jump to navigation

Membiarkan “The Rolling Stones” menikmati “Gurame Edan” April 5, 2009

Posted by quicchote in archipelagic, modern-pop, tematik.
trackback

geMalam itu Yoga, Nedi, dan kawan-kawannya memanggil seorang perempuan cantik nan genit penanti bar lewat lagu The Rolling Stones, “Honky-Tonk Woman“. Tapi bukan kaki yang diangkat dan tongkat mikrofon dilenggakkan sebagaimana lagak panggung Mick Jagger yang tampil di situ. Penonton yang ingin latah ikut berjoget, tapi bukan gerakan disko yang terkuak, melainkan joget seolah mereka mendengar langgam keroncong riang. Gurame Edan, kelompok musik keroncong nyeleneh itu, menumbuhkan dengan subur “Honky-Tonk Woman” dalam nuansa keroncong. Benar-benar santapan yang menunjukkan luasnya khazanah musik yang nikmat dan …edan!

marcoMemang pada tahun 1980-an penikmat musik sudah pernah mendengarkan “keroncong nyeleneh” yang  memainkan lagu-lagu pop, country, blues, hingga jazz, oleh grup “CongRock” yang digagas oleh perintis Keroncong Inovatif Senior, Marco Marnadi. Suatu inovasi yang sempat menuai protes namun pada akhirnya keroncong inovatif ini merupakan sebuah upaya yang jempolan dan unik, serta membuka jalan bagaimana menumbuhkan gejolak melodi non-Indonesia dalam kerangka bermusik orang-orang Indonesia. Kreativitas ini bahkan mampu merebut hati penikmat musik, bahkan hingga ke manca negara.

Namun Gurame Edan memiliki gaya yang sangat berbeda. CongRock melakukan paduan apik yang harmonis lagu-lagu pop dari belahan utara planet ini dengan beberapa penyesuaian yang “memuluskan” tumbuhnya noktah-noktah nada dan irama pop tersebut ke dalam substrat keroncong, antara lain dengan mengeksplorasi paduan alat musik yang digunakan: bass betot, gitar, cello, cak-cuk, dan biola dikolaborasikan dengan instrumen: keyboard, saxophone, trompet, fluete, gitar elektrik, banyo, dan drum. Gurame Edan melakukan upaya penumbuhan yang lain. Instrumen musik yang digunakan dipertahankan tanpa harmonisasi dengan instrumen barat. Ini dapat memberi nilai tambah dan kemungkinan juga nilai kurang bagi Gurame Edan.

Nedi dan Yogi, mungkin pernah santer dikenal sebagai personil grup band Pemuda Harapan Bangsa dengan langgam dangdut kocaknya. Tapi ini eksplorasi bermusik mereka belakangan meluas hingga ke pola nuansa (musical vibe) keroncong. Eksplorasi inilah yang berbuntut tumbuhnya lagu-lagu yang menjadi tonggak musik rock ‘n roll modern di dalam substrat musik khas Indonesia, khususnya kawasan pesisir pulau Jawa, keroncong!

rollstones-single1969_honkytonkwomenKetiadaan efek gitar sebagai lead, gitar ritmis dan bass, maupun synthesizer, apalagi drum, yang menjadi penjaga irama musik, telah melahirkan wajah baru audio musik-musik dari belahan utara dunia. Pendengar akan masih bisa mengenali  balada melodis maupun liris dari “Honky-Tonk Woman“-nya The Rolling Stones, tapi corak telah berubah jauh. Honky-Tonk Woman harus tumbuh di gesekan biola, petikan bas betot, ukulele, dan khas musikal lain yang menandai keroncong yang kita kenal. Honky-Tonk Woman tak perlu berubah dari wanita genit dengan lipstik dan bedak tebal berpakaian penuh renda menjadi perempuan Timur berkebaya. Pendendang pun tak perlu berubah dari sosok lelaki tegap bertopi koboi dan berompi kulit menjadi lelaki jawa berblankon. Tidak sama sekali!

Lagu orisinil Honky-Tonk Woman sangat terkenal dengan intro-nya yang sangat inovatif (pada masanya), dengan pola kord harmonis yang mengawali lagunya. Banyak lagu-lagu pop meniru gaya harmonisasi kord unik ini, tak kurang baru-baru ini grup musik Indonesia, ChangCuters, juga menggunakan pola ini untuk lagunya yang berjudul “I Love You, Bibeh!”. Pola ini digambarkan seperti berikut (klik untuk memperbesar):

HonkyTonkIntroAsli

Mari coba kita simak bersama tampilan asli dari The Honky-Tonk Woman ini ketika disuarakan oleh Jagger dan sobat-sobatnya dalam penampilan panggung di Hyde Park pada tahun 1969.
URL: http://www.youtube.com/watch?v=faEEro38pEA

Tapi, Gurame Edan bermain lain. Pola ritmis yang menjadi intro khas lagu ini berubah menjadi gesekan biola dengan cara gesek yang unik keroncong, menjadi berbentuk (klik untuk memperbesar):

HonkyTonkIntroGE

Audio video penampilan dari Gurame Edan untuk lagu ini bisa diakses di URL: http://www.youtube.com/watch?v=vOpCdRjtnfc

Alhasil, nuansa keroncong lagu ini pun muncul bahkan semenjak intro. Bagi pengamat The Honky-Tonk yang dimainkan oleh The Rolling Stones dalam berbagai episode tur musik mereka, mungkin bisa teringat dengan rentetan nada-nada yang menjadi intro a la Gurame Edan ini sebagai salah satu varian dari ekspresi gitar lead dari musik aslinya. Terbukti, pola melodik ini memang muncul di bagian yang pada musik aslinya ditempati oleh gitar lead – hal yang tak ada sama sekali (dan justru menjadi pola unik gaya rock ‘n roll The Rolling Stones) pada lagu aslinya. Kreativitas lahir ketika Honky-Tonk Woman lahir di tangan eksplorasi musik Gurame Edan. logo-gurame

Bermusik keroncong menjadi meluas, sesuatu yang juga terlihat sebenarnya pada pendahulu Gurame Edan yang dimotori dalam rintisan Marco Marnadi. Tetapi tak hanya itu tentu, karena sebenarnya dimensi lagu bertema sensualitas wanita di Eropa ini menjadi diperluas pula melalui perpaduan kreatif permainan Gurame Edan ini. Terlepas dari apakah gaya bermusik Gurame Edan ini akan juga berkiprah di industri musik modern, ia menjadi tonggak dalam evolusi dan inovasi musik tanah air, karena Gurame Edan memang tak cuma memainkan lagu-lagu The Rolling Stones. Lagu-lagu dari grup punk alternatif Nirvana, grup musik rock Metallica pun dipupuk untuk tumbuh di tanah keroncong dengan dimensi musik keroncong di nusantara yang khas.

Pada dasarnya ini merupakan pola yang sangat inspiratif bagi industri musik dunia, karena selama ini, mengutip musisi psikodelik Glenn Branca, pola langgam musik pop modern seolah “mentok” di mana banyak eksplorasi mulai melirik pola melodi nada-nada mikrotonis yang sangat berbeda dengan sistem titi laras oktaf warisan sistem tarekat filsuf Yunani, Pythagoras (580-490 SM), yang kita kenal saat ini. Secara melodis, keroncong mungkin masih mengakuisisi sistem titi laras modern yang standar, namun kita tahu, musik tak bisa direduksi sebagai sekadar penjajaran nada-nada, karena banyak unsur lain dalam eksplorasi musik yang bisa telah akan sangat mengubah gaya bermusik, mulai dari pola ritmik hingga reverberasi (efek ruang stereo) dari suara.

Terkait upaya “pelestarian budaya” nusantara, banyak memang pola rilis ulang dan upaya mempopulerkan musik tradisi Indonesia. Sebut saja misalnya medley “Punk Jawa“-nya grup legendaris Slank yang menyanyikan lagu etnik Jawa secara punk rock, atau beberapa lagu yang dimainkan oleh juga secara medley Elfa’s Singer (misalnya lagu Yamko Rambe Yamko dari Papua), termasuk album berjudul “Tribute to Toraya” artis Indonesian Idol, Harry Montongmontong, misalnya, yang membawa nuansa pop apik atas lagu Toraja, Batingna Lebonna. Sebuah pola yang sangat sering juga muncul hingga di panggung-panggung lokal di hotel-hotel, acara nikahan, hingga sunatan massal. Menumbuhkan lagu tradisional dalam substrat gaya eksploratif musik modern konvensional bukan hal jarang kita temui.

Keroncong nyeleneh semacam yang ditunjukkan Gurame Edan ini jarang kita temui relatif terhadap upaya pembawaan lagu tradisional Indonesia dengan akuisisi instrumentasi musik modern. Musik merupakan artifak multidimensional yang luar biasa kompleks. Gencarnya pola pendidikan seni modern yang senantiasa berkiblat pada titi laras oktaf standar dalam alat musik populer, di banding pola bermusik dengan instrumentasi tradisi asli Indonesia, secara kuantitas membuat eksplorasi yang dilakukan oleh Gurame Edan dan perintis-perintisnya ini justru jarang terjadi, padahal sebenarnya merupakan ikhwal yang sangat vital dalam akuisisi pola bermusik.

Interaksi Musik Modern & Musik Tradisi Nusantara
Dari sini kita mempelajari dua interaksi antara apa yang modern dan dalam panggung musik dunia dikenal sebagai bentuk konvensionalitas, dengan apa yang menjadi eksplorasi musik tradisi masyarakat yang tinggal di Kepulauan Indonesia. Panah merah di bagian bawah pada gambar di atas (klik untuk memperbesar) sering kita temui, tapi panah ungu merupakan hal yang relatif tidak sering. Ini merupakan sebuah tantangan yang menarik bagi masyarakat seni musik Indonesia yang kebetulan tinggal di tanah air yang menyimpan ribuan gaya eksplorasi musik terkait etnisitas dan pranala musik tradisi. Hanya satu lagu dari Gurame Edan, dan kita telah menyaksikan keunikan berpola yang terlihat dalam upaya panah ungu dalam gambar di atas. Sejarah musik modern dari zaman Klasik, era Barok, era Romantik, hingga musik populer industrial seperti sekarang ini dengan berbagai genre-nya, menanti panah ungu-nya untuk menginspirasi dan mewarnai corak musik dunia yang tak akan pernah berdinamika dan ber-evolusi.nedi_cs

Sebuah refleksi bagi pendidikan termasuk link and match-nya dengan industri dan apresiasi musik Indonesia yang tengah berjuang dalam perluasan inovasi melalui kreativitas yang secara global dapat bersumber pada tradisi bangsa Indonesia.

%d bloggers like this: