jump to navigation

Cerita Lagu Sepi: Gerakan ke-3 Simfoni #9 February 14, 2008

Posted by quicchote in baroque, romantik.
trackback

beethovenpastoral.jpg

Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Senyuman sering tak sesuai dengan isak tangis di dalam hati. Semangat yang berapi-api dari sisi pemilihan kata dan dari ekspresi wajah seringkali tak mau menggambarkan keletihan yang luar biasa di dalam hati seseorang. Hiruk-pikuk tak selalu menunjukkan rasa sepi dan sunyi serta kehilangan harapan yang sangat mendalam oleh sirnanya harapan akan hidup. Ini tergambar ketika kita secara teliti mendengar gerakan ketiga dari simfoni kesembilan dari seorang Ludwig yang lahir dari keluarga Beethoven. Sebuah rentetan dan potret audibel dari emosi melodis yang menggambarkan rasa sepi, sunyi, dan luka hati mendalam namun sangat cerdas, yang menjadi pengiring lahirnya chorale yang paling banyak dipuja orang hingga saat ini ketika partitur ini telah berusia lebih dari 3 abad – ketika bahkan orang lebih ingat Donal Bebek saat mendengarkan melodinya daripada kesedihan melankolik yang ingin direfleksikan…

Setiap kali membicarakan Ludwig van Beethoven, orang cenderung selalu berbicara tentang kehebohan chorale pada gerakan keempat simfoni ke-9 yang memang kontroversi pada masanya karena komposisinya yang sangat unik. Simfoni terakhir dan kontroversial dari Ludwig van Beethoven ini lebih dikenal karena komposisinya ini. Namun di sini, kita ingin diajak untuk mendengar dengan seksama sebuah sisi gelap dari rembulan kehidupan Ludwig yang menjadikan dirinya dan karyanya senantiasa misterius: ketika ia mencintai seorang immortal beloved, tanpa sadar bahwa kecerdasannya menjadikan dirinya immortally loved oleh peradaban homo sapiens hingga hari ini.

Lagu ini dimainkan dengan arahan “adagio molto” = “sangat lambat”, namun Ludwig mengisyaratkan tanda metronom 60 yang sebenarnya bertempo sedang. Namun fakta emosional dari gerakan ke-3 simfoni ini seringkali menggoda maestro pemusik memainkannya dengan tanda metronom yang jauh lebih lambat agar “adagio molto”-nya lebih kerasa.

Ludwig adalah seorang seniman dengan personalitas yang unik. Di balik kesohoran nama besarnya, ia selalu melawan otoritas kekuasaan politik yang menurut pendapatnya tidak adil termasuk beberapa kali penolakannya atas tawaran jabatan sosial kebangsawanan. Ludwig adalah sosok komponis revolusioner yang menolak embel-embel dan kesemuan kosmetik dari status sosial yang konyol. Namun sejarah menunjukkan bahwa kecerdasan Ludwig entah bagaimana selalu membuat orang-orang di sekitarnya memaafkannya yang seringkali dinilai selalu menantang tata krama itu. Bagaimanapun kehidupan Ludwig berhasil menunjukkan bahwa kebesaran seseorang tak perlu dilihat dari kesemuan embel-embel gelar atau bedak yang tebal atau rambut yang rapih tersisir. Seseorang mestinya terlihat dari apa yang telah dikaryakannya, diekspresikannya secara jujur dan konsisten.

Banyak kritikus musik menunjukkan bahwa kehidupan pribadi Ludwig terpancar pada semua karya-karya simfoninya. Dan gerakan ke-3 yang pilu ini merefleksikan fakta bahwa kehidupan personal Ludwig selama hidupnya tidak seberuntung dan semekar kehidupan karya-karyanya hingga sekarang. Tak bisa dibayangkan bahwa seorang maestro musik besar harus menerima bahwa ia telah menjadi tuli (1796). Tak bisa pula bisa dibayangkan orang yang bisa melahirkan karya yang luar biasa sentimental, melankolis dan romantis seperti Ludwig senantiasa selalu hidup dalam bayang-bayang seorang wanita yang sangat dikasihinya namun tak pernah menjadi nyata dalam hidupnya yang tak panjang (1812). Kisah kasih misteriusnya ini telah diangkat ke layar kaca dengan judul “Immortal Beloved”, sebuah sebutan Ludwig sendiri dalam sebuah surat pribadi. Hingga hari ini, tak ada yang tahu siapa sebenarnya wanita misterius ini. Banyak perempuan yang diketahui dekat dengan Ludwig, namun siapa sebenarnya wanita ini tak pernah diketahui secara pasti.

Gerakan ketiga dari simfoni ini dimainkan dalam gaya “Adagio molto e cantabile” yang dimainkan dalam tangga nada B-flat mayor – dalam variasi yang progresif dalam irama dan melodi sekaligus. Beethoven menggunakan variasi tempo komposisi dalam gerakan musik ini, diawali dengan tempo 4/4, dilanjutkan dengan 3/4 yang kemudian dilanjutkan dengan tempo 12/8. Hal ini menunjukkan kecerdasan dari gerakan komposisi adagio ini yang sekaligus menunjukkan bahwa kekuatannya di melodi.

Sebagaimana biasanya, selalu ada empat tahapan dalam tiap lagu komposisi pada masa romantik, yaitu tahapan eksposisi, pembangunan, rekapitulasi, dan diakhiri dengan ekor (koda). Tahapan eksposisi dari lagu adagio ini diawali dengan musik tiup dengan tempo variatif antara adagio dan andante (dengan lambat). Permainan variasi tempo Ludwig dalam lagu ini berputar-putar antara andante dan adagio:

Tahap eksposisi: Adagio –> Andante –>Adagio –> Andante
Tahap pembangunan: Adagio
Tahap rekapitulasi: Lo Stesso Tempo (tempo sama namun terjadi perubahan pelambatan di metronom)

Jika kita perhatikan, tahapan pada tahapan eksposisi ini kita dapat mendengar beberapa variasi dari biola (strings) yang dimainkan dominan dengan beberapa variasi dengan tempo andante yang terasa kesan sendiri/sepi yang naik turunnya sering terkait dengan rengekan, keluh kesah,

Contoh variasi (dari eksposisi)

9varviol1.jpg

Yang jika kita nyanyikan: lg.jpg[[9violin-single.mp3]]

Contoh lain variasi (juga masih dari eksposisi)

9varviol2.jpg

Yang kira-kira berbunyi: lg.jpg[[9violin-single-var.mp3]]

Jika kita teliti mendengarkannya kita akan mendengarkan adanya keramaian pada harmoni variasi untuk alat musik tiup (wind) yang menyertai dominasi singular biola sebelumnya, misalnya:

9varharm.jpg

Yang jika dinyanyikan: lg.jpg[[9wind-single.mp3]]

Pola ini merupakan hal yang terus divariasikan dalam tahapan pembangunan (development) hingga rekapitulasi dan koda dari cantabile ini. Sangat terasa sebenarnya kekuatan melodisnya, karena jika kita tidak teliti variasi yang terdengar seolah berbeda tatanan melodisnya dengan kontur yang menggambarkan kesendirian yang sangat ditengah keramaian dan hiruk-pikuk alat musik tiup yang mengitari gerakan melodis alat musik gesek (violin dan viola). Melodi berjalan terus secara mulus tapi cukup terasa atmosfir estetik di sini.

Variasi akhir dari gerakan adagio ini dua kali diwarnai dengan dua “teriakan” yang keras dari semua orkestrasi alat musik yang terlibat dalam simfoni yang dijawab dengan biola secara singular yang menunjukkan kesendirian di dalam hiruk-pikuk yang riuh rendah. Nada-nada biola ini dipilih tinggi dengan oktaf ganda yang mungkin menjadi dasar interpretasi kritikus bahwa gerakan ke-3 dari simfoni ini menggambarkan kesakitan dari Beethoven di akhir-akhir masa hidupnya. Di bagian-bagian akhir ini Ludwig memunculkan pula solo alat tiup yang khidmat dan lambat yang sekaligus menjadi jembatan gerakan ke-3 ini ke gerakan ke-4 yang riuh rendah dengan chorale yang terkenal itu: Oda Kegembiraan dan Persaudaraan. Kesinambungan gerakan ke-3 dan ke-4 ini pula yang mungkin membuat seringkali rekaman digital belakangan dari simfoni ini (misalnya interpretasi yang dipimpin maestro kesohor almarhum Herbert von Karajan, 1977 dengan Berliner Philharmonika Orchestra) senantiasa menjadikannya satu bagian yang tak terpisah.

Ludwig pernah menjalin kasih dengan seorag gadis aristokrat Giulietta Guiccardi, namun ayah sang gadis tak merestui dan Giulietta menikahi orang lain yang berujung pada perceraian. Namun usaha Giulietta setelah ia bercerai tak pernah berhasil kembali pada Ludwig. Ia juga dikabarkan pernah menjalin kasih dengan Josephine von Brunswick, seorang janda, namun lagi-lagi ia terhambat masalah keluarga si perempuan dan sikap Ludwig yang jarang secara terbuka mengekspresikan keinginannya. Terakhir Ludwig menjalin hubungan dengan Antonie Brentano, yang diduga kuat adalah orang yang dituju dalam surat misteriusnya tersebut.

Surat misterius ini menggambarkan kesedihannya ketika ternyata sang pujaan hati tak pernah memahami perasaan Ludwig yang mungkin terlalu pemalu namun angkuh mengekspresikan perasaan padanya. Surat ini menandai runtuhnya harapan dan keinginan Ludwig pada upaya membangun rumah tangga. Destruksi emosionalitas dan kehilangan pendengaran telah membuat Ludwig menjadi seorang yang sulit untuk menyesuaikan karyanya dengan pesanan komposisi musik yang menjadikannya tak produktif. Secara finansial ia terjebak dalam kemiskinan yang amat sangat yang berakhir dengan berpulangnya pada 1827 setelah beberapa kali gagal dalam keinginannya untuk bunuh diri.

Derita psikologis dan emosional ini tergambar secara sangat melodis dalam bentuk sahut-sahutan antara musik yang dimainkan oleh musik gesek dan musik tiup. Pada bagian awal, sahut-sahutan itu terjadi di antara singularitas atau duo alat gesek dan dua atau tiga instrumen tiup. Variasi melodis bersama permainan tempo menjadi warna tahapan eksposisi dan pembangunan dari lagu. Alur cerita lagu bagaimanapun naik pada bagian rekapitulasi, dengan kuatnya harmoni antara dua alat musik yang diperankan seolah antagonistik oleh maestronya tersebut. Harmoni makin kuat di bagian akhir lagu namun dengan tempo yang kembali adagio, terus hingga koda yang menggantung dan siap untuk melaju ke bagian chorale yang menghebohkan pada masanya, dan hingga sekarang masih saja akrab dengan telinga pop kita.

Para kritikus jarang mengulik bagian ketiga dari simfoni no. 9 ini, karena biasanya sangat terfokus pada bagian keempat (chorale) yang sangat terkenal, dan juga karena memang lagu gerakan ketiga ini menjadi jembatan yang agak aneh dibandingkan bagian sebelumnya (gerakan 1 dan 2) yang sangat bersemangat dan cepat (presto). Mendengarkan gerakan ketiga ini adalah zooming terhadap sebuah motivasi mendalam dari kehidupan dan melankoli yang pribadi sekali dari seorang Ludwig. Sebuah rasa sepi di tengah hiruk-pikuk hidupnya sebagai seorang seniman yang terkenal. Sebuah tekanan psikologis yang kuat yang akhirnya memuntahkan sebuah karya fenomenal yang dapat membuat kita serasa ikut menitikkan air mata mendengarkannya dengan seksama dengan memahami cerita dibalik simfoni terakhir yang ditulis olehnya. Penderitaan psikologis yang kuat yang ingin dilepaskannya secara kuat pula: tak heran, bagian akhir dari simfoni yang berbentuk chorale dan pada premiernya banyak dicemooh orang karena melawan aturan dan kelayakan komposisi simfoni pada umumnya di masanya adalah bentuk keinginan Ludwig untuk segera bebas, lepas dari situasi efemeral dari hidup yang terkadang memang sangat merundung rasa bosan dan sepi ini…

Mari mendengarkan lagu ini, merasakan kecerdasan seorang Ludwig, dan ikut insyaf bahwa sejujurnya kita sebenarnya tak lebih dari Ludwig pada masa sekarang: terkadang merasa sangat sepi di tengah keramaian dan hiruk-pikuk kehidupan kita…

lg.jpg[[Adagio Molto e Cantabile]]lg.jpg

Comments

1. ika - March 9, 2008

O..

kukira Ludwig itu bisu dan tuli dari lahir…

Ya, mari belajar dari Ludwig.. untuk tidak menulis ulang kesalahan yang pernah dilakukannya dalam memoar kehidupan.

Kalo aku suka Violin Sonata No.5. Terdengar ceria soalnya! Hmm.. mungkin digarap ketika hatinya sedang berbunga-bunga?


Sorry comments are closed for this entry

%d bloggers like this: