jump to navigation

Nina Bobo bukan hanya untuk bayi? April 26, 2010

Posted by quicchote in modern-pop, romantik, tematik.
trackback

Mungkin lagu yang pertama kali kita dengar ketika lahir sebagai manusia ke muka bumi kepulauan nusantara ini adalah lagu, “Nina Bobo“. Kita akan teringat dengan liriknya,

nina bobo, oh, nina bobo
kalau tidak bobo, digigit nyamuk
bobo-lah, bobo, adikku sayang
kalau tidak bobo, digigit nyamuk…

Namun sejarah panjang peradaban manusia hingga kehidupan modern dan industrial saat ini, pada dasarnya membuka tabir bahwa kita menyanyikan Nina Bobo bukan hanya untuk anak bayi kita, tapi juga justru memiliki fungsionalitas psikologis yang diperuntukkan untuk yang menyanyikannya. Tak hanya bagi ayah atau ibu yang hendak menidurkan anak-anaknya, namun juga bagi semua individu manusia yang senantiasa pernah letih, lesu, namun tak kuasa memejamkan mata untuk meng-istirahatkan tubuh dan pikiran…

Orang-orang dengan berbahasa Inggris menyebutnya, “lullaby“: nyanyian “la…la…” untuk menenangkan “baby” sebagai ungkapan “bye…bye….” agar ia tenang dan tertidur – dinyanyikan oleh ibu untuk menidurkan anaknya. Hubungan paling intim dari seseorang kepada orang lain memang terjadi pada ibunya dan itu terjadi di kereta bayi (cradle). Ini merupakan hubungan di tengah malam yang sulit untuk memejamkan mata meski keletihan hinggap di tubuh sang bayi yang memang mesti tidur lebih dari 15 jam sehari agar ia tumbuh sehat. Suasana ini menjadi hangat oleh karena belaian melodis ibu pada anak bayinya. Namun tanpa disadari, nyanyian ibu merupakan berbagai interaksi akan doktrin hidup yang tiba ke alam bawah sadar sang bayi, sebagai refleksi harapan ibu/ayah kepada sang anak yang hendak ditidurkan.

Tiap kebudayaan punya nyanyian nina bobo yang berbeda-beda sebagai bentuk konstruksi sosial yang terjadi dalam kehidupan sosial. Orang Italia menyebutnya “Nana Bobò“, orang Portugis menyebutnya “Dorme bébé“, orang Turki menyebutnya “Dandini Dandini Dastana“, dan seterusnya. Sejarah musik klasik menyebutnya sebagai bentuk melodis dengan komposisi “berceuse” dan terakhir, pop industrial rock menyebutnya sebagai bentuk lagu-lagu “rock-a-bye baby“.

“Tubuh yang letih”, “Malam kelam yang meninggi”, dan “Kesulitan untuk memejamkan mata dan tidur”, merupakan tiga unsur yang menjadi latar belakang universal untaian melodis dan liris dari nina bobo.

Secara melodis, lagu-lalu nina bobo biasanya merupakan untaian sederhana dan manis dari deretan tonal yang sederhana dengan tempo dan irama yang relatif lambat (6/8), kecenderungan bagian-bagian yang mendatar dengan kontur naik dan turun yang mulus. Komposisi musik klasik barat mengenali bentuk lagu-lagu serupa ini dalam komposisi “Berceuse” sebagaimana pernah ditulis oleh komposisi piano dari Frederic Chopin (op. 57 dalam D-moll), George Gershwin (lullaby untuk Kuartet Senar), atau permainan Sergei Rachmaninoff untuk lullaby op. 16 no. 1 Tchaikovsky, serta satu dari yang paling indah dalam kesederhanaanmya tapi kurang populer karya Wolgang Amadeus Mozart, Wiegenlied K. 350 yang tertuang dalam Köchel-Verzeichnis-nya.

Organ peninggalan Mozart, konon ia pernah memainkan Wiegenlied-nya di organ antik ini. Klik pada gambar untuk melihat seorang performer memainkannya untuk anda.

Namun lagu yang mungkin paling terkenal yang telah sedemikian menyatu dalam peradaban modern Euro-Amerika dan mungkin dunia adalah komposisi melodis Johannes Brahms: Wiegenlied: Guten Abend, gute Nacht, Op. 49, No. 4. Seolah terdapat empat kalimat dalam tiap “bait-bait melodis” dari lagu ini, dengan variasi tonal yang repetitif. Mungkin mudah untuk mengenali kontur naik-turun yang sederhana dalam lagu ini bahkan bagi mereka yang kurang terbiasa dengan notasi musik sekalipun…

Secara liris, lagu ini dalam terjemahan Inggris populer…

Lullaby and good night, with roses bedight
With lilies o’er spread is baby’s wee bed
Lay thee down now and rest, may thy slumber be blessed
Lay thee down now and rest, may thy slumber be blessed

Lullaby and good night, thy mother’s delight
Bright angels beside my darling abide
They will guard thee at rest, thou shalt wake on my breast
They will guard thee at rest, thou shalt wake on my breast

Empat baris dalam tiap bait lirik lagu ini menggambarkan ungkapan akan kasih sayang orang tua (ibu) dalam menidurkan anaknya yang tanpa pamrih apapun bahagia dengan tidurnya sang bayi. Tidak ada hal yang tidak indah yang ingin diungkapkan oleh seseorang ketika menyanyikan nina bobo di hadapan seorang bayi. Seolah manusia dewasa senantiasa ingin “mengkampanyekan” akan optimisme hidup dalam apapun lirik lagu-lagu nina bobo, apapun kebudayaannya, apapun masa peradaban budaya tersebut. Itu yang juga dapat kita amati pada berbagai lirik lagu bertema nina bobo mulai dari zaman berceuse hingga musik industrial pop yang menyebutnya sebagai rock-a-bye.

Hasil penelusuran yang dilakukan atas lebih dari dua ratus lagu nina bobo yang ada menunjukkan terdapat empat representasi pokok yang senantiasa muncul dalam lagu-lagu nina bobo,

  • menggambarkan keletihan menjalani hari dan hidup yang melelahkan dan ajakan untuk segera memejamkan mata dan beristirahat.
  • menceritakan fakta-fakta yang menyenangkan dan menenangkan, seperti indahnya malam, langit berbintang, angin dan pepohonan, bunga-bunga, dan sebagainya.
  • mengungkapkan janji dan harapan optimistik akan hari yang lebih indah setelah bangun dari tidur, agar jauh dari rasa takut, bahkan beberapa lirik lagu mengekspresikan janji-janji akan hadiah-hadiah yang disediakan.
  • beberapa lagu (termasuk lagu di Indonesia, Nina Bobo), mengekspresikan adanya ancaman jika tidak segera tidur/beristirahat, misalnya gigitan nyamuk, serigala putih mengintai (nina bobo dari Rusia), dan sebagainya.

Penelusuran liris atas berbagai lagu-lagu nina bobo mulai dari masa klasik-romantik (berceuse) hingga musik pop industrial modern (rock-a-bye). Klik pada gambar untuk memperbesar.

Dari keempat kategori ekspresi liris tersebut, sebenarnya kita dapat melihat (atau mungkin bertanya), apakah benar sebenarnya fungsionalitas dari lagu nina bobo untuk menidurkan bayi, karena toh bayi hampir bisa dipastikan tidak mengerti tentang ungkapan-ungkapan liris terebut yang merupakan “bahasa orang dewasa”. Hal ini terlihat bahkan hingga masa industri musik modern. Yang terkenal misalnya adalah sebuah lagu yang ditulis oleh John Lennon untuk putranya, Julian saat berusia 5 tahun, namun dinyanyikan oleh drummer The Beatles, Ringo Starr dalam orkestrasi yang disusun oleh musisi George Martin, dengan judul “Good Night” (1968). Sebuah tema yang juga dalam gubahan lagu The Creed dalam judul “Lullaby(2001). Namun perkembangan musik modern rock-a-bye menunjukkan bahwa tak hanya bayi yang memerlukan lullabye atau nina bobo. Siapa pun akan bersepakat bahwa keempat unsur liris yang diungkap di atas, sebenarnya diperlukan oleh setiap individu manusia tanpa kenal batas usia.

Sebagai contoh misalnya musisi beraliran folk, Woody Guthrie, misalnya menggubah lagu nina bobo untuk mereka yang secara ekonomi tertindas (buruh, gelandangan, kaum miskin perkotaan) dalam lagunya yang bertajuk “Hobo’s Lullaby” (1944). Coba perhatikan petikan lirik lagu Guthrie berikut yang secara terang-terangan menggunakan keempat unsur lagu nina bobo namun ditujukan bagi kaum miskin kota pada pertengahan abad yang lalu:

“… I know the police cause you trouble,
they cause trouble everywhere
But when you die and go to heaven,
you won’t find no policemen there

I know your clothes are torn and ragged
and your hair is turning grey
Lift your head and smile at trouble

you’ll find happiness some day

So go to sleep you weary hobo
Let the towns drift slowly by
Don’t you feel the steel rail humming
That’s a hobo’s lullaby”

Nina bobo tak hanya memiliki fungsi memperlambat denyut jantung untuk mempercepat istirahat malam bagi bayi dan anak-anak, orang dewasa yang menyanyikannya juga terikut dalam irama dan tonal yang menyejukkan oleh kerasnya hidup. Mungkin ini pula yang memotivasi seorang musisi nasional, Iwan Fals dalam dendangnya “Dongeng Sebelum Tidur” (1980) yang dengan tonalitas khas nina bobo, namun liriknya mengkspresikan kemarahan atas ketidakadilan dunia. Jelas sekali, tujuan menyanyikan lagu ini secara liris adalah untuk yang menyanyikannya, atas kejemuan pada dunia yang terasa tidak nyaman dan membuat letih. Secara fungsional, nina bobo menjadi sebuah upaya pelepasan atas keletihan psikologis dan emosional juga bagi orang tua yang menidurkan anak, sekaligus memancarkan angin optimisme dan harapan agar sang anak memiliki kehidupan dewasa yang jauh lebih baik daripada apa yang dialami oleh sang ayah dan ibunya.

Nina bobo bagaimanapun memiliki tendensi bahwa keletihan hidup bukanlah hal yang perlu untuk disesali, ia memiliki vitalitas dan optimisme yang ingin mundur sejenak untuk mengambil energi dari istirahat malam yang menjadi bekal bagi keesokan hari untuk lagi-lagi menantang kerumitan dan problematika keseharian manusia di tengah masyarakat. Ketidakbahagiaan yang dialami hari ini, kesulitan hidup yang diterima dan keletihan emosional yang muncul bukanlah sesuatu yang ingin disesali, namun dihadapi dengan pengharapan yang kukuh untuk terus melanjutkan hidup. Yang diperlukan seseorang yang letih dari hidup bukanlah lari dari kehidupan tersebut, melainkan rehat sejenak menikmati indahnya bintang di langit, membayangkan hidup yang lebih bahagia dalam impian sambil berdendang.

Nina bobo adalah ungkapan optimisme untuk terus melanjutkan hidup yang seberat apapun itu dengan harapan akan hidup yang lebih baik esok hari. Pemahaman kita akan lagu nina bobo ini memberi kita ke-insyaf-an akan sebuah energi untuk berdiri terus menantang sumber keletihan dengan kegembiraan.

Menutup cerita nina bobo ini, mungkin kita bisa merasakan sesuatu yang lain ketika mendengar lagu di bawah ini, All the Pretty Little Horses, sebuah lagu tradisional nina bobo masyarakat penggembala (koboi) Amerika Serikat, dinyanyikan sebagai variasi gothik-rock oleh Nick Cave & Current 93…

Hush-a-bye, don’t you cry, go to sleep my little baby
When you wake, you shall see  coach and six-a-little horses

Blacks and bays, dapples and grays, all the pretty little horses

Hush-a-bye, don’t you cry, Go to sleep my little baby
When you wake, you shall have all the pretty little horses

Blacks and bays, dapples and grays, all the pretty little horses!

Mari beristirahat sejenak. Bermimpi bahwa esok masih ada matahari yang menjanjikan hidup lebih indah. Bagaimanapun, kemarin itu indah, hari ini agak lebih indah, tapi kita tahu, esok merupakan yang paling indah…

%d bloggers like this: