jump to navigation

Mendekode emosi “Udara pada Senar G” August 9, 2008

Posted by quicchote in baroque, modern-pop.
trackback

Lagu ini telah hampir-hampir menjadi banal saat hari ini kita berusaha meng-apresiasinya. Ia telah sering menjadi ringtone di dunia hiper-real di tengah bit-bit informasi yang membludak membanjiri relung-relung artifak telepon selular kita. Udara adalah perlambang kebebasan, atau setidaknya keinginan untuk bebas dari kungkungan. Di hemisfer utara planit ini, dan mungkin juga di antara kita kini, udara menyimbolkan dinamika yang kuat. Namun kebebasan sedinamis udara pun justru seringkali merupakan kungkungan: orang justru bisa menjadi merasa bebas ketika kasih sayang menjadi terali penjara. Setelah lebih dari tiga abad, karya seni musik berupaya membedah tendensi lagu ini: sadar atau tidak sadar. Sebagaimana fisikawan Blaise Pascal selalu mengatakan: hati memiliki cara berfikir yang tak dimiliki otak, maka estetika juga dapat menyingkap motif logis dengan cara yang menawan…

Tak banyak yang bisa bercerita tentang latar belakang musik “Udara” Air on G String dalam versi aslinya, yaitu gerakan kedua dari Ouverture No. 3 dalam D-Mayor karya komposer besar klasik, Johann Sebastian Bach. Ouverture merupakan bentuk musik khas periode Barok (abad ke-17  hingga pertengahan abad ke-18). Musik ini kemungkinan ditulis ketika Johann melakukan perjalanan tur di kota Cöthen, sebuah tempat dengan masa yang penuh dinamika berirama tinggi dalam kehidupannya. Kematian isterinya secara mendadak telah digantikan oleh kekasihnya yang jauh lebih mencintainya secara penuh.

Disebut “penuh”, karena meski keduanya terpaut perbedaan usia yang jauh: Anna berusia 20 tahun menikahi duda Johann yang berusia 36 tahun, Anna merupakan kekasih yang sangat memahami musik Johann. Saat Johann akhirnya menderita kebutaan, dunia berhutang budi pada Anna karena kita masih dapat menikmati karya-karya besar  dan fenomenalnya melalui jasa Anna yang senantiasa mentranskripsi dan menulis untuk sang suami.

Ketertekanan Johann oleh kepergian isteri pertamanya tiba-tiba menjadi sebuah aras kegembiraan yang pilu dengan kehadiran Anna. Johann mempersembahkan sebuah notebook untuk Anna, sang isteri, sekumpulan komposisi musik yang luar biasa, yang sekarang kita kenal sebagai kumpulan musik “Nutenbuchlen fur Anna Magdalena” (Buku Catatan untuk Anna Magdalena).

Kegembiraan yang pilu dan bebasnya dari keterbelengguan mungkin tertuang pada emosi yang lahir dengan refleksi gerakan kedua ouverture yang dimainkan dalam tangga nada D-mayor ini. Adalah August Wilhelmj di awal abad ke-20 yang lalu mempopulerkan melodi yang mengawinkan luar biasa selaras antara harmoni dan melodi ini yang sekaligus merayakan kegeniusan melodis seorang Johann. Kekayaan emosional yang tertuang pada lagu bertajuk “Udara” ini, diyakini menjadikannya pusat dari ouverture. Kegeniusan Johann berpadu dengan kecanggihan violis August, yang menggeser kunci permainan musik dari D-Mayor ke C-Mayor. Tujuannya agar dapat dimainkan hanya pada satu senar dari biola, yaitu senar yang bernada G (seyogianya senar keempat biola biasa atau sering pula di-stem sebagai senar pertama pada cello). Akhirnya, nama untuk lagu ini pun sebagaimana yang sering kita dengar:  “Udara pada senar G” (Air on G String)!

Mari mendengar lagu ini dimainkan dalam sebuah cello oleh Julian Lloyd Webber (1980).

Tiga abad setelah Bach dan se-abad setelah Wilhelmj, gitaris rock legendaris, Yngwie Malmsteen ber-interpretasi atas lagu ini. Lagu berjudul “Prisoner of Your Love” (1994) lahir dalam album “The Seventh Sign” dan tanpa sadar mengingatkan keriangan pilu Bach dalam lirik dan nada refrain musik Air on G string. Entah apa yang ada di kepala seorang Yngwie yang meng-interpretasi sekuen nada-nada ini menjadi stanza liris:

My heart fell into the palms of your hands, this love made me understand
I’ve waited all my life for you, thought i’d live and die alone!
enraptured by the beauty, I’m a prisoner of your love…
enslaved by the passion, I’m a prisoner of your love…

Dengarkan lagunya sambil melihat montague yang dibuat seorang fans.

Mungkinkah ini refleksi verbal seorang Johann pada Anna yang muncul di tengah kepiluannya?

Album ‘Premier‘ Katherine Jenkins, penyanyi opera mezzo soprano dari Wales (2004) mengetengahkan sebuah variasi melodis dari lagu ini secara menarik. Berbeda dengan Yngwie yang memberi variasi dan hanya mengadaptasi ouverture Johann pada bagian refrain, Katherine membiarkan cello, piano, dan biola memainkan Air on G String secara penuh, ketika vokalnya bersenandung seolah mengikuti musik Bach tersebut. Seolah Katherine memberi sahutan vokal pada melodi harmonis Bach. Apik sekali variasinya, bisa dilihat pada potongan lagu berikut:

Mari simak lagu dari album perdana Jenkins ini…

Katherine mengambil puisi sastrawan Skotalandia Herbert J.C. Grierson sebagai lirik dari lagu ini dari kumpulan puisi Inggris klasik “Metaphysical Lyrics & Poems of the 17th“. Perhatikan liriknya:

Sweetest love, I do not go, For weariness of thee
Nor hope the world can show a fitter love for me, Sweetest love.

O how feeble is man’s power, That if good fortune fall,
Cannot add another hour, Nor a lost hour recall…

When thou sigh’st, thou sigh’st not wind, But sigh’st my soul away,
When thou weepst life’s blood doth decay.

Let not thy driving heart, Forethink me any ill,
Destiny must take thy part, And may thy fears fulfil.

If thou lov’st me as thou say’st, If in thine my life doth waste,
Thou art the best of me.

…tak berlebihan jika ini seolah menjadi jawaban liris seorang Anna yang sangat muda namun memiliki kedewasaan verbal yang kuat atas untaian emosional nada-nada Johann. Sebuah perjalanan panjang lebih dari tiga abad mendekode musik seorang Johann Sebastian Bach.

Seolah sebuah drama akbar panggung musik dunia: Yngwie J. Malmsteen yang rocker dan gitaris metal meneriakkan lantunan paling pribadi dari Bach “Prisoner of Your Love” dan Katherine Jenkins yang lekat-lekat memberi senyuman termanis pada Johann sambil mempersembahkan “Sweetest Love“.

Sebuah drama dalam sejarah musik berdurasi ratusan tahun: Yngwie sebagai Johann, Katherine sebagai Anna.

%d bloggers like this: