jump to navigation

Mendengar Sujiwo Tejo dalam Rahvayana June 6, 2014

Posted by quicchote in modern-pop, romantik, tematik.
1 comment so far

Capture

“Rahvayana” bukanlah epos Ramayana. Itu ditegaskan oleh penulisnya di halaman pengantar sebelum masuk ke bab pertama dari buku yang menyertai cakram keras yang berisikan audio musikalitas Rahvayana itu, “…yang menulis di buku ini belum tentu saya, sebab Rahwana tak mati-mati. Gunung kembar Sondara-Sondari yang menghimpit Rahwana cuma mematikan tubuhnya semata…”. Mendengar Rahvayana sebenarnya adalah mendengarkan Ki Dalang Sudjiwo Tedjo yang bernarasi tentang petualangan intelektualnya yang mengarungi benturan filsafat modern barat dan filsafat ketimuran jawa, mengalami sendiri gelombang aras akor musik barat dan pola harmonisasi musikal ketimuran, hingga menyaksikan berdentumnya epistemologi dan pragmatisme kehidupan kemasyarakatan Indonesia hari ini. Mulai dari kisah hingga corak musikalitas yang diperdengarkan, ini jelas bukan tradisi apolonian, tapi tak pula dengan gampang bisa disebut dyonisian. Rahvayana memperdengarkan kata yang menjadi nada, dan nada yang menjadi kata. Buku yang hadir bersama CD Audio berusaha membujuk “jancukers”, demikian follower-nya menyebut diri, untuk melihat manuskrip dan musik Rahvayana sebagai kemanunggalan yang simultan. Catatan ini membaca hal itu, melihat dari luar sebagai penikmat karya yang menarik ini. (more…)

“Negara Jaya” gubahan Liberty Manik November 11, 2013

Posted by quicchote in archipelagic, romantik, tematik.
add a comment

174891_126958527399713_3828324_n

Ada keuntungan punya kerabat saudara intelektual hebat, seperti Liberty Manik (1924-1993), komponis tanah air yang di sepanjang sejarah revolusi fisik Indonesia melahirkan karya-karya dan gubahan lagu yang berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan dan pembentukan negara Indonesia. Keuntungan itu adalah kesempatan membongkar-bongkar arsip-arsip peninggalannya, yang tentu tak mudah diakses publik. (more…)

Nina Bobo bukan hanya untuk bayi? April 26, 2010

Posted by quicchote in modern-pop, romantik, tematik.
comments closed

Mungkin lagu yang pertama kali kita dengar ketika lahir sebagai manusia ke muka bumi kepulauan nusantara ini adalah lagu, “Nina Bobo“. Kita akan teringat dengan liriknya,

nina bobo, oh, nina bobo
kalau tidak bobo, digigit nyamuk
bobo-lah, bobo, adikku sayang
kalau tidak bobo, digigit nyamuk…

Namun sejarah panjang peradaban manusia hingga kehidupan modern dan industrial saat ini, pada dasarnya membuka tabir bahwa kita menyanyikan Nina Bobo bukan hanya untuk anak bayi kita, tapi juga justru memiliki fungsionalitas psikologis yang diperuntukkan untuk yang menyanyikannya. Tak hanya bagi ayah atau ibu yang hendak menidurkan anak-anaknya, namun juga bagi semua individu manusia yang senantiasa pernah letih, lesu, namun tak kuasa memejamkan mata untuk meng-istirahatkan tubuh dan pikiran…

(more…)

Tari dan lagu cinta bersemi… March 3, 2010

Posted by quicchote in modern-pop, romantik.
comments closed

Bizet terkesan dengan kebebasan yang tercermin dalam tarian Havana. Ketuk-ketuk irama tarian menjadi alunan nada bas melompat-lompat yang menggambarkan kebebasan akan cinta khas gypsi yang menjadi ruh dari seluruh lagu Habanera. Gita Gutawa juga melompat riang dengan melodi dan irama yang sama, juga mengumandangkan cinta yang bersemi. Namun sebagaimana ditulis oleh Melly Goeslaw untuknya, cintanya tak bicara kebebasan, tetapi lebih pada ekspresi bahagia akan harmoni cinta yang dirasakan. Perspektif yang berbeda: di Perancis abad ke-19 dan Indonesia abad ke-21, namun tetap menarikan tarian bebas yang gembira dengan irama orang-orang tradisional Havana, Kuba.

(more…)

Cerita Lagu Sepi: Gerakan ke-3 Simfoni #9 February 14, 2008

Posted by quicchote in baroque, romantik.
comments closed

beethovenpastoral.jpg

Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Senyuman sering tak sesuai dengan isak tangis di dalam hati. Semangat yang berapi-api dari sisi pemilihan kata dan dari ekspresi wajah seringkali tak mau menggambarkan keletihan yang luar biasa di dalam hati seseorang. Hiruk-pikuk tak selalu menunjukkan rasa sepi dan sunyi serta kehilangan harapan yang sangat mendalam oleh sirnanya harapan akan hidup. Ini tergambar ketika kita secara teliti mendengar gerakan ketiga dari simfoni kesembilan dari seorang Ludwig yang lahir dari keluarga Beethoven. Sebuah rentetan dan potret audibel dari emosi melodis yang menggambarkan rasa sepi, sunyi, dan luka hati mendalam namun sangat cerdas, yang menjadi pengiring lahirnya chorale yang paling banyak dipuja orang hingga saat ini ketika partitur ini telah berusia lebih dari 3 abad – ketika bahkan orang lebih ingat Donal Bebek saat mendengarkan melodinya daripada kesedihan melankolik yang ingin direfleksikan…
(more…)