fugue. Harmoni dan keseimbangan jelas menjadi inti utama dari bagian finalisasi akhir ini.

Sebuah contoh yang menarik untuk tekstur musikal dari fugue ini adalah fugue yang dikomposisi oleh Johann Sebastian Bach dalam C-Minor pada Well-Tampered Clavier Buku Pertama No. 2.

Bagian motif dasar kira-kira bisa ditulis…
bat1a.jpg

yang berbunyi: lg.jpg [motif_dasar.mp3]

Bagian topik…

bat2s.jpg

yang berbunyi: lg.jpg [topik.mp3]

dan eksposisinya…

bat4s.jpg

yang berbunyi secara lengkap: lg.jpg [eksposisi.mp3]

Sebuah komposisi fugal (fugu secara keseluruhan) diawali dengan bentuk perkenalan dengan memainkan motif sebagai desain fundamental dari fugue dan langsung diikuti dengan komposisi yang menunjukkan variasi dari motif dasar yang baru dimainkan terus saja kemudian masuk suara kedua yang mengimitasi model pertama dari motif terus ke topik sementara suara pertama terus saja memainkan pola topik – terkadang dengan variasi-variasi yang sepenuhnya bergantung pada kreatifitas estetik dari komponis. Suara pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya bisa saja ditulis untuk satu alat musik atau vokal, namun boleh juga untuk alat musik atau vokal yang berbeda. Dari sini terlihat jelas bahwa harmoni menjadi hal terpenting dari fugue dengan penekanan estetika pada bagian eksposisi musik fugue.

Menarik sekali, karena tiga proses pseudo-algoritmik pada komposisi fugue memiliki kemiripan yang kuat dengan proses batik. Sama seperti batik, fugue tidak dapat dinikmati hanya dengan mendengarkan bagian motif dasar ataupun bagian topik, melainkan mesti dinikmati secara utuh sebagai bagian dari eksposisi. Baik batik maupun fugue tidak bisa dinikmati hanya dengan mempersepsi elemen-elemen penyusunnya, tapi mesti sebagai bentuk totalitas dan harmonisasinya secara utuh. Fakta ini dan proses komposisionalnya merupakan hal yang sangat menggoda untuk menunjukkan kesamaan antara batik pada seni visual dan fugue pada seni musik. Ini tentu merupakan suatu hal yang sungguh menarik dan bentuk luar biasa dari interaksi persepsional estetis dan kritis antara budaya barat dan timur, antara seni rupa dan seni musik secara umum.

Fugue, dalam bahasa Latin, dapat berarti “terbang“, dinamai demikian mungkin karena urut-urutan fugue mulai dari elemen motif dasar hingga eksposisinya yang kompleks seolah menggambarkan secara imajinatif proses lepas landas secara musikal. Secara intuitif, sungguh menarik juga memberikan proposisi umum bahwa fugue jelas tak sekadar lagu, nyanyian, atau lantunan melodis dengan tekstur harmonik belaka, karena konsep fugue, seperti halnya konsep batik, juga dapat merepresentasikan proses komposisional (bunyi).

Batik bukan sekadar ornamentasi dan motif, ia adalah proses komposisional dari bentuk visual berpola.
Fugue bukan sekadar untaian melodi harmonis, ia adalah proses komposisional dari bunyi berpola.
Secara menarik, di sini batik secara inspirasional menjelaskan bagaimana kita dapat meng-apresiasi fugue secara utuh…

%d bloggers like this: