jump to navigation

Musik itu bahasa emosi July 16, 2015

Posted by quicchote in Uncategorized.
trackback

Musik adalah bahasa ekspresi emosi. Manusia mengutarakan pikiran dengan kata-kata, namun meng-ekspresi-kan rasa dengan nada-nada yang (terkadang tak mesti) menyuarakan kata-kata tersebut. Nada adalah kata, untai melodi adalah kalimat. Untai-untai melodi tersebut memiliki tema “rasa” tertentu yang kemudian meng-ekspresi-kan apa rasa yang ingin tersampaikan melalui kalimat-kalimat melodis itu. Tema tersebut merupakan harmoni nada-nada yang musik modern Barat bisa menyebutnya sebagai chord, kunci. Lagu adalah uraian naratif ekspresi emosional. Di dalam lagu, berbagai chord digunakan sebagai alinea-alinea yang menceritakan dinamika yang ingin dikisahkan. Alur dan plot ini, oleh tradisi musik Barat, dikenal sebagai chord progression, jalur kunci lagu. Ekspresi rasa emosional yang ingin diekspresikan tertuang sebagai melodi nada-nada. Lagu adalah cermin kompleksitas ekspresi emosional penggubah yang mendapat resonansi dari pendengarnya. Ada 12 nada kromatik yang bertingkat-tingkat dalam dunia musik barat, dan 7 di antaranya membentuk oktaf, sebagai tangga nada yang nada dasarnya bisa dimulai dari nada manapun, sepanjang mengikuti titi laras (jarak (semi)-tonalitas antar nada) tertentu. Urut tujuh nada tersebut kerap ditulis dalam angka romawi, Root_position_triads_from_C_major_scale Angka romawi besar (major), yaitu nada dasar (I), sub-dominan (IV), dominan (V), merupakan tiga nada penting yang menyusun oktaf nada-nada di mana melodi dan harmoni tersusun, diikuti tiga nada yang lebih minor (ii, iii, dan vi) dan satu nada yang tergolong diminished (vii). Nada dasar adalah “rumah”, awal dan akhir, dari “konflik” (tension) yang ingin diketengahkan oleh narasi emosional lagu melalui “perjalanan” ke arah “puncak” nada-nada yang mendominasi tangga nada. Secara umum, lagu-lagu selalu berada dalam penggubahan formula komposisi:

[dasar] -> …[minor]… -> …[subdominan]… -> [dominan] -> [dasar]

Untai nada ekspresi emosional yang “diceritakan” oleh lagu merupakan proses dari [dasar] hingga kembali ke [dasar] lagi. Tiga titik yang menandai tahapan lajur chord minor dan sub-dominan menunjukkan bahwa kedua “tahapan” chord tersebut dapat bervariasi, bergantung pada ekspresi emosional apa yang ingin disampaikan melalui untai nada yang berharmoni dengan chord tersebut. Pembelajar musik pemula, seringkali dikenalkan dengan 3 kunci (chord) di mana ia dapat memainkan ratusan lagu hanya dengan 3 kunci tersebut, yaitu kunci “C”, kunci “F”, dan kunci “G”. Dalam tangga nada C-major, ketiga kunci tersebut menunjukkan representasi nada pertama (dasar), keempat (sub-dominan), dan kelima (dominan). Harmoni nada-nada dominan (dan sub-dominan) merupakan representasi “konflik” yang dalam lagu mesti segera di-antisipasi dengan tonalitas nada dasar.

Musisi jazz misalnya, akrab dengan sebutan komposisi improvisasi “…-2-5-1”, yang sebenarnya, secara kasar dapat dikatakan menunjukkan pola ii -> V -> I, bisa berbentuk urut-urutan melodi dalm chord 2minor -> Vdominant -> I root/dasar. Sebagai contoh, komposisi naratif dalam tangga nada C-major, misalnya, disenandungkan dalam harmoni nada-nada dalam chord Dminor -> G7 -> Cmaj7 karena “D” adalah nada kedua, “G” adalah nada kelima, dan “C” adalah nada pertama(dasar) dalam tangga nada C-major. Musisi bermain dalam berbagai variasi lajur chord yang justru menjadi semesta kreativitas musisi.

Pemilihan chord yang menandai alinea-alinea pernyataan-pernyataan dalam kalimat-kalimat melodis lagu tak pelak seringkali dikaitkan dengan ekspresi emosi yang ingin diekspresikan seiring berjalannya kisah naratif lagu. Hal inilah yang dilakukan oleh beberapa peneliti di Jerman yang mengemukakan teori ekuilibrasi musik (“StrebetendenzTheorie”). Teori ini berusaha mengaitkan efek psikologis (emosional) dari musik. Deret-deret musikal dikaji dalam komponen esensialnya, yaitu harmoni. Harmoni musikal menjadi landasan argumentasi penelitiannya. Harmoni, dalam hal ini, sekuen-sekuen nada yang dibunyikan serempak, misalnya sebagai chord, menjadi basis observasi bagaimana musik terkait dengan rasa hati pendengarnya. Ribuan partisipan menjadi responden demi menguji teori ekuilibrasi berdasarkan harmoni nada-nada. Hasilnya adalah asosiasi relatif ekspresi emosi dengan harmoni nada-nada tertentu ketika dibunyikan dan diperdengarkan dalam sekuen-sekuen musikal, entah berupa lagu ataupun sekadar improvisasi melodis.

Penelitian ekspresi emosi sendiri terkait dengan rasa hati yang positif (senang, suka) dan negatif (sedih, tidak suka), serta valensi kuat tidaknya daya eksitasi emosional tersebut, mulai dari yang bervalensi rendah (kaku, rasa kantuk) hingga yang bervalensi tinggi (rasa terkejut, kaget). Pemetaan ekspresi emosi dapat dilakukan sebagai penempatan asosiasi emosi dalam kuadran-kuadran serupa diagram Cartesian, di mana sumbu horizontal sebagai nilai (positif/negatif) emosi dan sumbu vertikal sebagai valensi (tinggi/rendah) dari yang dirasakan. Penelitian terkait teori ekuilibrasi musik ini yang kemudian kita coba tampilkan secara kualitatif dalam pemetaan ekspresi emosi. Bahwa penggunaan kunci mayor dan minor secara relatif berada dalam ekspresi emosional yang bertolak belakang. Kunci-kunci mayor cenderung bernuansa rasa senang, rasa suka, sementara sekuen nada-nada yang terepresentasi dalam kunci minor cenderung bernuansa rasa sedih, rasa kurang nyaman. Kunci (dan tangga nada) mayor dan minor merupakan salah dua dari kunci terpenting dalam musikalitas barat. Variasi-variasi dari kedua kunci ini kemudian “menjelajahi” dinamika ekspresi emosi dalam seberapa tinggi atau rendah eksitasi emosional yang dapat di-eksploitasi secara musikal. Capture Kuadran di sebelah kiri menggambarkan elemen-elemen harmonis nada-nada yang meng-ekspresikan emosi-emosi yang cenderung menggambarkan kesedihan, kepiluan, perpisahan, hingga kemarahan. Tempo kunci minor yang dimainkan menggambarkan eksitasi emosi yang ditimbulkan. Nada-nada harmoni minor yang dimainkan lambat cenderung menggambarkan kesedihan, seperti kepiluan yang ditunjukkan dalam lagu wajib nasional “Gugur Bunga” gubahan Ismail Marzuki, misalnya. Namun menjadi sangat ber-energi ketika dimainkan dengan tempo cepat, seperti misalnya gerakan ketiga Simfoni No. 5 Ludwig van Beethoven yang berharmoni dominan minor namun terasa sangat “bertenaga”.

Sebaliknya, kuadran di sebelah kanan merupakan tempat harmoni nada-nada yang ber-asosiasi rasa senang dan rasa suka. Keriangan terasa dengan kunci augmented. Lagu The Beatles, Oh Darling (1969), misalnya, di awal intronya diperdengarkan augmented chord yang menggambarkan “energi cinta” yang tak perlu dikomentari lebih jauh karena sudah sangat jelas dengan mencermati lirik lagu tersebut. Atau keramaian dan eksitasi energi emosional lagu Oasis yang berjudul Let there be love (2005) yang lajur chord-nya sangat berpola unik tangga nada augmented.

Berlawanan dengan itu, titik energi terendah dalam ekspresi emosional musik, secaa kualitatif terasa dalam penggunaan nada-nada dalam tangga nada skala penuh (whole tone scale). Tangga nada ini unik, karena semua nadanya berjarak sama yaitu 2 laras (semitone). Nuansa emosional fantasi, mimpi, terasa dalam lagu Stevie Wonder yang berjudul You Are the Sunshine of My Life (1973) dengan memainkan monoton naik tangga nada skala penuh dalam iringan pianonya. Judul lagu tersebut, sedikit banyak menggambarkan ekspresi emosi yang memang ingin ditampilkan oleh penggubah lagu tersebut.

Eksitasi emosi yang bervalensi rendah dengan nuansa sedih seringkali ditunjukkan dengan penggunaan harmoni kunci neapolitan dengan tambahan nada keenam [neapolitan]6th. Ludwig van Beethoven menggunakan harmoni chord ini dalam awalan dan bagian rekapitulasi gerakan pertama soneta terkenalnya, (Adagio SostenutoMoonlight Sonata (1802). Mendengarkan alunan melodi harmoni lagu ini membawa kita pada kesan sedih yang sangat mendalam, bahkan sering lagu ini dikaitkan dengan nuansa kematian atau pemakaman.

Ke-“netral”-an ekspresi emosi barangkali ditunjukkan paling kuat dengan harmoni nada-nada dalam kunci ketujuh (7th chord). Musisi akrab dengan triad (tiga nada) yang secara sempurna dan penuh merepresentasikan harmoni. Penambahan satu nada lagi, yaitu nada ke-7 dalam tangga nada, sebenarnya memberi kesan “disonansi”, rasa “menggantung”, yang berdampak  memberi kesan bergerak, nada-nada dengan “citarasa” dinamis yang bukan sedih tapi tak pula mesti rasa gembira. Chord dengan nada ke-7 merupakan kunci yang secara khusus akrab bagi musisi jazz, yang memang kental dengan nuansa “gerak” nada (baik dengan chord minor (sedih) maupun rasa suka dalam chord mayor) dalam improvisasi-improvisasinya.

Yang memiliki latar belakang atau hobi bermain instrumen musik, mungkin dapat cepat akrab dengan beberapa tanda dan simbol dari harmoni nada atau chord  yang tergambarkan dalam pemetaan ekspresi emosi tersebut. Eksplorasi pemetaan harmoni nada dalam ekspresi asosiasi perasaan hati mungkin menjadi lebih mudah untuk coba dipahami. Namun bagi yang tak memiliki latar belakang musik, video di bawah ini mungkin dapat membantu. Video di bawah merupakan undangan untuk mendengar harmoni nada, meng-internalisasinya dalam diri, untuk kemudian mencoba “meraba” ekspresi rasa emosi yang telah dipetakan.

Asosiasi ekspresi emosi dengan harmoni nada yang menjadi cakrawala musik kini memberi tantangan dalam apresiasi musik kita. Adalah menarik mendengar lagu, menginternalisasi emosi yang diperdengarkan oleh lagu, dan mencoba menajamkan sensitivitas pendengaran pada detail-detail harmoni nada yang dimainkan. Peta ekspresi emosi harmoni musik sedikit banyak memberi bantuan untuk itu…

Kerja-kerja Terkait:

Pallesen KJ, Brattico E, Bailey C, Korvenoja A, Koivisto J, Gjedde A, Carlson S. (2005). “Emotion processing of major, minor, and dissonant chords: a functional magnetic resonance imaging study”. Annals of the New York Academy of Sciences 1060. Wiley.

Situngkir, H. (2011). “Representasi Emosi dalam Lirik Lagu Pop Indonesia”. BFI Working Paper Series WP-7-2011. Bandung Fe Institute. URL: http://www.bandungfe.net/?go=xpj&&crp=4e210e07

Willimek, D. & Willimek, B. (2011). Music and Emotions: Research on the Theory of Musical Equilibration (die Strebetendenz-Theorie). Terjemahan Inggris oleh Russell, L. URL: http://www.willimekmusic.de/music-and-emotions.pdf

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: