jump to navigation

Tari dan lagu cinta bersemi… March 3, 2010

Posted by quicchote in modern-pop, romantik.
trackback

Bizet terkesan dengan kebebasan yang tercermin dalam tarian Havana. Ketuk-ketuk irama tarian menjadi alunan nada bas melompat-lompat yang menggambarkan kebebasan akan cinta khas gypsi yang menjadi ruh dari seluruh lagu Habanera. Gita Gutawa juga melompat riang dengan melodi dan irama yang sama, juga mengumandangkan cinta yang bersemi. Namun sebagaimana ditulis oleh Melly Goeslaw untuknya, cintanya tak bicara kebebasan, tetapi lebih pada ekspresi bahagia akan harmoni cinta yang dirasakan. Perspektif yang berbeda: di Perancis abad ke-19 dan Indonesia abad ke-21, namun tetap menarikan tarian bebas yang gembira dengan irama orang-orang tradisional Havana, Kuba.

Penulis kenamaan Mark Twain punya satu aforisma tentang hidup di surga nan sangat bahagia: menari seperti tak ada yang menonton, mencinta seperti tak akan terlukai. Menari dan mencinta menjadi dua konsep yang analogis satu sama lain. Menari dan mencinta berarti kebebasan yang absolut ketika tak perlu ada cemoohan dari yang menontonnya, dan mencinta tanpa ada peluang untuk kemudian terluka merupakan ekspresi yang rumit dari manusia dan merupakan puncak dari emosionalitas yang ada dalam hidup seseorang. Mungkin inilah yang ada di benak seorang komponis Perancis, Georges Bizet (1872), ketika menggubah untaian lagu yang menggambarkan cinta seorang Carmen yang bebas sebebas-bebasnya: ibarat burung yang tak dapat dijinakkan (…oiseau rebelle que nul ne peut apprivoiser) dan bocah gypsi yang tak mengenal aturan (…enfant de Bohème, il n’a jamais, jamais connu de loi). Komposisi Bizet menjadi pas dengan lirik yang ditulis oleh sastrawan Perancis Henry Meilhac and Ludovic Halévy berdasarkan novel karya sastrawan Perancis, Prosper Mérimée.

Kecerdasan Bizet dalam komposisi bagian kecil dari opera berjudul Carmen ini adalah adaptasinya atas Habanera (tarian Havana, Kuba) yang menjadi jiwa dari seluruh bagian dari “lagu Habanera” ini. Tarian Kuba ini merupakan tarian riang dengan pola irama sebagai berikut:

Irama ritmis ini merupakan irama tradisional dari Havana, Kuba, Amerika Latin yang dipengaruhi oleh musik contradanza Eropa. Irama yang menjadi landas gerak sendratari tradisional ini bertempo 2/4 dan juga sangat populer di beberapa pelabuhan yang menghubungkan antara Eropa dan masyarakat pesisir Amerika Latin. “Menari tanpa penonton”, seperti ujaran Mark Twain di atas, lalu “mencintai tanpa takut akan disakiti”, sebagaimana ekspresi liris tokoh opera Carmen – yang konon oleh kekuatan magisnya tak mungkin ditolak oleh pria manapun, digabungkan oleh Bizet dalam komposisi lagu Habanera yang sangat terkenal hingga hari ini. Sadar atau tidak sadar, Bizet sudah menampilkan keindahan surga di bumi, sebagaimana kelanjutan dari ungkapan Mark Twain tadi. Oleh Bizet, irama ini ditaruh dalam alat musik bass dengan melodi…


…yang jika kita dengarkan dengan saksama mengitari hampir keseluruhan dari nyanyian lagu.

Mungkin Habanera ini merupakan lagu yang menggambarkan cerita cinta paling sering diperdengarkan dalam berbagai bentuk. Ada keriangan “tarian” di dalamnya, namun ada juga ungkapan-ungkapan definitif yang subyektif atas ekspresi cinta dengan emosi yang meletup-letup di dalamnya. Salah satu performa yang populer disebut-sebut dalam kritik seni opera dari lagu Habanera ialah pembawaan diva musik opera dunia kenamaan keturunan Yunani dan kelahiran Amerika, Maria Callas. Pembawaan suara sopran Maria memang seolah mampu menangkap emosi keriangan, keangkuhan, sekaligus kejujuran cerita cinta sebagaimana diungkap oleh Bizet. Mari lihat video Maria menyanyikan lagu Habanera ini… (klik pada gambar)

Mungkin ini pula yang ditangkap oleh kejeniusan penggubah lagu populer Indonesia, Melly Goeslaw, lebih satu abad berikutnya untuk lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi muda, Gita Gutawa, untuk lagu bertajuk “Harmoni Cinta” (2009) – tentu dengan orkestrasi sang ayah kandungnya, yang seorang komposer nasional, Erwin Gutawa. Kita juga dapat mencatat perbedaan antara sang diva Maria Callas dan calon diva Gita Gutawa dari sisi kehidupan masing-masingnya, Jika Maria mengalami kemuraman masa kecil yang hebat, justru Gita merupakan seorang seniman yang lahir dari keluarga seniman yang sangat mendukungnya. Yang jelas, keduanya menyanyikan langgam cinta yang luar biasa…

Perkembangan dunia musik mencatat  bahwa keindahan komposisi yang berinspirasi dari tarian constradanza hasil buah tangan Bizet ini, seolah-olah menjadi dasar aksen dari nyanyian cinta bersemi yang abadi, hingga secara cerdas “dicuri” untuk mengungkapkan makna cinta yang bersemi di tanah air oleh Melly untuk genre lagu populer remaja. Kesengajaan ekivalensi dengan Habanera-nya Bizet memang masih terasa, karena lagu ini, meskipun bergenre populer, tetap dinyanyikan dalam suasana operatik riang dengan iringan The City Prague Philharmonic Orchestra. Untuk menopang suara Gita yang tinggi dan khas, nada asali Habanera dinaikkan setengah laras menjadi,


…yang juga menjadi dasar dinamika dari lagu ini. Kombinasi aransemen yang cerdas, menyulap Habanera menjadi populer, masih terasa nuansa tariannya, namun dengan interpretasi cinta a la Indonesia yang khas: “harmoni cinta”. Dalam video klip resminya, Gita Gutawa digambarkan menari-nari riang sambil melompat-lompat di zebra cross, dan begitu riang mengungkap perasaannya ketika jatuh cinta. Ada kegembiraan akan jatuh cinta dan ia melihat sekelilingnya menjadi sebuah harmoni yang indah. Coba saksikan keriangan yang terpancar dari video-klipnya berikut… (klik pada gambar)

Mungkin begitu pandangan Melly ketika menulis lagu ini tentang cinta, dan mungkin pandangan kita – kontras dengan pandangan puisi Perancis yang meng-identik-kan cinta dengan rasa bebas yang tergambar melalui tarian gembira. Cinta yang bersemi menjanjikan harmoni sementara di sana cinta identik dengan kebebasan. Perspektif yang berbeda, namun tetap tergambar dalam bentuk tarian bebas yang gembira dengan irama 4 nada gubahan seorang Georges Bizet.

Mari merayakan cinta, sebab sungguh sia-sia hidup tanpa cinta. Mari menari, sebab sungguh kelu tubuh ini tanpa tarian. Cinta dan tarian merupakan alat demi menghadirkan surga di bumi, seperti kata Mark Twain.

Mari menikmati indahnya Harmoni Cinta sebagai tarian modern Havana…

%d bloggers like this: