jump to navigation

Kemudaan dalam Tematika Musikalitas Pop October 22, 2008

Posted by quicchote in modern-pop, tematik.
trackback

Musik pop adalah musiknya anak muda. Pop berarti populer, ia tersuarakan dalam lirik yang berusaha mewakili suara mereka yang tergolong muda dan sekaligus pasar industri musik, sayatan melodi dalam cabikan senar gitar, genderang drum yang cepat dan dinamis bahkan dalam hentakan (baca: beat) dan irama, dan belakangan melalui teknologi sinkronisasi frekuensi-ritme dengan bantuan devais elektronik dan komputer. Anak muda tersuarakan dalam musikalitas pop yang digandrunginya, namun bagaimanakah musikalitas yang menjadi ikon sub-kultur muda ini berbicara tentang kemudaan itu sendiri? Lebih jauh, menjadi tua adalah sebuah takdir yang merupakan dinamika berfungsi waktu. Tanpa sadar, menjadi tua adalah hal yang tak diinginkan karena secara representatif, ketuaan memberikan asosiasi akan stagnasi, anti-dinamika dan perubahan, dan rendahnya progresifitas.

Terdapat beberapa lagu yang secara liris bertema tentang apa yang dipandang sebagai muda kontras atas kenyataan bahwa kemudaan tersebut terkait dengan usia dan semangat. Bahkan frasa “Forever Young” sangat banyak digunakan sebagai judul lagu. Sebuah keinginan untuk menjadi muda tentu karena kemudaan memiliki sifat-sifat yang ignin senantiasa dipertahankan, namun secara natural seringkali akhirnya kandas dan hilang seiring bertambahkan usia.

Musikalitas pop, khususnya, semenjak musik mulai dipersiarkan (broadcast over air) telah melahirkan banyak lagu yang bertitik tolak pada liris. Kita meninjau beberapa lagu dari genre musik populer terkait kemudaan dari sisi lirisnya berikut ini. “Forever Young” karya grup band rock Alphaville (1984), “Forever Young” karya musisi folk yang menjadi inspirator musik rock Amerika Serikat Bob Dylan (1973), “Forever Young“-nya Rod Stewart (1985) serta “Never Grow Old” dari grup musik Irlandia The Cranberries (2001). Dari lirik lagu-lagu ini, kita akan mencoba membaca bagaimana sifat kemudaan itu terdefinisi, dan bahwa kemudaan adalah representasi keinginan dan kerinduan akan keabadian. Karena kemudaan adalah dinamika, dan seperti ungkapan feminis posmodernis Simon de Beauvoir, “lawan dari muda bukanlah menjadi tua, melainkan mati“.

Koleksi lagu paling tua dengan tajuk “Forever Young” mungkin adalah gubahan musisi luar biasa Bob Dylan. Lagu ini dirilis ulang oleh banyak musisi pop lainnya, seperti misalnya Diana Ross (Album Swept Away, 1984), grup band The Pretenders (Album Last of the Independents, 1994), musisi aktivis Joan Baez (1973), dan terakhir musisi rock Meat Loaf (Album Couldn’t Have Said It Better, 2003). Diakui sebagai bentuk ketaksengajaan, Rod Stweart dalam albumnya Out of Order (1988) merilis lagu dengan pola rima liris yang sama namun dengan berbagai elemen lirik yang agak berbeda. Bob dan Rod berdamai dan saling berbagi royalti atas penjualan album ini. Rod mungkin tak sengaja pernah mendengar lagu yang jelas membumbungkan nama Bob Dylan ini dan inspirasinya memberikan inspirasi atas gubahannya sendiri. Secara sepintas lagu ini berisi pesan dan petuah seorang yang lebih tua (orang tua) kepada yang lebih muda (anak) namun dengan penekanan sifat-sifat kemudaan yang ditonjolkan baik dan diakhiri dengan pesan untuk selalu menjadi muda. Lagu “Forever Young” Bob Dylan dapat dilihat di: http://www.youtube.com/watch?v=VSpAWVa4Jak sementara yang dinyanyikan Rod Stewart di: http://www.youtube.com/watch?v=OHNeRjC4nJw

Agak berbeda dengan Bob dan Rod, grup band rock ‘n roll, Alphaville tadinya bernama “Forever Young” dengan hits mereka yang memang sangat terkenal bertajuk ini. Alphaville yang musisi pop rock yang merupakan salah satu pelopor dalam akuisisi dominan synthesizer ini secara liris menunjukkan pola deklaratif untuk menjadi selalu muda. Hampir senada dengan sastrawan Indonesia, Chairil Anwar, lirik Alphaville beberapa kali terdengar menyuarakan keinginan untuk “die young or live forever“. Deklarasi untuk tak mau menjadi tua menjadi tema dari lagu ini dengan menampilkan keinginan untuk senantiasa dinamis (pemilihan kata “dance“, “adventure“, “dreams come true“) merupakan isi lirik lagu ini. Tak heran, lagu deklaratif ini telah beberapa kali pula dirilis ulang, katakanlah misalnya oleh artis Laura Branigan (Album Hold Me, 1985), dan baru-baru ini oleh grup musik Youth Group (2006) dan terakhir oleh Rooney setahun yang lalu (2007). Video klip lagu ini dapat disimak di: http://www.youtube.com/watch?v=n7CuJ8cR9sg

Jika Bob & Rod memberi petuah untuk senantiasa muda dan Alphaville menyuarakan deklarasi untuk keinginan untuk selalu muda, maka grup musik rock Irlandia ber-vokal unik The Cranberries menggubah lagu berpesan untuk tak ingin menjadi tua dengan tajuk “Never grow old” dalam album mereka “Wake Up And Smell the Coffee” (2001). Sebagaimana sepintas digambarkan tajuknya, lagu ini mengkontraskan kemudaan dengan kesempurnaan situasi muda, ketenangan, dan mimpi. Kegembiraan muda adalah apa yang secara apik ditampilkan oleh The Cranberries. Lagu ini dapat disimak di: http://www.youtube.com/watch?v=wVC-veJ6eQ8

Sebenarnya bagaimana secara umum musisi-musisi yang merepresentasikan kemudaan dalam wacana subkultur muda global? Untuk ini kita dapat mencoba melihat bagaimana satu konsep terkait dalam konsep lain dalam lirik-lirik mereka secara detail. Setiap konsep (kata) terkait dengan konsep (kata) lain jika digunakan dalam satu kalimat lagu. Hasilnya adalah jaring-jaring  konsep (kata) yang terhubung jika digunakan dalam satu kalimat liris dalam lagu-lagu mereka secara keseluruhan. Kita berharap meng-ekstrak secara visual, bagaimana tren-setter musik dunia ini merepresentasikan “kemudaan” dalam lirik-lirik lagu mereka. Menarik, karena kita dapat melihat sebagaimana ditunjukkan pada gambar di bawah ini… (klik pada gambar untuk memperbesar).

Dari jaring-jaring tersebut terlihat beberapa sifat-sifat kemudaan yang ingin ditampilkan dalam lirik-lirik lagu-lagu modern pop ini. Kemudaan ditampilkan terkait reat dengan konsep kelincahan (swift feet, hands, dan sebagainya), kegembiraan (joyful), keteguhan sikap (stand up right), keberanian (courageous), keyakinan akan kebenaran (know the truth), nyanyi dan lagu (song, play), bahkan nilai spiritual, sebagai kelompok (cluster) dengan butir-butir keterkaitan konsep terbanyak dalam jaringan tersebut. Ketika ia terkait dengan ke-aku-an kaum muda, maka konsep seperti impian (dreams), kesempurnaan situasional, pengalaman, dan kegembiraan muncul.

Namun ketika terkait dengan konsep “menjadi tua”, konsep-konsep lemah seperti kesulitan, kematian, dan kepudaran muncul. Ini menjadi point-point penting yang menunjukkan adanya representasi dan keinginan untuk senantiasa muda sebagaimana ditunjukkan dalam lagu-lagu tersebut. Dalam analisis kuantitatif, jika frekuensi dan kekuatan antar konsep sebagai bentuk perulangan dalam syair kita perhitungkan, maka kita akan mendapati konsep “young“, “live“, “forever young“, “song“, “dreams” sebagai beberapa konsep yang penting dalam lirik-lirik tiga lagu penting ini. Tiga lagu ini secara implisit juga menunjukkan akan yang muda yang tak suka dengan perseteruan bersenjata atau perang dengan munculnya konsep-konsep terkait “bomb“, “leaders“, “power“, dan sebagainya, sementara berbagai konsep terkait musik dan kegembiraan dan kebebasan ekspresif senantiasa muncul melalui kata “melody“, “beat“, “dance“, “swinging“, dan sebagainya.

Bagaimana dengan lagu-lagu pop modern Indonesia?

Sebagai bahan perbandingan, kita melihat beberapa lagu dari grup band Coklat yang bertajuk “Masa Muda” (Album Rasa Baru, 2001), grup musik Dewa 19  yang berjudul “Format Masa Depan” (1994), lagu gubahan musisi legendaris nasional Iwan Fals yang berjudul “Gelisah” (Album Kantata Takwa, 1990), dan lagu gubahan musisi Katon Bagaskara yang berjudul “Si Muda” (Album Katon Bagaskara, 1996). Sama dengan pilihan tiga lagu pop barat sebelumnya, pemilihan keempat lagu ini juga memperhatikan tematika liris yang kita nilai memberikan representasi kemudaan dan kepemudaan. Sifat yang agak berbeda antara kedua kelompok lagu ini adalah bahwa keempat lagu Indonesia ini tidak mencapai hit di level nasional yang dapat disepadankan dengan hit di level internasional sebagaimana lagu-lagu milik Bob, Alphaville, dan The Cranberries. Lagu-lagu ini termasuk dalam album-album yang memiliki hit lagu unggulan yang berbeda kecuali album Dewa 19  yang albumnya sendiri mengambil tajuk judul lagu itu. Jadi bisa dibayangkan, sebagai pembaca Indonesia, mungkin sebagian dari antara kita lebih mengenal salah satu dari lagu asing tersebut daripada keempat lagu pop nasional kita di atas.

Iwan Fals memang merupakan salah seorang musik dengan kritik sosial paling spektakuler di kancah musik pop nasional bahkan ketika rezim pemerintahan sangat represif pada masa pemerintahan Soeharto. Album Kantata Takwa yang memuat lagu “Gelisah” ini direkam bersama musisi Setiawan Djody, saxophonis Embong Rahardjo, vokalis legendaris Sawung Jabo, dan sastrawan W.S. Rendra. Album ini merupakan fenomena karena sarat dengan ketajaman lirik pada lagu-lagunya. Namun berbeda dengan album yang merupakan masterpiece seniman-seniman terkemuka Indonesia itu, Album Katon Bagaskara dengan tajuk namanya sendiri ini adalah album pertamanya dalam solo karir di samping grup band-nya Kla Project. Album ini terbit yang langsung menggelembungkan nama Katon di blantika musik nasional dengan hit lagu “Dinda Dimana”, “Negeri di Awan”, dan beberapa lagu lain. Produktivitas Katon yang sangat tinggi dalam kreasi musika terus menanjak hingga saat ini dan variasi eksplorasi musiknya yang tajam yang sebenarnya juga terlihat dalam komposisi lagu “Si Muda” ini.

Berbeda dengan Katon, album Format Masa Depan dari Dewa 19 tidak mencapai hit sebagaimana album sebelumnya yang berjudul nama grup band nasional itu – yang mencapai kategori Album Paling Populer 1993 BASF Music Award. Kemelut interpersonal band mungkin menjadi salah satu akibatnya kala itu, dengan indikasi bahwa album berikutnya yang berjudul “Terbaik Terbaik” yang mendapat sambutan luar biasa. Namun mesti diingat bahwa album ini pada dasarnya cukup penting mengingat ia keluar pada masa jauh sebelum Reformasi yang ditandai penggulingan rezim Orde Baru. Lirik lagu ini beberapa kali menggunakan kata “reformasi” yang kelak, kata ini menjadi simbol transformasi politik di Indonesia dengan mahasiswa sebagai elemen pentingnya. Album “Rasa Baru” Coklat yang memuat lagu “Masa Muda” ini merupakan sebuah album yang menunjukkan bagaimana Coklat sebagai grup band pop-rock nasional menunjukkan eksplorasi musiknya. Sebagaimana dikenal umum, Coklat merupakan salah satu pionir dalam kancah musik pop-rock dengan ke-khas-an suara yang dimiliki oleh vokalisnya, Kikan. Belakangan, Coklat memang dikenal sering membawakan lagu-lagu wajib nasional dengan aransemen ulang yang sesuai dengan karakter musik pop modern. Berikut hasil analisis teks dari lirik-lirik lagu-lagu ini… (klik pada gambar untuk memperbesar).

Dengan pola analitis yang serupa (namun berbeda dari segi pemrosesan komputasional terkait sifat linguistik bahasa Indonesia yang berbeda dengan bahasa Inggris), kita mencoba untuk melihat visualisasi konsep-konsep yang muncul dalam lirik lagu-lagu pop Indonesia ini. Hal yang menarik muncul. Sangat berbeda dengan jaringan yang dibentuk tiga lagu yang mendunia sebelumnya, keempat lagu pop nasional kita ini menunjukkan beberapa kata yang tak hanya menunjukkan sikap positif terhadap kemudaan tapi juga beberapa konsep bersentimen non-positif seperti “terpasung”, “bingung”, “luka”, “gelisah”, yang terkait langsung dengan konsep “pemuda”. Yang menarik, meski keempat lagu ini memiliki sentralitas tematikal yang kuat dengan ikhwal kepemudaan, secara statistik, konsep “hidup”, “jalan”, “dunia”, dan “masa depan” memiliki sentralitas yang juga relatif tinggi. Ada suasana penderitaan dan kegalauan yang secara implisit muncul di dalam lirik-lirik lagu ini terkait kepemudaan yang tak bersumber dari kegelisahan psikologis dan kognitif terhadap ketaksukaan untuk menjadi tua sebagaimana tergambar dalam jaring lagu pop modern barat sebelumnya.

Hal-hal terkait dinamika kemudaan dan sifat positif kemudaan ter-representasi secara visual namun menariknya, representasinya lebih bersifat pada kegalauan sosiologis dengan munculnya konsep-konsep terkait “birokrasi”, “penjara”, “uang”, “globalisasi”, dan sebagainya. Banyak hal yang dapat di-interpretasi secara semantis dari pilihan kata pada lirik lagu-lagu ini, tentunya, namun secara visual kita dapat melihat kegelisahan pemuda Indonesia dan pemuda dalam konteks sub-kultur pop muda sebagaimana tercermin dalam musik pop modern barat. Konsep “tua” muncul dalam lirik lagu Iwan Fals yang memang sarat protes gaya hidup om-om senang sesuai sifat lirik lagunya yang sarat kritik sosial yang tajam.

Lantas apa yang bisa kita pelajari dari dua hal yang berbeda nan menarik ini?

Pertama, sudah jelas bagi kita bahwa  baik lirik lagu pop internasional maupun nasional, mengakui akan khazanah dan sifat-sifat kepemudaan yang ingin lestari bagi tiap individu secara psikologis. Orang senantiasa tak ingin menjadi “tua” dalam paradigma miskin dinamika, takut akan tantangan dan perubahan, dan adanya urgensi menonjolkan sifat-sifat muda yang ter-asosiasikan dalam bentuk sifat-sifat jujur, aktif, berani, mengejar impian dan cita-cita, energetik. Jelas sekali, sebenarnya bahwa bukan “tua” dalam arti umur yang tak diinginkan, namun sikap dan sifat menjadi tua yang ingin dihindari. Di sini keinginan “forever young” meninggalkan pesan moral bahwa lebih baik mati daripada harus kehilangan sifat-sifat energik dan dinamis yang ter-representasi pada sifat muda.

Namun kedua, secara spesifik kegelisahan mereka yang muda di negara dunia ketiga seperti Indonesia memberikan refleksi yang lain. Orang muda di Indonesia mengahadapi banyak keterpurukan ketika kontras dengan kehidupan sosial yang dihadapinya, khususnya pada masa musik-musik pop modern ini digubah. Pada masa musik pop modern ini digubah dunia menghadapi persoalan-persoalan seperti globalisasi dan berbagai hal terkait di dalamnya, sementara secara khusus, mereka yang muda sering dijadikan obyek ketika berbagai hal negatif bermunculan dalam asosiasi kaum muda, seperti permasalahan tawuran, geng motor, narkotika dan obat-obat terlarang, ugal-ugalan yang menghiasi layar siaran udara (air broadcasting) di samping lagu-lagu tersebut. Hal-hal ini menghasilkan situasi linguistik bahwa kata “grown up” sebagaimana direpresentasikan dalam lagu berbahasa Inggris pada musik pop internasional berbeda dengan asosiasi konsep terkait “dewasa” dalam lagu-lagu modern pop Indonesia. “Menjadi tua”, “dewasa”, dan “muda” memiliki pola kerangka pikir asosiatif yang berbeda untuk orang Indonesia sebagaimana dicerminkan oleh lirik-lirik lagu pop modern nasional kita.

Hal ini tentu dapat menjadi refleksi buat siapapun yang tak ingin disebut “tua” dalam paradigma pertama. Namun untuk konteks kedua, kita perlu juga menyadari bahwa ada masa-masa ketika musik pop belum sekuat ini memberikan induksi dalam sistem kognitif anak-anak bangsa Indonesia, pemuda memiliki peran sentral sebagai subyek perubahan dan transformasi sosial. Katakanlah misalnya titik awal dari pergerakan nasional Sumpah Pemuda 28 Oktober delapan puluh tahun silam. Belum lagi kaum muda yang tergolong mahasiswa yang menunjukkan peran aktifnya pada perubahan sosial dan politik negeri pada hampir setiap peralihan rezim politik di Indonesia semenjak masa kemerdekaan dan revolusi fisik, (mungkin) hingga saat ini. Justru ketika lingkungan sosial terbelenggu, kaum muda juga seringkali terpasung sebagaimana dalam kritik sosial lirik lagu Iwan Fals berjudul “Bongkar” (Album SWAMI, 1989) “orang tua, pandanglah kami sebagai manusia, kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta!“.

Bagaimanapun sintesis dari dua hal yang kita refleksikan di atas memberi indikasi pada kita bahwa hanya dengan bangkitnya kaum muda dengan segala sifat-sifat yang ter-asosiasi-kan padanya sebuah masyarakat Indonesia dapat bangkit dan maju dengan segala progresifitas dan kreativitasnya. Mereka yang mudalah yang mesti mengambil langkah aktif dalam transformasi sosial, yang mesti dilakukan dengan menjadi subyek bagi kehidupan kemasyarakatan secara luas. Ketika secara statistik lagu yang memiliki tematika semangat kemudaan sanga tkecil dibandingkan dengan tema-tema yang mengeksploitasi emosionalitas romantika anak muda di level internasional bahkan tidak menjadi hit di album-album modern pop nasional, maka ini menunjukkan bahwa tugas yang diemban untuk mewujudkan mimpi masyarakat yang secara aktif bertransformasi dan progresif menjadi semakin berat, dan bahwa makin banyak saja mereka yang berwajah muda belia namun bermental tua, tidak kreatif, lamban, dan takut dengan perubahan.

Sebuah tantangan bukan hanya mereka yang muda usia, namun mereka yang sadar akan sebuah ungkapan dari sastrawan Frank Lloyd Wright berikut “…while being young is an accident of time, youth is a permanent state of mind!“.

%d bloggers like this: