jump to navigation

Lagu pop yang makin mendayu-dayu & meng-eksplorasi rasa sedih June 29, 2011

Posted by quicchote in modern-pop, tematik.
trackback

Lagu pop modern senantiasa berkisah tentang perasaan hati. Ia menggelitik emosi melalui nada dan lirik. Pendalaman penelitian tentang emosi  (perasaan hati) yang direpresentasikan oleh sebuah kata (teks) telah memungkinkan kita untuk mengamati, sejauh mana akuisisi sebuah produk teks/liris terkait dengan satu makna emosi tertentu. Menarik ketika kita mendapati bagaimana hampir satu dekade belakangan ini, pemilihan kata dalam komposisi liris lagu-lagu kita makin mendayu-dayu dan cenderung kurang mengumbar “rasa senang”?!

Kajian-kajian psikologi emosi mendapati bahwa emosi manusia pada dasarnya dapat ditelaah melalui dua dimensi: valensi (katakanlah α) dan intensitas ekspresi (katakanlah β) juga seolah kontinu nilainya. Ekspresi emosi kita cenderung menjelajahi lanskap yang koordinatnya ditentukan atas dua variabel ini. Saat valensi emosional itu netral  tapi sangat tinggi intensitasnya, yang muncul adalah ekspresi kaget, dan valensi yang netral dengan intensitas yang rendah ter-ekspresikan dalam nuansa fisiologis mengantuk, ingin sekali tidur.

Jadi, rasa riang bisa jadi adalah paduan antara “kekagetan” dengan “rasa senang”, dan amarah bisa jadi bentuk paduan antara “kekagetan” dengan “rasa sedih”. Kita sadar, bahwa emosi tak pernah datang secara tunggal. Emosi yang kita ekspresikan selalu berbentuk paduan antara emosi yang satu dengan yang lain. Psikolog evolusioner dan ilmuwan neurosains berupaya keras untuk mengetahui apa yang jadi emosi dasar, dan kemudian membikin berbagai formalisasi bagaimana kira-kira ekspresi emosional tatkala emosi-emosi dasar ini berpadu-padan.

Satu kata yang dipilihkan dalam sebuah korpus tekstual, apalagi sebuah korpus estetis seperti lirik lagu, tentunya memiliki level-level valensi kesenangan dan intensitas gairah yang berbeda-beda. Dan flow sebuah lagu sebagaimana ditunjukkan dalam liriknya akan dapat menggambarkan “perjalananan” atau “pathways” dari emosionalitas seniman tatkala lagu dinyanyikan dengan penghayatan yang tepat.  Dengan sebuah perangkat komputasi “Detektor Emosi Teks”, kita dapat melihat perjalanan emosional satu lagu yang beriringan dengan acuan emosional dari kata-kata di dalam lagu tersebut. Lagu “Jarum Neraka” menggunakan kata-kata yang cenderung rendah intensitas ekspresi gairahnya, meski emosi “kejenakaan” membuat lagu tersebut memiliki keringanan tertentu saat dinyanyikan oleh Nicky Astria.

Demikian pula dengan lagu Sabda Alam yang secara keseluruhan lagu menyentuh sisi-sisi rasa bersyukur dan senang untuk semua nuansa gairah baik saat ber-intensitas tinggi maupun rendah sebagaimana dinyanyikan oleh Chrisye. Lagu Pilihan Ngetop yang berhasil menggaet SCTV Music Awards 2011, “Aku Terjatuh” memiliki pola pilihan kata yang memang rendah secara intensitas gairah, tidak dengan ekspresi pilihan kata-kata yang bervalensi terlalu senang atau pun terlalu sedih sebagaimana didendangkan ST 12.

Dengan “Detektor Emosi Tekstual” inilah kita kemudian mencoba melihat sejauh mana dinamika emosi yang ditunjukkan oleh lagu-lagu populer kita, semenjak 1970-an hingga sekarang. Sampel lagu yang kita jadikan acuan tentunya mestilah populer juga. Kita memilih sebagaimana ditunjukkan oleh Tim Penulis di Majalah Rolling Stone dan hasil event populer SCTV Music Awards.

Sungguh menarik memperhatikan fakta bahwa dari sisi pilihan kata dalam masing-masing liriknya, dibandingkan generasi 1970-an, generasi sekarang lebih sering menggunakan kata-kata yang memberikan ekspresi rasa senang. Namun memperhatikan lebih seksama beberapa tahun belakangan ini, penggunaan kata untuk ekspresi rasa senang tersebut, juga makin dibarengi dengan kata-kata dengan valensi ekspresi yang berlawanan (rasa sedih). Secara umum, sebenarnya dapat dikatakan bahwa lagu-lagu pop industrial zaman sekarang lebih dalam meng-eksploitasi kata-kata dalam penetrasi emosionalnya dibandingkan generasi sebelumnya.

Perkembangan rata-rata variabel akuisisi emosional intensitas gairah dan valensi kegembiraan dalam lagu-lagu pop Indonesia (1970-2011)

Namun di sisi lain, sungguh menarik memperhatikan bahwa terdapat kecenderungan penurunan dalam hal intensitas ekspresi kegairahan dari lagu-lagu populer kita. Terdapat kecenderungan bahwa semakin ke sini, lagu-lagu populer semakin “mendayu-dayu” pemilihan katanya dari sisi lanskap emosionalnya. Hal ini sangat menarik untuk diperhatikan dalam populasi lagu-lagu pop industrial kita.

Dibandingkan dengan masyarakat di belahan utara planet bumi kita ini, lagu-lagu pop industrial modern Indonesia memang masih sangat muda. Pemahaman kita akan emosionalitas tekstual kita dalam akuisisi bahasa Indonesia kita tentu merupakan kajian yang menarik dalam memperhatikan tren penggunaan kata dalam lirik lagu dari lagu-lagu yang menghiasi mulai dari layar kaca, pesawat radio, dan ring back tone kita ini…

Comments»

1. iyut - June 29, 2011

…data darimana tuh..?? ;)p

quicchote - June 29, 2011

dari perhitungan atas masing-masing lirik lagu, atuh?! :p

2. Anonymous - May 12, 2014

lagu gubahan muara kasih bunda


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: