jump to navigation

Mendengar Sujiwo Tejo dalam Rahvayana June 6, 2014

Posted by quicchote in modern-pop, romantik, tematik.
trackback

Capture

“Rahvayana” bukanlah epos Ramayana. Itu ditegaskan oleh penulisnya di halaman pengantar sebelum masuk ke bab pertama dari buku yang menyertai cakram keras yang berisikan audio musikalitas Rahvayana itu, “…yang menulis di buku ini belum tentu saya, sebab Rahwana tak mati-mati. Gunung kembar Sondara-Sondari yang menghimpit Rahwana cuma mematikan tubuhnya semata…”. Mendengar Rahvayana sebenarnya adalah mendengarkan Ki Dalang Sudjiwo Tedjo yang bernarasi tentang petualangan intelektualnya yang mengarungi benturan filsafat modern barat dan filsafat ketimuran jawa, mengalami sendiri gelombang aras akor musik barat dan pola harmonisasi musikal ketimuran, hingga menyaksikan berdentumnya epistemologi dan pragmatisme kehidupan kemasyarakatan Indonesia hari ini. Mulai dari kisah hingga corak musikalitas yang diperdengarkan, ini jelas bukan tradisi apolonian, tapi tak pula dengan gampang bisa disebut dyonisian. Rahvayana memperdengarkan kata yang menjadi nada, dan nada yang menjadi kata. Buku yang hadir bersama CD Audio berusaha membujuk “jancukers”, demikian follower-nya menyebut diri, untuk melihat manuskrip dan musik Rahvayana sebagai kemanunggalan yang simultan. Catatan ini membaca hal itu, melihat dari luar sebagai penikmat karya yang menarik ini.

Mendengar dan membaca Rahvayana menunjukkan bahwa ia sebenarnya  lebih merupakan karya yang memberikan pengalaman musikal daripada sastrawi. Di dalam teksnya diterangkan dengan canda bahwa relasi Rahvayana dengan Ramayana-nya Valmiki itu mengandung hikayat yang serupa, yang telah berkembang bahkan sebelum masa sastrawan India kuno itu. Musikalitas Rahvayana ini mengingatkan kita pada kebiasaan penggubah musik era klasik Eropah dahulu. Seperti misalnya karya musikal opera Otello (1887) yang digubah oleh Giuseppe Verdi berdasarkan drama Tragedi Othello (1603) karya sastrawan William Shakespeare dua abad sebelumnya. Tapi drama ini pun bukanlah karya asli Shakespeare, karena ia juga menulis dengan inspirasi cerita pendek karya Cinthio (1565). Sudjiwo Tedjo sendiri menyebut relevansi karyanya ini dalam ekivalensi “Tristan dan Isolde”, opera klasik karya Richard Wagner (1857).

Rahvayana merupakan sebuah angle interpretatif atas narasi Ramayana yang diketengahkan seorang yang memiliki latar belakang dalang jawa. Interpretasinya terasa original baik secara tekstual (seperti terurai dalam buku) maupun komposisi musik yang seolah menunjukkan ke-bhineka-an pengalaman musikal komposernya.

Dalam kebanyakan track musiknya, terasa pola komposisi seperti fuga sebagai “rumus dasar” yang diikuti oleh komponisnya. Ia memulai dengan rentetan melodi yang urutan sekuen nadanya terasa etnik kenusantaraan yang lalu diikuti eksposisi topik dari motif tersebut, dengan pengayaan yang bukan hanya bersifat instrumentasi, tapi juga melibatkan vokal-vokal yang sering terdengar sebagai falsetto, tapi sebenarnya adalah “sisipan” mikrotonik dari komponisnya yang memang memiliki latar-belakang musikal nusantara yang kental.

Contohnya saja dalam bagian bertajuk Prolog yang berperan sebagai prelude dari Rahvayana, motif ber-aksen sekuen gaya musikal nusantara telah terasa menjadi variasi-variasi dari motif dasar monofoniknya…

1

Variasi motif ini terdengar sederhana di awal prelude yang berlanjut dengan dialog Rama dengan choir yang mengiringinya sebagai variasi motif dasar tersebut. Pola komposisi ini senantiasa terdengar di berbagai track: motif dasar, lalu diikuti topik, dan kemudian eksposisi yang bisa berbentuk variasi tempo, sekuen melodis sesuai warna suara instrumen yang dipilih untuk memainkan kombinasinya, termasuk vokalisasi sebagai dialog dalam cerita yang ingin disampaikan.

Sudjiwo Tedjo menunjukkan eksperimentasi komposisi musik ini pada semua bagian dari opera Rahvayana ini. Coraknya bisa bermacam-macam. Ia bisa bermain-main dengan stilisasi rock n’ roll yang agak jazzy dengan ”warna” petikan gitar khas tradisi spanyol (bagian Argument), mengkombinasikan dengan choir adagium (bagian Exile), bergaya balada pop (bagian Dandaka), bahkan komposisi techno-rock (bagian Order) yang mengingatkan pada gaya musikal Inggris Brian Eno misalnya. Unsur pop muncul di sana-sini sebagai warna musikalitas yang akhirnya menunjukkan keunikan corak musik yang unik, karena ada unsur-unsur domain musik lain yang mengiringi eksplorasi dan pengalaman musik komponisnya.

Dalam bermusik di Rahvayana ini, komponisnya seperti seorang anak kecil yang dengan gembira dan penuh canda bermain lego, ber-eksperimen dengan stilisasi dan pakem-pakem komposisi sebagai butir-butir lego-nya. Ia tak malu-malu meng-ekspose bagaimana instrumen musik meniru kicauan burung-burung (bagian Pancawati) sebagaimana pernah dilakukan Ludwig van Beethoven dalam gerakan kedua Simfoni no. 6 Pastoral dua ratus tahun yang silam. Mayoritas elemen musikalnya ditampilkan komponisnya sebagai bentuk scherzo, tapi tetap dengan gaya dan identitasnya yang unik.

Keunikan Rahvayana adalah ketika komponisnya tak kuasa untuk tak menyertakan nuansa tradisional nusantara dalam komposisinya. Terdengar di banyak bagian nada-nada mikrotonik yang dinyanyikan oleh vokal dengan iringan instrumen bernada diatonik di sana-sini. Nada-nada itu bisa terdengar sebagai falsetto yang unik bagi telinga yang terbiasa dengan gaya musikalitas klasik. Mulai dari bagian yang terkesan mulia seperti Soliloquy, hingga bagian yang terdengar jenaka seperti humorosque yang dibawakan para punakawan dalam bagian Love Is Oh, My God; di mana Sudjiwo Tedjo ber-eksperimen dengan warna suara (timbre) khas tokoh-tokoh yang bukan penyanyi profesional, seperti Karni Ilyas bersama aksen unik Effendi Gazhali, Butet Kertaredjasa, dan Arswendo Atmowiloto. Pada bagian lain juga terdengar melodi yang terdengar seolah seperti komposisi Sabilulungan Sunda, tapi dengan corak eksposisi musik senar dan pola-pola stakkato pada piano. Hasilnya (bagian Mandodari) mengingatkan kita pada gaya klasik Perancis Georges Bizet dalam bagian Seguilda di satu bagian dan Habanera di bagian lain karya besar Carmen (1875), yang memang seolah jadi “rumus” melodi dan irama untuk ungkap cinta sebagaimana terlihat dalam lirik lagunya. Bahkan ketika menampilkan bagian Sakapaneka’s Dance, sang komponis juga bermain-main dengan gaya komposisi dolanan nusantara yang dipenuhi dengan nada-nada pendek ber-legato dalam berbagai variasi motif. Ketelitian mendengar harmoni melodi kita bisa menemukan unsur-unsur Jawa, Sunda, Minang, Bugis, Maluku, hingga Batak dalam musikalitas Rahvayana.

Namun hal yang paling terasa menarik perhatian adalah gaya komposisi kanon dalam berbagai bagian vokalisasi Rahvayana. Mungkin karena ia seorang dalang yang sangat piawai dalam pola peran-peran vokal yang unik, konflik antar tokoh digambarkannya senantiasa dalam komposisi kanon, baik antar penyanyi tunggal maupun dengan dan antara choir. Vokalisasi dalam bagian Argument dan Beggar misalnya, akan senantiasa mengingatkan pada kanon choir dengan tenor dan sopran pada gerakan keempat Simfoni ke-9 Beethoven (1824) yang terkenal itu. Orkestrasi disajikan sebagai kanon vokalisasi di mana syair terasa memiliki bentuk yang unik.

Memperhatikan teks dalam buku Rahvayana, Sudjiwo Tedjo memang menunjukkan keberangannya pada pengkotak-kotakan musik gaya abad pencerahan. Hal ini terwujud dalam musiknya dan juga tersebut dengan lantang pada teks bukunya, “…kamu bilang Beethoven masuk periode Romantik? Entah bohong entah mengujiku, aku tak peduli. Semua orang tahu bahwa Beethoven masuk periode Klasik. Tapi, cinta bisa membuatku mampu kelak menghadirkan saksi-saksi ahli dari Gunung Sinai bahwa Beethoven itu masuk periode Romantik, zaman ketika manusia hidup di taman-taman, zaman tatkala musik-musik dibuat tidak untuk mengagungkan Tuhan di langit seperti cara Bach memuji Tuhan, tapi zaman yang musik-musiknya merayu Tuhan yang bersembunyi di balik jiwa para kekasih…

Bagaimanapun mendengar Rahvayana adalah membiarkan telinga mendapatkan pemandangan apa yang telah berkecamuk dalam petualangan mental musik dan intelektual seorang Sudjiwo Tedjo. Ia seorang seniman, tapi juga intelektual. Ia adalah selebritas tapi juga sering tampil bak filosof. Ia seorang dalang dalam pakem tradisi Jawa, tapi juga adalah musisi industrial modern. Sebagaimana cendekia semestinya, kategori sering gagal mendefinisikan dirinya. Mungkin seperti diungkapkannya dalam baris-baris alinea bukunya, “…heran. Dunia persilatan dan sanggar-sanggar latihan menyanyi termehek-mehek untuk mengajari orang dewasa bernapas. Mereka berbulan-bulan dan bertahun-tahun mengajari manusia suatu hal yang sebenarnya telah dikuasai sempurna pada waktu bayi…

Rentetan eksplorasi musikal Rahvayana meninggalkan sesuatu yang agak menggantung di bagian akhir. Bagian yang diberi tajuk The Monkey Army itu diisi dengan dialog kanonik adagium Rama dan Hanuman yang komposisinya berstilisasi di marcia, pola nada dan harmoni yang seyogianya menutup, tapi secara unik sang komponis menampilkannya dengan bentuk yang mengingatkan kita pada puisi musikal Richard Strauss, Also Sprach Zarathustra (1896), sebuah alunan harmoni yang justru sering digunakan oleh banyak pihak sebagai “pembuka”, misalnya opening theme 2001: A Space Odyssey-nya Stanley Kubrick (1968) yang terkenal itu. Sebuah penutup yang seolah dapat dimaknai sebagai tuntunan, bahwa Dwilogi Rahvayana ini memang belum berakhir. Serial lanjutan rupanya masih menanti.

Namun bisa juga bentuk musikal penutup ini menunjukkan bahwa ruang kreativitas eksplorasi komponisnya memang tak berbatas. Kategori-kategori dan pakem-pakem digunakan sebagai perangkat demi memudahkan kreasi seniman, tapi jangan sampai kreativitas seorang seniman malah terhambat oleh kategori-kategori dan pakem-pakem itu. Ketika karya ini masih di tangan komponisnya, saat ia belum sampai ke tangan para kritikus, Rahvayana dalam teksnya telah berkelit dengan kocak, “…ah, tak usah repot-repot menamai kebahagiaan… …kini aku memang lebih asyik mengurus Sinta. Tak ada waktu bagiku untuk repot-repot menamai kebahagiaan kami…

Rahvayana adalah bentuk “main-main” dan “ngawur” musikalnya seorang Sudjiwo Tedjo. Tapi rupanya hasilnya sungguh jauh dari main-main. Ia justru tampil sebagai bentuk karya kreatif kompleks yang unik, sebuah karya musikal serius yang sungguh sayanglah gendang telinga kita, para penduduk nusantara di era modern, jika belum pernah bergetar dalam resonansi karya musikal ini.

Rahvayana adalah ketika sejarah musik tradisi berkelindan tumbuh dengan eksplorasi musikal modern. Sebuah wajah musikal pasca-modern a la Indonesia yang melintas batas stilisasi, periodisasi, hingga komposisi. Barangkali sebuah tonggak yang menunggu karya-karya anak negeri lainnya ketika interpretasi lintas batas hikayat-hikayat dan kisah lain di bumi nusantara, mulai dari misalnya Hikayat Hang Tuah di bumi melayu hingga interpretasi bagian-bagian La Galigo di kalangan masyarakat Bugis, folklore Sigale-gale di Tapanuli hingga kisah Pohon Garing di bumi Dayak, dan sebagainya, ditampilkan apik sebagaimana diteladankan karya Rahvayana ini…

Dimensi kreativitas kolektif tradisi nusantara menjadi kedahsyatan inspiratif saat ia berkelindan dalam kreativitas seniman modern di bumi nusantara. Mengapa tidak?

Comments»

1. siennysentosa - June 7, 2014

Reblogged this on siennysentosa and commented:
Jadi pengen cari buku/cd nya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: